
...***Penerbangan jurusan CGK***...
Dua tiket ... bukan dua, melainkan tiga tiket, telah selesai di pesan Dania. Penerbangan dengan rute MLG-CGK pukul 19.45, dipesan untuk tiga nama, Miss, Mrs, dan Mr.
Hujan gerimis menggiringi perjalanan dua orang wanita dari rumah hingga ke bandara. Tak begitu deras, juga bukan rintik. Tanpa kilat atau gemuruh petir yang mengelegar. Hujan yang begitu tenang, seolah mengambarkan keadaan hati Zahra.
“Terima kasih, Pak.”
Dania buru-buru membayar ongkos taksi online, usai supir membantu menurunkan dua koper berukuran 20 inch milik mereka. Baru berjalan beberapa langkah setelah melewati ‘departemen keberangkatan’, ponsel Zahra berdering.
Notifikasi panggilan masuk, terpampang jelas di layar. Rupanya itu, panggilan dari Abram.
Perasaan wanita yang patah hati memang naik turun. Sedetik moodnya membaik, sedetik kemudian moodnya berantakan. Hal yang di rasakan Zahra saat ini pun sama.
Alih-alih menjadi wanita tegar yang berusaha patuh, menurut dengan perkataan suami. Zahra lebih memilih bertindak acuh tak acuh dan sedikit frontal. Ia menolak panggilan dari Abram, lalu menonaktifkan ponselnya.
“Kamu gak papa?” Dania memperhatikan segala gerak gerik Zahra. Takut jika sewaktu-waktu, gadis ini melakukan tindakan yang gila.
Zahra mengangguk cepat-cepat. Dalam sejenak, rasa haru menepi ke dalam hatinya. Mempunyai teman-teman seperti, Dania, Intan, dan Mulan, menjadi keberuntungan tersendiri.
Mungkin, benar kata Dean.
Terus hidup saat dunia di sekitarmu mati, jauh lebih baik dari pada ikut mati.
Aku masih muda, aku masih bisa berkarir. Semua ini demi ayah dan ibu, juga demi kalian.
Zahra menatap punggung Dania dari belakang. Melihat sahabatnya berjalan menyeret koper, dengan pandangan fokus menatap layar ponsel.
Seulas senyum tiba-tiba terukir di wajah cantiknya.
“Kamu cantik kalau senyum.”
Suara berat khas seorang lelaki, terdengar jelas dari samping. Suara tak asing membuat Zahra reflek menoleh. Matanya membulat penuh, melihat Dean berjalan di sampingnya.
Dia ikut ke Jakarta?
Sepenggal ingatan mendadak muncul. Momen dimana Mulan membicarakan pekerjaan Dean, juga kantornya tempatnya bekerja.
“Balik Jakarta juga?” tanya Zahra mencoba untuk santai.
“Ngikutin kamu, kamu percaya ngak?”
__ADS_1
Mood Zahra berubah lagi. Mendengar rayuan Dean membuat perasaannya makin campur aduk. Dia melirik tajam menatap Dean. Lalu mempercepat langkah mengejar Dania.
“Tempat duduk di nomer 12 H dan 12 K, ya Kak. GA402 tujuan Cengkareng, di Gate 12.”
Zahra segera menarik tangan Dania dan menggandengnya erat-erat, usai cek-in. Seperti seorang anak kecil yang tidak ingin kehilangan ibunya. Penasaran dengan sikap Zahra, Dania pun menoleh. Melihat Dean sedang berdiri sambil mengurus Cek-in.
Ah, rupanya begitu ....
Entah dia sedang malu-malu, atau takut cinta lama bersemi kembali. Namun, mungkin saja karena hal lain. Zahra yang biasanya ramah pada siapa pun, rupanya bisa menunjukkan sifat cuek dan angkuh. Sayangnya, sifat langkanya itu, hanya di sematkan pada mantan pacar satu-satunya.
“Kita langsung ke rumah Tante Ve?” tanya Dania.
“Ngak, aku ada feeling ngak enak. Kita cari hotel aja, sementara deket bandara dulu.”
“Ngak tanya ... dia dulu?” Dania menunjuk Dean yang duduk sedikit jauh dari mereka.
Sebenarnya, ini pertama kali Zahra pergi ke Jakarta. Ibu kota yang luas dan cukup padat. Tidak masalah bagi mereka kalau tersesat, tapi bagaimana kalau bertemu dengan orang jahat?
Zahra menghela napas panjang sembari meminjit kepalanya.
“Bandara Soekarno Hatta sedikit jauh dari Jakarta. Belum lagi, Jakarta cukup luas. Kalau mau cari hotel, mending sekitar Rawamangun atau Thamrin. Akses kalau mau kemana-mana juha gampang.” Dean tiba-tiba berdiri di depan mereka.
“Kalau gitu, kamu yang cariin deh.” Seru Dania yang pusing mendengar penjelasan Dean.
“Ya udah deh. Kalau bisa cariin Apartemen harian. Biasanya agak murah kan? Kita juga belum tau berapa lama. Terus kalau cari yang ada ... juga ....”
Dean hanya bisa mangut-mangut mendengar permintaan Zahra yang panjang. Cukup panjang sampai mereka tidak sadar sudah waktunya untuk Boarding.
“Stop! Aku masih inget dengan baik. Ayo, udah waktunya boarding!”
Bandara Internasional Seokarno Hatta.
Pesawat boing 737 dengan rute MLG-CGK, berhasil landing dengan sempurna. Jam menunjukkan pukul 10 malam, saat mereka bertiga baru selesai antree bagasi dan berjalan keluar.
“Yang ini bagus, terlihat rapi,” ucap Zahra melihat ponsel Dean.
Sejak antri bagasi, mereka berdua sudah sibuk sendiri, memilih apartemen yang sesuai dengan keinginan Zahra. Bahkan, sampai mereka berdiri di depan departemen kedatangan terminal tiga, dua pasang mata itu masih saling fokus.
“Fix yang ini?”
“Iya ini aja ... eh ... yang ini juga bagus.”
__ADS_1
“Di hotel dulu aja deh, besok baru liat apartemen, gimana?”
“Ngak, ngak. Langsung ke apartemen aja!” Sunggut Zahra. “Fix yang pertama kalau gitu!”
Melihat perdebatan mereka berdua, Dania terlihat kesal. Dia bahkan sempat menyesali tindakan bodohnya saat mengikuti Zahra ke Ibu Kota yang kejam.
“Cukup! Bisa gak kita jalan dulu? Aku capek berdiri terus!” Pekik Dania jengkel.
Tepat saat Dania selesai mengomel, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan mereka. Dean cepat-cepat membuka bagasi dan memasukkan barang-barang.
“Ayo, aku anter kalian!” ucapnya santai.
Dania terlihat menelan salivanya sebelum berkata, “Oke.”
Mobil CRV putih melaju di lengangnya ibu kota. Memecah keheningan malam yang sedikit sunyi dari biasanya. Hingga, sampailah mereka di dua gedung tinggi yang menyatu. Dilengkapi kolam renang, lapangan tenis, dan basket.
Ini ... ngak mahal ya?
Apartemen tipe one rooms dibuka Dean. Ruangan dengan luas 80 meter persegi, memiliki satu kamar, ruang televisi, serta satu dapur, dan kamar mandi. Terlihat rapih dan bersih, bahkan cukup wanggi saat pintunya terbuka.
“Kita mau gimana besok, Ra?” tanya Dania penasaran.
Zahra pun terlihat binggung. Dengan emosi ia memutuskan pergi ke Jakarta. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa saat sampai disana. Melihat Zahra binggung, Dean mencoba memberi solusi.
“Kalian istirahat dulu. Besok baru dipikirin mau apa. Aku juga mau coba cari informasi keberadaan Abram.”
“Kenapa besok? Sekarang juga bisa.”
“Jangan egois, Ra. Kita butuh istirahat, tubuhmu juga. Maksain mikir waktu lelah, gak akan bisa dapat ide. Percaya sama aku!”
Zahra tertunduk lesu, menyadari keinginannya yang memang terdengar egois. Sekarang sudah jam 11 lebih, semua orang juga butuh istirahat. Ia pun meminta maaf, dan memutuskan untuk istirahat lebih dulu.
... ☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
Sudah Like belum?
Sudah di jadikan Favorit belum?
Sudah Vote belum?
Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!
Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!
__ADS_1