The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 71 - Gua Misterius


__ADS_3

Dari markas kelompok Andre, membutuhkan waktu sekitar 7 hari jalan kaki untuk sampai di Negara Boreas melewati jalur hutan dan pegunungan. Seharusnya, perjalanan itu bisa ditempuh hanya dalam waktu 3 hari jika menggunakan jalur normal. Tapi, karena tidak mau terlalu menarik perhatian banyak orang. Sehingga, mereka memutuskan untuk melewati jalur hutan dan pegunungan.


Selama 3 hari perjalanan melewati hutan belantara, mereka beberapa kali bertemu dengan banyak binatang buas seperti singa, harimau, ular, hingga beruang.


Setelah menempuh perjalanan selama 5 hari, mereka sampai di sebuah hutan yang sangat lebat.


Saat mereka baru saja memasuki hutan itu. Tiba-tiba, cuaca yang awalnya cerah, berubah menjadi hujan badai.


"Cepat cari tempat berteduh!" teriak Rudi pada semua orang.


Mereka semua mencoba mencari tempat berteduh.


Sampai pada akhirnya, mereka menemukan sebuah gua kecil di tengah hutan itu.


Tanpa pikir panjang, mereka semua masuk ke gua itu untuk berteduh dari hujan lebat.


"Oh, beruntung ada gua," kata Rudi sambil melepas bajunya yang sudah basah kuyup karena hujan.


"Kenapa tiba-tiba hujan?" kata Akito.


"Kaaakakakakaka! Ini terasa seperti petualangan sungguhan," kata Kageyama.


"Hei, kita memang sedang berpetualang," sahut Akito.


"Aduh, bajuku basah kuyup," kata Dian.


Semua orang yang mendengar ucapan Dian, mulai menyadari sesuatu. Mereka baru sadar bahwa saat ini, ada perempuan dengan tubuh menggoda sedang bersama mereka di sana.


"Glup!" Rudi, Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah bamper depan belakang Dian yang terlihat sangat menonjol karena baju yang sedang basah.


Alvin yang melihat semua orang sedang menatap adiknya dengan mata kotor mereka, mulai memarahi mereka semua.


"Hoi, apa yang sedang kalian pikirkan? Jangan tatap tubuh adikku dengan mata kotor kalian!" teriak Alvin pada semua orang di sana.


"Cih ... dia Kakak yang membosankan." Rudi menggerutu.


"Ya, ya. Dia sangat membosankan," sahut Akito, Kageyama, Julius, dan Yuta, kompak menanggapi ucapan Rudi.


Setelah pertengkaran kecil, mereka pun memutuskan beristirahat di gua itu sementara waktu hingga hujan reda.


"Oi, bagaimana kalau kita sedikit menjelajah ke dalam? Sepertinya gua ini cukup menarik," kata Rudi pada semua orang.


"Boleh juga," sahut Akito.


"Kaaakakakaka! Aku setuju," sahut Kageyama.


"Ya, itu lebih baik dari pada hanya berdiam di sini," sahut Julius.


"Aku ikut asal ada Tuan Julius," sahut Yuta.


"Baiklah, aku juga ikut," sahut Alvin.


"Aku juga," sahut Dian.

__ADS_1


Mereka semua mulai menelusuri gua itu.


Di dalam gua terlihat sangat gelap karena tidak ada cahaya yang bisa menembus hingga ke bagian dalam gua tersebut.


Kageyama membuat kobaran api di tangannya untuk menerangi jalan.


Sudah cukup dalam mereka masuk ke dalam gua itu. Tapi, mereka tidak menemukan apapun.


Saat masuk lebih dalam lagi, mereka melihat banyak lukisan-lukisan aneh di dinding gua. Lukisan itu adalah lukisan abstrak yang tidak mereka mengerti.


"Oi, apa jangan-jangan, ini lukisan orang purba?" tanya rudi


"Bisa jadi. Karena lukisanya sudah tampak sangat tua. Lagi pula, manusia modern tidak akan melukis seburuk ini, bahkan jika dia adalah seorang idiot sekali pun," jawab Kageyama.


Mereka terus melanjutkan penelusuran ke dalam gua itu.


Semakin dalam mereka masuk gua, udara semakin terasa lembab dan aroma busuk mulai tercium.


Saat melihat ke atas, mereka melihat banyak sekali kelelawar yang menggantung di langit-langit gua.


"Aku tidak tahan dengan bau di sini," kata Rudi sambil menutup hidung.


"Baunya benar-benar menusuk hidung," kata Akito, juga sambil menutup hidung.


"Sebaiknya kita kembali saja," kata Dian yang tidak tahan dengan semua aroma busuk di sana.


"Sedikit lagi, aku ingin melihat sedikit lebih dalam," kata Rudi.


Mereka kembali melanjutkan penelusuran.


Setelah puas menelusuri gua, mereka memutuskan untuk kembali karena tidak menemukan apapun di sana.


"Tidak ada apapun di sini. Ayo kita kembali. Sepertinya hujan sudah reda," ucap Yuta.


"Ya, apa boleh buat," sahut Rudi.


Rudi sebenarnya masih penasaran dengan gua itu dan berniat masuk lebih dalam. Akan tetapi, teman-temannya tidak berniat melanjutkan penulusuran itu.


Mereka memutuskan untuk kembali ke mulut gua.


Dalam perjalanan kembali, Rudi melihat dinding yang memiliki lukisan aneh. Ia terus memperhatikan lukisan tersebut dengan teliti.


"Apa hanya perasaanku saja?"gumam Rudi dalam hati.


Rudi merasakan ada sesuatu yang aneh pada lukisan tersebut. Tapi, ia tidak tau apa yang aneh dalam lukisan tersebut.


Rudi akhirnya bertanya kepada teman-temannya.


"Oi, apa ada penemuan lukisan semacam ini sebelumnya?" tanya Rudi.


??!!


Kageyama, Julius, dan Yuta, mulai menyadari sesuatu.

__ADS_1


Sebelumnya, mereka semua hanya mengabaikan lukisan tersebut tanpa pikir panjang. Tapi, setelah mendengar pertanyaan Rudi, membuat ketiganya menyadari sesuatu.


"Rudi!" kata Kageyama yang terlihat sangat serius sambil menatap lukisan di dinding gua.


"Oi, Kageyama. Kenapa tiba-tiba ekspresimu berubah? Kau membuatku takut," sahut rudi.


"Lukisan ini ...." Kageyama menghentikan ucapannya.


Rudi, Akito, Alvin, dan Dian, terlihat sangat tegang menunggu ucapan Kageyama.


Kageyama kemudian mulai melanjutkan ucapanya dengan wajah sangat serius. Dan itu, membuat Rudi dan yang lainnya sedikit ketakutan.


"Lukisan ini bisa menghasilkan uang," ucap Kageyama.


"Eh?"


Rudi, Akito, Alvin, dan Dian, terlihat sangat syok mendengar ucapan Kageyama.


Mereka berfikir, Kageyama mendapatkan petunjuk mengenai lukisan-lukisan abstrak itu. Tapi, ternyata, bayangan mereka seketika hancur.


"Sialan! Kubunuh kau!" teriak Rudi geram.


"Eh? Kenapa?" tanya Kageyama bingung.


Mereka semua pun memutuskan untuk kembali ke mulut gua tanpa memperdulikan lukisan-lukisan itu.


Penjelajahan mereka berakhir dengan mengecewakan. Tapi, sebenarnya ada sesuatu yang mereka lewatkan dari gua tersebut, sesuatu yang teramat penting dan luput dari pandangan mereka semua.


Sesampainya di mulut goa, mereka mendapati kalau hujan telah reda.


Mereka semua pun melanjutkan perjalanan menuju Negara Boreas.


...***...


Setelah menempuh perjalanan selama 7 hari, mereka akhirnya sampai di Kota Trebol, kota yang berada di bawah kekuasaan Negara Boreas.


Kota Trebol.


"Akhirnya sampai," kata Rudi.


"Kota ini tidak buruk," kata Akito.


"Kaaakakakaka! Ayo segera cari hotel," kata Kageyama.


"Aku setuju," sahut Julius.


"Aku tidak mau berpetualang seperti ini lagi," kata Yuta.


"Kuharap, makanan di sini enak-enak," kata Alvin.


"Aku ingin segera mandi," kata Dian.


Mereka semua mulai memasuki Kota Trebol.

__ADS_1


Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota itu, banyak orang yang terus melihat mereka. Orang-orang itu menyangka kalau Rudi dan kelompoknya adalah sekumpulan gelandangan karena baju yang mereka kenakan sudah compang-camping dan berbau tidak sedap. Penampilan mereka juga hampir tidak bisa dikenali karena daki yang menumpuk.


Bahkan, saat mereka ingin memasuki hotel, mereka sampai di usir karena dikira gelandangan. Tapi, setelah Kageyama, Yuta, dan Julius menunjukkan Black Card mereka, semua staf hotel itu langsung kena mental dan memperlakukan mereka layaknya seorang tamu kehormatan. Semua pelayanan terbaik disediakan untuk mereka tanpa terkecuali.


__ADS_2