
Sniper itu kemudian mulai membidik kepala Rudi. Dan tembakan pun dilepaskan.
Saat aku masih sibuk menghentikan pendarahan Akito, aku merasakan ada sebuah peluru yang mengincar kepalaku.
Aku pun membuat barier es untuk menghalaunya.
Peluru berlapis force yang ditembakkan sniper itu terhenti karena tidak sanggup menembus barier es yang kubuat.
Aku kemudian menatap ke arah sumber tembakan tersebut.
Dari posisiku saat ini, aku melihat ada seorang sniper yang bersembunyi sekitar 300 meter jauhnya.
Aku berniat melesat ke arah sniper itu untuk menghabisinya. Tapi, saat aku ingin melesat ke arah sniper itu, tiba-tiba muncul 100 pasukan militer negara Roland yang mulai mengepungku.
Pasukan itu dipimpin langsung oleh Jendral Besar Negara Roland.
Saat melihat kedatangan ratusan pasukan elit militer yang dipimpin langsung sang jendral besar, Hendri dan 4 eksekutifnya yang masih berdiri, berusaha bergegas meninggalkan lokasi itu. Mereka tidak ingin berurusan dengan pihak militer karena hal itu akan sangat merepotkan.
"Ayo pergi! Kita tidak bisa melanjutkannya lagi! Dan jangan lupa bawa semua yang terluka," perintah Hendri kepada para eksekutifnya yang masih berdiri.
Sesaat sebelum kelompok Hendri ingin meninggalkan lokasi pertempuran, sang jendral besar langsung menghentikannya.
"Mau kemana kau? Apa kau pikir bisa lepas begitu saja?" tanya sang jendral besar pada Hendri.
"Aku tidak punya urusan denganmu," jawab Hendri.
"Tentu saja kau punya. Akibat dampak pertempuran kalian, perbatasan barat hampir hancur," balas sang jendral besar.
"Itu bukan salahku. Lagi pula, aku sama sekali tidak berniat bertarung di dekat kota. Merekalah yang memaksaku melakukannya," kata Hendri sambil menunjuk Rudi dan Akito.
"Aku tidak perduli. Kau harus ikut denganku untuk mempertanggung-jawabkan semuanya. Jika kau menolak, aku akan membawamu secara paksa," kata sang jendral besar.
"Apa kau pikir kau cukup kuat untuk melakukannya?" tanya Hendri dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau ingin mencobanya?" tanya balik sang Jendral Besar Roland.
Jendral Besar Negara Roland dan Hendri saling bertatapan muka seperti dua predator yang siap saling menghancurkan.
Di sisi lain, aku masih memegangi tubuh sahabatku yang tergulai lemas akibat terkena tembakan sniper.
"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin meninggalkan Akito begitu saja. Jika aku melawan, aku tidak akan sanggup mengatasi mereka semua. Sial! Posisiku benar-benar tidak menguntungkan!" Aku yang berusaha berfikir keras untuk lepas dari situasi tersebut.
Di sisi lain, Ciel dan para eksekutifnya sedang mengamati situasi medan pertempuran dari kejauhan.
"Cih ... ini bukan situasi yang kuinginkan. Aku berharap terjadi pertarungan 3 sisi. Tapi, pertarungan ini malah selesai saat pasukan militer datang. Jika begini, aku tidak bisa menghabisi kelompok Hendri," pikir Ciel.
"Sepertinya kita sedang dikepung," ucap salah satu eksekutif kelompok Ciel.
"Apa?" Ciel sangat terkejut saat melihat kelompoknya telah dikepung oleh puluhan pasukan militer ibukota yang dipimpin langsung oleh salah satu jendral mereka.
Di sisi lain, Gary dan para eksekutifnya juga sedang mengamati situasi dari sisi yang berbeda.
"Sepertinya ini sudah berakhir," pikir Gary.
"Bos, kita dikepung pasukan militer," ucap salah satu eksekutif Gary.
"Apa? Sejak kapan?" pikir Gary dengan sedikit panik.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya eksekutif pertama Gary.
"Ayo kabur. Kita tidak boleh sampai terseret dalam masalah ini," jawab Gary.
Saat kelompok Gary dan kelompok Ciel sedang fokus mengamati situasi medan perang, tanpa mereka sadari, pasukan militer telah mengepung mereka.
Di sisi lain, aku saat ini sedang memohon pada seluruh pasukan militer Roland untuk mengobati luka di dada Akito.
"Aku menyerah. Tolong segera obati luka sahabatku!" teriakku pada semua pasukan militer negara Roland yang ada di sana.
Karena tidak ada pilihan lain, aku pun menyerah dan lebih memilih mengutamakan keselamatan sahabatku. Karena bagiku, Akito adalah segalanya.
"Kumohon, segera obati luka sahabatku," kataku sambil terus menundukkan kepala.
__ADS_1
Walaupun aku sudah memohon, tapi pasukan militer di sana tidak merespon sedikit pun. Seolah mereka tidak perduli dengan nyawa kami.
Aku terus memohon kepada para prajurit di sana. Tapi, hasilnya tetap sama, mereka tetap mengabaikan permohonan itu.
"Siapa pun! Kumohon, selamatkan nyawa sahabatku!" teriakku pada semua orang.
Aku menundukan kepala hingga kepalaku membentur tanah untuk sekedar meminta belas kasih mereka.
Demi nyawa sahabatku, aku rela membuang harga diriku karena keselamatan sahabatku lebih utama dari apapun. Tapi, orang-orang di sana tetap mengabaikannya.
Saat aku sudah hampir kehilangan harapan, tiba-tiba ...
Duar!
Ada sebuah ledakan hebat dari arah kanan.
Karena ledakan itu, semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka.
Karena merasa ada kesempatan, aku bergegas membopong Akito, kemudian berusaha melarikan diri dari sana.
Saat melihat Rudi yang berniat melarikan diri, Jendral Besar Roland dan pasukan utama langsung mengejarnya.
Karena Jendral Besar Roland memilih mengejar Rudi, Hendri pun memanfaatkannya untuk kabur dari sana.
Melihat Hendri dan kelompoknya yang berniat kabur, kelompok Ciel langsung bergerak untuk menghabisi mereka.
Karena tidak ingin kelompok Ciel kabur, pasukan militer yang mengepung mereka langsung bergerak mengejar dari belakang.
Jendral Besar Roland dan pasukan utama sedang mengejar Rudi dan Akito.
Kelompok Gary sedang bertarung melawan pasukan militer yang mengepung mereka.
Kelompok Ciel yang mengejar kelompok Hendri, juga sedang dikejar pasukan yang mengepung mereka.
Situasi di sana akhirnya menjadi semakin rumit.
Aku mencoba sekuat tenaga melarikan diri dari sana. Tapi, Jendral Besar Roland terus mengejarku dari belakang.
Frezee!
Aku membekukan pijakanku dan meluncur cepat di atasnya.
Dari arah belakang, puluhan pasukan militer yang mengejarku, terus menghujaniku dengan serangan demi serangan.
"Cih ... apa mereka berniat membunuhku atau semacamnya?" pikirku sambil terus meluncur di atas es.
Aku tidak bisa membuang-buang waktu untuk meladeni mereka semua. Karena prioritasku saat ini adalah melarikan diri untuk segera mengobati luka sahabatku.
Saat aku sedang meluncur cepat di atas es untuk melarikan diri dari kejaran pasukan militer, aku melihat seorang pria yang sedang duduk santai di samping sebuah pohon besar.
Pria itu mulai berdiri dan sedikit tersenyum saat aku melewatinya.
Fire Wall!
Tiba-tiba saja, pria itu langsung membuat dinding api besar yang membuat pasukan Jendral Besar Roland terhenti.
"Pergilah! Aku akan menahan mereka sebentar," ucap pria itu kepadaku.
"Terimakasih," balasku sambil terus meluncur cepat meninggalkan pria itu.
"Siapa kau? Kenapa kau membantunya?" tanya Jendral Besar Roland pada pria itu.
"Kaaakakakakakaka! Aku? Aku hanya orang yang kebetulan lewat!" jawab pria misterius itu.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Tapi, jika kau berniat menghalangi, aku tidak akan membiarkannya begitu saja," kata sang jendral besar.
"Kaaakakakakakaka! Aku sudah lama penasaran dengan kemampuan seorang jendral besar. Jika tidak keberatan, maukah Anda bermain denganku sebentar?" tanya pria itu.
"Baiklah ... tapi jangan salahkan aku jika tidak sengaja membunuhmu," jawab sang Jendral Besar Roland.
"Kaaakakakakakakaka!" Pria itu hanya menanggapi dengan tawanya.
__ADS_1
Pria itu pun mulai bertarung melawan Jendral Besar Roland dan pasukannya.
Karena bantuan pria misterius itu, Rudi berhasil lolos dari kejaran Jendral Besar Roland berserta pasukannya.
"Aku harus segera mencari rumah sakit di kota terdekat," pikirku sambil terus melesat menjauh.
Rudi melesat dengan kecepatan 1.000 meter per detik untuk mencari rumah sakit di kota terdekat.
Prioritasnya saat ini adalah keselamatan sahabatnya.
Saat aku sedang menggendong Akito sambil meluncur cepat di atas es, tiba-tiba Akito tersadar dan mulai berbicara.
"Rudi, turunkan aku," kata Akito yang mulai tersadar.
"Jangan banyak bicara. Lukamu bisa bertambah parah," sahutku sambil tetap melesat cepat.
"Berhenti!" teriak Akito.
Mendengar itu, aku pun langsung berhenti dan menurunkan Akito dari pundakku.
"Ada apa, sobat?" tanyaku.
"Apa kau kabur dari pertarungan?" tanya Akito.
"Tidak ... tidak begitu. Aku hanya ... aku hanya ingin menyelamatkanmu," jawabku gugup.
"Begitu rupanya ... maaf karena aku terlalu lemah. Maaf jika aku hanya menjadi bebanmu. Maaf karena aku tidak bisa menjadi patner yang baik untukmu," kata Akito lirih sambil menundukan kepala.
"Tidak, sobat! Itu bukan salahmu. Itu salahku karena aku terlalu lemah. Aku sangat bodoh karena berniat mengincar gelar tertinggi dengan kemampuanku yang masih sangat lemah. Aku benar-benar bodoh. Aku ... aku benar-benar bodoh!" kataku dengan nada frustasi.
"Jika saja aku bisa menghindari tembakan itu, seharusnya kita bisa menang. Jika saja ... jika saja aku ...," kata Akito lirih sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu, membuatku tersadar bahwa keputusanku adalah keputusan buruk.
Aku memang mementingkan Akito di atas segalanya karena dialah sahabat satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Tapi, aku justru mengabaikan perasaanya dan memilih mengutamakan keegoisanku sendiri.
Aku sadar bahwa keputusan yang kuambil sangat bertentangan dengan apa yang selama ini kupegang teguh.
Karena sejak dulu, kami pernah bertekat untuk tidak kalah dari siapa pun sebelum kami mencapai tujuan. Oleh karena itu, aku pun memikirkan kembali tentang keputusan yang sudah kuambil.
Jika aku kabur dari pertarungan ini, aku hanya akan menjadi pecundang.
"Angkat kepalamu, sobat! Kita belum kalah. Pertarungan belum selesai," kataku sambil menatap ke medan pertempuran hutan barat.
"Apa maksudmu?" tanya Akito yang terlihat bingung.
"Apa kau bisa menunggu di sini sebentar?" tanyaku sambil melihat mata Akito.
"Tentu. Lukaku sudah lebih baik. Tapi, mau ke mana kau?" tanya Akito lagi.
"Aku akan pergi ke medan perang dan kembali dengan kemenangan besar," jawabku sambil melihat ke wilayah hutan barat.
"Apa kau bisa mengatasi mereka semua sendirian?" tanya Akito.
"Bukan masalah besar," jawabku singkat.
Akito terdiam saat melihat tekat kuat yang terpancar dari mata sahabatnya. Untuk sesaat, ia seperti melihat kenangan masa lalu saat pertama kali bertemu dengan Rudi.
"Ya, aku akan menunggumu di sini," kata Akito.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," balasku.
Aku kemudian melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Akito di sana sendirian. Aku berniat kembali ke medan perang dan pulang dengan kemenangan.
Di dunia ini, bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Dalam suatu pertarungan, ada banyak hal yang harus dipertaruhkan. Harga diri, nama besar, sampai kehormatan adalah hal yang harus mereka pertaruhkan dalam pertarungan.
Orang-orang cenderung mengingat hal buruk dari pada hal baik. Orang-orang akan lebih mengingat 1 kejelekan dari pada 1000 kebaikan. Satu gelas air jernih akan menghitam jika dicampur 1 tetes tinta. Hanya sang pemenanglah yang akan diingat semua orang.
Karena hal itulah, sebagian orang menganggap kekalahan tidak berbeda dengan kematian. Tapi, bagi Rudi dan Akito yang mengincar gelar tertinggi, kekalahan akan terasa jauh lebih menyakitkan dari pada kematian, apalagi kalau sampai kalah karena kabur dari pertarungan.
Hanya yang sanggup bertahan dan tertawa paling akhirlah yang akan diakui sebagai pemenang. Karena itu, mereka tidak boleh sampai kalah, apalagi kabur dari pertarungan.
__ADS_1