
...***Bercerai***...
Nada Dean terdengar lantang, tapi kenyataan justru sebaliknya. Dia terlihat santai, seperti tak ada penyesalan, atau rasa sungkan sedikit pun. Zahra tertunduk sesaat, mencengkram kuat botol minuman yang di berikan Jordhan. Menunggu keputusan yang akan di ambil oleh Abram.
“Oke. Aku setuju untuk bercerai."
Jawaban Abram seolah meruntuhkan istana megah yang di bangun Zahra. Melengserkan seorang Ratu begitu saja, demi Ratu lain yang sedang mengandung sang pewaris.
Akhirnya, aku mendengar kata itu dari mulutmu, Mas. Setelah banyak pembelaan tentang kata cintamu yang terdengar manis. Nyatanya, cintamu di kalahkan telah oleh keturunan yang ada di rahim istrimu tuamu.
“Bagaiman denganmu, Zahra?” tanya Dean.
“Kamu, bisa pergi donor. Aku perlu bicara sama Mas Abram.”
Dean mengangguk. Perkataan Zahra telah menjadi jawaban dari persyaratannya. Sebelum Dean pergi, ia sempat menepuk pundak Jordhan, seakan mengisyaratkan sesuatu.
“Jordhan, bisa pergi sebentar kan? Aku mau bicara sebentar sama suamiku.”
Panggilan Zahra pada Abram seolah mempertegas hubungan suami istri yang sebenarnya sudah retak. Sudah berkata begitu, Jordhan bisa apa? Ia akhirnya berjalan sedikit lebih jauh dari mereka. Berjaga-jaga kalau mungkin ada hal yang di inginkan.
“Mas ....” panggil Zahra lirih.
“Maaf, Bee. Aku gak bisa ninggalin dia, dia lagi hamil.” Abram bersimpuh, memegang tangan Zahra dengan erat.
__ADS_1
“Kalau aku juga hamil. Mas masih tega bisa usir aku?”
Abram yang sedari tadi tertunduk, kini menegakkan kepalanya. Menatap binar mata Zahra yang basah.
“Ka-kamu hamil, Bee?”
Zahra memandang mata Abram. Dia bisa melihat dengan jelas, ada rasa tak percaya di mata sang suami. Setelah dua tahun berusaha, bagaimana Zahra bisa hamil?
Zahra tersenyum, lalu membelai pipi Abram dengan lembut. “Untungnya, engak!” Setelah puas mempermainkan perasaan Abram, dia menarik tangannya, bahkan menyingkirkan tangan Abram yang sejak tadi ada di lututnya.
“Beruntungnya aku, Mas. Kalau aku beneran hamil, bisa-bisa kamu yang pusing.”
“Bee, aku ....”
“Kamu bilang, kamu gak cinta. Kamu bilang, kamu cuma cinta aku. Dimana sebenernya pendirian kamu sebagai suami, Mas!”
“Bee, aku gak gitu. Sebenernya aku ... aku.”
“Kenapa? Bingung ngomongnya. Dari kemarin aku gak kasih kamu kesempatan buat jelasin. Sekarang, kamu bisa jelasin. Aku dengerin dengan baik.” Zahra menyingkap rambutnya ke belakang telinga.
Abram mulai kebingungan. Ia berdiri, berjalan mondar mandir sembari berkacak pingang.
“Aku beneran sayang, Bee. Kamu tau kan. Tapi aku gak bisa milih satu diantara kalian.” Jelas Abram. “Mas harap kita bisa sama-sama. Apa susahnya sih, Bee?”
__ADS_1
“Susah, sangat susah, Mas! Kamu pikir, adil cuma sebatas nafkah? Dimana perasaan dan perhatian kamu? Aku dirundung sebagai pelakor saja, kamu gak perduli. Aku hampir mati lemes bantu istri kamu aja, kamu gak ngucapin makasih, tuh.” Seluruh unek-unek yang mengganjal di hati, sekuat tenaga ia keluarkan.
“Liat, gini aja kamu diem kicep, Mas. Mana bisa kamu adil sama kita berdua.” Zahra memalingkan wajahnya, mengambil napas dalam-dalam untuk mengucapkan satu kata yang teramat sulit keluar.
“Kita ... cerai aja, Mas!”
Perlu banyak kekuatan untuk memutuskan, entah itu bertahan atau tetap lanjut. Terkadang, orang hanya melihat, tanpa mampu memahami, lalu berkomentar seenaknya. Berpendapat tanpa bisa mengerti problema yang ia hadapi.
Tidak mudah menyandang status Janda, tapi lebih tidak mudah pula menyandang status sebagai Istri Muda. Setelah perjalanan panjang, penuh liku dan rasa sakit, Zahra akhirnya memutuskan.
“Kamu bisa pergi, kasihan Nindira sendirian!” ucap Zahra tanpa memandang Abram.
Abram melihat sekitar, saat manik matanya menangkap sosok Jordhan yang berdiri tegap. Ia akhirnya pergi begitu saja, tanpa berpamitan atau mengucapkan terima kasih.
Zahra menutup telinganya rapat-rapat, sembari tertunduk, mengumpulkan semua tenaganya. Ia berteriak, namun suaranya tertahan di kerongkongan, menyisakan urat-urat leher yang meregang, hingga orang lain tak mendengar teriakan pilunya.
Balas dendam terbaik fersi Zahra, adalah tetap berbuat baik dan menjadi lebih baik. Menekan lawan dengan kebaikan, hingga lawan tak punya muka untuk memandangnya.
Spoiler besok, kira-kira mereka ngapain nih????
Dah up banyak, othor masih di hujat juga.
__ADS_1
Kasih sajen gitu kek 😔😔