
Di medan pertempuran kelompok Hendri melawan kelompok Gary, Hendri berhasil menumbangkan ketujuh eksekutif Gary. Sedangkan 1 eksekutinya harus tumbang di tangan salah satu dari eksekutif Gary. Sehingga, hanya menyisakan sang pemimpin dari kedua kelompok.
"Huft ... huft ... bawahanmu benar-benar merepotkanku," kata Hendri yang berhasil menumbangkan semua eksekutif Gary.
"Luar biasa. Kau benar-benar luar biasa," sahut Gary sambil berjalan mendekat ke arah Hendri dan sedikit memberikan tepuk tangan.
"Ayo segera akhiri pertarungan ini. Aku tidak mau berlama-lama lagi di sini," kata Hendri.
"Kenapa kau terburu-buru begitu? Apa kau tidak lihat? Pertarungan kita sedang dinikmati puluhan ribu orang di seluruh negeri," balas Gary.
"Aku tidak perduli," kata Hendri.
"Dari dulu, sikapmu memang tidak pernah berubah," sahut Gary.
Tanpa bicara lebih jauh, Hendri langsung melesat ke arah Gary sambil bersiap memukulnya dengan tangan berlapis atribut api.
Duar!
Gary menangkis serangan itu dengan mudah.
"Huuu ... menakutkan sekali. Kau benar-benar orang yang tidak bisa diajak bicara," kata Gary.
"Aku hanya tidak ingin terus mendengar semua omong kosongmu," sahut Hendri.
"Haaahahahahahahaha! Begitu rupanya. Baiklah, kalau itu maumu," kata Gary dengan tatapan tajamnya.
Gary melayangkan pukulan ke wajah Hendri. Tapi, Hendri berhasil menghindarinya dengan sedikit memundurkan kepala.
Hendri membalas dengan serangan atribut apinya. Tapi, Gary berhasil menangkisnya menggunakan tangan kosong berlapis force.
Keduanya pun terlibat pertarungan jarak dekat berkecepatan tinggi.
Saling adu pukulan, serangan, tendangan, tangkisan. Menghindar dengan gaya dan menyerang membabi buta, itu semua terjadi dalam waktu sepersekian detik.
Setiap pukulan yang dilesatkan, seperti bergerak di waktu yang melambat.
Fire Arrow!
Hendri melesatkan 10 anak panah yang terbuat dari atribut apinya ke arah Gary.
Gary berlari ke segala arah untuk mengindari kejaran kesepuluh anak panah itu.
Duar! Duar! Duar!
Satu persatu anak panah menghujam tanah hingga menimbulkan ledakan dahsyat.
Sambil terus berlari kencang, Gary sesekali melemparkan batu kecil yang ia lapisi force ke arah Hendri untuk melakukan serangan balik.
Fire Wall!
Hendri membuat barier api di sekelilingnya untuk menahan laju lemparan batu Gary.
Saat setiap batu kecil berlapis force berkontak dengan barier itu, batu itupun hancur menjadi debu.
Sambil terus berlari memutari Hendri dari kejauhan, Gary berusaha mengamati setiap sudut barier untuk mencari celah agar ia bisa melakukan serangan balik.
"Ketemu."
__ADS_1
Saat melihat ada celah kecil, Gary meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Hendri yang masih di lindungi bariernya.
Bem!
Gary berhasil masuk dan memukul telak wajah Hendri.
Hendri pun terpental dan berguling ke belakang hingga memghancurkan apapun yang dilaluinya.
"Haaahahahahahaha! Apa hanya ini saja?" tanya Gary sambil melihat tubuh Handri yang sedang berguling menjauh.
Gary tertawa puas sambil mengejar tubuh Hendri yang berputar dan menggelinding menghancurkan segalanya.
Hendri berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar lajunya terhenti. Tapi, sesaat setelah ia berhasil melakukannya, Gary sudah tepat berada di hadapannya sambil bersiap memukul dagunya.
Bem!
Hendri terbang ke udara setelah terkena pukulan itu.
"Haaahahahahahahaha! Nikmat sekali. Inilah yang kuinginkan selama ini." Gary tertawa puas sambil melihat tubuh Hendri yang melayang di udara seperti roket.
Tubuh Hendri terus melesat ke udara dengan kecepatan tinggi.
Untuk sesaat, Hendri sempat kehilangan kesadaran karena dampak pukulan yang ia terima. Tapi saat mulai tersadar, ia baru menyadari kalau tubuhnya kini sedang melayang di udara.
Fire Rain!
Dari ketinggian ratusan meter, Hendri melesatkan bola-bola api padat ke arah Gary yang berada tepat di bawahnya.
"Apa itu? Hujan? Bukan ... itu hujan api!" pikir Gary saat melihat ratusan bola-bola api padat yang melesat cepat dari ketinggian seperti hujan.
Duar! Duar! Duar!
Gary yang berada tepat di pusat hujan api, tidak sanggup menghindar dan terpaksa menahan semua serangan itu dengan tubuhnya.
Duar! Duar! Duar!
Rentetan ledakan hebat terjadi hingga menimbulkan suara menggelegar dan menimbulkan guncangan hebat di sekitar.
"Haaaaa ...." Gary berteriak lantang sambil berusaha menangkis dan menghindar sekuat tenaga. Tapi, ia tak mampu melakukannya. Sehingga, tubuhnya harus menerima banyak kerusakan akibat hantaman keras bola-bola api tersebut.
Duar!
Hendri mendarat di tanah yang sudah hacur lebur akibar serangan skala besarnya.
Saat ia hendak sedikit mengistirahatkan otot-ototnya, tiba-tiba ada batu kecil yang melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Hendri mengangkat tangannya ke depan untuk menahan laju batu itu.
Crash!
Tangannya sedikit berdarah karena tidak sanggup menahan laju batu itu dengan baik.
"Cih ... seharusnya aku menghindar," pikir Hendri.
Dari balik kabut yang tercipta karena rentetan ledakan kuat, Gary berjalan pelan sambil terhuyung.
Dari kejauhan, matanya nampak bersinar, tubuhnya seperti siluet dalam kabut, dan baju serta celananya menyerumbai karena terkoyak.
__ADS_1
"Kali ini, aku tidak akan bermain-main lagi," kata Gary sambil terus berjalan pelan.
Hendri mulai bersiap untuk melakukan pertarungan kembali.
Tap ... Tap ... Tap ....
Tiap langkah yang Gary lakukan, terasa sangat mencekam karena ia berjalan sambil memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.
1 langkah. 2 langkah. 3 langkah. Kemudian melesat cepat.
Gary melesat cepat ke arah Hendri sambil bersiap melancarkan tinjunya.
"Matilah!" teriak Gary dengan penuh amarah.
"Majulah!" teriak Hendri sambil memasang ancang-ancang.
Di saat kedua orang itu ingin bentrokan langsung, tiba-tiba ...
Ice Age!
Suhu udara menurun drastis hingga mencapai -1000 derajat celcius. Semua benda hingga mahluk hidup yang ada di sana pun seketika membeku.
Kedua pemimpin dari kedua kelompok yang ingin beradu pukulan pun harus terhenti karena tubuh mereka telah berlapis es.
Dengan tubuh babak belur berlinang darah, Aku dan Akito berjalan santai mendekati tubuh Hendri dan Gary yang sedang membeku.
"Sepertinya kita sampai di waktu yang tepat, Akito," kataku sambil terus berjalan santai mendekati tubuh Hendri dan Gary yang sedang membeku.
"Kupikir, kita datang di waktu yang tidak tepat," sahut Akito berjalan santai di sampingku.
"Benarkah? Bukankah ini adalah waktu yang tepat?" tanyaku sambil terus berjalan mendekati tubuh Hendri dan Gary yang sedang membeku.
"Lihatlah, mereka baru saja ingin beradu pukulan. Seharusnya kita menunggu sedikit lebih lama agar salah satu dari mereka tumbang," jawab Akito yang berjalan santai di sampingku.
"Bukankah 2 lebih baik dari pada 1?" tanyaku.
"Menurutku, 1 lebih baik dari pada 2," jawab Akito.
"Heee? Yah, terserahlah. Berapapun tidak masalah," sahutku.
Saat aku dan Akito sibuk dengan perbincangan kami, Hendri dan Gary berhasil menghancurkan es yang menyelimuti tubuh mereka.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Hendri.
"Kenapa? Tentu saja untuk menendang ****** kalian," jawabku sambil tersenyum tipis.
"Kau seharusnya mengatakan menghajar bukan menendang," kata Akito.
"Oh, ayolah. Apa itu penting," tanyaku pada Akito.
"Jelas ada perbedaan di antara keduanya," jawab Akito.
"Ya, ya. Terserah apapun itu," kataku.
"Bagaimana dengan para jendral dan jendral besar? Bukankah kalian sedang bertarung melawan mereka?" tanya Gary.
"Oh, mereka sekarang sedang tidur siang di sana," jawabku sambil menunjuk ke arah bekas medan pertempuranku melawan para Jendral dan Jendral Besar Roland.
__ADS_1
Setelah menghajar dan menumbangkan Jendral Besar dan 4 Jendral Roland, Rudi dan Akito bergegas menuju medan pertempuran Hendri melawan Gary dan meninggalkan tubuh para jendral yang terkapar di tanah begitu saja.
Mendengar hal itu, Hendri dan Gary sangat terkejut karena mengingat kemampuan para Jendral Roland yang tidak bisa dianggap remeh. Mereka saja harus pontang-panting hanya dengan menghadapi salah satu dari ketujuh Jendral Roland. Ditambah, fakta bahwa kelompok Rudi juga berhasil mengalahkan sang jendral besar, membuat rasa terkejut mereka semakin besar.