The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 9 - Pertarungan di Pusat Kota


__ADS_3

Aku berdiri tegak sambil menatap tajam sang Jendral Besar Roland yang ada di hadapanku.


Sang jendral besar pun menanggapinya dengan tatapan yang sama.


Energi kami saling berbenturan, dan aura kuat terpancar ke seluruh penjuru tempat.


"Kaaakakakakaka! Ini akan jadi tontonan menarik," ucap pria misterius di sana.


Benturan energi yang Rudi dan Jendral Besar Hans pancarkan, terasa hingga ke seluruh penjuru medan perang.


Di medan pertempuran pasukan militer Roland melawan kelompok Gary, mereka semua bisa merasakan tekanan energi itu dengan sangat jelas.


"Dari mana datangnya tekanan ini?" gumam Gary saat merasakan tekanan energi kuat yang terpancar hingga sampai ke sana.


Di medan pertempuran pasukan militer Roland melawan kelompok Ciel dan kelompok Hendri, mereka semua juga bisa merasakannya dengan sangat jelas.


"Cih ... bocah itu," gumam Hendri saat merasakan tekanan energi kuat yang terpancar hingga sampai ke sana..


"Apa-apaan tekanan ini?" pikir Ciel saat merasakan tekanan energi kuat yang terpancar hingga sampai ke sana.


Di medan pertempuranku melawan Jendral Besar Roland, aku dan sang jendral besar sedang bersiap untuk segera memulai pertempuran ronde kedua.


"Ayo mulai ronde keduanya," kataku sambil menatap tajam sang jendral besar.


"...." Sang jendral besar hanya diam menanggapi ucapanku.


Tanpa aba-aba, aku langsung melesatkan pukulan kuat ke arah wajah Jendral Besar Roland.


Sang jendral terlempar jauh ke belakang karena tak sanggup menahan pukulanku dengan sempurna.


Tanpa berniat mengendorkan serangan, aku kembali melesat cepat menuju sang jendral besar yang terlempar jauh ke belakang.


"Haaahahahahahaha! Menarik! Sungguh menarik! Majulah, bocah!" teriak Jendral Besar Hans.


Aku pun melesat ke arah jendral besar sambil bersiap memukulnya.


Sang jendral besar pun bersiap menghadapi seranganku. Dan ...


Boom!


Benturan mereka berdua menciptakan gelombang kejut dahsyat. Hingga membuat pohon, batu, dan tanah yang ada di sekitar hancur karena tekanan itu.


Bentrokan keduanya benar-benar menciptakan kehancuran dahsyat di sekitar mereka.


Sementara itu, di Berlin, Ibukota Negara Roland, semua penduduk sedang panik karena melihat dampak pertarungan di perbatasan barat semakin meluas.


"Ibu, apa ibukota akan hancur?"


"Tenanglah, Sayang. Ibukota akan baik-baik saja."


"Semuanya, jangan keluar dari arena ini!"


"Aku tidak ingin mati!"


"Tananglah, pasukan tentara pasti akan melindungi kota!"


Kepanikan mulai melanda seluruh penjuru ibukota karena dampak pertarungan massive di wilayah hutan barat mulai semakin mendekat.


Para tentara kota juga mulai mengungsikan para penduduk sipil ke wilayah aman agar terhindar dari dampak pertarungan tersebut.


Di markas pusat militer ibukota, beberapa petinggi yang terdiri dari para bangsawan, politisi, hingga militer, sedang berdiskusi di ruangan tertutup.


"Apa yang dilakukan para pasukan tentara di sana? Kenapa mereka tidak segera menghentikan pertarungan? Jika terus begini, ibukota bisa hancur lebur."


"Tenanglah. Jendral Besar Hans juga ada di sana. Seharusnya, dia sudah lebih dari cukup untuk menangani kelompok-kelompok itu."


"Apa kau buta? Bukannya selesai, pertarungan di hutan barat malah semakin parah."


"Aku tau itu. Tapi, jika Jendral Besar Hans bahkan tidak bisa menangani mereka, ibukota tidak punya harapan lagi."


"Bukankah kalian juga adalah jendral? Kenapa kalian malah bersantai di sini? Seharusnya, kalian ikut bersama Jendral Besar Hans menangani kelompok-kelompok itu."

__ADS_1


"Jika kami pergi, bagaimana dengan kalian? Kalian pikir, kami di sini karena keinginan pribadi? Kami tetap berjaga di ibukota agar babi-babi seperti kalian bisa tetap aman."


"Siapa yang kau sebut babi, hah?"


"Kalian para bangsawan hanya bisa protes. Apa kalian tidak sadar kalau keberadaan kalian sangat merusak pemandangan?"


"Apa katamu? Memangnya kau pikir dari mana negara ini mendapat penghasilan? Apa kau tau siapa yang membayar gajimu?"


"Aku tidak pernah berharap mendapat uang dari kalian. Sejujurnya, aku sangat muak melihat negara ini dikendalikan oleh bajingan seperti kalian."


"Hei, cukup! Hentikan perdebatan kalian."


Di tengah kepanikan itu, beberapa jendral dan bangsawan negara Roland sibuk dengan pendapat pribadi mereka masing-masing.


Di salah satu medan pertempuran, kelompok Gary sedang bertarung sengit melawan pasukan militer ibukota.


Duar! Duar!


Benturan kedua belah pihak membuat hutan di sekitar mereka rata dengan tanah.


"Menyerahlah, Gary!" kata salah satu Jendral Roland yang menghadapi Gary berserta para eksekutifnya.


"Menyerah? Kenapa juga aku harus menyerah?" tanya Gary.


"Kau dan kelompokmu sudah membuat banyak kehancuran. Jika diteruskan, dampak kehancuran akan semakin meluas," jawab jendral itu.


"Memangnya apa perduliku? Kalian sendiri yang memulainya," jawab Gary.


"Jangan bercanda! Kau dan kelompokmulah yang telah memulai semua ini!" teriak jendral itu lagi.


Gary dan salah satu dari tujuh Jendral Roland mulai kembali melanjutkan pertarungan mereka.


Di sisi lain, aku sedang sibuk melawan Jendral Besar Hans.


Bem!


Jendral Besar Hans memukul perutku dengan hantaman keras, hingga membuatku terpelanting jauh ke belakang, kemudian mendarat di batu besar.


Rudi terlempar sejauh 100 meter hingga ke pusat ibukota.


"Sial! Pukulan orang itu benar-benar menyakitkan. Aku bahkan sampai terlempar jauh ke ibukota karenanya," pikirku sambil melihat ke sekitar.


Aku pun bangun sambil menggertakkan kepal ke kanan dan ke kiri.


Aku kemudian melihat ke atas.


Di sana, Jendral Besar Hans sedang melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi.


Duar!


Jendral Besar Hans mendarat tepat di hadapanku.


Aku berdiri dengan tubuh berlinang darah. Sedangkan Jendral Besar Hans hampir tidak bisa dikenali karena wajahnya penuh dengan darah segar yang terus mengalir perlahan.


Jendral Besar Hans pun melesat ke arahku sambil mengayunkan pukulannya. Tapi, aku berhasil menghindarinya dengan sedikit mengeser kepalanku.


Tekanan udara yang disebabkan oleh pukulan Jendral Besar Hans sanggup meratakan rumah-rumah penduduk di sekitar.


"Oi, apa kau gila?" tanyaku sambil terus menghindari rentetan serangan itu.


Jendral Besar Hans yang adrenalinnya telah memuncak, mulai tidak memperhatikan area sekitar.


Dia hanya fokus untuk segera mengakhiri pertarungan itu dengan kemenangan.


Duar!


Aku kembali terkena pukulan telak di wajah.


"Haaahahahahahaha! Kenapa kau jadi selembek ini? Apa kau sudah kehabisan stamina?" tanya Jendral Besar Hans dengan seringai di wajahnya.


"Sial, orang ini benar-benar gila!" gumamku dalam hati.

__ADS_1


Saat masih sibuk beradu serangan, aku melihat ada sekumpulan warga yang terjebak di tengah duel kami berdua.


"Cepat lari! Kalau tidak, kalian bisa mati!"


"Mama, tolong!"


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tidak usah banyak tanya! Cepat lari!"


"Kyaa!"


"Tolong! Kakiku terjepit!"


"Argh!"


Duar!


Di saat para penduduk kota sedang panik dan berusaha melarikan diri, bongkahan-bongkahan bangunan terus menghujani mereka seperti hujan yang turun dari langit.


Ice Cube!


Aku menciptakan kubah es untuk menyelamatkan para penduduk di sana dari dampak kehancuran itu.


"Cepat pergi dari sini!" teriakku pada penduduk yang terjebak di tengah pertarungan itu.


"Terimakasih banyak!" ucap seorang ibu yang mengendong anaknya.


"Terimakasih."


"Terimakasih."


Puluhan penduduk yang kuselamatkan dari puing-puing bangunan terus mengucapkan rasa terimakasih mereka.


"Tidak usah banyak bicara! Cepat pergi dari sini!" teriakku pada para penduduk.


Belum sempat para penduduk pergi dari sana, Jendral Besar Hans langsung menyerangku dengan brutal.


Duar!


Aku pun terkena pukulan telak hingga membuatku terpental dan menghantam bangunan yang kulewati.


"Jika kau bertarung sambil melindungi para orang-orang itu, maka bersiaplah untuk menggali lubang kuburanmu sendiri," ucap Jendral Besar Hans padaku.


Aku pun mulai bangkit dan melesat cepat ke arah Jendral Besar Hans.


Aku berhasil mendaratkan pukulan di wajah Jendral Besar Hans, dan membuatnya terpental ke belakang hingga menghancurkan bangunan-bangunan di belakangnya.


"Cepat pergi!" Aku berteriak lantang meminta para penduduk segera pergi dari sana.


Jendral Besar Hans benar-benar tidak memperdulikan area sekitar dan terus menyerangku secara membabi-buta.


Karena menyadari ada banyak warga sipil di sekitar, aku pun memilih menjauh. Tapi, puing-puing kayu, batu, dan serpihan bangunan terus berterbangan ke sana ke mari. Sehingga, membuatku terpaksa bertarung sambil melindungi para penduduk yang belum sempat melarikan diri.


"Haaahahahahahaha! Kenapa kau jadi selemah ini? Apa kau benar-benar sudah selesai?" tanya Jendral Besar Hans dengan wajah angkuh.


"Cih ... aku tidak perduli jika kau menghajarku. Tapi, jangan libatkan para penduduk yang tidak bersalah," jawabku.


"Memangnya kenapa? Mereka hanya orang lemah dan tidak berguna. Membunuh puluhan atau ratusan dari mereka tidak akan menimbulkan masalah besar," kata sang jendral besar.


"Apa katamu? Apa kau pikir harga nyawa manusia serendah itu?" Aku menatap tajam Jendral Besar Hans yang ada di hadapanku.


"Haaahahahahahahaha! Di dunia ini, nyawa manusia lemah tidak lebih dari seekor serangga. Yang kuat akan berkuasa dan yang lemah ditindas. Begitulah hukum dunia ini. Apa kau mengerti, bocah?" tanya Jendral Besar Hans.


"Aku tau itu ... aku tau itu karena aku pernah ada di posisi seperti mereka. Kukatakan padamu. Aku sudah pernah hidup di neraka saat aku masih kecil. Kehidupan yang membuatku membenci orang-orang sepertimu. Di mataku, kau adalah orang yang tidak layak berdiri di atas orang lain," jawabku dengan penuh amarah.


Setelah perdebatan kecil, aku dan sang jendral besar kembali melanjutkan pertarungan mereka.


Di sisi lain, beberapa orang dari pasukan militer ibukota berusaha keras mengamankan para penduduk dari dampak pertarungan yang menghancurkan Berlin, Ibukota Negara Roland.


"Ke sini. Cepatlah!"

__ADS_1


"Semuanya! Berlindung ke sini!"


__ADS_2