Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 69


__ADS_3

...Zahra pov...


“Kalian ini kenapa sih? Ngak dulu, ngak sekarang masih aja kek Tom and Jerry. Bertengkar mulu.” Gerutu Dania sedikit kesal.


Hela napas ku terdengar lebih berat dari sebelumnya. Alih-alih menjawab, aku lebih memilih merbahkan diri di kasur, menatap langit-langit dan kembali menghela napas. Pikiran ku kembali mengawang, menerka jauh ke belakang. Sekitar beberapa tahun yang lalu. Iya, saat aku masih bersama Dean.


Hal yang paling aku ingat saat bersamanya, justru pertengkaran kecil. Semakin bertengkar justru semakin erat. Aneh, ya pasti.


Di ingat-ingat juga, saat bersama Abram dulu, justru kebalikannya. Hampir setiap hari laki-laki itu selalu bersikap romantis. Seakan tanpa celah, sangat sempurna. Aku pun seakan patuh dengan segala prinsip hidupnya yang terlalu lurus dan datar.


Namun, sekalinya bertengkar, bisa memakan waktu berhari-hari. Dia bahkan cukup egois untuk berkata ‘Sorry’ saat melakukan hal kecil.


Dapat pertanyaan seperti itu dari Dania. Aku pun tak tahu harus menjawab apa. Dua orang dengan sikap yang berbeda. Ke duanya sama-sama menjalin hubungan lebih dari dua tahun.


“Ra, kamu ngelamun lagi?” Kini, yang aku dengar adalah suara Intan.


“Ngak, aku cuma lagi mikir.”


“Mikir apaan? Mikir ngelak dari Dean lagi?” Timpal Dania.


“Bukannya mau ngelak. Statusku masih istri orang, sekalipun berkas cerai udah di urus, apa kata orang nanti?” Aku menarik selimut, lalu membetulkan posisi. “Udah ah aku mau tidur!”


Beberapa detik setelah pura-pura menutup mata, aku tak lagi mendengar suara gaduh mereka. Kamar pun tak terdengar bising, cukup hening, bahkan aku hanya mendengar suara mesin AC yang ada diatas.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀☘...


Dua hari setelah Zahra menyerahkan berkas cerainya ke Pengadilan Agama.

__ADS_1


Dia baru saja selesai sarapan setelah menyelesaikan beberapa job desain. Tiba-tiba, panggilan dari Dean masuk.


“Assalammualaikum.”


“Waalaikummussalam. Kenapa?” Zahra menyenderkan ponselnya pada cangkir.


“Udah makan?”


“Basa-basi deh.” Zahra mulai mengerutu.


“Buruan mandi, satu jam lagi aku jemput.”


“Mau kemana?”


“Pengadilan Agama!”


Singkat, padat, dan jelas. Dean langsung mengakhiri panggilan begitu saja. Di perlakukan seperti itu, membuat Zahra jengkel. Ia langsung memanyunkan bibirnya sembari memukul meja. Lalu, berdiri dan bersiap-siap.


Ia baru saja mengunci pintu, ketika sayup-sayup telingganya mendengar suara Zahra.


“Pas banget, aku tadi mau call kamu.”


Dean menoleh, menatap seorang wanita yang berdiri, dengan celana *lev*is yang di padu kemeja merah, dan rambut yang di kuncir. Dengan gaya casual seperti itu, membuatnya terlihat lebih muda, bahkan tak ada bedanya dengan seorang gadis yang masih kuliah.


Tak hayal, Dean terngaga melihat Zahra. Terlebih, saat ia melepaskan kaca mata dan tersenyum.


“Hei! Hei! Jadi berangkat gak nih?” Zahra menjentikkan jarinya beberapa kali.

__ADS_1


“Oh, iya iya. Ayo!”


Kali ini, mereka perlu setidaknya dua jam saat berada di dalam gedung Pengadilan Agama yang berlantai dua tersebut. Dean terlihat cukup serius, saat meminta petugas memajukan jadwal Zahra.


“Ngak bisa, Pak. Jadwal sudah penuh, dan Ibu Zahra mendapat giliran tanggal 5 bulan depan.” Ucap petugas dengan cepat.


“Maju satu minggu aja deh, Pak. Klien saya bener-bener ngak ingin terlalu lama. Kasihan dia, Pak.” Dean memasang tampang memelas. Berusaha meyakinkan petugas untuk memajukan jadwal Zahra.


Saat petugas tak bereaksi, Zahra pun mencoba untuk negosiasi dengan cara halus dan sedikit memasang wajah melas.


“Pak, tolong saya ya. Beneran saya sudah ngak kuat, saya dikatain pelakor oleh media. Jelas-jelas, saya istri sah secara hukum dan agama. Saya kasihan orang tua saya, Pak. Mereka sudah tua, setiap hari mendapat tekanan dari masyarakat. Bantu saja ya, Pak.”


Seper-sekian detik kemudian, perugas yang masih muda itu menghela napas. Ia mengambil buku tebal, lalu menulis sesuatu di sana.


“Jangan lupa datang tanggal 20 bulan ini!”


Dean langsung menoleh, menatap Zahra yang terlihat bahagia, sembari menyeka air mata palsu. Ia pun menelan salivanya, kala menyadari, bahwa rayuan wanita ternyata lebih maut dari pada emak-emak yang bawa sepeda motor.


Mereka pun keluar dengan wajah lega dan gembira. Sudah keluar pun, Dean masih belum menyangka, jika hasilnya akan memuaskan seperti itu. Bahkan, jadwalnya bisa maju 10 hari.


“Ayo traktir aku makan!” Seru Zahra dengan raut wajah bahagianya.


“Mau makan apa?”


“Mie ayam dekat kampus Brawijaya!” Zahra menarik tangan Dean, berlari kecil hingga ke tempat parkir.


__ADS_1


Vote jangan sampai lupa.


Terima kasih ♡♡♡♡♡


__ADS_2