The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 85 - Aliansi


__ADS_3

"Ada apa lagi kalian ke sini?" tanya Bojas, salah satu eksekutif kelompok Nero.


"Apa kau ingin kuhajar lagi?" tanya Kageyama pada Bojas.


"Jangan besar kepala karena berhasil mengalahkanku sekali, Bocah Elit Global," kata Bojas mengejek Kageyama.


"Bocah Elit Global? Kaaakakakakaka! Aku suka itu," kata Kageyama menanggapi ucapan Bojas.


"Kami ke sini ingin membalas semua perbuatan kalian," kata Rudi menjawab pertanyaan Bojas sebelumnya.


"Apa maksudmu dengan membalas semua perbuatan kami? Apa kau tidak sadar bahwa kalianlah yang sudah banyak membuat kekacauan? Karena ulah kalian. Saat ini, kami harus menghadapi banyak masalah," kata Nero dengan tatapan tajamnya.


"Kalian memang pantas untuk itu. Kaliam hanyalah sekumpulam sampah yang suka berbuat semena-mena pada orang lain," jawab Rudi dengan tatapan tajamnya.


"Jaga bicaramu, bocah! Tuan Nero tak seperti yang kau pikirkan," kata Lando, eksekutif pertama Nero.


"Memangnya apa yang salah dengan ucapanku? Bukankah kelompok kalian memang suka menyiksa orang lain?" tanya Rudi dengan nada kemarahan.


"Jangan bawa kesalahan 3 idiot itu dalam pembahasan ini," kata Lando sambil menahan amarah.


3 idiot yang dimaksud adalah Morgan, Fafnir, dan Eliot.


"Apapun itu, kalian tetaplah kelompok sampah di mataku," sahut Rudi.


Lando, Bojas, Hugo, dan Killian, marah besar karena perkataan lancang yang Rudi utarakan. Tapi, Nero mencoba menenangkan mereka semua.


"Tenanglah! Jangan buat masalah yang lebih besar lagi," kata Nero pada keempat eksekutifnya sambil terus menatap tajam ke arah Rudi.


Nero kemudian bertanya pada Rudi dengan tatapan tajamnya.


"Bocah, apa maksud kedatanganmu ke sini? Apa kau ingin menantangku lagi?" tanya Nero pada Rudi.


"Aku ingin menghabisi kalian karena telah membantai desaku," jawab Rudi, juga dengan tatapan membunuh.


"Membantai desamu? Aku bahkan tidak ingat kapan aku melakukannya," kata Nero.


"Bukankah kau sengaja melakukan itu untuk balas dendam?" tanya Akito dengan lirikan tajamnya.

__ADS_1


"Balas dendam? Hahahahahahaha! Jangan membuatku tertawa, bocah! Aku ini memang busuk. Tapi, aku tak sebusuk itu hingga membantai suatu desa hanya untuk balas dendam," kata Nero dengan wajah serius.


Kageyama kemudian melemparkan potongan kain berlambang kelompok Nero ke atas meja.


"Lalu, apa itu? Kami menemukannya di desa Alpen, tempat pembantaian terjadi," kata Kageyama yang melemparkan sepotong kain kecil berlambang kelompok Nero ke atas meja.


Nero dan para eksekutifnya terdiam. Mereka tidak tau-menau kenapa lambang kelompok mereka bisa ditemukan di tempat kejadian.


"Ah, begitu rupanya. Karena potongan kain itu, kalian berfikir kamilah pelakunya," kata Nero sambil tersenyum kecil.


"Jangan berlagak seolah tak bersalah," kata Yuta.


"Kami memang tak bersalah. Tapi, jika kalian ingin melampiaskan kemarahan, kami siap menghadapi kalian," kata Nero.


"Itu artinya, kalian memang pelakuknya, kan?" tanya Rudi dengan nada dingin.


"Harus kukatakan berapa kali lagi? Aku tidak tau apapun soal itu. Jika kalian datang ke sini untuk bertarung, sebaiknya kita sudahi omong kosong ini," jawab Nero, juga dengan nada dingin.


"Apa kalian tau sesuatu soal kelompok Death Parade?" tanya Rudi.


"Tentu saja kami tau. Mereka adalah saingan terbesar kami dalam perebutan kekuasaan di Benua Timur," jawab Nero.


"Hahahahahahahaha! Jadi begitu. Ternyata, para bajingan itu berniat mengadu domba," kata Nero dengan tawa menggelegar.


"Aku belum selesai denganmu, Nero!" kata Rudi.


"Lalu, apa maumu? Apa kau ingin bertarung melawan kami karena provokasi murahan ini?" tanya Nero dengan wajah serius.


Rudi dan kelompoknya terus beradu argumen dengan Nero dan para eksekutifnya.


Rudi, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sengaja terus mendesak Nero agar mengakui kebenarannya. Mereka berlagak seolah telah mengetahui bahwa kelompok Nero adalah dalang dari pembantaian itu untuk memastikan kebenarannya.


Hal itu mirip dengan metode interogasi yang dilakukan para polisi untuk mengorek informasi dari tersangka. Dengan berlagak seolah telah mengetahui semuanya, itu bisa membuat sang pelaku berfikir bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan kebenarannya.


Tapi, Sampai akhir pun, insting mereka mengatakan bahwa Nero dan kelompoknya benar-benar tidak tau apapun soal pembantaian desa Alpen.


"Kalau begitu, kami tidak ada urusan dengan kalian," kata Rudi sambil berdiri dari sofa.

__ADS_1


"Apa kalian ingin menargetkan kelompok Death Parade?" tanya Nero.


"Akan kami bumi hanguskan mereka hingga tak tersisa," jawab Rudi dengan perasaan marah.


"Apa kalian pikir kalian bisa mengatasi mereka?" tanya Nero lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Rudi.


"Jika pelakunya memang Death Parade, mereka pasti tidak akan lengah. Kemungkinan, saat ini, mereka sedang bersiap untuk menyambut kedatangan kalian. Jika kalian menyerang mereka tanpa persiapan matang, itu sama saja menggali lubang kuburan sendiri," jawab Nero.


"Apapun resikonya, kami sudah siap menaggungnya," sahut Akito.


"Kaaakakakakakaka! Terimakasih karena mengkhawatirkan kami. Tapi, kami adalah protagonis utama dalam cerita ini. Jadi, apapun yang terjadi, kami tidak akan mati. Benar kan, Thor?" tanya Kageyama pada sang Author.


"Yoi ... slow. Klean ntar mati pas waktunya tiba. Hahahahahaha!" jawab sang Author.


Nero kemudian berdiri sambil mengatakan.


"Apa kalian pernah dengan ungkapan musuh dari musuhmu adalah teman? Jika kalian mau, kami akan membantu menghancurkan Death Parade," kata Nero yang menawarkan aliansi kepada kelompok Rudi.


Rudi berfikir sejenak. Walaupun tindak-tanduk kelompok Nero tak bisa dimaafkan. Tapi, itu adalah tawaran yang tidak bisa ditolak. Dengan bantuan kelompok Nero, mereka bisa menghancurkan Death Parade dengan jauh lebih mudah.


"Kenapa? Kenapa kalian ingin membantu kami?" tanya Rudi pada Nero.


"Membantu kalian? Jangan bercanda! Aku hanya ingin mengatasi kekacauan yang telah kalian timbulkan. Aku menawarkan aliansi karena kita punya musuh yang sama walaupun beda tujuan. Karena melemanya kelompokku, banyak kelompok lain yang mulai bergerak untuk mendapat keuntungan. Death Parade adalah ancaman terbesar selain 2 All Stars lain. Dengan menumbangkan Death Parade, aku bisa kembali mempertegas kekuasaanku di Benua Timur," jawab Nero.


Rudi kemudian melihat ke arah seluruh anggotanya.


Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, mengangguk seolah menyetujui tawaran Nero.


Karena sudah sepakat dengan seluruh anggotanya, Rudi kemudian berkata kepada Nero.


"Baiklah, aku setuju dengan tawaranmu. Tapi, serahkan kelompok Death Parade pada kami. Kalian urus saja sisanya," kata Rudi pada Nero.


"Haaaahahahahaha! Dengan senang hati kuserahkan kelompok Death Parade pada kalian. Dan kami akan menangani sisanya," sahut Nero


Rudi dan Nero kemudian saling berjabat tangan untuk meresmikan aliansi mereka.

__ADS_1


Dengan begitu, aliansi terkuat di Benua Timur telah terlahir secara tidak sengaja demi satu tujuan, yaitu membumi hanguskan kelompok Death Parade berserta seluruh aliansinya.


__ADS_2