
Tiga hari mendapat perawatan di rumah sakit. Zahra sudah mendapatkan izin pulang. Setelah perbincangan yang sedikit lama dengan ayah mertuanya, sikap Abram jauh lebih baik. Ia bahkan sempat mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Zahra.
Seminggu berada di rumah, kesehatan Zahra jauh lebih baik. Begitu baik hingga dia tak lagi mengeluhkan rasa perih pada bekas jahitannya. Semua berkat Abram yang berada di rumah selama seminggu ini dan menjaga Zahra. Juga Mbokijum, pengurus rumah tangga yang selama ini membantu Zahra.
Dulu, Mbokijum datang setiap tiga hari sekali untuk mencuci dan menggosok pakaian.
Saat itu hari Selasa. Abram tiba-tiba menyuruh Mbokijum merapihkan beberapa bajunya ke dalam koper. Zahra yang melihat Mbokijum berkemas untuk Abram, langsung bertanya pada suaminya.
“Kok Mbokijum beres-beres bajunya Mas?”
“Iya, mas lupa bilang, besok mas balik ke Jakarta. Proyek jalan layang kemaren belum selesai, Pak Prapto udah teriak-teriak.” Jelas Abram terlihat santai sembari menikmati secangkir kopi.
“Kenapa gak bilang dari kemaren sih, Mas? Kan aku bisa minta ibu ke sini.”
“Mas gak lama, cuma dua atau tiga hari. Kamu bisa sama Mbokijum dulu kan? Mas udah minta Mbokijum ke sini tiap hari selama satu bulan.”
Zahra dulu tidak pernah keberataan saat Abram meninggalkannya sewaktu-waktu. Meski baru di rumah dua hari dan harus kembali lagi, dia tak pernah cemberut. Namun, sekarang berbeda.
Raut wajahnya jelas tak bisa di tutupi dengan apa pun. Marah, jengkel, mungkin seperti itu perasaan yang sekilas tergambar di wajahnya.
Jelas marah ....
Dia baru saja sembuh setelah mengalami rasa sakit yang luar biasa. Menjalani operasi sendirian tanpa kehadiran sang suami. Wanita tegar mana pun, pastinya juga kecewa dan sakit hati kan?
__ADS_1
Abram melihat wajah sang istri sudah bertekuk-tekuk, seperti baju yang baru selesai di gosok. Lalu, tanpa perasaan mulai mengeluarkan keegoisannya lagi.
“Kamu juga gak usah dikit-dikit ‘bu’, bentar-bentar ‘bu’. Kita udah rumah tangga, ibu juga udah tua, gak usah lah ngerepotin gitu.”
“Ngerepotin? Aku ngerepotin ibuku sendiri?” Ucapan Zahra terdengar sedikit sumbang saat keluar dari mulut. “Dia ibuku, Mas. Seorang anak, sakit, ibunya merawat, mana ada kata merepotkan?”
Abram pikir, Zahra terlalu dimanjakan sejak kecil oleh keluarganya. Sehingga sang istri bersikap cukup manja saat dewasa. Menurutnya, usus buntu bukan operasi yang terlalu menyakitkan hingga membuat seseorang menjadi manja. Bahkan setelah satu minggu berlalu.
“Mas gak mau debat! Udah ngantuk, capek!” Abram berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Zahra yang terlihat kecewa di ruang tamu.
Keesokan paginya, Abram sudah terlihat rapi usai solat subuh. Parfum yang baru saja di semprot ke tubuhnya, tercium oleh Zahra yang masih tertidur. Harum parfum yang terasa asing, langsung membuat matanya terbuka.
Samar-samar ia melihat Abram berdiri di depan kaca. Berdiri dengan baju yang rapih dan tercium wanggi. Padahal, Abram tidak pernah serapih ini sebelumnya.
“Tumbenan pake baju rapih, Mas?”
“Iya, langsung ke kantor nanti.” Jawabnya singkat.
Jawaban Abram terdengar aneh di telinga. Namun, Zahra tak mau berdebat atau memperkeruh suasana lagi. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengangguk dan lekas bangun dari ranjang.
“Aku buatin sarapan bentar.” Zahra hendak membuka pintu, tetapi perkataan Abram justru menahannya.
“Ngak usah. Katanya lagi PMS? Istirahat aja di kamar.”
__ADS_1
Bentuk perhatian Abram dulunya mampu membuat hati Zahra luluh. Namun sekarang berbeda. Perkataannya seperti tembok besar nan panjang, menjadi pemisah antara suami dan istri.
Zahra tak menggubris. Untuk pertama kali ia menulikan telinganya dan pergi ke dapur. Membuat secangkir teh hangat dan nasi goreng. Berharap sang suami sedikit tersentuh dan mengucapkan ‘terima kasih’ seperti biasanya, tetapi kenyataannya berbeda ...
Abram melihat sepiring nasi goreng di atas meja. Harus semerbak wanggi mentega mengelitik indra penciumannya. Namun bukannya tergoda, ia justru mengabaikan dan mengambil sepotong roti.
“Kok malah makan roti?” tanya Zahra.
“Bee, mas kan ada flight pagi, makan berat gini bisa buat perut mas mules. Kamu kan tau itu.”
Zahra menelan salivanya kuat-kuat. Ia mengambil sendok, memasukan acar timun ke atas piring berisi nasi goreng. Lalu, mulai memakannya dengan lahap.
“Kok kamu yang makan?” Sunggut Abram penuh emosi. “Dokter bilang kan harus makan yang lembut-lembut seminggu ini. Makin lama makin susah dibilangin ya? Terserah deh, penyakit kamu yang cari sendiri!”
Brak!
Usai mengebrak meja dengan penuh emosi, Abram pergi meninggalkan Zahra.
“Bukannya kamu yang ngajarin aku? Baru selesai operasi langsung di tawarin bebek goreng! Siapa yang cari penyakit?” Teriak Zahra memekik telingga.
Abram tak menggubris, meski ucapan istrinya terdengar begitu berat dan serak. Ia buru-buru mengambil koper di kamar, lalu menyeretnya keluar.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan komentar yang baik dan bijak. Jika suka, jangan lupa like dan masukkan ke daftar Favorit. Jika tidak, Anda bisa langsung meninggalkannya.