
...****Cinta atau Ego****...
Perasaannya kembali di aduk-aduk, hatinya goyah. Setiap sentuhan Dean membuatnya tenang. Seperti angin sepoi-sepoi yang berhembus di cuaca terik. Zahra menoleh, menghindari tatap mata serius dari Dean.
“A-aku bisa makan sendiri!” Zahra buru-buru mengambil mangkuk bubur yang di taruh Dean di atas ranjang.
Sesuap demi sesuap, masuk ke dalam mulut. Dean menyandarkan tubuhnya di tembok, melihat Zahra makan dengan lahap, membuat seulas senyum terlihat jelas di wajahnya.
“Makan pelan-pelan.” Katanya.
“Kenapa disini? Pergi!” Seru Zahra terlihat kesal.
Dean terlihat acuh. Namun pada akhirnya ia berjalan pergi sambil mengangguk. Membiarkan Zahra menikmati sarapan dengan tenang, mungkin keputusan yang baik.
Dua jam berlalu ... tiga jam ... empat jam. Zahra masih belum juga keluar kamar. Dean terlihat cemas. Ingin menerobos masuk ke dalam dan melihat keadaannya. Namun, Dania telah menjelaskan keadaan Zahra yang terlihat jauh lebih baik. Zahra bahkan tertidur, setelah memeriksa email di laptopnya.
“Dean ...” panggil Dania tiba-tiba.
“Menurutmu, gimana keputusan Zahra?” Dania terlihat gugup, ia berbicara tanpa memandang Dean.
“Maksudku, tentang pernikahannya. Lanjut atau tidak?”
“Entah. Lanjut atau tidak, itu keputusan Zahra.” Jawab Dean santai.
“Aku liat kamu cukup tulus, kenapa gak coba mempertahankan dia? Mungkin ... dia juga masih ada perasaan sama kamu!”
__ADS_1
Jemari yang tadinya sibuk menyentuh kyboard kecil di laptop. Tiba-tiba saja menghentikan gerakannya. Dean menghela napasnya panjang, kemudian menoleh melihat Dania yang duduk di kursi samping. Dia mendengus, melihat ekspresi serius Dania.
“Menurutmu, cinta itu harus memiliki?”
“Iya lah. Kalu gak memiliki, terus buat apa kamu cinta seseorang?” Sunggut Dania terdengar jengkel.
“Kamu salah.” Dean menutup Laptop. “Kata ‘harus’ yang kamu ucapin, sebagian besar karna ego dalam hatimu. Cinta dan ego itu beda tipis. Harus memiliki, contohnya.”
“Sudah seperti ini, sebenernya aku bisa aja bilang sama dia untuk pisah. Memberinya iming-iming besar dengan hidup bahagia denganku, terus ngelamar dia. Tapi aku gak bisa. Maksa sesuatu yang mungkin nyakitin perasaannya.”
Dean terdiam sejenak, menatap daun pintu kamar yang sedikit terbuka, lalu tersenyum tipis.
“Lihat dia bahagia aja udah cukup. Entah itu lanjut, entah itu pisah, atau mungkin ... dia bakal pilih suami yang lain nantinya.”
Dania mengangguk-angguk seolah mengerti perasaan Dean dengan baik. Namun baginya, tetap sama. Cinta memang harus memiliki, kalau gak memiliki, buat apa kata cinta?
Melihat ke sebuah cermin besar, yang menempel kuat di atas meja washtafel. Zahra seolah mendapatkan kekuatan setelah memahami keadaan di sekitarnya.
Cinta yang gak harus memiliki?
Cih, naif sekali.
Jadi, karena itu dia setuju putus denganku begitu saja?
Hanya karena gak ingin memiliki?
Atau memaksaku?
__ADS_1
Zahra membuka pintu kamar. Manik matanya memutar, melihat sekeliling yang hanya ada Dania.
“Kemana dia? Udah balik?” tanya Zahra sambil menuang air.
“Dia bilang ada urusa bentar. Nanti balik lagi kok. Tenang aja.”
“Si-siapa yang perduli? Mau balik kek, engak kek.” Zahra terlihat acuh. Seperti tidak perduli, dia menyalakan smartphone miliknya dan duduk di sofa.
Ada banyak sekali pesan WhatsApp yang dia terima. Dari Intan, Mulan, juga beberapa teman yang lain, dan ... dari Abram. Semua pesan ia balas, namun hanya Abram yang tak ia balas, bahkan di buka saja tidak.
Setelah semua pesan teman-temannya terbalas. Matanya fokus melihat satu nomer baru. Nomer yang terlihat tak asing baginya, 991111, nomer yang dulu pernah menghubungi Abram.
Tangannya sedikit gemetar, jantungnya berdegup kencang. Sejak melihat nomer itu, dia sudah bisa menebak.
📳 Mbak Zahra. Maaf, ini aku Nindira. Apa kamu punya waktu besok? Ku pikir, kita perlu bicara.
Dapet WA begitu dari istri pertama.
Heemmmm
Akankah ada perang barathayuda??
Pantengin terus pokoknya.
Vote sama Hadiah jangan sampe ketinggalan!!
__ADS_1
Othor butuh banyak sajen 😂😂😂