Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 55


__ADS_3

...***Kamu suka sama dia?***...


Azan subuh belum berkumandang, tapi Zahra sudah terbangun. Ia sedang bersujud, diantara dua rakaat di sepertiga malam. Meminta kekuatan kepada sang pemilik kehidupan.


La haula wa la quwwata illa billahi 'aliyyil azhimi


Sepengal doa yang terus menerus ia ucap dalam hati, diantara dua sujud dalam satu rakaat terakhir. Harapan wanita itu tidak banyak. Dia tidak meminta Abram kembali memilihnya, atau bahkan menceraikan istri pertama. Dia hanya meminta kekuatan, untuk menghadapi cobaan yang ada di depan mata.


Dia baru selesai melipat mukena, saat tiba-tiba saja, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk di aplikasi WhatsApp miliknya. Nama Dean tertera di sana.


📳 Sudah bangun?


Pesan singkatnya membuat senyum Zahra lepas. Ia pun tak sungkan membalas pesan itu. Centang dua berwarna hitam, baru saja berubah biru. Dan tak lama setelah itu, sebuah panggilan masuk.


“Kenapa?” tanya Zahra saat menjawab panggilan dari Dean.


“Mau sarapan apa hari ini?”


“Entah, aku belum mikir. Hari ini rencana mau berangkat ke Bandung.”


“Hari ini? Jam berapa? Biar aku yang anter!” Dari nada bicaranya, dia terdengar begitu bersemangat.


“Gak perlu. Aku tau kamu sibuk. Lagi pula, gak enak sama mereka kalau aku ajak kamu.”


“Jangan lupa, aku pengacaramu! Lagi pula, Dania juga ikut kan?”


Hela napas Zahra terdengar sedikit berat. Kata Pengacara yang di tegaskan Dean, sepertinya menjadi alasan yang cukup kuat bagi lelaki itu. Setelah berpikir banyak hal yang mungkin bisa terjadi, Zahra merasa ‘tidak ada salahnya’ membawa pengacara bersamanya.


“Aku harap, kamu gak sibuk!”

__ADS_1


“Jam sembilan, aku jemput kalian.”


Mungkin, hari ini akan jadi hari yang cukup panjang dan melelahkan. Tapi setidaknya, hari inu akan menjadi akhir dari rasa sakit.


Zahra membuka pintu kaca yang jadi penghubung balkon. Kemudian, menghiruo udara segar yang masih sejuk. Dia tak menyangka, udara Jakarta juga bisa sesejuk di kotanya.


“Nduk, kamu ngapain?”


Suara nyamar seorang wanita, membuat Zahra menoleh ke belakang. Melihat ibunya masih mengenakan mukena, berdiri di ambang pintu.


“Lagi nyicip bau kota Jakarta, Bu.”


“Aneh-aneh kamu tuh. Kamu ngak tidur?”


“Tidur. Barusan kebangun, trus tahajud sebentar.” Zahra berjalan mendekat, lalu memeluk ibunya dengan manja.


“Mau Zahra buatin teh panas, ngak?”


Zahra meletakkan teh di atas meja. Lalu, berbaring di pangkuan sang ibu yang sedang duduk. Bersikap manja layaknya seorang anak kecil. Bu Ahmed pun tak keberatan dengan tingkah anak gadisnya. Ia bahkan memijat tangan Zahra.


“Bu, Zahra minta maaf ya. Zahra belum bisa bahagiain Ayah sama Ibu. Belum bisa kasih cucu, sekarang malah cerai.”


“Ngomong apa kamu ini?”


“Bu, Zahra bikin mau kah?”


Bu Ahmed langsung menghentikan tangannya. Bibirnya sedikit gemetar mendengar ucapan anak semata wayangnya.


“Siapa yang ngomong? Mereka gak tau gimana hebatnya anak ibu, hah?

__ADS_1


Bukannya menjawab, Zahra justru tersenyum sembari memandang ibunya. Lalu, dia berdiri dan memberi kecupan di kedua pipi sang ibu.


“Nanti dandan yang cantik. Kita ketemu besan. Oke, Bu!” Setelah menggoda sang ibu, Zahra bergegas lari dan masuk ke kamar.



Sinar mentari terpancar dari ufuk timur, menembus kaca, memantul di atas keramik, dan menyebarkan cahayanya. Menerangi keluarga kecil yang sedang menikmati sarapan bersama. Tertawa, bahagia, bersenda gurau, seakan tak ada beban.


“Kita ke Bandung naik apa, Ra?” tanya sang ayah sembari mengangkat gelas kopi.


“Dean yang anter, Yah.”


Seketika, Pak Ahmed meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. Raut wajahnya pun berubah, dengan tajam memandang anak perempuannya.


“Ra, ayah tanya, kamu jawab jujur!”


Pandangan mereka semua fokus menatap Zahra dan Pak Ahmed. Zahra yang dulu selalu gugup saat sang Ayah mulai bertanya, kini terlihat lebih rileks.


“Kamu, suka sama dia?”


Zahra tak berani menatap mata sang ayah. Ia hanya menunduk, mengaduk sayur sop yang ada di hadapannya.


Kini, bagaimana dia menjawab pertanyaan ayahnya?


Bagaimana dia menjabarkan kata suka yang di sebutkan sang ayah?


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Bab selanjutnya meluncur

__ADS_1


Sajen jangan sampe lupa


__ADS_2