The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 75 - Dihajar Habis-Habisan


__ADS_3

Keesokan harinya, Rudi berserta anggotanya, berjalan-jalan keliling Ibukota Negara Kansas.


Di sana, mereka melihat banyak hal.


Gedung mewah bak istana, bangunan tinggi pencakar langit, monumen megah, taman kota indah, hingga kedaraan sport mewah, bertebaran di sana seperti hal biasa.


"Gila! Hedon abiz!" kata Rudi saat melihat kota bertabur kemewahan itu.


"Inikah yang dinamakan surga dunia?" tanya Akito dengan wajah tercengang.


"Aku tidak menyangka kalau ada kota semegah ini," kata Alvin dengan wajah terbelalak.


"Kakak. Kira-kira, berapa biaya seporsi makanan di sini?" tanya Dian dengan wajah tercengang.


Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ada kota dengan kemegahan yang melampui imajinasi mereka semua.


"Ini adalah kotanya para Billioner. Jadi, hal semacam ini adalah hal wajar," sahut Julius.


"Dasar kampungan," ejek Yuta.


"Jaga ucapanmu, Yuta!" seru Rudi jengkel.


"Apa ucapanku salah?" tanya Yuta acuh.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menulusuri Ibukota Kansas.


Mereka kamudian memasuki sebuah bar mewah yang ada di pusat kota.


Di dalam bar itu, mereka melihat ada banyak sekali orang-orang yang terlihat seperti sedang berpesta.


Rudi dan yang lainnya memasuki bar itu dan tidak terlalu memperdulikan orang-orang di sana.


Mereka kemudian duduk di meja depan bartender dan memesan minuman.


Saat Rudi dan yang lainnya sedang asik minum. Tiba-tiba, ada seorang pria yang mendekati mereka.


"Halo, nona. Apa kau mau menginap di hotel semalam denganku?" tanya pria itu kepada Dian.


Dian merasa tidak nyaman karena tiba-tiba ada seorang pria tak dikenal berusaha mengajaknya bermalam di hotel.


Karena jengkel, Alvin langsung menanggapi pria itu.


"Pergilah, bajingan! Jangan seenaknya mengajak adikku ke hotel. Kau pikir, adikku itu wanita murahan?" tanya Alvin sambil mendorong dada pria itu.


Pria itu tertawa kecil. Kemudian, berteriak lantang.


"Hei, apa kalian dengar itu? Ada seonggok sampah yang berani mendorongku!" teriak pria itu kepada semua orang di sana.


Orang-orang di sana tertawa geli. Mereka semua seolah menertawakan kebodohan Alvin karena berani macam-macam dengan pria itu.


"Habisi saja dia!"


"Hahahahaha! Penggal saja kepalanya!"


"Dasar sampah tak tau diri!"

__ADS_1


Puluhan orang di bar itu mengolok-olok Alvin.


Pria itu kemudian menatap Alvin dengan tatapan membunuh.


"Dengar, sampah! Jangan berani macam-macam denganku! Jika kau masih ingin hidup, cepat jilati kakiku. Dengan begitu, aku mungkin bisa melupakan perkataan lancangmu," kata pria itu angkuh.


Alvin mulai terbakar emosi. Ia sudah mengepalkan tangan dan berniat memukul wajah pria itu. Akan tetapi, Rudi mengentikannya.


Rudi kemudian berkata pelan pada Alvin.


"Jangan buat masalah di sini. Jika kita membuat onar, ini bisa berdampak buruk pada kita sendiri. Ingatlah, jangan sampai membuat onar sebelum Kageyama kembali bersama kita," kata Rudi pelan.


"Cih ...." Alvin hanya bisa menggerutu.


Pria yang sedang mabuk itu, kemudian kembali betanya kepada Alvin.


"Kenapa, sampah? Jika kau tidak segera menjilati kakiku, akan kupatahkan semua tulangmu karena sudah berani mendorongku," kata pria itu dengan tatapan membunuh.


Orang-orang di bar itu terus mengompori pria itu agar segera menghabisi Alvin.


"Cepat! Petahkan tulang-tulangnya!"


"Jangan beri dia ampunan!"


"Aku tidak tau kenapa ada orang sebodoh dia!"


Orang-orang di sana terus mengejek Alvin dan meminta pria yang sedang mabuk itu, segera menghabisi Alvin.


Pria itu kemudian mendorong dada Alvin dan mendekati Dian.


Dian ketakutan karena tidak tau harus berbuat apa.


Pria itu kemudian menatap Rudi yang sedang memegang lengannya.


"Lepaskan," kata pria itu pada Rudi dengan tatapan membunuh.


"Jangan ganggu dia," kata Rudi pada pria itu.


Pria itu marah. Kemudian, memengang kepala Rudi dan menghantamkannya ke meja.


Duar!


Meja itu hancur akibat hantaman kepala Rudi.


Akito langsung menghunus katananya saat melihat sahabatnya di hajar.


Katana Akito sudah berada tepat di leher pria itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Akito pada pria itu dengan wajah penuh amarah.


Julius, Yuta, dan Alvin, juga sangat marah saat melihat kepala Rudi dihantamkan ke meja hingga membuat meja itu hancur.


Pria itu hanya tersenyum saat katana Akito menempel di lehernya.


"Apa kau ingin mati?" tanya pria itu dengan senyum yang seolah seperti senyum iblis.

__ADS_1


Akito tidak gentar sedikit pun. Justru, ia membalas tatapan pria itu dengan tatapan membunuh.


Rudi kemudian bangkit dan mengatakan pada semua temannya.


"Jangan melawan. Kita tidak boleh membuat keributan di sini," kata Rudi pada semua anggotanya.


Pria itu sangat marah saat mendengar ucapan Rudi. Ia merasa diremehkan dengan ucapan Rudi barusan.


"Jangan melawan? Jangan konyol! Aku bisa saja menghabisi kalian semua hanya dengan satu jari. Dan kau berani mengatakan 'jangan melawan?'" kata pria itu kesal.


Pria itu kemudian menghajar Rudi, Akito, Julius, Yuta, dan Alvin. Sedangkan Dian, hanya terdiam sambil ketakutan.


Dian tidak melakukan apapun karena menuruti perintah Rudi.


Pria itu membenturkan kepala Rudi ke dinding, melemparnya ke meja, dan memukulinya hingga babak belur.


Rudi dan anggotanya hanya diam dengan semua siksaan itu.


Mereka tidak bisa melakukan apapun karena itulah perintah sang pemimpin. Jika mereka mengacau di kota itu, bisa saja, keluarga Kageyama melarang Kageyama untuk kembali berpetualang dengan mereka. Oleh karena itu, mereka sengaja membiarkan diri mereka dihajar habis-habisan tanpa melawan agar tidak membuat masalah di kota itu.


"Apa kalian pikir sekumpulan pecundang seperti kalian bisa melawanku? Jangan besar kepala, bajingan!" teriak pria itu sambil terus menghajar Rudi dan kelompoknya.


Pria itu menendang Rudi dan anggotanya, membenturkan mereka ke meja, melempari mereka dengan botol minuman, hingga meludahi mereka karena kesal.


Rudi dan yang lainnya tetap santai walaupun darah mulai mengalir dari tubuh, kepala, lengan, dan kaki mereka.


"Cih ... sangat membosankan menghabisi serangga seperti kalian," kata pria itu kepada Rudi dan kelompoknya.


"Kalian semua! Ayo pergi dari sini!" teriak pria itu kepada semua orang di sana.


Pria itu berserta puluhan orang di sana, meninggalkan bar sambil terus mengejek Rudi dan kelompoknya. Bahkan, ada beberapa orang yang meludahi Rudi sebelum mereka pergi.


"Hahahahahaha! Dasar pecundang!"


"Sadari posisimu, sampah!"


"Hahahahahaha! Badut!"


Orang-orang di sana terus menghujani Rudi dan kelompoknya dengan hujatan saat mereka hendak meninggalkan bar itu.


Di sisi lain, Rudi dan anggotanya hanya bersikap santai menanggapi semua hujatan itu. Walaupun tubuh mereka berlilang darah, mereka benar-benar tidak melawan sedikit pun.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Akito kepada Rudi.


"Tidak masalah. Hal semacam ini bukan masalah sama sekali," jawab Rudi.


"Rudi, maafkan aku. Karena aku, kalian jadi seperti ini," kata Dian dengan wajah penuh penyesalan.


Dian adalah satu-satunya orang di kelompok Rudi yang tidak dihajar oleh pria itu.


"Ini bukan salahmu," sahut Rudi dengan wajah ramah.


"Ta-Tapi ...." Dian tidak bisa berkata dengan benar.


"Dian, ini bukan salahmu," kata semua orang.

__ADS_1


Dian pun menangis. Walaupun semua anggota lain mengatakan bahwa itu bukan salahnya. Tapi, ia tetap merasa bahwa itu adalah salahnya.


Rudi dan kelompoknya kemudian meninggalkan bar itu untuk menuju ke rumah sakit agar semua luka-luka mereka bisa ditangani dengan baik.


__ADS_2