
Rudi dan Julius saat ini tengah di rawat di rumah sakit yang sama.
Kageyama datang ke ruang perawatan Julius untuk menyapanya.
"Yo, apa kau baik-baik saja?" Kageyama menyapa Julius yang baru sadarkan diri.
"Apa kau buta?" Julius bertanya balik.
Hampir separuh bagian tubuh Julius dibalut perban karena luka-luka yang ia derita.
"Kaaakakakakakakaka! Bukankah sudah kubilang? Dia mungkin akan menghajarmu habis-habisan." Kageyama duduk di kursi samping tempat tidur Julius.
"Apa kau ke sini hanya untuk mengatakan itu?" Julius menanggapi ucapan kageyama dengan nada dingin seperti biasa.
"Kaaaakakakakakakaa! Bagaimana menurutmu?" tanya Kageyama dengan tatapan tajam ke arah julius.
"Entahlah! Akan kupikirkan dulu tawaranmu," jawab Julius.
Saat berbincang di bar kasino kemarin, Kageyama sempat menawari Julius untuk bergabung.
"Semalam, aku sudah memutuskannya. Aku sekarang sudah resmi bergabung dengan kelompoknya," kata Kageyama sambil mengupas apel.
"Apa kau benar-benar akan menggantungkan harapanmu padanya?" tanya Julius.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan hal semacam itu. Aku bergabung dengannya karena ingin menggapai mimpi bersamanya, bukan menggantungkan harapan padanya," jawab Kageyama sambil memakan apel yang telah ia kupas.
"Hei, bukankah seharusnya apel itu untukku?" tanya Julius heran.
"Kakakakaka! Kusarankan, temui dia. Kau akan tau alasan kenapa aku memutuskan untuk berjuang bersamanya," kata Kageyama sambil bersiap meninggalkan ruangan itu.
"...." Julius hanya diam saat melihat Kageyama pergi meninggalkan ruang perawatannya.
Di dalam ruang perawatanku, aku dan Akito sedang berebut apel.
"Berikan padaku, sialan! Aku ini sedang terluka!"
"Tidak! Aku juga ingin memakannya!"
Aku dan Akito sedang bertengkar untuk memperebutkan apel yang ada di sana. Kami sama-sama tidak mau mengalah dan terus menarik apel itu. Hingga pada akhirnya, apel itu hancur karena terus kami perebutkan.
"Sialan! Kau seharusnya mengalah. Aku ini sedang terluka! Lagi pula, apel itu seharusnya untukku!" kataku dengan perasaan emosi.
"Apa kau pikir aku perduli? Aku juga ingin makan apelnya!" jawab Akito yang juga dengan emosi.
__ADS_1
Karena keegoisan kami berdua, apel yang terus kami perebutkan akhirnya malah terbuang sia-sia.
"Kaaakakakakakakaka! Kalian benar-benar tidak pernah berubah," kata Kageyama yang baru saja memasuki ruang perawatanku.
"Ini, aku bawakan banyak apel. Jadi kalian tidak perlu berebut." Kageyama membawakan sekeranjang apel ke sana.
"Woah! Kau menang anggota yang baik, Kageyama! Tidak seperti yang satu ini," kataku sambil melirik Akito, berniat menyindirnya.
"Hah, apa katamu?" tanya Akito dengan nada geram.
"Kaaakakakakakakaka! Sudahlah. Makan saja apelnya dan berhenti bertengkar," kata Kageyama sambil mengambil kursi di sudut ruangan.
"Oh, ya. Bagaimana dengan kondisi Julius? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku sambil memakan apel.
"Dia baik-baik saja," jawab Kageyama sambil duduk dan mengupas apel.
"Oh, ya, Kageyama. Aku punya sedikit pertanyaan untukmu," kataku.
"Apa itu?" tanya Kageyama sambil memakan apel yang sudah ia kupas.
"Ini soal atribut cahaya milik Julius. Jika dibandingkan dengan lawan-lawan yang pernah kuhadapi, atributnya terasa sangat berbeda," kataku.
"Bukankah sudah jelas? Kau belum pernah melawan pemilik atribut cahaya, sebelumnya," sahut Akito dengan wajah acuh.
"Kaaakakakakakakaka! Apa maksudmu soal kepekatannya?" tanya Kageyama.
"Ya, mungkin semacam itu. Kenapa serangan-serangan atributnya terasa sangat kuat? Padahal jika dilihat sekilas, seperti tidak ada perbedaan apa pun dari atribut orang-orang yang pernah kulawan," kataku.
"Kaaakakakakakakaka! Itu karena metode kontrolnya. Semakin baik metode kontrol, semakin cepat aliran force. Semakin cepat aliran force, semakin cepat regenerasinya. Semakin cepat regenerasi, semakin banyak force yang bisa dipakai. Semakin banyak force yang bisa dipakai, semakin kuat serangan. Semakin kuat serangan, semakin besar dampaknya. Itulah kenapa, sejak awal kubilang bahwa force adalah hal terpenting dalam konsep kekuatan," jelas Kageyama.
"Ya, aku tau soal itu. Tapi, kenapa aku merasa ada yang berbeda? Mungkin seperti dampak serangan yang lebih kecil, tapi jauh lebih merusak," kataku.
"Untuk melubangi baja, menurutmu mana yang lebih baik? Peluru angin kecil super padat, atau angin tornado besar?" tanya Kageyama.
"Tentu saja, peluru angin kecil padat," jawabku.
"Yap, benar sekali. Lalu, mana yang lebih baik? Membunuh manusia dengan peluru angin kecil padat, atau angin tornado besar?" tanya Kageyama.
"Tentu saja, peluru angin kecil padat," jawabku.
"Yap, benar sekali. Hal itulah yang dilakukan Julius. Ia mengompres atribut cahayanya hingga mencapai titik terpadat yang bisa ia kendalikan. Kemudian menggunakannya untuk menyerang. Anggap saja seperti kau memadatkan badai tornado besar hingga menjadi peluru angin kecil padat. Untuk pertarungan one on one, hal itu jauh lebih efektif dari pada sekedar membuat serangan berbasis area yang lemah," jelas Kageyama.
"Tapi, bukankah hal semacam itu sangat sulit dilakukan? Apalagi dalam pertarungan," tanyaku.
__ADS_1
"Kaaakakakakakakaka! Julius itu masuk dalam jajaran Top 1 Persen Elit Dunia. Jika dia tidak bisa melakukan hal simpel seperti itu, maka dia tidak layak disejajarkan dengan mereka," jawab Kageyama.
"Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya Julius yang tiba-tiba mendatangi ruang perawatanku.
"Eh, Julius? Kenapa kau datang ke mari?" tanyaku dengan wajah panik.
"Aku datang ke sini untuk bertanya sesuatu padamu," jawab Julius.
"Apa itu?" tanyaku lagi.
"Apa impianmu?" tanya Julius.
"Lagi-lagi pertanyaan semacam ini. Kenapa orang-orang sangat suka dengan hal melow seperti ini? Aku benar-benar tidak habis pikir," pikir Akito sambil terus memakan apel di meja.
Mendengar pertanyaan itu, aku pun menjawab, "Aku ingin namaku diukir dalam sejarah, karena hanya itu satu-satunya bukti bahwa aku pernah hidup di dunia ini. Aku ingin menjadi panutan untuk generasi selanjutnya. Aku ingin mereka tau bahwa setiap orang sanggup mewujudkan mimpi mereka asalkan mau berjuang. Aku ingin setiap orang menghancurkan tembok yang selama ini menghalangi mimpi mereka. Karena aku yakin, batasan manusia adalah diri mereka sendiri."
Mendengar jawaban itu, Julius tersenyum lebar dan meletakkan tangan di wajahnya. Air matanya mengalir dari sela-sela tangan yang menutupi wajahnya. Ia telah melupakan satu hal paling penting yang harus dimiliki setiap manusia.
Saat manusia kehilangan hal tersebut, maka tidak akan ada perubahan dalam hidup mereka. Hal paling penting dan mendasar yang telah dilupakan oleh setiap manusia di zaman ini dan mambuat zaman ini menjadi surga bagi sebagian orang dan menjadi neraka untuk sebagian lainnya.
Ya, benar. Hal itu adalah impian dan harapan. Julius sadar betul bahwa mustahil merubah dunia dengan kekuatan. Menghancurkan dunia dan membangunnya kembali tidak akan menyelesaikan permasalahan. Tapi, saat setiap orang memiliki impian dan harapan, akan ada zaman di mana setiap orang bisa berdiri dan bergandeng tangan tanpa berfikir bahwa keadaan membatasi mereka.
Kalimat paling penting yang sudah dilupakan oleh manusia adalah.
Kau tidak bisa memilih di mana dan dari mana kau dilahirkan, tapi kau sendiri yang akan memilih di mana dan bagaimana kau akan mati.
Orang bisa dilahirkan dari keluarga miskin. Tapi saat ia mulai menjalani hidupnya, ia sendiri yang akan memilih apakah ia akan mati dalam keadaan miskin, atau menghancurkan batasan dan mati dalam keadaan penuh rasa hormat dari orang lain.
Julius kemudian menatap Rudi dengan tatapan hangat.
"Aku ingin menyaksikan perjalanan hidup seseorang yang namanya akan diukir dalam sejarah secara langsung. Apa kau masih punya tempat duduk untukku menyaksikan perjananan yang hebat ini?" tanya Julius padaku.
"Ya, masih banyak kursi kosong. Kau bisa duduk di mana pun. Bersantai dan silakan nikmati sebuah perjalanan hidup yang akan mengubah sejarah umat manusia," jawabku.
"Baiklah, dengan senang hati akan kunikmati setiap detik yang kau suguhkan," ucap Julius.
Aku dan Julius saling berjabat tangan sambil menguntai senyum tipis.
"Kaaakakakakakakaka!" Kageyama tertawa puas.
"Yah, tidak buruk." Akito tersenyum sambil terus memakan apel.
Dengan begitu, Julius telah resmi bergabung dalam kelompokku.
__ADS_1