The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 10 - Hanya Boleh Ada Satu Pemenang


__ADS_3

Di markas pusat militer Negara Roland, beberapa bangsawan, politisi, dan petinggi militer tengah berdiskusi di ruangan khusus.


"Kenapa bisa begini? Kenapa ibukota malah jadi medan perang? Apa yang dilakukan Jendral Besar Hans di sana?"


"Tenanglah. Mungkin saja, orang yang dihadapi Jendral Besar Hans bukan lawan sembarangan."


"Bagaimana aku bisa tenang. Apa kau tidak melihatnya? Hampir separuh ibukota hancur. Dan kau masih menyuruhku untuk tenang?"


"Aku setuju dengan apa yang dikatakan Tuan Hodi. Jika terus begini, bisa-bisa ibukota rata dengan tanah."


"Bagaimana jika kita menerjunkan pasukan dalam skala besar? Mungkin itu akan membantu."


"Dasar bodoh. Jika kita mengirim pasukan lemah, mereka hanya akan jadi tumpukan mayat. Kita tidak akan bisa menangani orang itu dengan jumlah pasukan yang tidak seberapa."


Saat para petinggi Negara Roland sedang sibuk berdebat, pemimpin tertinggi negara datang ke ruangan itu.


"Selamat datang, Pak!"


"Selamat datang, Pak!"


Semua petinggi di sana menyambut kedatangan sang pemimpin tertinggi negara dengan hormat.


"Kenapa pihak militer tidak segera mengatasi situasi ini?" tanya sang pemimpin tertinggi.


"Kami sedang berusaha, Pak. Jendral Besar Hans juga sudah turun langsung untuk mengatasi kelompok-kelompok itu."


"Lalu kenapa dia belum menangkap para perusuh itu?" tanya sang pemimpin tertinggi.


"Soal itu ... mungkin saja, orang yang menjadi dalang kerusuhan ini bukan lawan sembarangan. Sehingga, Jendral Besar Hans sedikit kesulitan mengatasinya."


"Kalau begitu, kalian juga harus turun langsung untuk membantunya," kata sang pemimpin tertinggi.


"Kami ditugaskan Jendral Besar Hans untuk melindungi para petinggi negara termasuk para bangsawan. Jika kami juga ikut terjun ke medan pertempuran, tidak ada yang menjaga para petinggi."


"Jika ibukota hancur sepenuhnya, negara ini juga akan hancur. Jika negara hancur, para petinggi dan bangsawan yang kalian lindungi juga akan hancur. Jika kalian ingin melindungi para petinggi, kalian juga harus melindungi ibukota," kata sang pemimpin tertinggi.


"Baiklah, Pak! Sesuai perintah Anda."


4 dari 7 jendral yang ditugaskan melindungi para petinggi negara, mulai bersiap untuk terjun ke medan pertempuran.


Di dalam markas pusat media negara Roland, orang-orang sedang sibuk melakukan beberapa persiapan.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya sang pemimpin media penyiaran negara Roland.


"Kamera sudah di posisi, Pak! Kita siap menanyangkannya kapan saja."


"Bagus. Pastikan untuk menayangkannya dengan sebaik mungkin. Karena nasib negara ini ditentukan di pertempuran ini," kata pemimpin itu.


Pihak media negara Roland telah bersiap untuk menayangkan pertempuran besar yang terjadi di ibukota ke seluruh negeri.


Di medan pertempuran Rudi melawan Jendral Besar Hans, reporter di sana mulai menyiarkan liputan langsung.


"Halo semuanya. Saya adalah pembawa acara kalian. Saya di sini untuk memberikan gambaran kepada kalian semua tentang betapa mengerikannya pertempuran yang saat ini terjadi di pusat ibukota."

__ADS_1


Duar!


"Saat ini, pertempuran antara Jendral Besar Hans melawan orang yang identitasnya tidak diketahui mulai semakin memanas. Ledakan terus terjadi di mana-mana."


Sang reporter dan kameramen yang bertugas harus meliput pertempuran itu secara langsung sambil terus berlarian ke sana ke mari agar tidak terseret ke dalam pertempuran.


Di dalam markasnya, para anggota kelompok Picky Men sedang melihat siaran langsung dari televisi mereka.


"Bukankah itu bocah yang sudah mengalahkan kita?" tanya salah satu anggota kelompok tersebut.


"Benar. Tidak salah lagi. Itu memang dia," jawab sang pemimpin kelompok.


"Kenapa dia bisa ada di sana?" tanya anggota lain.


"Seharusnya kau bertanya, kenapa dia bisa menyebabkan hal semacam itu," jawab sang pemimpin kelompok.


Di salah satu kota di negara Roland, beberapa orang sedang gempar setelah mendengar berita bahwa ibukota diserang sekelompok perusuh.


"Hei, apa aku boleh ikut menonton tv? Aku juga ingin melihat pertempuran itu."


"Ya, silakan saja. Siarannya baru saja dimulai."


Orang-orang yang tidak memiliki televisi, mulai mencari tempat yang memilikinya agar mereka bisa menyaksikan pertempuran tersebut.


Untuk bisa menikmati siaran televisi, seseorang harus membayar sejumlah uang setiap bulannya untuk bisa menyaksikan siaran televisi. Karena hal itulah, televisi dianggap sebagai barang eksklusif di masyarakat. Bisa dibilang, hanya kaum berada yang bisa menikmati siaran televisi setiap harinya.


Duar!


"Kalian bisa melihatnya sendiri, wilayah ibukota dan sekitarnya benar-benar hampir rata dengan tanah. Bagaimanakah nasib negara Roland selanjutnya? Apakah negara ini akan benar-benar hancur?" ucap sang reporter yang menyiarkan langsung dari medan pertempuran.


"Ibu, apa negara kita akan hancur?"


"Tenang saja, Nak. Para tentara pasti akan mengalahkan mereka."


Tua, muda, remaja, laki-laki, hingga perempuan, mereka semua terpaku di depan televisi sambil menyaksikan pertempuran yang akan menentukan nasib seluruh negeri.


Di pusat media negara Roland, orang-orang di sana sedang gempar karena rating penyiaran mereka berhasil melampaui rating siaran final kejuaraan para ranker tahun ini.


"Rating siaran mulai menlonjak tinggi, Pak!"


"Bagus! Terus lanjutkan! Kita harus menyiarkan setiap momen dengan sebaik mungkin agar para penduduk bisa merasakan ketegangan di ibukota," kata sang pemimpin media.


"Baik, Pak!"


"Haaahahahahahahaha! Ini benar-benar membuat adrenalinku memuncak. Ayo terus ramainkan pestanya," gumam sang pemimpin media.


Di salah satu medan pertempuran, kelompok Hendri sedang bertarung sengit melawan kelompok Ciel dan pihak militer.


Boom!


Ciel terlempar jauh ke belakang karena terkena pukulan telak Hendri.


Tidak lama berselang, jendral yang memimpin pihak militer, melesat ke arah Hendri untuk menyerangnya.

__ADS_1


Sang jendral melesatkan pukulan tangan kanannya.


Fire Wall!


Hendri membuat dinding api untuk menahan pukulan itu.


Duar!


Gelombang kejut tercipta karena benturan keduanya. Hingga membuat puing-puing tanah, batu, dan pohon berterbangan karenanya.


Dari kejauhan, Ciel yang sudah bangkit, mulai melesat ke arah kedua orang tersebut untuk kembali ikut dalam pertempuran mereka.


"Mati kau, Hendri!" teriak Ciel sambil bersiap melepaskan pukulan berlapis force ke arah Hendri.


"Jangan bermimpi!" sahut Hendri sambil bersiap menahan pukulan itu.


Hendri dan Ciel terlibat dalam pertempuran langsung. Mereka berdua silih berganti tukar serangan. Pukulan keras mengujam deras, tekanan force mengalir kencang, hingga adu kecepatan terus mereka pertontonkan.


Seolah tidak mau kalah, Jendral Roland juga ikut dalam pertarungan itu.


Pertarungan 3 sisi yang terjadi di sana, benar-benar terlihat seperti pertunjukan hebat memukau mata.


Di salah satu medan pertempuran, kelompok Gary sedang bertarung melawan pihak militer.


Bem!


Jendral Negara Roland yang bertugas melawan kelompok Gary, terkena serangan telak di bagian perut.


Sang jendral berusaha menahan rasa sakit itu dan mulai melesatkan serangan-serangan kuat ke arah Gary.


Gary melompat, menunduk, dan melesat cepat ke sana ke mari untuk menghindari semua serangan itu.


Pukulan, dihindari. Tendangan, ditangkis.


Gerakan cepat, lincah, dan indah terus tersaji di sana. Sehingga, membuat pertarungan keduanya tampak indah dan memukai mata setiap orang.


Di salah satu medan pertempuran, aku masih disibukan oleh Jendral Besar Hans.


Jendral Besar Hans terus melesatkan pukulan kuat berlapis force ke arah kepalaku. Akan tapi, aku berhasil menghindarinya dengan cukup baik.


Duar!


Puluhan rumah hancur seketika karena terkena tekanan force yang dilepaskan.


"Orang ini benar-benar monster mengerikan," pikirku sambil melihat tubuh Jendral Besar Hans yang tidak terlihat seperti manusia lagi.


Jendral Besar Hans yang seluruh tubuhnya telah berselimut darah, masih bisa mempertahankan kekuatan, kelincahan, kecepatan, hingga kejatamannya. Sehingga, membuatku sangat kesulitan untuk menjatuhkannya.


Di tengah pertarungan sengit melawan sang jendral besar, aku mendengar rentetan ledakan besar yang berasal dari wilayah hutan barat.


"Cih ... jika aku terlalu lama membuang waktu meladeni orang ini, aku akan kehilangan kesempatan untuk mengalahkan kelompok Hendri dan yang lainnya. Aku harus bisa membawa bajingan ini ke sana agar bisa segera menyelesaikan pertempuran ini. Lagi pula, jika kami terus bertarung di sini, ibukota akan benar-benar hancur sepenuhnya," gumamku dalam hati.


Aku saat ini benar-benar berada di posisi dilema. Jika aku terus meladeni Jendral Besar Hans, aku akan kehilangan kesempatan untuk mengalahkan kelompok lain. Tapi, jika aku membawa pertarungan ke medan pertempuran lain, aku harus menghadapi semua orang sekaligus. Tentu saja, itu bukan pilihan bagus, mengingat kondisiku yang semakin menurun.

__ADS_1


Aku berniat untuk mengalahkan semua pihak yang terlibat dalam pertempuran itu agar aku bisa keluar sebagai satu-satunya pemenang. Jika aku hanya mengalahkan pihak militer, di saat kelompok lain juga berhasil mengalahkan lawan mereka, maka akan ada dua atau lebih pemenang dalam pertempuran itu. Hal itu jelas tidak kuinginkan karena dalam sebuah pertempuran, hanya boleh ada satu pemenang. Dan aku harus menjadi satu-satunya orang yang tetap bertahan hingga akhir untuk mendapat kemenangan tersebut.


__ADS_2