The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 80 - Menjadi Bintang


__ADS_3

Setelah pertandingan yang sangat memalukan, para media terus mencibir tentang kemampuan Lukman dan timnya. Mereka mengatakan bahwa Lukman dan timnya tidak punya kapasitas mumpuni untuk bersaing dengan nama-nama besar sekelas para All Stars apalagi para Kaisar.


Sebelumnya, masyarakat selalu mempertanyakan tentang bagaimana jadinya jika para Ranker tier tertinggi berhadapan dengan kelompok-kelompok papan atas dunia yang menyandang gelar All Stars ataupun Kaisar. Dan pertandingan antara tim Lukman melawan kelompok Rudi telah menjawab pertanyaan itu dengan sangat jelas.


Selain mendapat cibiran dari seluruh masyarakat di berbagai penjuru dunia, tim Lukman saat ini mendapat sebuah julukan baru, yaitu Badut Arena.


Julukan itu mereka dapat karena saat dalam wawancara setelah pertandingan, Rudi dan kelompoknya menyebut Lukman dan timnya tidak lebih dari sekedar badut arena. Hal itulah yang melandasi munculnya julukan baru untuk para Ranker yang bertarung di arena, yaitu Badut Arena.


...***...


Markas tim Lukman.


"Sialan! Kenapa malah jadi seperti ini?" seru Lukman kesal saat melihat fotonya dipajang di surat kabar.


Hampir seluruh artikel di surat kabar memajang foto wajah memalukan Lukman dan timnya saat ditampar habis-habisan oleh anggota kelompok Rudi hingga membuat pipi mereka memerah.


"Aku tidak bisa menerima semua penghinaan ini!" seru Vian, salah satu anggota tim Lukman.


"Kenapa para bajingan tengik itu bisa sekuat ini?" tanya Lison, salah satu anggota tim Lukman.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Darius.


"Cari tau semua hal tentang kelompok bajingan itu. Jika kita tidak bisa mengalahkan mereka secara langsung, maka hancurkan mental mereka hingga mereka merasakan apa yang kita rasakan," jawab Lukman dengan tatapan iblis.


Lukman dan timnya berniat membalas dendam kepada Rudi dan kelompoknya karena sudah dipermalukan habis-habisan di depan jutaan orang dari seluruh dunia. Mereka berniat menghancurkan Rudi dan kelompoknya secara tidak langsung, atau bisa dibilang, membalas dengan cara licik.


Karena terlalu terbakar emosi, Lukman dan timnya melupakan sesuatu yang sangat penting. Mereka lupa bahwa kelompok Rudi bukanlah kelompok sembarangan, karena bisa sampai membuat pihak penyelenggara pertandingan para Ranker di seluruh dunia, bersedia membuat sebuah pertandingan spesial semacam itu.


...***...


Di sisi lain, Rudi saat ini sedang berjalan di ibukota dan menikmati indahnya Ibukota Kansas.


Di sepanjang jalan, Rudi dihampiri banyak orang yang ingin meminta tanda tangannya. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua berebut meminta tanda tangannya.


Orang-orang itu sangat mengagumi kemampuan yang Rudi tunjukkan saat bertading di arena.


Rudi merasa sangat gembira, tapi disisi lain, ia juga merasa aneh karena belum terbiasa dengan hal semacam itu.


Rudi terus menerus memberikan tanda tangannya sampai tangannya terasa mati rasa.


Dari kejauhan, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, melihat Rudi yang sedang kerepotan menangani kerumunan di sekitarnya.

__ADS_1


"Kaaakakakakaka! Dasar bodoh. Dia sekarang adalah bintang. Tapi, dia malah berjalan di pusat kota dengan santainya," ucap Kageyama sambil melihat Rudi dari kejauhan.


Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sedang menggunakan jubah dan masker agar penampilan mereka tidak dikenali.


"Kageyama, bukankah Rudi tampak kesulitan? Bagaimana jika kita membantunya?" tanya Dian dengan wajah khawatir.


"Apa? membantunya? Apa kau bencanda? Bukankah ini terlihat menarik? Aku sangat menyukai pemandangan ini. Kaaakakakakaka!" ucap Kageyama.


Akito, Julius, Yuta, dan Alvin, mengangguk tanda setuju dengan ucapan Kageyama.


"Kenapa kalian setega itu? Apa kalian tidak kasihan dengan Rudi?" tanya Dian pada anggota yang lain.


Akito, Julius, Yuta, dan Alvin malah memalingkan wajah saat Dian mencoba meminta bantuan untuk menyelamatkan Rudi dari kerumunan banyak orang, seolah mereka semua menyetujui ucapan Kageyama. Tapi, mereka terlalu malu untuk mengucapkan hal yang sama dengan Kageyama.


...***...


Setelah Rudi selesai dengan kerumunan orang-orang itu, tiba-tiba, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian menghampirinya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kageyama yang sedang menyindir rudi.


"Haah ...." Rudi terlihat seperti mayat hidup akibat kelelahan.


"Maaf, Rudi. Aku ingin membantumu. Tapi, Kageyama bilang kalau dia sangat suka melihatmu menderita," ucap Dian dengan polosnya.


"Glup!" Kageyama menelan ludah karena melihat tatapan membunuh yang Rudi pancarkan.


"Ah ... bu-bukan begitu," Kageyama tampak panik dan mengeluarkan banyak keringat dingin.


Plak! Cepak! Jeder!


Rudi memukuli kepala Kageyama hingga membuat banyak benjolan di kepala dan lebam diseluruh wajahnya.


...***...


Di sebuah bar yang ada di pusat kota, beberapa orang sedang terlihat membicarakan sesuatu.


"Menurutku, kelompok penantang sangat hebat! Mereka menunjukkan kemampuan luar biasa di usia mereka saat ini!"


"Benar ... menurutku, mereka luar biasa. Apa lagi pemimpin mereka. Kalau tidak salah namanya ... Ru ... Ru ... ah aku lupa."


"Rudi."

__ADS_1


"Ah, benar ... Rudi... dia mampu membuat seluruh tim Lukman tak berdaya hanya dengan tekanan gravitasi."


"Benar juga ... apalagi auranya juga sungguh menakjubkan ... aku yakin di masa depan, dia akan menjadi orang yang sangat hebat."


Sekumpulan orang yang ada di bar sedang hangat membicarakan Rudi dan kelompoknya.


Di sisi lain, Rudi yang mendengar hal itu, Pipinya memerah karena malu.


Rudi dan kelompoknya saat ini sedang berada di bar yang sama dengan orang-orang yang sedang membicarakan mereka.


Tapi, saat ini, Rudi menggunakan jubah dan masker sehingga identitasnya tidak diketahui.


"Kakakakakaka! Lihat, kan? Aku tau kita pasti akan menjadi bintang besar," ucap Kageyama sambil berbisik agar tidak terdengar orang lain.


Kelompok Rudi saat ini sedang berpesta di bar itu untuk merayakan kemenangan besar mereka melawan tim Lukman.


...***...


1 hari setelah pertandingan antara kelompok Rudi melawan tim Lukman, salah satu anak Bangsawan Elit Global yang mengenal Kageyama, mulai mendengar tentang berita kemenangan Kageyama di arena.


"Kageyama? Apa-apaan ini?" tanya pria yang merupakan anak salah satu Bangsawan Elit Global.


Pria itu sangat kaget saat melihat foto Kageyama terpajang di artikel surat kabar.


Bagi bangasawan sekelah Bangsawan Elit Global, mereka harus menjaga identitas mereka dari publik untuk meminimalisir kemungkinan yang tidak diinginkan. Seperti hanya percobaan pembunuhan dan lain sebagainya.


Bagi mereka, identitas adalah sesuatu yang harus dijaga dengan sangat ketat agar kemungkinan semacam itu bisa diminimalisir.


Di dunia ini, hanya ada segelitir orang yang mengetahui tentang identitas sebenarnya dari para Bangsawan Elit Global. Hanya mereka yang memiliki kekuasaan, pengaruh, dan kekuatan tertinggi yang mengetahui tentang identitas para kaum langit, Bangsawan Elit Global, tersebut.


"Sepertinya, Tuan Muda Kageyama saat ini telah bergabung dengan kelompok itu, Tuan Muda Presius," jawab bawahan Presius, anak salah satu Bangsawan Elit Global.


"Kageyama? Bergabung dengan kelompok? Jangan bercanda! Mana mungkin orang sepertinya mau bergabung dengan sebuah kelompok," kata Presius, anak salah satu Bangsawan Elit Global.


"Saya tidak tau pastinya. Akan tetapi, Tuan Besar juga mengatakan bahwa saat ini, Tuan Muda Kageyama telah bergabung dengan kelompok itu," jawab sang bawahan.


"Ayah? Apa benar kalau Ayah mengatakan itu?" tanya Presius.


"Saya pernah mendengarnya beberapa kali, Tuan Muda Presius. Katanya, Tuan Muda Kageyama dan kelompoknya telah menyebabkan kejatuhan All Stars Nero beberapa minggu yang lalu," jawab si bawahan.


"Si bajingan Kageyama itu mau berulah seperti apa? Apa dia tidak menyadari posisinya? Apa dia mau memberitahu seluruh dunia soal identitasnya?" kata Presius kesal.

__ADS_1


Presius pun berniat menemui Kageyama secara langsung untuk menanyakan soal alasan Kageyama berkeliaran seperti kaum jelata.


__ADS_2