The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 64 - Burn of Life


__ADS_3

Pertarungan Rudi melawan Nero mulai memasuki babak akhir.


Dengan tubuh babak belur, mereka berdua masih terus melancarkan serangan-serangan masing-masing.


Rudi menyerang menggunakan tebasan katananya, Nero menangkis menggunakan tangan kosong.


Nero melesatkan sambaran petir, Rudi menangkis menggunakan katananya.


Pertarungan keduanya sudah sangat berbeda jauh dari saat pertama mereka mulai bertarung.


Saat ini, hanya tekat masing-masinglah yang membuat keduanya tetap berdiri tegak, seolah mereka sedang membakar jiwa masing-masing untuk tetap bisa bertarung.


Semakin lama bertarung, Rudi semakin khawatir. Ia khawartir tentang bagaimana jika pasukan aliansi kelompok Nero datang? Apakah ia masih punya stamina untuk meladeni mereka semua? Tentu jawabanya adalah tidak.


Rudi hampir mengerahkan semua yang dimiliki untuk bertarung melawan sang raja. Jika pasukan sang raja sampai datang membantu, jelas itu adalah kematian untuknya.


Dalam dilema itu, Rudi berfikir. Terus melanjutkan pertarungan itu sama saja bunuh diri. Tapi, ia juga tidak bisa segera mengakhiri pertempuran itu karena level kemampuannya dengan lawan yang ia hadapi saat ini hampir seimbang. Bahkan dengan mode penghancurnya, belum cukup untuk menumbangkan Nero.


Rudi hanya bisa berharap bahwa pertempuran itu segera berakhir sebelum pasukan aliansi datang ke sana.


Boom!


Lagi-lagi, Rudi terkena pukulan telak di tubuhnya hingga membuat perutnya hancur.


"Ada apa denganmu? Apa kau pikir kau cukup hebat sampai bisa memikirkan banyak hal dalam satu waktu, hah?" bentak Nero pada Rudi.


Untuk sesaat, Nero sadar bahwa Rudi sedang memikirkan sesuatu di tengah pertarungan sengit mereka berdua. Hal itu jelas membuat Nero marah.


"Diamlah! Aku tau kalau tidak ada waktu berfikir dalam pertarungan!" balas Rudi sambil berusaha bangkit.


"Kalau begitu, lawan aku dengan semua yang kau miliki," kata Nero dengan tatapan membunuh.


"Akan kutumbangkan kau dengan satu serangan terakhir," balas Rudi.


Rudi bangkit dengan tubuh gemetar.


Ia tersenyum tipis sambil bergumam pelan.


"Maafkan aku, Akito," gumamnya pelan.


Kata-kata itu seolah seperti kata perpisahan yang Rudi ucapkan kepada sahabat yang sudah menemaninya selama ini.


Burn of Life!


Rudi menggunakan mode terakhirnya. Mode yang akan membakar jiwa dan mengurangi masa hidupnya. Mode yang menjadi pilihan terakhir saat mode penghancurnya tidak berguna.

__ADS_1


Rudi sudah menetapkan tekat untuk segera mengakhiri pertarungan itu apapun yang terjadi.


...***...


Tempat kelompok Rudi berkumpul.


Akito, Kageyama, Yuta, Alvin, dan Dian, merasakan tekanan energi yang begitu dahsyat dari pusat medan pertarungan Rudi melawan Nero.


Saat Akito merasakan tekanan yang Rudi pancarkan, saat itu juga, Akito langsung berlari menuju pusat medan pertarungan Rudi melawan Nero.


Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian yang melihat gelagat aneh Akito, mulai panik dan langsung mengejarnya dari belakang.


Sambil berlari di belakang Akito, Kageyama berteriak.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba lari ke pusat medan pertarungan mereka?" tanya Kageyama sambil terus mengejar Akito dari belakang.


"Kita harus segera menghentikannya. Jika tidak ...." Sambil terus berlari, Akito menghentikan ucapanya dengan wajah panik.


"Jika tidak?" tanya Alvin yang juga sedang mengejar Akito.


"Jika tidak, Rudi bisa mati!" jawab Akito dengan wajah penuh keringat dingin.


Mendengar jawaban Akito, membuat semua orang di sana terkejut.


Semua anggota kelompok Rudi berbincang sambil terus berlari menuju pusat medan pertarungan Rudi melawan Nero.


"Dulu, Rudi pernah menggunakan mode ini. Saat ia dalam mode ini, kesadarannya akan hilang sepenuhnya. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat ia menggunakan mode ini, jiwa dan masa hidupnya akan dibakar seperti bensin. Jika tidak segera dihentikan, ia bisa kehilangan seluruh jiwa dan masa hidupnya. Dan itu berarti kematian!" jawab Akito sambil terus berlari.


Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, sangat terkejut setelah mendengar penjelasan itu. Mereka tidak menyangka kalau Rudi memiliki mode yang sanggup menguras masa hidupnya.


...***...


200 meter dari pusat medan pertarungan Rudi melawan Nero.


Hampir seluruh pasukan aliansi kelompok Nero, sudah mencapai wilayah Nero.


Saat mereka sudah semakin dekat dengan medan pertempuran, ribuan orang tiba-tiba pingsan tanpa sebab.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka pingsan?" tanya Jendral Besar Negara Rosso yang kebingungan karena ribuan pasukannya tiba-tiba tumbang.


"Mungkin kerena tekanan aura yang tiba-tiba muncul dari sana," jawab salah satu Jendral Negara Rosso sambil menunjuk pusat medan pertarungan Rudi melawan Nero.


Tidak hanya pasukan militer Negara Rosso. Tapi, hampir semua pihak yang saat ini mulai mendekati medan pertarungan Rudi melawan Nero, tiba-tiba pingsan karena tidak kuat menahan tekanan aura yang Rudi pancarkan.


Aura yang Rudi pancarkan layaknya gelombang kejut dahsyat yang membuat orang-orang dengan mental lemah, mulai tumbang satu per satu.

__ADS_1


...***...


Medan pertempuran Rudi melawan Nero.


"Hahahahahaha! Inilah yang kumau!" teriak Nero dengan wajah berbinar saat merasakan tekanan energi yang Rudi pancarkan.


Nero terlihat seperti orang yang akhirnya mendapat kepuasan tingkat tertinggi setelah sekian lama.


Di sisi lain, Rudi telah sepenuhnya masuk dalam mode terakhir yang membakar jiwa dan masa hidupnya.


Tubuhnya menguapkan asap dingin berwarna putih dan diselimuti aura berwarna biru tua. Matanya menyala dengan pancaran cahaya berwarna biru terang. Rambutnya berdiri seperti tertiup angin kencang.


Rudi saat ini sudah sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Saat ini, ia tidak bisa lagi membedakan siapa kawan dan lawan. Dalam mode itu, ia akan menghajar siapa pun yang ada di depannya.


"Majulah, Bocah!" teriak Nero sambil memasang kuda-kuda bertarung.


Tanpa banyak bicara, Rudi langsung melesat dengan sangat cepat ke arah Nero. Saking cepatnya, hingga membuat Nero tidak bisa bereaksi sama sekali.


"Heh?" Nero kebingungan karena tiba-tiba, telapak tangan Rudi sudah berada tepat di depan wajahnya.


Boom!


Hanya dalam waktu sekejap mata, Kepala Nero tiba-tiba membentur tanah dengan sangat keras hingga menciptakan kawah besar dan tanah yang seolah berguncang.


"Argh!" Nero muntah darah karena hantaman itu.


Rudi tidak mengendurkan serangan.


Rudi mencengkram kepala Nero, mengangkatnya ke atas, kemudian melemparkannya ke samping.


Tubuh Nero terbang 1 meter di atas tanah, membentur apapun yang dilewati, hingga akhirnya terhenti setelah membentur batu besar.


Batu itu retak dan hancur.


Nero kembali muntah darah karena rasa sakit yang seolah menghancurkan tubuhnya.


Nero berusaha bangkit.


Saat Nero sedang mencoba menyeimbangkan tubuhnya, tiba-tiba Rudi sudah berada tepat di hadapannya, bahkan sebelum ia mulai sadar.


Bem!


Rudi memukul pipi kiri Nero, hingga membuatnya terlempar ratusan meter jauhnya.


Mode yang Rudi gunakan saat ini, membuat perbedaan kekuatan keduanya bagai langit dan bumi. Kekuatan mereka tidak lagi seimbang. Bagi Rudi yang sekarang, Nero hanyalah bocah yang berusaha merebut permen dari tangan orang dewasa.

__ADS_1


Pertarungan sengit Rudi melawan Nero, berubah menjadi pembulian satu sisi.


__ADS_2