
...***Kemenangan Zahra***...
“Jeng, kami minta maaf. Minta maaf yang sebesar-besarnya ya, Jeng.” Bu Syam meletakkan kepalanya di tangan sang besan. Nada bicaranya terdengar sendu, siapa pun yang mendengar, pasti tahu betapa tulusnya permintaan maaf itu.
Akan tetapi, luka di hati puterinya masih mengangga. Kata maaf seakan tak cukup untuk menyembuhkannya.
“Saya mungkin bisa memaafkan Bunda dan Pak Syam. Tapi mohon maaf sekali, saya belum bisa memaafkan Abram.” Jelas Bu Ahmed dengan sopan.
Tindakan Abram memang cukup keterlaluan. Bukan hanya membohongi mereka, tapi juga bertindak kasar terhadap Zahra. Bu Syam pun tak bisa memaksa, karena menurutnya, sang anak memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf. Dengan tindakan Zahra yang tidak melaporkan anaknya saja, sudah suatu kebaikan bagi keluarga Syam.
Tante Ve dan suaminya pun turut bersimpuh di kaki Ayah dan Ibu Zahra. Meminta pengampunan dengan nada yang terdengar cukup pilu.
Keluarga Ahmed memang bukan orang yang menutup hati dan egois. Bagaimana pun, takdir sudah berjalan. Dan mungkin, memang Abram bukan jodoh dari sang puteri.
“Kami akan mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Kali ini, biarkan martabat Zahra utuh karena berani menggugat cerai suaminya.” Pak Ahmed memandang Pak Syam. “Pak Syam tidak keberatan bukan?”
“Selama pernikahan, Zahra sudah jadi menantu yang baik. Dia selalu perhatian, karena dari itu, aku suka dengan dia.” Pak Syam menoleh, memandang wanita yang akan melepas gelar menantu.
“Setelah bercerai, apa kami masih bisa sesekali melepas rindu?”
Pak Syam dikenal sebagai orang yang cukup tempramental dan tegas. Namun, untuk pertama kalinya, dia berkaca-kaca saat berbicara di depan orang.
“Nak Zahra. Mama masih boleh ya, telfon atau video call? Boleh ya, Nak?”
Zahra tersenyum, melihat dua orang tua yang begitu tulus menyanyangi dirinya. Ia meraih tangan mertuanya, menepuk-nepuk sembari mengangguk.
__ADS_1
Tangis mereka pun pecah. Rupanya bukan hanya Zahra dan keluarganya yang harus ikhlas dengan perceraian. Tapi juga keluarga Syam. Kehilangan menantu yang mereka anggap sebagai anak sendiri, ternyata tidak mudah.
Keadaan baru saja tenang. Susana tegang baru saja mereda. Tiba-tiba, dari arah pintu muncul seseorang. Tanpa salam, langsung masuk begitu saja. Begitu Pak Syam melihat sosok anak kedua yang sudah membuat malu. Ia langsung melayangkan bogem mentah.
Tante Ve dan Om Pras jelas terkejut. Mereka bahkan mencoba melerai mereka. Namun, semua orang justru tak perduli. Bahkan mama sendiri pun terlihat asik menyesap teh.
“Pah, jangan percaya omongan Zahra Pah. Dia yang selingkuh! Dia bawa laki-laki yang bukan mahramnya, masuk ke dalam apartemen!”
Abram berbicara dengan nada tinggi. Bahkan urat-urat di lehernya ikut menegang.
“A-Abram bawa bukti.” Abram merogoh saku. Memperlihatkan sebuah rekaman yang dia ambil dari kamera CCTV. Lalu, dia menunjuk wajah Dean.
“Dia selingkuhan Zahra, Pah. Mereka sudah selingkuh di apartemen!”
Dania sudah geram mendengarnya. Ia cepat-cepat masuk dan menyela.
Sorot mata yang tadi sempat mengarah pada Zahra, kini berbalik dapam sekejap. Rupanya, Dania melakukan perlawanan dengan cepat dan akurat.
“Mas Abram. Aku gak abis pikir ya? Bisa-bisanya kamu memfitnah mereka. Coba kamu inget baik-baik.” Dania kembali berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, mereka sudah menyelamatkan nyawa istri pertamamu dengan darah mereka. Lupa ya mas? Sekarang, bukannya terima kasih, malah menuduh? Ckckck!”
Abram tak mampu mengelak lagi. Martabatnya sekarang sudah hancur. Dia bahkan tak bisa menjunjung tinggi image yang selama ini dia jaga dengan baik.
“Mau bukti? Aku ada buktinya!” Dania membuka map yang ada di atas meja, mengambil dua lembar kertas persetujuan donor darah. Lalu, memberikan surat itu kepada Pak Syam.
__ADS_1
“Dia, sudah ditipu selama dua tahun. Dia gak marah loh waktu kamu siksa kapan hari? Aku saksinya! Dia, juga gak keberatan loh, buat kasih darahnya ke madunya yang sudah mencoreng nama baiknya. Bahkan, sampai detik ini, dia masih cukup baik, setelah orang tuanya mendapat ....”
“Cukup, Dania!” Potong Zahra sembari berdiri, mencoba menenangkan sahabatnya.
“Ngak Zahra. Aku udah cukup diam liat kamu di siksa dan di fitnah!” Dania menatap sahabatnya.
“Ayah dan Ibu, mereka orang baik. Mereka sudah menganggapku anak sendiri. Aku gak mau melihat mereka mendapatkan teror dan kecaman dari masyarakat akibat ulah dari istri pertamanya!” Dania menunjuk wajah Abram. Emosinya tak lagi bisa di tekan.
Mama mertua Zahra sontak berdiri, lalu bertanya tentang kebenaran dari ucapan Dania. Zahra hanya bisa mengangguk sembari menitihkan air mata. Pandangan Bu Syam seakan kosong, ia berjalan mendekati sang anak. Lalu ....
PLAK!
“Denger kataku baik-baik, Abram Nur Syamsudin! Kamu, bukan lagi bagian dari keluarga kami!” Ucapan Bu Syam seakan di tekan kata demi kata. Penuh emosi, kekecewaan dan rasa tidak percaya.
Bukan hanya Tante Ve dan suaminya. Bahkan, Zahra dan semua orang yang ada disana pun ikut terkejut saat mendengar kata itu.
“Pergi dari sini! Mulai sekarang, kami gak punya hubungan lagi denganmu! Mau nikah lagi, mau cerai, bahkan MATI pun, aku gak sudi menggubur mayatmu!” Lanjut Pak Syam mendorong tubuh anaknya.
“Kalian berdua juga! Aku gak punya adik sepertimu, Ve! Pergi dari rumahku!” Pak Syam kembali menunjuk adik perempuannya yang berdiri di belakangnya.
Saat menikah, tidak ada orang yang membayangkan, bagaimana mereka akan berakhir nanti. Sama seperti Zahra yang tidak pernah bisa membayangkannya, dulu.
Perceraian pun bukan hal mudah, yang bisa ia ambil dengan kepala panas penuh emosi. Perlu banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan. Terutama, konsekuensi terhadap keluarganya yang masih tinggal di kampung dengan segala persepsi kuno mereka.
__ADS_1
Bab selanjutnya segera meluncur ....