Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 20


__ADS_3

...***Kamu, Istri .... Abram***...


Kata talak tidak akan sah, bila di ucapkan dalam keadaan marah. Namun, kata talak bisa menjadi sah, meski dia sedang bercanda.


Terdengar lucu bukan?


Benar, terkadang hal serius bisa menjadi nyata meski dalam keadaan bercanda. Seperti jatuhnya talak.


Jadi, perkataan Abram masuk dalam katagori apa?


Seluruh tubuh Zahra seperti baru saja mendapat serangan mendadak. Membuat sendi dan otot-ototnya lemas. Tubuhnya jatuh merosot, duduk di kursi tiba-tiba. Sudut-sudut matanya basah, melihat punggung Abram, yang perlahan pergi meninggalkannya. Tanpa pamit, tanpa salam, membawa mobil yang dia berikan untuknya.


“AAHH!!!”


Zahra berteriak kencang, mendorong semua gelas dan piring yang ada di meja, hingga jatuh berserakan. Otot-otot di lehernya meregang, membuat garis hijau tak beraturan itu terlihat sangat jelas.


Banyak orang berpikir. Marah sambil melempar, membuang, atau membanting barang, akan membuat hatinya puas. Benar, sama seperti yang Zahra pikirkan saat ini.


Ia berjalan masuk ke kamar. Langkahnya gontai, pandangannya kabur. Merebahkan tubuhnya di sudut ruangan yang tanpak gelap gulita. Lalu, menjambak dua sisi rambutnya dan berteriak tanpa suara.



Setengah jam berlalu, rasanya masih kurang puas. Namun, keadaan memaksanya untuk tegar. Memaksanya untuk menghapus air mata dan segera mengumpulkan bukti.


Zahra meraih ponsel yang ada di nakas dan menghubungi Dean.


“Dia berangkat ke Jakarta lagi hari ini.”


“Penerbangan jam berapa?”


“Aku ngak tau pastinya.” Sesekali Zahra menyeka ingus yang menganggu hidungnya. Tindakannya membuat Dean curiga akan sesuatu.


“Kamu ... habis nangis? Lagi bertengkar?”


“Ngak, cuman flu aja.” Ketika menghubungi Dean, Zahra mengingat tentang sesuatu yang penting. Nomer terakhir yang menghubungi Abram.


“Dean ... kamu, bisa lacak nomer ngak?”


Hela napas berat Dean terdengar jelas di telinga Zahra. “Gampang aja, tapi itu cuma boleh di lakukan penyidik. Takutnya kira melanggar privasi orang.”


Zahra terdiam mendengarkan. Mungkin, satu-satunya petunjuk adalah nomer telefon yang baru saja menghubungi Abram. Nomer yang membuat Abram seketika panik. Sejak duduk termenung tadi, ia banyak berpikir. Terutama tentang adik iparnya yang baru saja terjatuh.

__ADS_1


Sangat tidak mungkin, adiknya jatuh dari tangga, tapi yang di hubungi justru kakaknya. Orang yang tinggalnya paling jauh.


“Nomer siapa yang mau kamu lacak?”


“Oh ... itu ... Ada orang yang telfon dia tadi pagi. Nomernya ngak di save. Setelah itu ... yah, dia pergi gitu aja.”


Dean terdiam untuk sesaat usai mendengar penjelasan dari Zahra. Sepertinya, melacak nomer merupakan hal yang sulit dia lakukan.


“Dean ... hallo?”


“Eemm ... aku dengar. Kamu ... hafal nomernya?”


Seperti secercah cahaya kecil yang bersinar cukup jelas. Menerangi Zahra dalam gelapnya lorong cinta.


Zahra buru-buru menyebutkan beberapa angka. Namun, dia lupa dua angka di tengah. Entah itu 69 atau 96.


“Ngak masalah, aku coba cek dua-duanya.”


“Thanks ... Dean.”


“Jangan lupa, Ra. Kamu masih punya hutang penjelasan untukku. Setelah ini, aku akan menagihmu!”


Zahra tersenyum getir. Ingin sekali mengutuk Dean dalam hati. Bisa-bisanya dia menagih saat hatinya sedang patah? Dia merasa Dean mempermainkan hatinya, ingin mengolok-olok dia yang patah hati.



“Kamu dimana?” Tanya Dania.


“Di rumah, kenapa bebs?”


“Aku lagi di jalan, mau ke situ. Bukain gerbang ya.”


Tak sampai sepuluh menit, sebuah mobil berhenti di depan rumah Zahra. Mbokijum buru-buru membuka gerbang. Menyapa Dania dan dua orang lelaki yang turun bersamaan.


“Zahra di rumah, Mbok?”


“Iya, Mbak. Baru aja selesai Dzuhur tadi.”


Zahra nampak terkejut, mendapati seorang lelaki yang tak asing di matanya. Berdiri tegak dengan senyum ramah dan bersahabat.


“De-Dean?”

__ADS_1


“Sory, Ra. Kita ada urusan mendadak. Aku gak bisa jelasin lewat WA atau telfon.” Jelas Dania.


Garis-garis di kening Zahra terlihat samar. Terutama sudut bibir yang di paksanya untuk naik begitu mendengar penjelasan Dania. Namun, dia tidak bisa marah begitu saja. Atau bahkan menggusirnya. Pada akhirnya, hanya bisa mempersilakan mereka duduk dan menikmati secangkir kopi.


“Aku udah dapet dua informasi.”


Perkataan Dean membuat mata Zahra membulat penuh. Entah, itu terkejut atau khawatir akan sesuatu hal. Tepat saat Dean mengambil beberapa kertas dari tas, Dania menggeser tubuhnya tepat di samping Zahra.


“Dua nomer yang kamu sebutin. Satunya terdaftar dengan nama seorang lelaki. Sedangkan satunya ....”


Dean berhenti bicara. Setelah memberi Zahra dua lembar kertas HVS berisi informasi. Ia menyodorkan ponselnya. Seorang wanita cantik, terlihat jelas di layar ponsel Dean. Sangat cantik, bahkan membuat Zahra memujinya.


“Namanya Nindira. Seorang influencer, selepgram juga, dan ... model.” Jelas Dean melanjutkan.


Jemari lentik Zahra meraih kertas-kertas yang ada di hadapannya. Netra matanya sesekali melirik, melihat layar yang masih menyala. Gadis cantik dengan kaki jenjangnya. Zahra tak bisa lagi berkata-kata.


“Ra, ada hal yang pengen kita ungkapin ke kamu. Aku ngak tau harus mulai dari mana. So, aku langsung ke intinya.”


Dania menatap mata Zahra dalam-dalam. Memastikan kalau sahabatnya sudah siap mental dengan berita yang dia bawa.


Jadi, Mas Abram beneran selingkuh?


Atau, dia menikah lagi diam-diam?


Pikiran Zahra campur aduk. Terutama saat Dania sengaja memotong ucapannya di tengah jalan, dan memandangnya dengan penuh arti. Sampai ... Dania menarik napas dalam-dalam. Seakan mengambil ancang-ancang di garis start.


“Kamu ... istri ke dua Abram!”


Langit gelap tertutup awan tebal. Perkataan Dania, terdengar bagai gemuruh petir. Saling menyambar tanpa aba-aba. Membangunkan penduduk bumi yang tertidur nyenyak. Tatapan Zahra terlihat serius, mendengarkan baik-baik perkataan Dania. Setelah selesai, dia tertawa terbahak-bahak. Tak memperdulikan orang di sekitarnya, dan terus tertawa.


Dunia kadang sebercanda itu. Mampu membuat keadaan seperti panggung lawak. Bermain di atas sesukanya. Tertawa, atau menertawakan satu sama lain. Sama, seperti saat dunia mempermainkan hati seorang istri, yang tiba-tiba mendapat kabar atau menerima kenyataan, bahwa suaminya sudah menikah. Perihal orang pertama atau ke dua, hanya masalah waktu sampai semuanya terungkap dengan gamblang.


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Kalau jadi Zahra, mau di gimanain nih si Abram?


Sudah Like belum?


Sudah di jadikan Favorit belum?


Sudah Vote belum?

__ADS_1


Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!


Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!


__ADS_2