Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 100


__ADS_3

...****Ditangkap?****...


Hari ini cakrawala terlihat cukup cerah. Cahaya mentari yang hilang selama tiga hari terakhir, kini telah kembali. Membawa kehangatan bagi penduduk kota Malang. Kabut tipis pun perlahan menghilang, berbarengan dengan cahaya yang membias ke seluruk pelosok.


Zahra baru selesai menikmati sarapannya sendirian, ketika samar-samar ia mendengar pintunya di ketuk. Tidak banyak berpikir, karena hal yang di pikirkan, pasti orang yang dikenalnya. Namun, siapa yang sangka, dua orang yang datang bukan orang yang dia kenal.


"Bu Zahra, mari ikut kami!" ucap seorang wanita perambut pendek dengan jaket yang menutupi seragam coklatnya.


"Maaf, tapi Anda ini siapa?" Zahra terlihat gemetar, melihat dua orang berdiri di depannya, dengan seragam coklat.


"Kami dari kepolisian Malang kota." Wanita itu menyodorkan selembar surat pada Zahra, yang membuatnya penasaran, dab buru-buru dibuka.


Betapa terkejutnya ia, saat membaca nama lengkapnya tertulis di sana, dengan status yang berubah menjadi tersangka. Tangannya gemetar, seluruh sendi menjadi linu. Jelas-jelas dua orang yang datang kemarin menjelaskan, bahwa bukti-buktinya kurang. Lantas, kenapa bisa?


"Mari, Bu. Anda harus kooperarif."


"Sa-saya mau hubungi pengacara dulu." ucap Zahra dengan bibir yang bergetar, tangan basah yang masih memegang surat penangkapan.


"Nanti di kantor saja ya, Bu."


Zahra pun di bawa tanpa borgol, masuk ke dalam mobil mini bus berwarna putih. Gemetar, takut, itu yang dia rasakan, ketika tubuh semampainya diapit oleh pria dan wanita. Seluruh tubuhnya tiba-tiba mengigil, tangannya, dan bibirnya gemetar tanpa kontrol. Ac yang dirasa tak terlalu dingin bagi yang lain, terasa begitu menusuk. Terlebih, dia tak sempat mengambil jaket, hanya memakai kaos yang tak terlalu tebal.


Rumah Sakit

__ADS_1


Seorang pria bertubuh kekar, dibalut jaket kulit berwarna coklat, sedang berdiri di depan ruang Lab. Tidak lama ia menunggu, seorang lelaki dengan jas putih dan masker tebal, keluar dari pintu dengan membawa dua lembar kertas.


"Pak, Jo. Hasilnya udah keluar, seperti dugaan Bapak sebelumnya." Pria berjas putih itu melepaskan masker sembari menyodorkan kertas pada Jordhan.


"Thanks, Bro!" Jordhan tersenyum, sambil menepuk pundak pria itu, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Dia masih terlihat tenang, berjalan menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan. Sampai, ponsel yang ada di sakunya bergetar. Sebuah panggilan dari rekannya, menghiasi layar tipis yang baru ia ambil dari saku.


"Jo, kamu dimana?" Suara berat seorang lelaki, langsung terdengar begitu tombol hijau di geser.


"Di Lab Darmo. Kenapa, Gun?"


"Balik cepetan! Pak Gun udah keluarin surat penangkapan. Dia ada di kantor sekarang, di bawa Bu Triyas."


Tak mau membuang waktu, Jordhan sesegera mungkin memacu pedal gas. Memecah jalanan yang tak begitu ramai di siang hari yang cukup terik.


Di sepanjang jalan, hatinya merasa gelisah. Memikirkan, betapa takutnya Zahra saat ini. Dia sendiri seakan tak perduli, membanting setir ke kanan dan ke kiri, mendahului kendaraan dengan kecepatan penuh, agar dapat cepat sampai. Namun, begitu dia sampai, pemandangan yang terlihat justru lebih menyayat hati.


Dia tersenyum getir, menatap Dean sedang menggusap air mata yang jatuh di pipi Zahra. Kecemasannya dirasa tak berarti lagi, mengingat, wanita yang dia sukai telah memiliki pahlawan lain.


Dengan kaki lemas, yang coba dia tegakkan, berjalan menghampiri dua insan yang saling mengasihi. Meski hatinya sakit, pikirannya kacau, dia masih bisa tersenyum. Menyapa Zahra, dengan kalimat yang paling lembut.


"Zahra ...."

__ADS_1


Dean dan Zahra, menoleh bersamaan. Zahra terlihat tenang saat menatap Jordhan, tapi Dean, menunjukkan raut wajah tak suka. Dia bahkan maju satu langkah agar dekat dengan Jordhan, lalu berbisik.


"Buktinya kurang, atas dasar apa kalian menangkapnya!" Bicaranya terdengar penuh emosi, tapi sebenarnya, dia baru mengeluarkan emosinya sedikit.


Jordhan hanya bisa menghela napas berat. Bagaimana tidak, hal ini memang menjadi salah satu kecerobohannya sebagai penyidik. Namun, dia dengan gentel mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada mereka berdua. Dia bahkan berjanji, akan melepaskan Zahra dalam kurun waktu 1 x 24 jam.


"Tenang, kamu akan bebas besok, aku pastikan itu!" Jodhan bicara penuh percaya diri, seakan yakin, Zahra bisa bebas besok.


"Iya, aku percaya dengan kemampuan kalian berdua,"


"Satu hal yang ingin aku tau. Kalau saja, ini sebuah jebakan, apa kamu akan menuntut balik dia?" Tatapan Jordhan masih terlihat tenang. Namun sebaliknya, tatapan Zahra justru berubah.


Wanita itu tentu dapat menebak, apa yang sedang fi pikirkan Jordhan. Meski dia baru mengenalnya, Zahra cukup yakin akan kemampuan lelaki dengan dua lesung pipi tersebut.


"Iya, aku akan menuntut mereka semua. Tidak terkecuali!"



Nih mata lengket dari pagi.


Ngetik bentar molor, bentar, molor lagi 😅


Kopi mana Kopi 🤧🤧

__ADS_1


Gak usah heboh, Lakok menang keri, iku wes pasti 🤓


__ADS_2