
Pertarunganku melawan Fafnir dan Eliot semakin memanas.
Eliot dan Fafnir yang mulai serius, mulai membuatku kesulitan menghadapi mereka berdua sekaligus.
Duar! Boom! Duar!
Hentakan, hantaman, hempasan, hingga ledakan terus terjadi dalam pertarungan kami bertiga.
Ice Lance!
Aku melesatkan tombak es padat ke arah Fafnir.
Fafnir menahan serangan itu menggunakan tombaknya.
Tombak es yang kulesatkan langsung meledak setelah menyentuh tombak Fafnir. Sehingga, membuatnya terpental ke belakang seperti peluru ketapel yang dilontarkan.
Eliot mencoba menghimpitku menggunakan atribut tanahnya. Akan tetapi, aku sanggup memotong tanah yang ingin menghimpitku menggunakan katana yang kupegang.
Slash! Slash! Slash!
Aku melakukan 10 tebasan dalam satu ayunan katana.
Dari kejauhan, Fafnir melesat cepat ke arahku.
Ting!
Benturan senjata kami berdua sanggup mengetarkan udara dan menciptakan gelombang kejut kuat.
Orang orang di sekitar mencoba menahan tekanan angin itu agar tidak terhempas.
Di saat aku dan Fafnir masih beradu serangan, Eliot sudah berada di sampingku dan menendang kepalaku hingga membuatku terpental jauh ke belakang.
Duar!
Aku mendarat di dekat tempat anggotaku bersantai.
"Kaaakakakakakakakaka! Apa kau butuh bantuan?" tanya Kageyama padaku.
"Tidak ... Tidak perlu." Aku bangkit dan kembali melesat ke arah Fafnir dan Eliot.
Fafnir dan Eliot bersiap menyambut kedatanganku.
"Majulah, bocah!" teriak Eliot.
"Sesuai permintaanmu!" balasku sambil melesat cepat ke arah mereka.
Boom!
Bentrokan kami menjadi semakin dahsyat.
Tanah hancur, udara menggeliat, hingga batu berterbangan, membuat pertarungan kami bertiga terlihat seperti alam yang sedang mengamuk.
Pasukan Fafnir dan Eliot yang melihat pertarungan itu, hanya bisa tersenyum kecut karena menyadari bahwa kemampuan mereka tidak sebanding dengan 3 monster yang sedang bertempur di hadapan mereka.
__ADS_1
"Apa apaan itu? Apa kita sanggup membunuh orang itu (Rudi)? Tidak ... jangankan membunuh, menggores kulitnya saja hampir mustahil dilakukan."
Malam itu, seluruh pasukan Fafnir dan Eliot yang tersisa, mulai jatuh dalam keputusasaan. Di mata mereka, Rudi terlihat seperti predator ganas yang haus darah.
Di saat Rudi, Fafnir, dan Eliot, masih sibuk dengan pertempuran sengit mereka, anggota kelompok Rudi terus mengamati pertarungan tersebut sambil bersantai.
"Hei, apa kalian tidak berniat membantunya?" tanya Alvin.
"Membantunya? Kenapa?" tanya Akito.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas? Jika dia terus bertarung seperti itu, dia pasti akan segera kehabisan stamina," jawab Alvin.
"Kaaakakakakakakaka! Kehabisa stamina? Dia (Rudi)? Monster Otot itu kebahisan stamina? Kaaakakakakakakaka!" kata Kageyama.
Melihat semua orang terlihat tenang, membuat Alvin kebingungan.
"Bukankah kalian ingin mengalahkan Nero? Jika terus mengulur waktu, bisa bisa pihak luar akan segera datang," kata Alvin.
"Tenanglah, Alvin. Dia memang sengaja melakukan itu. Dia ingin tau respon Nero saat kelompoknya diserang. Jika sang pemimpin kelompok saja tidak tertarik untuk bertarung, kenapa juga pihak luar harus jauh jauh datang membantu?" kata Julius.
"Heh? Kenapa kalian berani mengambil resiko sebesar itu?" tanya Alvin.
"Sejak awal, kami memang tidak punya pilihan lain. Karena kami sudah sampai di sini, kami tidak bisa mundur lagi. Bagi pemimpin kami, mundur itu sama saja dengan kalah. Dan kalah itu lebih buruk dari kematian," jawab Akito.
.
.
Di dalam markas salah eksekutif Nero.
"Benar, Tuan. Saat ini, Tuan Fafnir dan Tuan Eliot sedang menghadapi mereka," jawab si bawahan.
"Apa mereka kuat? Kenapa Fafnir dan Eliot tidak segera menghabisi mereka?" tanya si eksekutif.
"Menurut informasi, pria itu mampu mengimbangi kekuatan Tuan Fafnir dan Tuan Eliot," jawab si bawahan.
"Jadi, Fafnir dan Eliot tidak mampu mengalahkan mereka? Haaahahahahahahaha! Aku jadi penasaran dengan orang itu. Lalu, bagaimana tanggapan Tuan Nero? Apa dia memberikan perintah untuk menyerang?" tanya si eksekutif.
"Saya tidak tau, Tuan. Tapi, sejauh ini belum ada perintah apa pun dari Tuan Besar Nero," jawab si bawahan.
"Cih ... padahal aku berharap bisa bertarung juga," sahut si eksekutif.
.
.
Di medan pertempuran Rudi melawan Fafnir dan Eliot.
"Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa orang sehebat ini namanya tidak pernah kudengar?" pikir Eliot sambil melihat ke arah Rudi.
Fafnor dan Eliot benar benar dibuat kuwalahan dengan kecepatan, kekuatan, dan kelincaham yang Rudi miliki.
Walaupun pertarungan mereka masih seimbang, tapi sebenarnya ada perbedaan besar di antara mereka.
__ADS_1
Fafnir dan Eliot menyadari hal itu. Mereka sadar betul bahwa pria berumur 18 tahun yang sedang mereka hadapi, belum benar benar bertarung dengan serius. Mereka merasa bahwa Rudi sengaja menyimpan staminanya untuk menghadapi lawan lain. Sehingga, ia tidak benar benar serius dalam pertempuran itu.
"Bocah, jika kau berniat menantang Tuan Nero, kau harus melangkahi mayat kami terlebih dahulu!" seru Eliot padaku.
"Jangan bermain main dengan kami, bocah! Jika kau mau bertarung, bertarunglah dengan serius!" seru Fafnir.
Mendengar hal itu, aku pun hanya sedikit tersenyum sambil memejamkan mata.
"Apa kalian ingin aku serius?" tanyaku.
"Jangan bercanda! Hadapi kami dengan semua yang kau miliki!" bentak Fafnir.
Aku terdiam sesaat, kemudian berteriak, "Oi, apa sudah cukup?" tanyaku pada anggotanya.
"Lakukan sesukamu. Tapi, jangan berlebihan. Kita punya banyak musuh yang harus dihadapi!" teriak Akito dari belakangku.
"Kalian dengan itu? Sepertinya sudah cukup bermain mainnya. Mulai sekarang, aku akan serius menghadapi kalian berdua," kataku.
Tanpa basa basi, aku langsung menggunakan mode terkuatku.
Destruction Mode!
Muncul asap dingin dari seluruh tubuhnya, seolah sedang menguap.
Saat ia mulai melepaskan aura, tubuhnya terlihat seperti mengeluarkan asap berwarna biru.
Dari kedua matanya, terpancar cahaya tipis berwarna biru tua seolah seperti predator yang menatap mangsa. Tubuhnya seperti berubah menjadi siluet hitam dan hanya menyisakan kedua bola mata yang bersinar di kegelapan. Udara di sekitarnya mengkristal karena tekanan suhu yang teramat dingin. Tanah yang dipijakinya membeku.
Tekanan auranya benar benar terasa seperti menyayat daging, hingga membuat semua orang di sana merasa seperti sedang dicincang hidup hidup. Tekanan aura dahsyat memancar kuat, membuat segala mahluk hidup menyadari ada bahaya yang harus mereka hindari.
Walaupun ia tidak mengarahkan auranya kepada semua orang, tapi pancaran auranya tetap terasa sangat menyakitkan bagi mereka yang ada di sana. Bahkan, hampir sebagian besar orang di sana mengeluarkan darah dari kedua mata, hidung, mulut, dan telinga karena tidak sanggup menahan tekanan aura yang Rudi pancarkan saat itu.
Rudi pun sudah sepenuhnya masuk dalam mode penghancur. Mode terkuat yang sanggup menghancurkan apa pun yang ia sentuh, lalui, dan lihat. Mode yang sepenuhnya ia gunakan untuk menghadapi lawan lawan terkuat.
Melihat hal itu, membuat Akito langsung teringat dengan insiden beberapa tahun lalu setelah merasakan pancaran aura yang Rudi lepaskan. Insiden yang membuat Rudi hampir memusnahkan seluruh dataran seluas 10 kilometer persegi.
"Hoi, apa dia serius dengan ini?" pikir Akito panik.
Saat merasakan pancaran aura yang Rudi lepaskan, membuat Kageyama menyeringai penuh hasrat.
"Kaaakakakakakakakak. Inikah full powernya?" pikir Kageyama sambil memasang seringai tipis di wajahnya.
Julius, Yuta, dan Alvin, terkejut dengan tekanan aura yang Rudi pancarkan. Mereka benar benar tidak menyangka bahwa Rudi sanggup mengeluarkan aura seganas itu.
"Apa apaan ini? Ini bahkan lebih mengerikan dari pada Tuan Nero. Kenapa bocah sepertinya mampu mengendalikan aura sekuat ini?" pikir Eliot.
Fafnir dan Eliot yang berdiri tepat di hadapan Rudi, seketika gemetar ketakutan. Tanpa mereka sadari, mata, hidung, dan telingan mereka mulai mengeluarkan darah karena tidak sanggup menahan tekanan yang Rudi pancarkan.
Saat ini, mereka melihat Rudi seperti monster mengerikan.
Sedangkan di sisi lain, semua orang yang berada dalam radius 20 kilometer bisa merasakan tekanan mencekam itu dengan sangat jelas.
Para eksekutif lain, hingga Sang All Stars Nero bisa merasakan tekanan itu dari markas mereka masing masing.
__ADS_1
"Apa apaan ini? Apa ada Kaisar yang datang ke sini?" pikir salah satu eksekutif Nero.
"Haaahahahahahahaha! Sepertinya, aku kedatangan tamu istimewa," gumam Nero sambil melihat ke luar jendela.