
...***Bertemu di waktu yang tidak tepat***...
Zahra fokus menatap ponsel, melihat satu aplikasi berwarna hijau yang terus berputar. Tak ada rasa gugup atau cemas, sepertinya dia benar-benar sedang bertaruh dengan nasip. Sampai pada akhirnya ...
“Zahra ....”
Satu panggilan membuat kepalanya tegak ke depan. Jordhan sedang berdiri sembari membawa botol air di tangannya.
Ini masih pagi, kenapa dia di sini?
“Mau kemana pagi-pagi?”
“Mau ke lebak bulus. Ke rumah sakit.”
“Naik apa? Mau ku antar?”
Tawaran Jordhan seakan mematahkan semangat Zahra untuk bermain. Sepertinya, nasip berada di pihak madunya. Zahra tak menolak tumpangan gratis dari Jordhan. Lagi pula, dini hari terlalu rawan untuk berkeliaran sendiri di Ibu Kota.
Jarak antara rumah sakit dan apartemen rupanya cukup jauh. Butuh sekitar 45 menit untuk berkendara di jalanan yang lengang.
“Terima kasih,” ucap Zahra begitu mobil berhenti di pintu masuk.
“Mau di temenin?”
“Engak, ngak perlu. Makasih, ya.”
Zahra berjalan santai, meninggalakan Jordhan yang masih mengawasinya hingga masuk ke dalam. Rumah sakit nampak sepi, hanya ada petugas keamanan yang berdiri di depan dan memberi pengarahan pada Zahra.
“Coba tanya ke IGD, Bu.” Petugas berseragam putih menunjuk ke lorong ujung. “Lurus, lalu belok ke kiri, nanti ada tulisannya kok.”
Langkah Zahra masih begitu santai. Sampai saat di berbelok, ponselnya berdering. Di ambilnya ponsel dari dalam tas, terlihat Abram masih berusaha menghubunginya. Zahra menonaktifkan ponsel, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Begitu dia membuka pintu IGD, matanya langsung di hadapkan punggung Abram. Meski jarak mereka sedikit jauh, mata cantiknya masih bisa mengingat punggung sang suami. Zahra berjalan mendekat, sayup-sayup ia mendengar umpatan kasar dari sang suami.
“Kenapa mati sih! Ahh, sial!”
Mendengar itu membuat hati Zahra tercacah. Namun, dia masih berdiri tegap, tidak seperti beberapa hari yang lalu. Ia menepuk pelan pundak Abram, membuat lelaki itu menoleh.
“Bee, kamu datang.”
Melihat mata Abram berbinar-binar penuh haru, membuat perut Zahra mual seketika. Dia tak menyangka, lelaki itu bisa bersandiwara dengan baik. Zahra menepis tangan Abram yang mengengamnya. Ia berjalan mendekat, ke arah tirai pemisah yang sedit terbuka. Jemari lentik itu perlahan menyingkap tirai, karena penasaran dengan orang yang terbaring di sana.
Netra matanya langsung fokus menatap Nindira. Wanita itu terlihat pucat dan tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang. Zahra menutup kembali tirai dan segera berjalan menuju Nurse Station.
“Sus, saya mau donor untuk pasien, atas nama Ibu Nindira.”
“Boleh tau golongan daranya, Bu?”
“O, Rhesus positif.”
__ADS_1
Perawat langsung mencari berkas dan menyerahkannya pada Zahra. “Bisa isi ini dulu, Bu! Setelah itu kita periksa sebentar.”
Selesai mengisi beberapa lembar berkas. Seorang petugas menyuruh Zahra untuk berbaring di samping Nindira. Abram berdiri tepat di tengah-tengah, melihat perawat itu memeriksa kesiapan fisik istri mudanya.
“Tekanan darahnya normal. Kita ambil sampel darah sebentar ya, Bu.”
Abram masih menatap Zahra, meski sesekali pandangan matanya berpindah ke Nindira. Sorot mata lelaki itu terlihat cukup khawatir. Entah, dia sedang mencemaskan Zahra atau Nindira.
Setengah jam berlalu sejak perawat mengambil sampel darahnya. Nindira juga sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, sedangkan Zahra masih duduk menunggu hasil. Abram yang tadi mengikuti Nindira, kembali menghampiri Zahra.
“Makasih ya, Bee,” ucapnya lirih.
Pada waktu yang sama, perawat datang dengan selembar kertas di tangannya. Lalu, perawat lain menyusul dengan perlengkapan yang lain.
“Bu, darahnya kita ambil sekarang ya.”
Perawat mulai memasang alat pendeteksi tekanan darah di lengan Zahra. Sedangkan perawat yang lain mulai memasukkan jarum. Darah mulai keluar, setetes demi setetes masuk ke dalam kantong.
Lima menit berjalan, sepuluh menit, dua puluh menit. Perawat datang untuk memeriksa, melihat tekanan darah yang tidak normal, dia pun bertanya.
“Ibu pusing?”
Abram yang duduk di samping Zahra, langsung berdiri. Dia terlihat terkejut saat mendengarnya.
“Sedikit, Sus.”
“Saya lepas ya, Bu. Sepertinya kurang enak badan. Ibu kurang tidur kah?”
“Iya, sedikit.”
“Sus, kenapa di cabut? Darahnya belum penuh.”
“Bu Zahra pusing, tekanan darahnya juga ngak normal. Bahaya kalau di lanjut.”
“Tapi, Sus? Istri saya masih butuh satu kantong lagi.”
Perawat melihat Zahra memegang kening sembari menutup mata. Seolah tak perduli dengan situasi yang ada.
“Bapak juga ngak bisa mengabaikan kondisi pendonor. Bapak bisa lihat, kondiri pendonor sedang drop. Bisa fatal nanti akibatnya, Pak.”
Perawat langsung pergi usai menjelaskan. Abram sontak jatuh terduduk di samping Zahra. Dia tak berdaya, memikirkan Nindira yang kekurangan darah, sedangkan Zahra hanya bisa mendonorkan setengah dari yang di butuhkan.
Abram coba membujuk Zahra. Merayu wanita lemah dan tak berdaya itu untuk menyumbangkan darahnya lebih banyak lagi.
“Kamu bunuh aku aja, gimana? Nanti semua darahku bisa kalian minum ramai-ramai!”
Zahra terlalu muak berada di dekat Abram. Ia ingin cepat-cepat keluar, pergi sejauh mungkin dari lelaki tak tau balas budi itu. Namun, dia terlalu lemah, baru berjalan beberapa langkah, ia sudah terjatuh.
Beruntung, saat itu ada Jordhan yang tiba-tiba ada di sana, dan menangkap Zahra. Dia bahkan membantu wanita itu duduk di kursi roda. Abram yang melihat laki-laki lain perhatian kepada istrinya, tiba-tiba marah. Ia bahkan tak segan mencengkram baju Jordhan.
__ADS_1
“Siapa kamu? Main ikut campur saja!”
“Cukup, stop, Mas. Kamu gak lihat ini di IGD!”
Nada Zahra terlihat penuh emosi, namun ia coba redam sekecil mungkin.
“Memaksa seseorang untuk menyumbangkan apa yang ada di tubuhnya tanpa izin, termasuk pelanggaran. Hal itu termasuk donor darah!”
“Memangnya kamu siapa? Dia istriku!”
“Aku? Aku seorang penyidik dari kepolisian!”
Cengkraman Abram mengendor setelah mendengar itu. Di saat yang sama, Dean terlihat berlari menghampiri Zahra.
“Ra, kamu gak papa kan?” tanya Dean.
“Kamu lagi?” Sela Abram melihat wajah Dean yang tak asing.
Melihat mereka bertiga ada di hadapannya, membuat kepala Zahra makin pening. Ia bahkan terlihat memijit-mijit keningnya saat mendengar mereka berdebat.
“Cukup! Ini IGD, bisa tenang gak sih?” Seru Zahra sedikit meninggi, sampai seluruh orang melihat ke arah mereka.
Tak beberapa lama, petugas keamanan datang. Berbicara baik-baik kepada mereka berempat, untuk mendiskusikan masalah mereka di luar.
“Kita bicara diluar dulu!”
Dean dan Abram terlihat berebutan mendorong kursi roda Zahra. Sedangkan Jordhan, ia menyodorkan sebotol minuman isotonic agar tubuhnya tak lemas. Pada akhirnya, Zahra menyuruh Abram yang mendorong kursi roda itu dan berbicara di luar.
“Dean, aku boleh minta tolong sesuatu?” Pinta Zahra lembut.
“Katakan.”
“Kamu punya golongan darah B, bisa gak, kamu donor buat istri Mas Abram.”
Dean langsung menoleh, menatap Abram dengan tampang tak bersalahnya, berdiri dengan santai. Lalu, ia melihat Zahra. Wajah cantik itu terlihat pucat. Lipstik merahnya bahkan tak berarti di bibirnya.
“Gak masalah, tapi dengan satu syarat.”
“Katakan!”
“Kalian berdua, CERAI!”
Jeng Jeng Jeng Jeng .....
Cukup sekian lah, besok di lanjut lagi.
Tapi kalau ada sajen atau Vote, bisa lah othor kilaf
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
cukup Abram aja yang di hujat.
Othor kasih kembang aja, ma kopi boleh laahh...