Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 33


__ADS_3

...****Bangun, Ra. Please!****...


Menahan rasa sakit, juga penghinaan dalam waktu yang bersamaan, membuat Zahra meradang. Kuku-kuku tajam menancap kuat saat tangannya mengepal. Darah segar keluar dari sela-sela tangan, menetes, membuat beberapa noda di sprei putih bersih. Rasa perih di tangannya tak lebih hebat dari luka yang di buat sang suami.


Penghinaan dan rasa sakit ini. Aku akan mengingatnya dengan baik, Mas. Sumpah akan ku ingat baik-baik.


BRAK! BRAK!


Pintu yang terlihat kuat dan kokoh itu ambruk begitu saja. Dean mendobrak paksa dan menerobos masuk dengan segala kekuatannya. Melihat tangan Zahra di ikat dengan sabuk dan digauli dengan paksa, Dean naik pitam. Tanpa basa-basi langsung menyeret dan memberinya bogem mentah beberapa kali.


Dania buru-buru masuk, menutupi tubuh Zahra yang telan-jang bulat dengan selimut. Lalu melepaskan ikat sabuk di tangannya dan memeluknya. Zahra hanya mampu menangis dengan keras sembari berteriak.


Ada rasa jijik, malu, kesal, jengkel, marah. Bercampur menjadi satu dan menggumpal di kerongkongan. Begitu sesak, hanya bisa di keluarkan melalui lelungan keras yang menyayat hati.


“It’s oke, Ra.”


Demi menenangkan Zahra, Dean menyeret Abram ke ruang tengah. Melemparkan pakaian dan menyuruhnya memakai baju.


“Apa hakmu melarangku? Dia istriku!”


Dean berkacak pingang sambil tersenyum sinis memandang Abram. Dari antara banyak lelaki, bagaimana bisa Zahra menikah dengan lelaki seperti ini? Terlihat begitu kalem, tapi ternyata ....

__ADS_1


“Istri? Kamu sebut dirimu suami? Menggauli istri dengan paksa, mengikat tangannya ... kau sebut dirimu suami? Hah?!”


Abram diam tak memberi jawaban. Melihat sikap pengecut Abram, Dean cukup muak. Ia menyuruh lelaki itu segera pergi secepat mungkin.


“Istri tuamu sedang hamil. Cepat pulang, sebelum kesabaranku habis dan menyeretmu ke kantor polisi! Pergi!"


Satu jam berlalu usai Abram meninggalkan ruang apartemen mereka. Dania berhasil membuat Zahra tenang dan tertidur. Saat dia keluar kamar, ia melihat Dean terduduk di sofa sambil memijit kening.


“Kamu belum pulang?” tanya Dania.


“Gimana dia?”


Dean berpikir lebih panjang. Memang benar perkataan Dania. Tidak baik baginya tinggal lebih lama di sana. Ia akhirnya pamit untuk pulang lebih dulu, dan meminta Dania untuk memberinya kabar, jika ada hal yang tidak di inginkan.


Mata Zahra terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, menatap sekitar yang sudah gelap. Ia menoleh ke belakang, memandangi wajah sahabatnya yang tertidur pulas.


Tiba-tiba saja, ingatan-ingatan itu muncul. Saat Abram merobek pakaiannya, menanggalkan satu demi satu. Mencium, mengigit, menyesap ... mengingat itu membuatnya jijik.


Dia buru-buru bangun. Baru saja bangkit berdiri, rasa ngilu langsung menghujam seluruh sendi. Membuatnya meringgis kesakitan. Begitu sakit hingga membuatnya mengigit bibir bawah.


Ia berjalan tertatih, mengerayangi tembok untuk menyangga setengah tubuhnya. Perih ... sakit yang begitu menusuk ... terutama di bagian bawah, yang sempat di hujam paksa oleh Abram. Sesekali ia mendesis, merasakan bagian sensitifnya yanv bengkak.

__ADS_1


Perlahan-lahan masuk ke dalam kamar mandi. Menanggalkan seluruh tubuhnya, dan membilas diri. Setiap sentuhan yang dia ingat, seperti cambuk berduri. Di hempaskan ke tubuh hingga duri-duri itu menancap, lalu menariknya kuat-kuat, mengoyak kulit dan daging secara bersamaan.


Jijik ... sangat jijik ...


Zahra mengusap setiap bekas kecupan yang di tinggalkan Abram. Di leher, dada, tulang selangka. Ia mengosok-gosoknya sekuat mungkin dengan sabun. Berharap, semua noda noda itu lenyap, luntur dari tubuhnya.


Mendengar gemericik angin, Dania buru-buru bangkit dan turun dari ranjang. Secepat mungkin masuk ke kamar mandi, memastikan Zahra tak berbuat nekat. Namun, pandangan yang dia lihat membuat tubuhnya menggiding gemetar.


Zahra meringkuk, menyembunyikan wajahnya di bawah guyuran air shower yang entah sejak kapan menyala. Bau anyir, semilir-semilir, menyentil indra penciumannya.


"Ra, Zahra!"


Cepat-cepat ia mengambil handuk, mematikan kran shower. Lalu, menelangkupkan handuk di tubuh Zahra.


"Ya Allah, Ra. Zahra ... bangun Raa ... aaa ... Zahra!"


Teriakan Dania melengking, di iringi isak tangis yang menderu. Memecah heningnya malam di dalam ruangan.



Vote yang banyak, mumpung Gratiss!!!

__ADS_1


__ADS_2