
...****Sinyal Bahaya****...
Di hari pertama renovasi. Zahra di temani Dania dan Intan, pergi berbelanja kebutuhan untuk kebutuhan dasar. Tak banyak, hanya beberapa wallpaper untuk mempercepat waktu, juga beberapa moulding untuk tembok. Sedangkan furnitur, beberapa ia membawa dari rumah, dan beberapa ia belanja yang baru.
Di hari ke dua. Dia masih terlihat sibuk. Memindahkan barang-barang dari rumah lama ke ruko yang hampir 80 persen siap untuk di huni. Mengawasi tukang memasang AC, juga memasang penyekat untuk kamar.
“Tumben aku gak liat Dean akhir-akhir ini, Ra?” Tanya Dania.
“Sibuk kata dia.” Jawab Zahra singkat sembari memasang wallpaper dinding. Melihat respon Zahra yang cuek, Dania pun sengan bertanya lebih jauh.
Hari sudah malam, beberapa pekerjaan masih belum seselai, dan mereka bertiga sudah terlihat sangat lelah. Tepat di saat itu, Dean datang dengan dua orang yang mengikuti di belakangnya.
“Katanya sibuk?” tanya Zahra.
Bukannya menjawab, Dean justru melihat sekitar. Mengamati hasil desain dari calon istrinya dengan teliti. Melihat lantai pertama sudah cukup rapih, ia pun naik ke atas.
Rupanya, di atas masih cukup berantakan. Skat pemisah untuk kamar sudah terpasang, beberapa barang juga sudah naik. Hanya perlu sedikit di tata agar terlihat rapi.
Baru berjalan untuk melihat kamar, Dean tak sengaja melihat gambar desain yang ada di atas meja. Ia pun mengambilnya karena penasaran.
“Bagus juga nih. Udah makin jago rupanya.”
__ADS_1
Selesai melihat-lihat, ia pun turun. Baru beberapa langkah menuruni tangga. Manik mata coklatnya melihat Zahra tertidur di atas meja dengan lelap.
“Lelah? Karna itu gak naik ke atas buat nyusulin aku?”
Ia pun menghela napas panjang. Lalu, menyuruh dua orang lelaki yang tadi mengikutinya, naik ke atas untuk berbenah sesuai desain. Dia juga menyuruh Dania dan Intan pulang lebih dulu. Juga, beberapa pekerja yang sejak pagi membantu mereka.
“Oke deh, jangan lupa nanti bangunin dia buat makan!” Seru Dania sebelum keluar dari ruko.
Setelah semuanya pergi, Dean membopong tubuh Zahra. Lalu menaruhnya di atas sofa empuk. Ia melepas blezer yang dia kenakan, dan menaruhnya di badan Zahra. Menyalakan kipas portabel kecil agar dia tak kegerahan.
Usai memastikan Zahra nyenyak. Ia pun naik ke atas untuk membantu beberapa pekerja yang ia bawa. Di mulai dari kamar Zahra, kamar mandi, hingga dapur. Memastikan agar semuanya sesuai dengan desain, juga bersih. Bekerja ekstra, sampai empat jam terlewat pun, dia tidak sadar.
“Ya bawah juga, Mas?”
“Siap, Mas.”
Merasa gerah setelah bekerja, Dean pun memutuskan mandi lebih dulu. Setelah selesai, ia pun turun untuk membangunkan Zahra. Dengan dada yang hanya di tutup kaos bagian depannya.
“Mee, pindah ke atas yuk! Udah rapih di sana.” Dean mencoba berbicara lirih di samping Zahra. Namun wanita itu masih lelap dalam tidur. Tak mau berlama-lama, Dean pun dengan gagah mengangkat tubuh Zahra, dan membopongnya ke lantai atas.
“Kayaknya kamu harus diet, Mee!”
__ADS_1
Baru sampai di tengah tangga, napas Dean sudah memburu, kembang kempis. Namun, dia tak menyerah, satu per satu di tapakinya anak tangga itu, hingga berhasil sampai ke atas.
Dengan hati-hati, ia menaruh tubuh Zahra di atas tempat tidur yang sudah rapi dan bersih. Bahkan, sprei dan selimutnya dia bawa sendiri dari rumah.
Tangan kirinya baru selesai meletakkan kepala Zahra di atas bantal, dan Tiba-tiba saja ....
Tangan Zahra bergelayut di leher Dean. Dorongan yang mendadak, membuat tubuh Dean hilang keseimbangan. Dan akhirnya wajah tampan itu berada sangat dekat dengan wajah Zahra.
“Harum ....” lirih Zahra.
Matanya masih menutup, bahkan sangat rapat. Namun bibirnya sudah berkicau entah membicarakan apa. Mungkin, hidung super sensitifnya berhasil mengendus aroma harum dari tubuh Dean. Mungkin juga, ia baru saja mencium aroma dari diffuser yang dia beli tadi siang.
“Ra, setan sebelah kiri udah berbisik. Kamu mau lepas atau engak?” Dean berbicara lirih, sembari menahan tubuhnya yang semakin terdorong ke depan.
“Hmmmmm”
“Ra, lepas ya. Si Burung Beo udah resah nih. Jangan bikin dosa deh!” Dean menelan salivanya kasar. Lalu, pelan-pelan melepas tangan Zahra dan berdiri secepat mungkin.
“Huh! Hampir khilaf gue!” Napasnya masih memburu, setelah berhasil menghempaskan setan yang berbisik sejak tadi.
__ADS_1
Jan Kilaf sekarang bang.
Sabar dulu yaaa. Palakin reader dulu 🤭🤭