The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 74 - Ayah dan Anak


__ADS_3

Rudi dan kelompoknya sampai Negara Kansas, salah satu Negara Big 7.


Negara Big 7 adalah 7 negara paling adidaya, paling berpengaruh, dan paling kuat di dunia.


Bandara Ibukota Negara Kansas, Benua Tengah.


Sesampainya di sana, Rudi dan kelompoknya langsung disambut oleh 10 orang berpakaian serba putih. Orang-orang itu adalah pengawal pribadi keluarga Arinto, salah satu dari 12 Bangsawan Elit Global.


"Tuan Muda Kageyama, kami diutus Tuan Besar Daici untuk menjemput Anda," kata pengawal pertama kepada Kageyama.


"Ya, aku tau. Tidak usah banyak bicara. Ayo segera berangkat," kata Kageyama pada kesepuluh pengawal itu.


"Sebelum itu, siapa mereka? Apa mereka tamu Anda?" tanya pengawal kedua.


"Mereka adalah tamu kehormatanku. Jadi, abaikan saja," sahut Kageyama.


"Sesuai keinginan Anda," sahut pengawal kedua.


Rudi, Akito, Alvin, dan Dian, agak sedikit tidak nyaman dengan segala formalitas yang mereka dapatkan.


Mereka semua kemudian mulai berangkat menuju kediaman Keluarga Arinto menggunakan 2 mobil limuosin mewah yang sudah menunggu di parkiran bandara.


Sebelum Rudi dan kelompoknya sampai di Ibukota Kansas, Kageyama sudah menghubungi keluarganya dan meminta untuk menjemputnya menggunakan 2 mobil limousin mewah.


Saat keluar dari area bandara, Rudi menyadari ada sesuatu yang terasa janggal.


Saat sedang berada di dalam mobil limuosin mewah yang mereka tumpangi, Rudi mulai menyanakan keanehan itu.


"Oi, kenapa dari tadi tidak ada satu pun orang? Apa negara ini tidak ada penduduknya?" tanya Rudi pada teman-temannya.


"Benar. Sejak keluar bandara, aku tidak melihat ada satu pun orang," sahut Akito.


"Keluarga Arinto sudah memblokir wilayah ini dari publik untuk sementara waktu," jawab Julius.


"Memblokir? Apa hal semacam itu bisa dilakukan?" tanya Rudi.


"Hanya mereka yang memiliki kekuasaan tanpa batas yang bisa melakukan hal semacam ini," jawab Julius.


"Lalu, bagaimana dengan keluarga kalian? Apa keluarga kalian juga bisa melakukan hal semacam ini?" tanya Rudi pada Julius dan Yuta.


"Tidak. Keluarga kami tidak cukup untuk bisa memblokir suatu wilayah di Negara Big 7. Jika negara biasa, itu masih memungkinkan," jawab Julius.


"Bukankah itu artinya Keluarga Arinto itu sangat berkuasa?" tanya Akito.


"Kau bisa membayangkan kalau Keluarga Arinto itu layaknya Dewa di dunia. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau, tanpa terkecuali," jawab Yuta.


Rudi dan Akito sangat terkejut dengan fakta itu.


Negara Big 7 sangat berbeda dengan negara adidaya ataupun negara besar lainnya. Negara Big 7 adalah negara yang memiliki militer paling tanggung, kekuasaan paling besar, pengaruh paling kuat, dan peradaban paling maju di seluruh dunia. Bisa disimpulkan bahwa Negara Big 7 itu adalah penguasa dunia saat ini. Hanya Kaisar dan kelompoknyalah yang bisa bersaing dengan Negara Big 7, dalam hal kekuatan. Dan di atas itu semua, ada 12 Keluarga Bangsawan Elit Global yang memiliki kekuasaan dan pengaruh melebihi mereka semua.


...***...


Sesampainya di sebuah gerbang besar yang dijaga sangat ketat, kesepuluh orang yang mengawal Kageyama dan yang lainnya, meminta untuk Rudi dan yang lainnya turun dari mobil.


"Tuan Mudah Kageyama. Walaupun mereka adalah tamu kehormatan Anda. Tapi, kami tidak bisa membiarkan siapa pun memasuki kediaman pribadi Keluarga Arinto tanpa mendapat persetujuan dari Tuan Besar Daici," kata salah satu pengawal itu.

__ADS_1


Kageyama terdiam sambil melihat ke arah Rudi.


Rudi kemudian menyaut.


"Tidak masalah. Kami akan menunggumu di sini, Kageyama. Lagi pula, aku juga ingin melihat-lihat kota ini," sahut Rudi.


"Apa tidak masalah?" tanya Kageyama.


Rudi dan yang lainnya hanya diam sambil memandang Kageyama, seolah menjawab pertanyaan itu.


Rudi dan yang lainnya berdiri di depan gerbang masuk kediaman pribadi Keluarga Arinto. Sedangkan Kageyama dan para pengawalnya, masuk kembali ke dalam mobil dan mulai memasuki gerbang besar itu.


Kageyama mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil sambil berteriak.


"Tunggu sebentar. Aku akan segera menyelesaikan urusan dengan ayahku," teriak Kageyama pada Rudi dan yang lainnya.


"Santai saja. Nikmati waktu bersama orangtuamu," balas Rudi, juga sambil berteriak.


Setelah mobil limousin mewah itu melewati gerbang, gerbang itupun langsung ditutup rapat.


Rudi dan yang lainnya masih berdiri di depan gerbang.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Alvin.


"Hmm ... pertama-tama, kita harus mencari hotel. Aku ingin beristirahat sebentar," kata Rudi pada semua orang.


Semua orang mengerti betul maksud dari perkataan Rudi. Perkataan itu seolah menunjukkan kecemasaanya. Kecemasan soal apa yang akan terjadi selanjutnya. Kecemasan soal apakah Kageyama bisa kembali bersama mereka. Kecemasan soal bagaimana jadinya jika keluarga Kageyama melarang Kageyama kembali bersama mereka. Semua kecemasan itu bisa dirasakan dengan jelas oleh semua orang.


Mereka pun akhirnya berkeliling Ibukota Kansas sambil mencari hotel untuk beristirahat.


...***...


Saat pertama kali memasuki rumah, Kageyama langsung disambut puluhan pelayan dan adiknya yang bernama Naoto Arinto.


"Kakak! Aku sangat senang karena Kakak akhirnya pulang!" kata Naoto sambil memeluk Kageyama.


Naoto adalah adik laki-laki Kageyama. Umurnya saat ini sekitar 8 tahun. Kageyama dan Naoto adalah dua bersaudara.


"Ya, aku juga sangat merindukanmu, Naoto," balas Kageyama sambil memeluk adiknya.


"Apa Kakak akan menetap di sini mulai sekarang?" tanya Naoto pada Kageyama.


"Tidak, Kakak akan kembali berpetualang bersama teman-teman Kakak," jawab Kageyama.


"Heee ... kenapa Kakak suka sekali berpetualang? Kenapa tidak di rumah saja? Bukankah di sini Kakak bisa mendapatkan apapun yang Kakak mau?" tanya Naoto dengan perasaan kecewa.


"Kakak akan menetap di sini suatu saat nanti," jawab Kageyama.


"Kenapa tidak sekarang?" tanya Naoto.


"Kau terlalu banyak tanya," jawab Kageyama sambil mengusap kepala adiknya.


Saat Kageyama masih sibuk berbincang dengan adiknya. Tiba-tiba, Ayah dan Ibu Kageyama datang.


"Ibu sangat merindukanmu, Anakku," kata Ibu Kageyama yang baru saja datang ke sana.

__ADS_1


"Kageyama, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu," kata Ayah Kageyama yang juga baru saja datang ke sana.


"Apa Ayah ingin menanyakan keterlibatanku soal insiden jatuhnya kelompok Nero?" tanya Kageyama dengan wajah serius.


"Jelaskan dengan detail," jawab Daici, ayah Kageyama, juga dengan wajah serius.


"Sayang, jangan langsung memberondong anakmu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Apa kau tidak senang dengan kepulangannya?" tanya Ibu Kageyama menegur suaminya.


"Bukan begitu maksudku," sahut Ayah Kageyama pada perkataan istrinya.


"Benar kata Ibu, Ayah! Jangan kasar pada Kakak! Jika ayah memarahi Kakak, nanti Kakak akan pergi lagi!" kata Naoto.


Mendengar ucapan Naoto, membuat Daici langsung merubah sikapnya. Sikap yang sebelumnya serius, berubah menjadi seperti seorang Ayah yang penyayang.


"Kau salah paham, Naoto. Ayah dan Kakak hanya ingin berbincang setelah lama tidak bertemu," kata Daici dengan wajah seorang ayah penyayang.


"Benar, Naoto. Kakak dan Ayah hanya ingin melepas rindu setelah berpisah lama," sahut Kageyama dengan wajah seorang kakak penyayang.


"Bagitukah?" tanya Naoto.


"Iya, benar!" jawab Kageyama dan ayahnya, kompak.


"Ya sudah kalau begitu," kata Naoto dengan wajah bahagia.


Setelah puas melepas rindu bersama keluarganya, Kageyama dan Daici mulai pergi ke ruang kerja Daici.


Sesampainya di ruang kerja milik Daici, Daici langsung bertanya pada anaknya.


"Apa maksudnya? Kenapa kau sampai bisa terlibat dengan insiden itu?" tanya Daici pada Kageyama.


"Ayah, aku saat ini sudah bergabung dengan kelompok yang sudah mengalahkan Sang All Stars Nero," jawab Kageyama.


"Apa kau benar-benar berniat meninggalkan segalanya?" tanya Ayah Kageyama.


"Entahlah ... aku tidak berfikir untuk meninggalkan tanggung jawabku sebagai pewaris utama Keluarga Arinto. Tapi, aku tidak bisa melakukannya sekarang karena ada banyak hal yang ingin kulakukan," jawab Kageyama.


"Apa kau masih ingin mengejar mimpimu itu?" tanya Ayah Kageyama.


"Tentu saja. Aku pasti akan meraihnya, Ayah. Saat ini, aku punya teman-teman hebat yang bisa membantuku mewujutkan mimpiku," jawab Kageyama sambil membayangkan wajah Rudi dan yang lainnya.


Ayah Kageyama tersenyum tipis mendengar jawaban anaknya. Ia merasakan bahwa anaknya telah berubah. Kageyama yang ia lihat saat ini, terlihat lebih dewasa dan lebih matang dari sebelumnya.


Kerena melihat semua perubahan sikap anaknya, membuat Daici sangat senang.


"Ayah tidak tau kenapa kau bisa sangat berbeda dari sebelumnya. Tapi, Ayah sangat senang dengan itu," kata Daici sambil melihat wajah anaknya.


"Memangnya, apa yang berubah dariku?" tanya Kageyama.


"Jika dirimu yang dulu, kau pasti akan menjawab bahwa kau bisa melakukannya sendirian. Tapi, kau yang sekarang bisa lebih mengerti pentingnya bantuan orang lain. Hal itulah yang Ayah inginkan darimu. Kau yang saat ini lebih terlihat seperti pria sejati dan lebih bertanggung jawab dari pada kau yang dulu," kata Daici.


"Benarkah? Bukankah sama saja?" tanya Kageyama.


"Hahahahahahaha! Aku sangat senang karena keputusanku membiarkamu berpetualang adalah keputusan yang benar," kata Daici.


"Kaaakakakakaka!" Kageyama hanya menanggapi dengan tawa menggelegar.

__ADS_1


Daici membiarkan Kageyama berpetualang untuk menunjukkan pada Kageyama bahwa dunia ini tidak dirancang untuk satu orang. Walaupun banyak orang yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Tapi, hal itu tetap tidak bisa diraih seorang diri karena manusia punya batasan yang tidak akan pernah bisa dilampaui.


__ADS_2