
"Apa maksudmu? Apa kau baru saja mengatakan kalau kau melihat tragadi di Abad Kehancuran?" tanya Kageyama dengan wajah panik.
"Aku melihat ada milyaran tubuh manusia, monster, dan mahluk mirip manusia, berterbangan kesana kemari. Tubuh mereka terkoyak, hancur, hingga melayang ke sana ke sini seperti kapas yang ditiup angin," kataku sambil meninum segelas air putih untuk menenangkan diri.
Setelah mendengar penjelasanku, semua orang di sana pun nampak kaget setengah mati.
Mereka semua langsung mengalihkan pandangan ke arah katana hitam dengan strip merah yang tergeletak di lantai.
"Aku akan mencobanya juga," kata Kageyama.
Kageyama mendekati katana itu dan mulai memegangnya. Tidak lama berselang, ia pun menjerit kesakitan sambil mencengkram kepalanya sendiri.
"Oi, Kageyama! Apa kau baik baik saja?" tanyaku dengan wajah panik.
Kageyama terus mengerang kesakitan dan membuat semua orang panik. Tapi, tidak lama berselang, ia langsung bertingkah seperti tidak terjadi apa apa.
"Bagaimana keadaanmu, Kageyama?" tanyaku.
"Tidak ... aku tidak merasakan apa pun," jawab Kageyama dengan wajah datar.
"Sialan kau, Kageyama! Kau membuat kami takut!" bentak Yuta.
"Aku ingin sekali memotong lehermu itu, bajingan!" bentak Julius.
"Cih ... seharusnya aku yang melakukan itu," kata Akito pelan.
"Mati saja, sialan!" bentakku.
"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama hanya menanggapi semua ejekan kami dengan tawanya.
Aku mulai berdiri dan mendekat ke arah katana itu. Kemudian memegang katana tersebut. Tapi, hal berbeda terjadi. Jika sebelumnya aku merasa kesakitan dan pingsan karenanya, saat ini justru sebaliknya. Aku bisa merasakan perasaan damai dan tentram.
"Oooo ... kau bisa mengangkatnya dengan baik," kata Yuta heran.
"Kaaakakakakakakakaka! Setidaknya, uangku tidak terbuang percuma," kata Kageyama.
"Apa kau baik baik saja?" Akito bertanya padaku.
__ADS_1
"Berbeda dari sebelumnya, perasaanku saat ini terasa sangat damai. Dan juga, katana ini sangat ringan. Aku bahkan tidak yakin apakah katana ini punya bobot," kataku sambil mengayun ayunkan katana baruku.
Melihat hal itu, Kageyama, Julius, dan Yuta mulai tersenyum tipis. Tebakan mereka ternyata benar bahwa akulah orang yang selama ini ditunggu oleh katana itu.
"Rudi, aku mau mencobanya," kata Akito yang berniat mencoba katana itu.
"Ini." Aku memberikan katana yang kupegang pada Akito.
Saat Akito memegangnya, katana itu langsung jatuh ke lantai karena Akito tidak sanggup mengangkatnya.
"Wooah! Apa-apaan ini? Kenapa katana ini sangat berat?" tanya Akito sambil berusaha mengangkatnya.
"Kaaakakakakakakakaka! Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Katana itu tidak akan bisa diangkat sembarang orang," kata Kageyama.
Karena asik bercanda, kami semua langsung melupakan kejadian sebelumnya. Dan mulai membahas rencana pembasmian broker dunia bawah.
"Apa kalian sudah mendapat informasi soal broker itu?" tanyaku pada Kageyama dan Julius.
"Broker dunia bawah terbesar di Benua Timur adalah kelompok Nero," jawab Julius.
"Kelompok Nero? Apa mereka kuat?" tanya Akito.
"Sepertinya mereka kelompok yang menarik. Lalu, di mana markas mereka?" tanyaku.
"Mereka bermarkas di sekitaran negara Rosso. Mereka mendiami wilayah yang tidak terikat dengan negara manapun. Bisa dibilang, itu adalah teritori mereka. Kita tidak akan bisa memasuki wilayah itu dengan bebas karena perbatasannya dijaga sangat ketat," jawab Julius.
"Perang, kah?" kataku sambil membayangkan apa yang mungkin saja terjadi ke depannya.
"Hei, jangan katakan kalau kau berniat mendobrak dari pintu depan?" tanya Akito.
"Apa ada yang salah dengan itu? Menyerang diam diam itu tindakan pengecut," jawabku.
"Kaaakakakakakakaka! Aku memgerti maksudmu. Tapi, menyerang langsung sama saja dengan bunuh diri. Jika harus membandingkan kekuatan kita dan mereka, itu seperti bumi dan langit. Mereka punya banyak orang yang sangat kuat. Kemampuan kelompok mereka bahkan hampir setara dengan negara kelas atas. Mendobrak dari pintu depan dengan kemampuan dan jumlah kelompok kita sama saja dengan bunuh diri," sahut Kageyama.
"Kita harus mengurangi jumlah mereka sedikit demi sedikit atau mencari aliansi kuat untuk menumbangkan kelompok mereka. Jangan lupa bahwa Nero sang pemimpin kelompok adalah bagian dari All Stars dan para eksekutifnya ada di jajaran Top 1 Persen Elit Dunia," kata Julius.
"Sialan, aku sangat membenci tindakan pengecut semacam itu. Tapi, sepertinya kali ini kalian tidak memberiku pilihan lain," kataku.
__ADS_1
"Apa keputusanmu? Mencari aliansi atau menyerang sendiri?" tanya Yuta.
"Tentu saja menyerang sendiri. Aku tidak mau berbagi prestasi dan pencapain dengan kelompok lain karena aku ini orangnya sangat serakah," jawabku dengan tegas.
"Kaaakakakakakakakakaka! Kalo begitu, kita berangkat besok," kata Kageyama.
.
.
Malam sebelum keberangkatan.
Saat berada di dalam kamar, aku langsung berbaring di tempat tidur sambil memikirkan banyak hal. Aku memikirkan tentang deskriminasi, rasisme, perbudakan, jual beli manusia, dan semua hal buruk yang ada di dunia.
Hal semacam itu tidak akan pernah bisa dirubah. Karena pada dasarnya, sifat manusia adalah makhluk yang serakah, egois, dan banyak hal buruk lainnya. Apakah mungkin untuk dunia ini berubah ke arah yang lebih baik ke depannya? Atau justru akan semakin buruk lagi?
Manusia tidak bisa hidup sendirian. Tapi, manusia juga merupakan makhluk yang tidak rela berbagi tempat dengan manusia lain. Hal itu membuat manusia menjadi makhluk yang suka memanfaatkan manusia lain demi kepentingan mereka sendiri. Manusia layaknya 2 sisi mata koin. Mereka bisa menjadi lebih kejam dari iblis. Tapi di sisi lain, mereka juga bisa menjadi lebih mulia dari malaikat.
Manusia hanya bisa berubah saat mereka menginginkannya. Tapi, banyak yang menyangkal kenyataan dan larut dalam tragedi. Mereka beranggapan bahwa perbuatan mereka tidak memiliki peran dalam kisah akbar perjalanan hidup umat manusia. Sungguh ironi mengetahui bahwa tindakan kecil dari seorang manusia akan berdampak besar pada dunia.
Jika saja sang Kaisar adalah orang baik, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Jika saja orang itu tidak membunuh Kaisar, maka dunia tidak akan berperang. Dan banyak lagi kata jika yang menjadi ungkapan sebuah penyesalan mendalam. Karena itulah kenyataan dunia saat ini. Sebuah tindakan kecil yang diambil seseorang sanggup membuat dunia jatuh pada kekacauan atau kedamaian di masa mendatang. Jika saja manusia menyadari itu, maka dunia ini akan menjadi tempat yang indah.
Aku benar benar tidak mendapatkan jawaban atas segala kegundahan yang melanda pikiranku.
Aku akhirnya mulai memejamkan mata dan tertidur.
Keesokah harinya, aku dan kelompokku melakukan banyak persiapan sebelum menjalani perburuan besar. Target kami bukanlah kelompok lemah seperti sebelumnya, melainkan kelompok kelas dunia yang namanya sudah sangat dikenal oleh banyak kelompok kuat dari seluruh dunia.
"Apa kalian siap?" tanyaku sebelum berangkat.
"Sepenuhnya siap," jawab Akito.
"Kaaakakakakakaka! Ayo lakukan," jawab Kageyama.
"Ayo berangkat," jawab Julius.
"Aku benci melakukannya. Tapi, kau tidak memberiku pilihan lain. Ayo musnahkan para bajingan itu," jawab Yuta.
__ADS_1
Kami pun mulai melangkah untuk memulai perburuan besar.