
Setelah perang selesai, aku, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, langsung pergi ke Neverland untuk beristirahat sembari memulihkan keadaan kami.
Saat ini, aku sedang berbaring di kasur rumah sakit setelah mendapat beberapa perawatan di bagian lenganku yang patah dan nyaris hancur akibat terkena pukulan James.
Saat aku sedang berbaring di kasur rumah sakit, Akito datang ke ruangan tempatku dirawat.
"Bagaimana kondisimu? Apa lenganmu baik baik saja?" Akito bertanya padaku sambil memberiku sebuah apel.
"Aku baik baik saja. Luka semacam ini tidak akan terlalu berdampak," jawabku sambil mengambil apel tersebut.
Aku dan Akito pun berbincang santai sambil memakan apel. Dan pada akhirnya, pembicaraan kami sampai pada suatu titik tertentu.
"Dengan begini, kita sudah membalaskan dendam mereka (warga desa Alpen)," kata Akito sambil berusaha menahan air matanya.
Saat melihat sahabatku menangis, membuatku juga hampir ikut menangis.
Sambil menahan air mata, aku berkata, "Mereka sudah sangat menderita di dunia. Kuharap, mereka bisa mendapat hal yang lebih baik lagi."
Aku dan Akito pun mulai mengenang masa lalu, masa di mana kami harus menjalani kehidupan sulit dan menyedihkan.
.
.
Kilas balik kehidupanku di masa lalu.
Saat itu, aku masih berumur 7 tahun. Dan aku tinggal di sebuah desa kecil bernama Alpen.
Kala itu, sedang musim layangan. Dan setiap sore, ada banyak sekali anak anak yang bermain adu layangan untuk menentukan siapa yang terhebat.
Aku jarang ikut mengadu layangan karena aku lebih suka mengejar layangan putus. Karena menurutku, mengejar layangan putus memiliki sensasi tersendiri. Seperti ada sebuah rasa persaingan yang lebih besar dari pada hanya beradu layangan.
Jika mengadu layangan hanya tentang persaingan 1 lawan 1, maka mengejar layangan putus adalah persaingan banyak orang.
Bisa menenangkan persaingan tersebut, memiliki sebuah kebangaan tersendiri, seolah telah memenangkan sebuah kejuaraan dan berhasil mempecundangi puluhan anak lainnya.
Sore itu, aku berlari bersama puluhan anak lainnya di tengah persawahan sambil melihat dua layangan yang saling beradu di udara.
Jika salah satu layangan putus, maka persaingan akan dimulai.
Karena tidak mau kalah, aku terus fokus menatap kedua layangan tersebut sambil berjalan mengikuti pergerakan kedua layangan tersebut.
Mengejar layangan putus bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan banyak perhitungan dan pengelihatan tajam untuk bisa memenangkan persaingan tersebut.
Kami (para pengejar layangan putus) harus bisa membaca arah angin, memperhitungkan panjang dari benang, hingga mencari posisi terbaik agar bisa memperbesar kesempatan memenangkan persaingan.
Saat salah satu layangan telah putus, kami pun serempak berlari mengejarnya.
Karena merasa ada yang aneh dengan gaya jatuh layangan tersebut, aku pun menyadari bahwa layangan yang sedang putus itu memiliki benang panjang. Sehingga, membuatku berlari pelan di belakang teman temanku sambil terus mendongak ke atas, berniat mencari ujung benangnya.
__ADS_1
Saat layangan tersebut semakin turun, aku mulai melihat benangnya dengan cukup jelas. Dan saat kuurut benang tersebut, aku melihat bahwa ujung benangnya masih berada jauh di belakang.
Aku pun berlari ke arah sebaliknya untuk meraih ujung benangnya.
Sambil berlari ke arah sebaliknya, aku bergumam, "Sepertinya tidak ada yang menyadarinya. Yosh! Aku yang menang!"
Aku sudah sangat senang karena merasa bahwa akulah yang akan mendapat layangan putus tersebut. Tapi, kesenanganku seketika hilang saat aku melihat ada satu bocah bernama Dino yang tiba tiba berlari di sampingku.
"Ini punyaku!" kata Dino yang berlari di sampingku.
"Jangan harap!" sahutku sambil terus berlari sekuat tenaga.
Aku dan Dino berlari sekuat tenaga untuk meraih ujung benang layangan tersebut.
Saat ujung benangnya telah terlihat, kami berdua semakin meningkatkan kecepatan dan saling sikut untuk menentukan sang pemenang.
Saat ujung benang sudah berada di depan mata, kami melompat bersamaan untuk meraihnya.
Pada akhirnya, aku berhasil meraihnya terlebih dulu. Dan membuat harapan puluhan anak lain yang sedang mengejar layangan tersebut musnah seketika.
Dengan wajah bangga, aku mengangkat tangan sambil berteriak, "Aku dapat!"
Anak anak lain langsung berhenti berlari dan melihat ke arahku.
Aku merasa sangat puas dan senang karena berhasil memenangkan persaingan tersebut.
Saat hari mulai menjelang malam, aku pulang ke rumahku sambil membawa piala kemenanganku dengan wajah terangkat, seperti seorang pemenang.
"Aku pulang!" Aku pulang ke rumahku dengan baju kotor bekas lumpur.
Ibuku selalu memarahiku setiap aku pulang bermain karena aku selalu pulang dengan baju dan tubuh penuh lumpur. Sedangkan ayahku tidak pernah memperdulikan soal itu.
Aku mandi, kemudian makan.
Dan saat hari sudah semakin malam, aku pun tidur.
Saat sedang menikmati tidurku, ayahku membangunkanku sambil berbisik, "Cepat pergi dari sini!"
Aku bangun sambil mengusap mata. Kemudian bertanya, "Ada apa, Ayah?"
Ayahku kemudian menjawab, "Tidak ada waktu lagi. Cepat pergi lewat pintu belakang. Pergilah sejauh mungkin dan jangan membuat suara sedikut pun." Sambil mengangkat tubuhku, berniat memintaku segera berdiri.
Aku yang kala itu belum sadar sepenuhnya, langsung menuruti perkataan ayahku, lalu bergegas meninggalkan rumah lewat pintu belakang.
Sambil berjalan, aku mulai berfikir, "Kenapa? Apa ada yang salah?"
Karena rasa kantuk yang tak tertahankan, aku kemudian bersender di sebuah pohon dan berniat melanjutkan tidurku.
Beberapa saat berselang, aku terbangun karena mendengar keributan dari arah desa.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa ribut sekali?" tanyaku sambil mengusap mata yang masih terasa lengket.
Sambil bersender di pohon, aku mendengar suara jerit dan tangis putus asa yang terdengar dari wilayah desa.
Karena merasa penasaran, aku pun berjalan pelan sambil mengendap endap untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Dan saat aku sampai di area yang lebih terbuka, aku melihat penduduk desa Alpen sedang dibantai oleh sekelompok orang.
Sekelompok orang itu hanya membunuh para pria dewasa. Dan menyandara anak anak maupun perempuan.
Melihat kejadian itu, membuatku ingin muntah. Karena untuk pertama kalinya, aku melihat sebuah pembantaian semacam itu.
Aku melihat ke sekitar, berniat mencari keberadaan orang tuaku.
Setelah cukup lama melihat ke sana ke mari, aku akhirnya menemukan keberadaan mereka.
Di sana, aku melihat ayahku yang sedang diseret oleh seorang pria yang membawa pedang besar di tangannya.
Pria itu menjambak rambut ayahku sambil terus menyeretnya seperti menyeret karung beras.
Dan di sisi lain, aku melihat mayat ibuku yang telah teregeletak berlumuran darah bersama mayat puluhan orang lainnya.
Dengan perasaan penuh amarah, aku berlari ke arah ayahku, berniat menyelamatkannya.
Walaupun sebenarnya aku tau usahaku akan sia sia, tapi setidaknya aku ingin mencoba.
"Haaaaaaa!" Aku berteriak lantang sambil berlari ke arah orang yang menyeret ayahku.
Orang tersebut melihat ke arahku sambil meyeringai penuh hasrat.
Ayahku kemudian berteriak ke arahku, "Kenapa kau kembali? Cepat pergi!"
Aku tidak memperdulikan teriakan ayahku karena aku tidak mau tinggal diam saat melihatnya dalam kondisi seperti itu.
Orang yang menyeret ayahku kemudian melepaskannya dan mulai menatapku sambil bersiap menebasku.
Tanpa rasa takut sedikit pun, aku berlari ke arah orang tersebut sambil mengepalkan tangan, berniat memukulnya.
"Haaahahahahahahaha! Kemarilah," kata orang tersebut sambil mengacungkan pedangnya.
Aku semakin dekat dengannya. Semakin dekat hingga akhirnya orang tersebut mengayunkan pedangnya ke arahku.
Dalam waktu yang seolah terhenti, aku berfikir bahwa ajalku akan segera tiba.
Aku tidak mungkin bisa menghindari tebasan orang tersebut dengan kemampuanku saat ini.
Saat pedang itu hampir memotong leherku, tiba tiba ...
Crash!
__ADS_1