
...Zahra pov...
Dulu, aku pernah bermimpi ... emm, lebih tepatnya punya harapan. Iya, harapan besar pada pernikahanku. Punya anak dua, dan di jadikan ratu oleh suami. Terdengar sederhanakan?
Keluarga kecil yang selalu bahagia. Menghabiskan waktu bersama, menjalani kehidupan sederhana tanpa ada permasalahan rumit.
Yah, sederhana. Bermimpi untuk menjadi ratu dan menduduki singasana hatinya.
Hanya saja ... aku tak tau. Kalau hatinya begitu luas, hingga bisa memilih dua ratu.
Ahh ... ironis.
Dua hari berlalu setelah Mas Abram berangkat. Rumah terasa semakin sepi sekarang. Meski ada Mbokijum yang datang saat pagi dan pulang malam hari. Aku merasa ... terlalu sepi. Padahal dulu ngak pernah merasa kesepian meski dia pergi selama seminggu atau setengah bulan.
Aneh bukan?
Ngak, ngak. Bukan aneh, hanya hatiku yang merasa kehilangan kali ini. Lebih tepatnya takut kehilangan.
Demi mengobati rasa rindu, pagi ini aku memibta Mbokijum membelikan sarapan nasi jagung kesukaanku. Yah, makanan yang hanya bisa aku makan saat sendirian, karena dia gak pernah suka. Terutama bau ikan asin yang katanya menyengat.
Baru setengah piring, Mbokijum buru-buru membukakan pintu. Saat itu aku gak menebak dia, karena sebelumnya dia bilang akan sedikit lama. Yah, aku juga gak mau berharap tentang kedatangannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Makan apa, Ra?”
Suara seorang wanita yang terdengar begitu akrab. Aku bisa langsung menebak siapa yang datang.
“Nasi jagung, kamu mau?” tanyaku tanpa menoleh.
“Ahh, Ra. Kamu telat, barusan aku sarapan di rumah Mbak Mulan.”
Aku menoleh, melihat Mulan datang menenteng kantong kresek putih.
“Nih, Ra. Aku bawain kue bolu.”
Melihat kue yang disodorkan Mbak Mulan, aku jadi ingat. Mulan punya toko kue yang lumayan rame di kota. Meski itu usaha mamanya, tapi Mulan mengambil banyak andil dalam permodalannya.
“Tumbenan kesini?”
Kali ini topik tentang apa? Apa masih sama seperti sebelumnya?
Piring baru saja ku letakkan di washtafell. Lalu, membuat teh hangat untuk mereka. Baru saja menarunya di meja lalu duduk, Dania sudah memegang tanganku.
“Kali ini apa lagi?”
“Eemm ... gini, Ra.” Nadanya terdengar aneh, seperti menyembunyikan sesuatu. Perasaanku makin gak nyaman waktu Dania mulai berbicara dengan nada seperti itu. Aku yakin, yakin seyakin-yakinnya, kali ini kita masih di topik yang sama.
__ADS_1
Aku melihat Mulan mengambil ponsel, kemudian menunjukkan salah satu gambar yang sepertinya ia screen capture. Pada gambar itu, lima orang berdiri cukup akrab. Tiga diantaranya seorang wanita, dan dua lainnya seorang pria. Salah satunya, mas Abram.
Coba untuk positif thinking. Mungkin ... mungkin itu rekan kerjanya. Mungkin ia sedang pesta perusahaan, atau bisa jadi itu koleganya. Foto itu rasanya gak ada yang aneh. Hanya saja, wanita yang ada di tengah-tengah. Aku mengenalnya ... dengan sangat baik.
“Ah ... itu cuma rekan bisnis. Wanita yang ditengah itu, aku kenal kok.”
“Apa? Seriusan kamu tau?” Nada Dania memburu. Entah kenapa, aku jadi sedikit curiga dengannya. Di awal, dia menunjukkan salah satu foto mesra Mas Abram. Sekarang, dia ... seperti ngotot kasih tau kalau suamiku selingkuh.
“Iya aku kenal, kenal baik malah. Namanya Tante Ve.” Mereka berdua saling memandang untuk sesaat.
“Ra, kamu tau arti kata ini?” Mulan menunjukkan satu kata yang ada di sana.
‘Liebe’
Apa itu? Apa artinya?
“Liebe, dalam bahasa Jerman artinya Cinta. Bisa juga disebuh kekasih.”
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
yang kepo sama visual mereka, cus mampir ke IG othor. Jangan lupa di Follow
Kaykha_kay.
__ADS_1
Udah pada Like belom?
Buruan Like! Karena Like itu GRATIS!!!!