
...***Penangkapan***...
Sepulangnya Yiyi dari apartemen Nindira. Ve berdebat hebat dengan Pras. Wanita itu terlihat cukup penasaran dengan apa yang di ucapkan Yiyi tadi. Urat-urat lehernya bahkan meregang saat berbicara.
"Jelasin cepetan!" Pekiknya menarik lengan Pras.
"Kamu mau aja di kompor-kompori orang!" Pras mencoba menghindar. Fokus mengoleskan minyak kayu putih ke jarinya, lalu mendekatkannya ke hidung Nindira.
"Bohong! Kamu bohong! Aku punya telinga, aku denger ucapannya tadi. Dia bilang, Nindira hamil anak suaminya! Kamu jual ponakanmu, Mas?"
Telinga Pras makin panas, semakin lama di dengar, perkataan Ve terasa makin mencekik tenggorokan. Hingga akhirnya, ucapan itu mendidihkan amarah yang sejak tadi ia tahan. Dengan tenaga yang cukup kuat, Pras malayangkan tangannya hingga mendarat di pipi Ve. Darah segar pun mengalir dari sudut bibirnya setelah bunyi tamparan.
Ve terdiam sesaat, merasakan hatinya yang lebih sakit dari pipi yang di tampar sang suami. "Tamparan ini, nunjukin kalau ucapan wanita itu benar!" Ve menatap Pras dengan perasaan kecewa, marah, benci, juga jijik.
"Kamu hebat, Mas. Seluruh keluargamu hebat!"
Plak
"Jangan bawa-bawa keluargaku!" Seru Pras yang baru saja menampar Ve.
Dengan wajah yang memerah, Ve berteriak dengan lantang, "Kenapa? Bukannya gitu? Kamu sendiri udah bereng'sek, ponakan juga murahan!"
Perkataan Ve kembali menyulut amarah Pras. Ia kembali mengangkat tangannya, tapi belum sempat tangan itu mendarat, Ve justru menantangnya. "Kenapa berhenti? Ayo tampar! Tampar aku!" Serunya.
"Bagus Abram talak dia, anak aja bukan anaknya!" Ve menunjuk-nunjuk Nindira yang dibaringkan di sofa.
Pras kembali menampar Ve, tetapi gerakan tangannya terhenti oleh rintihan Nindira yang sudah sadar. Merasa punya kesempatan, Ve mengambil tas dan ponsel, lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Pras terlihat cukup telaten, membantu Nindira bangun, dan mengambilkan segelas air.
"Om udah bilang, kamu ngapain sih ketemu Zahra! Mana acara jebak dia lagi," ucap Pras sembari menyodorkan segelas air.
"Atas dasar apa Om komentar? Ini semua juga salah Om!" Nindira menepis gelas, membuat airnya tumpah di celana Pras. Raut wajah Pras kembali memerah, tetapi dengan cepat di sembunyikan.
"Kamu tau sendiri, dunia model itu seperti apa? Kalau aku gak ngenalin kamu sama si Tyo, bisa apa kamu?"
"Tapi aku hamil anak dia sekarang! Abram juga udah talak aku, istrinya Tyo juga udah labrak aku. Mana bawa-bawa kamera pula!" Nindira mengacak-acak rambutnya sembari berteriak. "Sial! Nama baikku udah hancur sekarang! Ini semua karna Om! Om yang buat aku mabuk sampai bisa tidur sama dia! Ini semua salah Om!"
Pras mencengkram gelas kuat-kuat. Dia berpikir, jika Nindira harusnya berterima kasih padanya. Jika bukan karena malam itu, Nindira hanya akan menjadi model amatiran yang tidak dikenal. Namun, apa yang dia dapatkan?
Istri dan keponakannya, secara kompak menyalahkan, dan menyudutkan dia. Melimpahkan semua kesalahan di pundaknya, lalu mencuci tangan mereka.
"Oh, ini salahku? Kamu ngak inget, berapa kali udah tidur bareng Tyo? Kamu juga lupa, aku selama ini udah ingetin kamu buat pakai pengaman." Pras memicingkan mata, seakan meremehkan keponakannya.
Nindira ingin sekali bangkit dari duduk ya dan menampar Pras. Akan tetapi, tubuhnya memberikan sinyal yang tidak mengenakkan. Pada akhirnya, ia hanya menelan saliva berserta dengan amarahnya.
Keadaan menjadi sunyi untuk beberapa saat. Hingga, suara ketukan terdengar dari luar.
"Selamat sore, Pak!" sapa salah seorang pria berbadan kekar saat Pras membuka pintu.
"Sore, maaf, dengan siapa ya?"
Pria berkemeja hitam, dengan lengan yang ditekuk, melangkah maju dan mengeluarkan secarik kertas. Pras pun cepat-cepat mengambilnya, manik mata hitamnya bergerak dengan bibir yang komat-kamit tanpa suara.
Pria itu kemudian berjalan masuk ke dalam, saat menatap seorang wanita hamil sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Ibu Nindira," sapanya sopan. "Silahkan ikut kami!"
Perkataan pria itu terdengar seperti guntur yang menyambar, membuat Nindira terkejut hingga bangkit dari duduknya.
"A-apa? Bapak ini siapa?"
"Kami dari kepolisian. Bu Nindira, mohon kerja samanya!" Tanpa aba-aba, pria itu langsung mengeluarkan borgol dari dalam saku.
Nindira yang terkejut pun langsung gemetar. Seluruh tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga. Terlebih saat ia melihat borgol besi yang sudah siap memborgol tangannya.
Hingga ….
"Dia pendarahan, bawa ke rumah sakit!" Dua orang dari kepolisian dengan cekatan membopong tubuh Nindira dan membawanya ke rumah sakit. Sedangkan Pras, dia hanya berdiri dengan tatapan kosong.
"Dia harus segera di operasi," ucap seorang dokter yang kemarin menangani Nindira.
"Kalau begitu lakukan!"
"Tapi keluarga pasien ...."
"Dia seorang tersangka, perintah penangkapan sudah turun. Jadi keputusan ada di pihak kami!" jawab seorang pria yang tadi menggotong Nindira.
"Pastikan dia selamat, dia harus membayar semua perbuatannya!" seru lelaki berkemeja, yang ternyata salah satu rekan kerja Jordhan.
Vote jangan sampai lupa ♡♡♡
__ADS_1
Sajennya apa lagi 🤭🤭