
...***Ditinggalkan semua orang***...
Matahari telah condong ke ufuk barat, menyisakan sedikit sinarnya yang temaram. Angin berhembus sepoi-sepoi, tetapi cukup kuat untuk menggoyangkan dedaunan pohon kamboja di sekitar pemakaman.
Seorang lelaki terlihat sedang berjongkok, lalu melepaskan kacamata hitamnya. Wajah sedih tanpa derai air mata, terlukis dengan jelas. Tangan besarnya tiba-tiba diangkat, lalu ditaruh di atas batu nisan.
"Jo, sory. Gue belum bisa bawa dia sekarang. Jangan khawatir, dalam minggu ini, gue pastiin bakal borgol tangan dia," ucapnya dengan suara berat dan kepala yang tertunduk.
"Istirahat yang tenang, Jo. Gue pamit!"
Seorang perawat berjalan dengan langkah cepat, membawa keluar seorang bayi kecil berkelamin laki-laki. Setengah jam kemudian, giliran Nindira yang dibawa keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Salah seorang dokter menjelaskan, bahwa Nindira baik-baik saja dan sedang tertidur karena obat bius.
"Dia memang harus baik-baik saja, karena masih harus bertanggung jawab atas banyak hal!" seru Pak Gun yang berganti tugas dengan rekan Jordhan.
Vidio yang di *uplo*ad Yiyi mulai di tonton banyak orang, bahkan menjadi pencarian terpanas di seluruh media sosial. Inisial Nindira yang pada awalnya di samarkan, pun berhasil di kuak oleh netizen. Tidak heran, jika akun sosial medianya mulai mendapatkan berbagai serangan.
...Itu yang kemaren sempet sungkem di kaki istri kedua kan?...
...Masih lanjut aja ternyata ya....
...Oh, Mbak Model yang terlihat kalem, rupanya liar juga kek angsa. Hahaha....
Rumah sakit tempat Nindira dirawat juga menjadi sasaran empuk dan didatangi banyak wartawan untuk mendapatkan berita ekslusif. Banyakknya wartawan yang datang, bahkan sempat membuat petugas keamanan kuwalahan.
__ADS_1
Kabar yang mencuat bukan hanya tentang perusak rumah tangga, tapi juga kasus pencemaran nama baik yang di tuduhkan Zahra. Kini, hampir seluruh Indonesia dapat mendengar keburukan Nindira.
Kabar itu bahkan sampai ke telinga orang tua Abram, hingga membuat mereka mencibir menantu yang tidak diakui. Sedangkan Abram sendiri, ia justru menyulut sebatang rokok sembari duduk di depan ruman kontrakan kecil, dengan ponsel yang masih ia lihat.
Abram memincingkan mata, dengan sudut bibur yang terangkat seolah menunjukkan bahwa dia sedang merasa puas. Entah, apa yang sebenarnya dia pikirkan. Disatu sisi menyiksa Zahra demi Nindira, tetapi di saat seperti ini, dia justru acuh.
Berita tentang Nindira, tidah hanya sampai di telinga Abram, tetapi juga Zahra. Dia sedang bersama Dania dan Intan pada saat membaca berita terbaru dari Istri Tua mantan suaminya.
Tidak ada kata-kata umpatan yang lolos dari mulutnya. Hanya wajah lega dan senang, karena pada akhirnya, dia mampu membuktikan fitnah keji yang di lemparkan Nindira dengan tepat sasaran.
"Aku jadi bayangi ekspresi lelaki itu, hahaha," ucap Dania saat mereka membahas berita tentang Nindira.
"Abram sudah menalaknya, memang ekspresinya bisa gimana?" Intan menimpali.
"Kamu mau mahar apa?" ucap Dania ketika membaca pesan dari Dean dengan nada yang cukup keras.
Intan dan Dania kompak bersorak, membuat wajah wanita yang beberapa bulan lalu menjada, memerah padam.
"Jadi ... kalian udah sampai ke tahap ini?" goda Mulan yang tiba-tiba datang.
Zahra yang tidak dapat berkata-kata, langsung merebut kembali ponselnya dan memilih untuk duduk di pojok dengan sudut bibir yang meninggi.
__ADS_1
Satu Hari berlalu setelah Nindira melahirkan. Ruangan yang menjadi kamar inapnya, terlihat gelap dengan sedikit cahaya yang menembus tirai. Beberapa bantal terlihat berantakan di lantai, bahkan makanan pun tercecer.
Seorang pria paruh baya dengan seorang lelaki muda, datang dan menyingkap semua tirai. Cahaya sinar matahari yang cukup terik, menerobos masuk menyilaukan mata Nindira.
"Kenapa, harimu juga ikut suram bersama beking mu?" tanya seoang lelaki yang kerap dipanggil Fitto, rekan satu profesi dengan Jordhan.
Nindira dengan wajah cemberut langsung memalingkan muka. Melihat respon Nindira, Pak Sam hanya mendengus sembari meremehkannya. Mengingat beberapa jam yang lalu, dia mendengar kabar dari Fitto yang menjaga kamar Nindira.
Pada saat itu, Nindira bermaksud mengabari Abram tentang persalinannya. Akan tetapi, dia mendapat respon yang diluar dugaan. Abram rupanya tidak perduli, dia bahkan menggingatkan agar Nindira mencari ayah kandung dari anak itu, karena dia sudah tidak perduli.
Jelas saja, hal itu membuat Nindira naik pitam dan membuang sarapannya hingga berserakan di lantai. Belum lagi, Tyo yang tidak lagi bisa ia hubungi.
"Cepatlah pulih, aku gak sabar lagi buat naruh gelang ini di pergelanganmu!" sindir Fitto sambil mengangkat borgolnya tinggi-tinggi.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Vote jangan sampai lupa gaes.
Hadiah apa lagi.
Othor mo nyari wangsit lagi.
Buat modal bang Dean bawa Zahra ke KUA 🤣
__ADS_1