
"Jika Kau benar benar menyayangi kami, lantas kenapa Kau menempatkan kami di dunia? Bukankah Kau tau akhir dari segalanya? Bukankah Kau sudah mengatur jalannya kehidupan?" tanyaku.
"Kami memang tau! Tapi, Kami tidak mengaturnya. Kalian sendiri yang mengatur jalan kalian! Jika Kami mengatur jalan kehidupan, maka kalian akan protes pada Kami saat hari penghakiman tiba. Saat hari itu tiba, kalian akan mengetahui segala rahasia yang ada. Kalian akan tau sebab dan alasan kehidupan tercipta. Neraka dan surga ada bukan sebagai tempat penyiksaan dan anugerah, melainkan tempat pertanggung jawaban atas semua tindakan yang kalian ambil. Apa kau pikir keadilan itu bisa ditegakkan di dunia? Bagaimana caramu menenggak keadilan terhadap 1 orang yang telah membunuh 1 juta nyawa? Bagaimana caramu memberi hadiah pada orang yang sudah menyelamatkan banyak nyawa? Ketahuilah, bahwa apa pun yang terjadi, 1 nyawa tidak akan bisa mengganti lebih dari satu nyawa lainnya. Karena hilangnya satu nyawa tidak hanya berdampak pada satu orang tersebut, tapi kadang juga berdampak pada hal yang jauh lebih besar lagi, begitu pula sebaliknya. Maka dari itu, surga dan neraka ada!" jawab sosok misterius itu.
Mendengar hal itu, membuatku mulai berfikir dan merenung.
Aku mencoba memikirkan tentang sebab dan alasan kehidupan tercipta. Aku juga memikirkan tentang kasih sayang yang Dia maksudkan. Akan tetapi, semakin keras aku berfikir, semakin terasa tak masuk akal dan sulit dicerna akal dan pikiran.
Sejak saat itu, aku akhirnya mulai menyadari bahwa manusia rendahan sepertiku yang bahkan tidak sanggup menjangkau alam semesta, tidak seharusnya mempertanyakan tentang sesuatu yang tidak akan bisa kupahami.
Bagaimana bisa balita sepertiku menganggap bahwa orang tuaku jahat hanya karena mereka melarangku meminum racun?
Bagaimana bisa balita sepertku mengaggap orang tuaku tidak sayang padaku hanya karena mereka memarahiku saat aku bermain api?
Aku merasa seperti seorang balita yang mempertanyakan tentang kasih sayang orang tuaku saat mereka memarahiku karena sedang bermain pisau.
Kenapa mereka memarahiku hanya karena balita sepertiku memegang pisau? Kenapa mereka langsung merebut pisau itu dengan ekspresi kesal? Apa mereka marah hanya karena aku memegang pisau? Atau justru mereka membenciku hanya karena aku memainkan pisau tersebut?
Tidak! Mereka melakukan itu karena mereka tidak mau aku terluka. Mereka melarangku meminum racun karena itu akan membuatku menderita. Mereka melarangku bermain api karena takut aku terbakar.
Bagi balita sepertiku, aku hanya akan menganggap mereka jahat karena mereka banyak memberi aturan yang rumit. Mereka terus memaksaku melakukan hal membosankan seperti belajar dan lain sebagainya.
Saat masih balita, aku memang tidak akan bisa memahami kasih sayang mereka. Tapi, saat aku sudah mulai dewasa dan berada di posisi mereka, aku akan sadar bahwa apa yang orang tuaku dulu lakukan padaku bukan karena mereka membenciku, tapi karena mereka sayang padaku.
Aku bahkan tidak bisa mendeksripsikan tentang-Nya. Lalu, kenapa aku bisa jadi terlalu lancang dengan mempertanyakan segala hal tentang kebijakan-Nya dan kasih sayang-Nya?
__ADS_1
"Sekarang pilihlah. Apa kau ingin mempertahankan kehidupan manusia? Atau justru memusnahkannya?" tanya sosok misterius itu.
"Aku ingin mempertahankannya apa pun yang terjadi!" jawabku dengan tegas.
"Apa kau sanggup menahannya? Jika kau ingin mempertahankan kehidupan manusia, kau akan menjalani kehidupan yang sangat berat yang tidak bisa dibayangkan! Kau mungkin akan mengalami keterpurukan hebat yang bahkan tidak mungkin sanggup ditahan manusia mana pun! Jika kau benar benar ingin melanjutkan hidupmu, Kami akan mengabulkannya. Tapi jika tidak, Kami sudah menyiapkan tempat terbaik untumu! Di sana, kau akan mendapat segala hal yang kau inginkan, tanpa terkecuali! Dengan segala hal itu, apa kau akan tetap teguh dengan keputusanmu?" tanya sosok misterius itu lagi.
"Aku tidak punya pilihan lain karena aku tidak ingin menghilangkan kehidupan manusia! Tidak seharusnya manusia rendahan sepertiku layak menyingkirkan milyaran manusia lain!" jawabku.
"Dengan segala hal yang ada di dunia, apa kau masih berfikir bahwa manusia layak tetap dipertahankan? Sekali lagi Kami tanya padamu. Apa kau benar benar yakin dengan keputusanmu?" tanya sosok misterius itu dengan nada tegas.
"Aku akan memperjuangkannya, bahkan jika harus mengalami siksaan sepanjang hidupku," jawabku dengan tegas.
"Di antara banyaknya kehidupan yang tak terhitung jumlahnya, kau adalah salah satu alasan tentang terciptanya dunia. Karena keberadaanmulah, dunia ada. Dan kerena itu yang kau pilih, maka Kami akan memberimu kesempan kedua. Sekarang, bangunlah dari tidurmu karena ada banyak hal yang menantimu di masa depan!" kata sosok misterius itu dengan nada lembut menyejukkan hati dan pikiran.
Sesaat sebelum benar benar menghilang, aku merasakan sebuah hawa kehadiran yang sangat luar bisa hingga tak sanggup dijelaskan dengan kata kata. Dan itu membuatku merasakan sebuah kenikmatan yang tak sanggup diungkapkan.
.
.
"Bagun! Mau sampai kapan kau terus tidur?" bentak salah satu orang yang sering menyiksaku sambil terus menedang badanku.
Aku pun bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Luka luka yang kualami dari siksaan terakhir kali juga sudah mulai mengering.
Orang tersebut kemudian menjambak rambutku sambil menyeretku.
__ADS_1
"Waktunya penyiksaan!" kata orang tersebut sambil terus menjambak dan menyeretku ke tempat penyiksaan.
Saat sedang diseret ke tempat penyiksaan, aku terus memegangi tangan orang itu sambil meringis kesakitan.
Sesampainya di tempat penyiksaan, orang itu kemudian mengikat kedua tangan dan kakiku ke tiang berbentuk silang, seperti biasa.
Di sana, aku melihat ada 10 orang, termasuk orang yang telah menyeretku keluar dari sel.
Kesepuluh orang itu kemudian mulai bersenang senang dengan mencambukku dengan tali yang terasa sangat menyakitkan, karena seolah ada energi yang terkandung di dalamnya.
Seperti biasa, aku terus tertawa lantang saat cambukan demi cambukan itu menyentuh tubuhku.
Tapi, kali ini tawaku berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya aku tertawa karena kebencian dan kehilangan akal, saat ini aku tertawa lantang dengan mata penuh harapan.
"Haaahahahahahahaa! Haaahahahahahahaha!" Aku terus tertawa lantang dengan sorot mata memancarkan harapan.
Kesepuluh orang yang sedang menyiksaku nampak heran saat melihat sorot mataku yang berbeda dari sebelumnya.
"Apa apaan bocah ini? Bukankah sebelumnya di sudah gila? Kenapa sekarang sorot matanya seolah memancarkan harapan? Apa yang terjadi padanya?" tanya salah satu orang di sana sambil terus mencambukku.
"Mungkin, dia mengalami sesuatu yang luar biasa! Haaahahahahahaha!" sahut orang kedua sambil terus mencambukku.
"Apa pun itu, jika akalnya sudah kembali, maka penyiksaan ini akan terasa jauh lebih menyenangkan. Aku sudah bosan mendengar tawa gilanya. Menurutku, tawanya saat ini terasa jauh lebih enak didengar!" sahut orang ketiga sambil terus mencambukku.
"Jika begini, kita bisa terus bersenang senang sambil menghancurkan harapannya! Aku tidak tau kalau menyiksa anak ini bisa terasa sangat menyenangkan, seperti segala beban hidupku menghilang! Haaahahahahaha!" kata orang keempat sambil terus mencambukku.
__ADS_1