The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 58 - Kageyama dan Julius


__ADS_3

Medan pertempuran Kageyama melawan Hugo, eksekutif ketiga kelompok Nero.


Duar!


Tubuh Kageyama menghantam tanah dengan sangat keras hingga menimbulkan cekungan besar.


Hugo berjalan pelan menuju Kageyama sambil merobek bajunya yang sudah compang camping.


"Apa hanya segini kekuatanmu?" tanya Hugo dengan wajah galaknya.


"Kaaakakakakakakaka! Aku tau, aku tau. Aku tidak bisa bermain main jika lawannya adalah orang sepertimu," sahut Kageyama sambil berusaha bangkit.


Shark Wave!


Hugo melesatkan puluhan hiu ganas yang ia buat menggunakan atribut airnya.


Fire Wall!


Kageyama membuat badai tornado api yang mengelilingi tubuhnya.


Benturan dua atribut itu menciptakan hempasan angin bertekanan tinggi dan juga uap panas mengepul ke udara.


Kageyama melesat ke arah Hugo sambil bersiap memukul menggunakan tangan berlapis atribut api.


Hugo bersiap dengan membuat dinding air super padat untuk menangkis serangan itu.


Lagi lagi, benturan keduanya menimbulkan gelombang kejut dan uap panas ke area sekitar.


Kageyama melesatkan laser api, Hugo membuat barier air. Hugo menembakkan peluru air, Kageyama membuat barier api. Jual beli serangan antara keduanya terus terjadi tanpa henti.


Kageyama dan Hugo akhirnya berhenti menyerang satu sama lain.


Mereka berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tubuh dan force yang dipaksa dengan sangat amat keras.


"Huft ... huft ... ka-kau ... kau benar benar lawan yang tangguh," kata Kageyama.


Dengan nafas beratnya, Hugo membalas, "Kemampuanmu tidak buruk."


Keduanya baru bertarung selama 40 menit. Tapi, mereka sudah sangat kelelahan karena terus menggunakan teknik tingkat tinggi.


"Apa sebaiknya kita segera mengakhiri pertarungan ini?" tanya Kageyama dengan nafas beratnya.


"...." Hugo hanya diam sambil terus mengatur nafas.


Kageyama bersiap untuk menggunakan teknik terkuatnya. Ia kemudian mengangkat tangan kananya ke atas. Dan ...


Sun Flare!


Kageyama membuat sebuah bola api raksasa mirip dengan matahari.


Kageyama kemudian mulai mencengramkan tangannya seperti sedang meremas udara untuk memadatkan bola api super raksasa yang ia buat. Semakin kuat ia mencengkram, bola api raksasa itu semakin memadat dan mengecil hingga seukuran bola sepak.


Api yang awalnya berwarna jingga, kemudian berubah menjadi api hitam super padat.


Saat merasakan api itu, Hugo menyadari sesuatu.


"True elemen?" pikir Hugo saat merasakan api hitam Kageyama.


Kageyama sedikit tersenyum sambil melirik ke arah Hugo.


"Kaaakakakakakakaka! Terimakasih karena sudah membantuku membangkitkan true elemen," kata Kageyama dengan seringai di wajahnya.


Hugo tidak mau kalah. Ia juga membuat bola air raksasa yang dipadatkan menjadi seukuran bola sepak.


"Kaaakakakakakakaka! Jadi, kau juga bisa menggunakan true elemen?" tanya Kageyama.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku tidak bisa menggunakannya?" tanya Hugo sinis.


"Kalau begitu, ayo kita lihat true elemen siapa yang lebih kuat," kata Kageyama.


Kageyama dan Hugo melesatkan serangan mereka masing masing.


Bola api hitam super padat beradu dengan bola air super padat.


Saat kedua serangan itu saling bentrok, bola api Kageyama berhasil menembus dan menghancurkan bola air Hugo. Sehingga, membuat serangan Kageyama tak terhentikan.


Hugo mencoba membuat barier air berlapis lapis untuk menahan serangan itu. Akan tetapi, semua usahanya sia sia karena bola api hitam super padat milik Kageyama benar benar tak terhentikan.


Duar!


Serangan Kageyama menimbulkan sebuah ledakan super massive yang terjadi sesaat setelah serangan itu mengenai tepat ke tubuh Hugo.


Area seluas 100 meter persegi langsung berubah menjadi hamparan lapang karena efek ledakan itu.


Bola hitam super padat milik kageyama meledak seperti sebuah bom nuklir yang dijatuhkan ke tanah.


Hugo pun terkapar di pusat ledakan dengan tubuh penuh luka bakar hebat.


"Argh!" Kageyama muntah darah karena tubuhnya sudah mencapai batas saat melesatkan serangan terakhirnya.


Akhirnya, Kageyama pun ikut tumbang sesaat setelah memastikan kemenangannya melawan eksekutif ketiga kelompok Nero.


.


.


Medan pertempuran Julius melawan Bojas, eksekutif kedua kelompok Nero.


Julius menyerangan dengan melesatkan pedang cahaya ke arah Bojas.


Bojas sedikit menggeser tubuhnya ke kiri untuk menghindari lesatan pedang cahaya itu.


Belum selesai Bojas menyeimbangkan tubuh, pedang cahaya milik Julius sudah berada tepat di lehernya.


Bojas menghindari serangan itu dengan mendorong tubuhnya ke belakang menggunakan atribut tanahnya.


Bojas langsung membuat 5 buah tombak tanah yang terbentuk tepat di atas kepalanya untuk menyerang Julius.


Bojas melesatkan tombak tanah tersebut ke arah Julius. Tapi, Julius berhasil menghindari serangan itu dan memotong yang tidak bisa dihindari.


Bojas melesat dengan sangat cepat ke arah Julius dan bersiap memukulnya dengan tangan kanan yang dilapisi tanah berbentuk bor. Akan tetapi, Julius mampu menahan pukulan itu menggunakan barier cahayanya. 


Bojas melanjutkan serangan dengan membuat 10 tombak tanah yang tiba tiba muncul di belakang Julius. Bojas kemudian melesatkan 10 tombak tanah itu dengan sangat ganas.


Tanpa diduga, 10 tombak tanah tersebut hancur sesaat setelah menghantam barier tanpa wujud.


Julius sedikit tersenyum licik, sedangkan Bojas tersenyum kecut. 


Duar!


Tiba tiba Bojas terpelanting ke belakang.


"Aura?" pikir Bojas.


Bojas kebinggungan dengan kejadian yang ia alami. Tetapi, tidak ada waktu untuk berfikir karena setiap detik dalam pertarungan sangatlah berarti.


Bojas bangkit sembari membuat tombak tanah raksasa. Lalu, melesatkannya ke arah Julius. 


Slink!


Julius memotong serangan tombak raksasa itu dengan mudah.

__ADS_1


Melihat serangannya tidak mempan, kali ini Bojas menghabiskan sisa tenaganya untuk membuat ratusan tombak tanah yang melayang di udara.


Bojas melesat ke arah Julius berniat menyerangnya dengan pukulan tangan kiri. Akan tetapi, Julius berhasil menghindar.


Bojas mencoba memukul dengan tangan kanan, tetapi serangannya berhasil ditangkis Julius.


Julius dan Bojas bertarung jarak dekat dengan intensitas tinggi. 


Bojas berhenti bertarung jarak dekat dan mulai melesatkan tombak tanah yang ia buat sebelumnya ke arah Julius.


Ratusan tombak tanah itu melesat ke arah Julius dengan kecepatan tinggi.


Julius menghindar dan memotong setiap tombak tanah yang mengarah padanya dengan sangat akurat.


Dari kejauhan, Julius terlihat seperti sedang menari indah diiringi ratusan tombak tanah yang siap membunuhnya. 


Julius cukup kelelahan setelah berhasil menghindari ratusan tombak tanah tersebut, begitu pula dengan Bojas.


Bojas kehilangan banyak stamina setelah melancarkan serangan ratusan tombak tanah.


Mereka berdua terlihat hampir kehabisan nafas.


"Sepertinya, aku mendapat lawan yang cukup tangguh," kata Bojas.


"Apa itu semua belum cukup untukmu mengakui bahwa kita ini setara?" tanya Julius.


"Aku terkejut karena kau bisa menggunakan armor aura," kata Bojas.


"Apa semengejutkan itu?" tanya Julius.


"Tidak ... tidak juga. Untuk orang sekalibermu, sudah sepantasnya bisa melakukan ha semacam itu," kata Bojas.


Saat mereka masih sibuk berbincang, tiba tiba mereka mendengar ledakan dahsyat dari medan pertempuran Kageyama melawan Hugo.


Mereka berdua menoleh ke medan pertempuran itu.


"Sepertinya yang di sana sudah selesai," kata Bojas.


"Kalau begitu, kita juga harus segera menyelesaikan ini. Aku tidak mau kalah dengan si bajingan Kageyama," balas Julius.


Bojas menyeringai. Sedangkan Julius berbinar.


Keduanya berniat melakukan satu serangat terkuat untuk segera mengakhiri pertarungan itu.


Julius langsung membuat sebuah pedang cahaya berwarna kuning raksasa sambil melapisinya dengan aura. Sedangkan Bojas membuah sebuah tombak tanah besar super padat yang juga dilapisi aura.


"Ayo lihat kemampuan aura siapa yang lebih unggul," kata Bojas dengan senyum tipisnya.


"Jangan menyesal jika tubuhmu terpotong menjadi dua," balas Julius dengan mata berbinar.


Mereka berdua memegang erat senjata masing masing, Julius dengan pedang cahayanya, dan Bojas dengan tombak tanahnya.


Mereka berdua melesat ke arah satu sama lain sambil mengayunkan senjata masing masing.


Slash!


Pedang cahaya Julius mampu memotong tombak tanah Bojas dan menyayat tubuh Bojas.


Bojas pun tumbang setelah mendapat luka sayatan yang cukup dalam di dadanya. Beruntungnya, tubuhnya tidak sampai terpotong karena ia sempat melapisi tubuhnya dengan armor aura.


"Kau adalah lawan tertangguh kedua yang pernah kulawan," kata Julius sambil melirik tubuh bojas yang tergeletak di tanah.


Pertarungan itupun dimenangkan oleh Julius.


Tapi, tidak lama berselang, Julius juga tumbang karena lelah yang tak tertahankan.

__ADS_1


Walaupun pertarungan keduanya tidak semegah pertarungan lain. Tapi, pertarungan mereka berdua benar benar syarat akan teknik.


__ADS_2