
...****Resmi Bercerai****...
Gumpalan awan pekat masih membumbung, menutupi sinar mentari pagi itu. Dia pun memeras seluruh air, dan menjatuhkannya rintik-rintik ke tanah.
Zahra sudah bersiap sejak pagi. Pakaiannya pun terlihat rapih dengan riasan wajah natural, dan olesan lipstik matte tipis. Ia duduk di sofa yang ada di lantai bawah, menumpu satu kakinya sembari bersandar. Berselancar di sosial media sambil menikmati secangkir latte panas.
Tiba-tiba saja, seseorang mengetuk pintu. Zahra buru-buru berdiri dan membukanya. Sosok lelaki berdiri dengan tegap, dengan kemeja putih yang sedikit basah.
“Di mobil gak ada payung?” tanya Zahra.
“Aku lupa bawa. Tapi aku bawa baju kok. Numpang ganti, boleh ya?”
Dean buru-buru masuk ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. Sedangkan Zahra, ia naik ke lantai atas untuk membuat secangkir teh. Ia juga mengambil handuk kering dan memberikannya pada Dean.
“Keringkan dulu rambutnya!”
“Handuk aja ngak cukup. Rambutku sedikit lebat.” Dean memanyunkan bibir sambil menghela napas panjang.
Zahra tak ada pilihan lain selain naik ke atas untuk mengambil hair dryer. Begitu turun, betapa terkejutnya ia, saat mendapati gelas cangkirnya sudah kosong.
“Kamu minum punyaku?” Tanyanya sembari berkacak pinggang.
“Kamu punya maag, kopi gak baik untuk lambung!” Jawab Dean santai.
“Tapi aku baru menyeruputnya sedikit! Dan itu bekasku!”
__ADS_1
Dean menaikkan ke dua pundaknya sedikit. Raut wajah Zahra semakin kesal. Ia pun melempar hair dryer mini itu ke arah Dean. Beruntung, Dean cukup gesit menangkapnya.
“Keringkan sendiri!” Sunggutnya jengkel.
“Mee, aku gak bisa makenya!”
“Bodo! Urusanmu itu!”
“Mee ....” Dean memasang tampang melas. Berharap mood Zahra kembali membaik.
“Kita hampir telat loh!” Kata yang tadi terdengar penuh iba, sekarang berubah menjadi ancaman lembut.
Zahra pun bergerak. Mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Dean, meski dengan raut muka kesal. Namun, berbeda dari Zahra, lelaki itu justru terlihat sangat puas. Bahkan ia tak sungkan tersenyum sambil menatap Zahra.
Mereka segera berangkat usai mengeringkan rambut.
“Tenang, Mee. Hakim pasti menerima gugatan ceraimu.” Dean mencoba meyakinkan Zahra agar tak terlalu cemas.
Zahra menoleh, memandang seorang pria yang duduk di sampingnya, tengah tersenyum dan berusaha memberinya semangat. Dia mengangguk, lalu mengambil napas panjang, dan mengeluarkannya secepat mungkin.
Sekian kalinya, Zahra duduk di samping Abram. Lelaki yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta, yang dulu pernah ia layani dengan sepenuh hati. Sesekali ia menoleh, menatap lelaki yang bahkan kemejanya saja terlihat di setrika asal-asalan. Belum lagi, bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu.
“Saudari pengugat, apakah anda sudah yakin untuk berpisah?” tanya hakim usai membuka sidang.
“Ya, saya yakin, Pak Hakim.”
__ADS_1
“Saudara tergugat, apakah anda menerima perpisahan dengan pengugat?”
“Iya, Pak Hakim.”
Hakim seakan tak mau basa basi lagi, ia membacakan hasil putusan sidang dan mengetuk palu tiga kali. Dua setengah tahun pernikahan itu pun, akhirnya secara resmi berakhir.
Dania yang sejak sidang pertama terus mendampingi Zahra, langsung memeluk sahabatnya itu. Tak lupa, ia mengucapkan selamat, karena telah mengakhiri rasa sakitnya dengan ketegaran yang luar biasa.
“Zahra ....”
Suara berat yang terdengar di telinganya, membuat Zahra melepaskan pelukan Dania dan menoleh. Menatap lelaki yang terlihat tak terurus itu berdiri di belakangnya.
“Aku boleh bicara sebentar sama kamu?”
Lah, Abram kok jadi gak ke urus?
Mumet kali ya sirah e, mergo ra di openi bojo tuo 🤭🤣
Dah lah, nanti lanjut lagi.
Jangan lupa Vote!!
Gak usah kesel, udah cerai belum tentu mereka gak kena karma.
__ADS_1
Nikmati aja alurnya 😚😚