Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 72


__ADS_3

Kontrak sudah selesai di tanda tangani. Zahra dan Dean pun memutuskan kembali ke kos Dania, mengingat hari sudah mulai gelap, bahkan hujan pun sepertinya bertambah awet.


Moment yang sangat pas. Mobil putih milik Zahra, yang sejak tadi di pinjam Dania, baru saja terparkir. Bahkan mesin mobilnya belum mati, saat mobil Dean terparkir di sebelahnya.


“Baru balik?” Tanya Zahra yang baru turun dari mobil, kompak dengan Dania.


“Iya, bosku agak resek.” Jawab Dania dengan terlihat bad mood. “Jadi lihat ruko?”


“Udah dapet malah. Gila gak sih? Aku dapet murah banget!” Zahra excited menceritakan lokasi, juga kondisi ruko yang baru saja dia sewa.


“Yang punya kayaknya gak butuh duit tuh! Padahal, ruko ke empat tadi minta 100 selama 3 tahun. Dan ini, aku dapet 40 untuk 2 tahun.” Lanjutnya sambil berjalan naik, disusu Dean di belakang.


“Udah tajir kali yang punya. Atau, mas itu kena pesonamu? Hahaha.”


Dean yang mendengar percakapan, hanya bisa mengelus dadanya beberapa kali. Merasakan setiap kata mereka seperti jarum yang menancap di tubuhnya.


Iya, aku sudah terpesona. Aku juga gila, mau-maunya pura-pura nganter dia buat sewa ruko punya sendiri. Mana itu si Mang Asep pinter banget lagi akting nya.


Rugi, rugi deh. Demi cinta, apa pun rela.


Usut punya usut, ruko yang di sewa Zahra rupanya salah satu aset milik Dean. Dia secara pribadi merancang bangunan dua lantai tersebut. Berniat membangun kantor advokat yang bisa di jadikan hunian. Namun sayangnya, dia justru harus pindah kantor di daerah BSD Tangerang Selatan.


“Kamu, kenapa ikut naik?” Zahra menoleh, menatap Dean yang membawa beberapa dokumen, juga kantong kresek berisi mie ayam.

__ADS_1


“Di luar hujan. Kamu mau aku nunggu di luar gitu?”


“Kan kamu pakai mobil? Ngak mau pulang?”


“Ngopi dulu ngak boleh? Lagian yang punya kos juga gak masalah.”


Zahra tak bisa berdebat lagi, ia menghentakkan satu kakinya. Lalu, melanjutkan langkahnya naik ke atas.


“Kenapa sih dia?” Tanya Dean pada Dania.


“Hais, biasa lagi lampu merah. Kek gak tau aja sih!”


Dean mengangguk seakan mengerti. Namun, sebelum Dania kembali melangkah, Dean menarik tangannya. Lalu, menyodorkan beberapa berkas, juga kantong kresek.


“Aku balik. Titip ini ke dia.” Dean berputar arah dan melangkah turun.


Seperti kebiasaan baginya, Dean hanya melambaikan tangan dan pergi begitu saja. Meninggalkan Dania yang melangkah kembali menapaki tangga dan masuk ke kamar.


“Mana dia?” Tanya Zahra yang melihat Dania masuk dan menutup pintu.


“Balik lah, kamu udah pasang wajah singa begitu, mana berani dia.”


Zahra pun menghela napas kasar, lalu meletakkan cangkir dan gelas yang sejak tadi di pegangnya.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih, Ra?” Dania heran melihat tingkah sahabatnya. Mungkin, Zahra sedang datang bulan, begitu pikirnya.


“Kalau suka, tinggal ngomong kan? Ngapain sok ngengsi gitu. Sok nolak padahal suka, sok cuek padahal saling care. Cowok juga gak mau kali di ghosting.” Dania merebahkan dirinya di ranjang.


“Ngawur deh. Kamu lupa aku masih istri orang.”


Mendengar itu, Dania pun bangkit. “Hallo ... Zahra Ameera, kamu gak inget waktu di rumah sakit? Abram secara ngak langsung udah jatuhin talak. Inget juga waktu dia mau balik Jakarta, dia udah mau pulangin kamu.”


“Entah lah, Nia. Aku pusing.”


“Pusing apa sih, Ra? Aku tau kok kamu susah menempatkan posisi. Gerak dikit pasti salah, gitu kan? Tapi kamu juga gak bisa bertindak cuek, Dean udah bantu banyak hal loh.”


“Tau, aku tau. Aku cuma gak tau harus bersikap gimana. Salting, tau ngak sih?”


Dania pun menghela napas panjang. Mendengar jawaban Zahra, membuat isi dalam kepalanya kembali penuh. Dia baru saja selamat dari pekerjaan kantor, haruskah sekarang memikirkan kedamaian temannya?


"Oh, beban hidupku gini amat yak?" gumam Dania.



...visual Dania nih...


Vote jangan sampe lupa loh

__ADS_1


Like, kembang se kebon,


kopi segalon, boleh lah yaaa 🤭🤭


__ADS_2