Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 47


__ADS_3

...***Berakhir-kah?***...


Matahari perlahan sudah kembali ke ufuk barat. Menyisakan beberapa hampuran sisa sinarnya yang meng-orange, bercampur dengan langit gelap. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Mengobrol dengan Jordhan, ternyata cukup menyenangkan bagi Zahra.


Adzan magrib pun berkumandang. Zahra buru-buru turun dari gazebo, ingin segera naik ke atas untuk menunaikan kewajibannya.


“Senang mengobrol denganmu.” Kata Zahra.


“Mungkin kita bisa jadi teman?” Jordhan mengulurkan tangan dengan senyum ramahnya.


“Teman? Kurasa kamu terlalu percaya diri. Aku bukan tipe orang yang mudah berteman.”


“Tapi kamu udah habisin ice cream milikku?” Tangan yang sudah terbuka, tiba-tiba mengepal dan menunjuk ke arah kantong keresek yang penuh dengan bungkus ice cream.


Zahra buru-buru menoleh. Melihat bekas bungkus ice cream yang berserakan, entah siapa yang rakus memakannya.


“Ini-ini bukan aku. Tadi aku kesurupan, eh ... astagfirullah.” Zahra buru-buru memunggut bungkus ice cream lalu membuangnya.


“So, kita bisa berteman?” Jordhan kembali mengulurkan tangannya.


Kali ini, tidak ada alasan bagi Zahra untuk menolak.


“Zahra.” Ucapnya sembari menjabat tangan Jordhan.


“Johan, kamu bisa panggil aku Jo.”


“Jadi, Jodrhan itu ....”


“Itu nama beken ku saat muda. Kebanyakan mereka panggil aku begitu.”


Merasa waktu sudah berubah menjadi malam, dan langit sudah gelap. Zahra buru-buru pamit dan mengakhiri pembicaraan mereka. Zahra pergi lebih dulu, sedangkan Jordhan kembali duduk di sana.


Baru saja dia membuka pintu. Tiba-tiba, pandang matanya di kejutkan dengan keberadaan Dean. Lelaki itu berdiri memandang ke arahnya. Tatapannya terlihat menyeramkan, penuh dengan amarah.


“Kok kamu di sini?” tanya Zahra terkejut.

__ADS_1


“Udah magrib, solat sana!” Dean memutar badannya, menatap jendela kaca yang di tutup, tapi tirainya terbuka. Pandangan lelaki itu lurus ke depan, tak goyah sedikit pun.


Entah kenapa, sikap Dean barusan membuat Zahra merasa bersalah. Dia pun tak membantah perintah Dean dan langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Setengah jam berlalu, Zahra belum juga keluar dari kamar. Bahkan saat adzan isya’ berkumandang, pintu kamarnya masih tertutup rapat. Hingga kemudian, dia keluar, dengan mukena yang masih menempel di tubuhnya.


“De-dean?”


Zahra pikir, Dean sudah pergi sejak tadi, sehingga dia langsung menyambung untuk solat isya’. Namun, siapa yang sangka, lelaki itu masih duduk di sofa tanpa berbuat apa pun.


“Kamu tadi dari mana?” tanya Dean yang tak memandang Zahra.


“A-aku, cuma pergi keluar, jalan-jalan.”


Penjelasan Zahra rupanya membuat amarah Dean memuncak. Dia bangkit berdiri, berjalan menghampiri Zahra yang sedang minum.


“Sejak kapan kamu pandai berbohong?”


Zahra meneguk habis minumannya, lalu meletakkan gelas itu di atas meja dengan kasar. Merasa tak terima, atau sudah tersudut?


Zahra menghindar dengan cepat. Namun Dean tak menyerah, ia terus bertanya pada mantan kekasihnya itu.


“Mee, jangan menghindar terus dong. Setidaknya kasih aku jawaban.” Desaknya. Ia mencoba meraih tangan Zahra, tapi di hempaskan begitu saja.


“Cukup, Dean! Bisa gak, jangan maksa aku? Aku capek!”


“Kamu implusif, Mee. Itu yang buat aku maksa kamu terus. Sadar ngak sih?”


“Aku, implusif? Bagian mana? Coba jelaskan!” Zahra makin meradang.


“Di sini!” Dean menunjuk ke dadanya. “Hati kamu bilang mau, tapi tubuhmu menolak. Seperti ciuman hari itu.”


“Kamu gila, Dean! Kamu yang maksa aku!” Zahra melangkah pergi, ingin mengakhiri pembicaraan dengan sepihak. Namun, Dean mencekal tangannya.


“Iya aku gila! Aku sayang, aku cinta, iya aku gila! Gila karena udah mencintai istri orang! Tapi, kamu juga cinta kan sama aku? Kamu masih cinta, iya kan?”

__ADS_1


Dua pasang mata itu saling bertemu. Sorot mata Zahra seakan tak menapik semua perkataan Dean. Cepat-cepat ia menghempaskan tangan Dean begitu saja.


“Iya, aku akui itu. Tapi kita gak bisa sama-sama, Dean. Dari dulu pun, kita gak jodoh!”


Bak petir yang menyambar di langit yang cerah, penuh dengan bintang. Perkataan Zahra seakan menjadi pedang algojo yang di tebaskan di lehernya. Memutus hubungan kepala dan badan langsung begitu saja.


“Apa maksudmu?”


“Dari awal kita gak jodoh. Kamu dan aku dari strata yang berbeda. Kamu orang berada, sukses sekarang. Aku cuma orang kampung, udik, gak punya standart apa-apa.”


“Siapa yang bilang?! Siapa yang bilang begitu?!” Nada Dean meninggi. Untuk pertama kalinya, Dean bersikap di luar kendali. Ia berbicara sembari menggoncangkan tubuh Zahra. Seakan tak percaya dengan ucapan mantan kekasihnya itu.


“Mama kamu yang bilang! Mama kamu yang buat mata aku melek. Melihat dunia yang ternyata bisa punya tembok besar dan panjang!”


Tangan Dean mengendor dan melepaskan cemgkramannya. Dia benar-benar tak percaya. Kalau mama, wanita yang sudah melahirkannya, bisa berkata seperti itu pada Zahra.


“Kamu bohong, kamu bohong, Zahra!”


“Iya, aku bohong. Aku bohong demi bisa lepas dari kamu. Puas kamu sekarang!”


Pandangan mata Dean seakan kosong. Antara percaya dan tak percaya. Dari dua wanita yang dia sayangi, mana yang lebih dia percaya?


Langkahnya gontai, perlahan melangkah keluar.


“Bebek goreng kesukaanmu ada di meja.”


Kata-kata terakhir Dean, langsung membuat Zahra merosot jatuh ke lantai. Seluruh persendiannya seakan lemas tak bertenaga. Kenyataan pahit yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun, akhirnya terkuak dengan cara frontal.



Nikmatin aja alurnya, siapa tau abis ini Zahra sukses, trus bungkam mulut mamanya Dean.


Vote sama sajen jangan sampe lupa.


Nanti malem kita lanjut tempur lagi bareng .... titt ....

__ADS_1


__ADS_2