
Setelah berhasil menglahkan semua pihak yang terlibat dalam pertempuran di Ibukota Roland, aku dan Akito beristirahat sebentar sambil membersihkan darah yang menyelimuti tubuh kami.
"Oi, Akito. Bagaimana soal rampasannya?" tanyaku sambil mengelap darah di tubuhku.
"Heh? Benar juga! Kalau begitu, ayo minta ke mereka," jawab Akito yang juga sedang membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan darah di tubuh, kami pun berjalan mendekati tubuh Gary yang sudah terkapar lemas.
"Oi, bangun bajingan!" kataku sambil sedikit menendang tubuh Gary.
"A-Apa yang kalian inginkan?" Gary bertanya lirih sambil berbaing di tanah.
"Tentu saja semua uangmu! Apa kau tidak pernah dengar ungkapan Winner Take All?" tanyaku.
"Kalian sudah menghajarku dan masih menginginkan uangku?" Gary bertanya dengan tubuh lemas.
"Tentu saja! Kau pikir kami bisa hidup tanpa uang, hah? Kau sudah kalah. Jadi, semua uangmu menjadi milik kami sekarang!" bentakku.
"Aku tidak mau memberikannya pada kalian," balas Gary.
"Oh, begitu rupannya. Oi, Akito. Bukankah manusia satu ini sudah tidak berharga lagi?" tanyaku sambil mengepalkan tangan.
"Ya. Lagi pula, kita tidak membunuhnya karena mengincar uangnya. Kalau dia tidak mau memberikannya, maka tidak ada pilihan lain. Ayo penggal kepalanya," jawab Akito sambil mengalirkan force ke tangannya.
Dengan tatapan membunuh, aku dan Akito bersiap memenggal kepala Gary.
Melihat hal itu, Gary pun berkeringat dingin dan memutuskan untuk memberikan apa yang kami minta.
"Baiklah, baiklah. Akan kuberikan semua uangku. Tapi, jangan apa-apakan aku, ok!"
"Seharusnya kau bilang itu dari awal," kataku dengan wajah puas.
Aku pun mulai membopong tubuh Gary yang sudah tidak sanggup berjalan.
"Hei, kau benar-benar manja. Seharusnya kau jalan sendiri," kataku sambil mengangkat tubuh Gary.
"Mau bagaimana lagi? Kalianlah yang sudah membuatku jadi seperti ini," sahut Gary.
"Lalu di mana letak dua lainnya?" Akito menanyakan soal Hendri dan Ciel.
"Hendri ada di sana. Tapi, kalau yang satunya aku tidak tau," jawabku sambil menunjuk ke suatu arah.
Kami pun berjalan ke tempat Hendri dan akhirnya sampai di sana.
Saat pertama kali melihat kondisi Hendri, Akito langsung menegurku.
"Bukankah kau sedikit kejam? Kenapa sampai memotong tangan kanannya?"
"Mau bagaimana lagi? Dia hampir membunuhku. Kalau tidak begini, bisa-bisa aku yang mati," jawabku.
Saat melihat tubuh babak belur dan tangan kanan Hendri yang terpotong, membuat Gary terkejut.
"Siapa sebenarnya anak ini? Dia bahkan sanggup membuat Hendri hingga seperti ini," pikir Gary sambil melihat ke arah Rudi.
"Oi, bangun pecundang!" kataku sambil sedikit menendang kaki Hendri.
Hendri pun membuka matanya.
"Apa yang kalian inginkan? Bukankah kau sudah menang? Apa kau tidak puas dengan itu?" Hendri bertanya dengan nada lirih.
"Aku tidak akan puas sebelum menguras semua uangmu," jawabku santai.
"Apa? Kenapa kalian menginginkan uangku?" tanya Hendri.
"Ah, lagi-lagi pertanyaan bodoh itu lagi. Begini, ya. Aku ini manusia. Manusia butuh makan. Untuk membeli makanan, butuh uang. Jika aku tidak punya uang, maka aku tidak bisa makan. Jadi, aku sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Lagi pula, kau sudah kalah. Jadi, semua uangmu juga menjadi milik kami. Apa kau tidak pernah dengar ungkapan Winner Take All?" tanyaku.
"Kenapa orang seperti kalian tidak punya uang? Bukankah dengan kemampuan seperti itu, akan ada banyak orang yang mememberikan kalian uang?" tanya Hendri.
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau berdebat denganmu. Sekarang jawablah. Kau mau memberikan uangmu atau tidak?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak," jawab Hendri singkat
"Oi, Akito," kataku sambil melihat ke arah Akito.
"Ya," sahut Akito sambil bersiap menghancurkan kepala Hendri.
Melihat hal itu, Hendri pun berubah pikiran dan memilih untuk memberikan uangnya.
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti."
"Cih ... seharusnya kau bilang itu dari awal!" ucapku dengan wajah ketus.
Akito pun membopong tubuh Hendri yang tergulai lemas di tanah.
Saat Hendri sudah berada di pundak Akito, ia melihat Gary yang sedang dibopong Rudi di punggungnya.
"Apa mereka juga memintamu menyerahkan uang?" Hendri bertanya pada Gary yang sedang dibopong oleh Rudi.
"Ya. Lagi pula, aku lebih memilih nyawaku dari pada uang," jawab Gary.
"Haaahahahahahahaha! Apa kau dengar itu, Akito? Sekumpulan pecundang sedang berbicara," kataku dengan wajah bahagia.
"Itu terdengar cukup menarik," jawab Akito.
"Kan, Haaahahahahahahaha!" kataku sambil tertawa puas.
"Ya, haaahahahahahahahaha!" Akito juga tertawa puas.
"Cih ... mereka benar-benar bajingan!" pikir Hendri dan Gary saat melihat tawa puas Rudi dan Akito.
Tidak puas dengan dua orang, aku dan Akito terus mencari keberadaan pemimpin kelompok Ciel.
"Bukankah kau bilang dia di sini? Jangan coba-coba membohongiku, bajingan!" bentakku pada Hendri.
"Sebelumnya, dia memang di sini. Aku tidak berbohong. Mungkin saja, dia terlempar jauh karena ledakan yang sebelumnya," sahut Hendri.
"Cih ... benar-benar merepotkan. Oi, Akito. Apa kita lupakan saja satu orang itu?" tanyaku.
Mendengar pembicaraan Rudi dan Akito, Hendri dan Gary pun saling pandang, seolah mereka telah merencanakanan sesuatu.
"Kalian tidak boleh melepaskan Ciel. Di antara kami bertiga, harta kelompok Ciel adalah yang terbesar. Jika kalian melakukannya, kalian akan rugi besar," kata Gary yang mencoba memprovokasi Rudi dan Akito.
"Eh, benarkah? Kalau begitu kita harus mencari bajingan itu. Kita tidak boleh melepaskan tangkapan besar. Benarkan, Akito?" tanyaku.
"Benar. Kita harus mencarinya. Bahkan jika harus mengorek setiap batu di sini," jawab Akito sambil berapi-api.
Rudi dan Akito bersemangat untuk mencari Ciel. Sedangkan, Hendri dan Gary tersenyun licik.
"Benar. Kalian tidak boleh melepaskannya. Aku tidak rela jika kalian membiarkan orang itu begitu saja," pikir Hendri dan Gary kompak.
Setelah 10 menit mencari, kami tidak kunjung menemukan Ciel.
"Cih ... di mana ladang emas kita pergi? Apa dia bersembunyi di lubang semut atau semacamnya?" Aku mulai merasa geram.
"Sialan! Jika kita tidak segera menemukannya, ini akan sangat berbahaya. Aku tidak mau ada pihak lain yang tiba-tiba datang saat kondisi kita seperti ini," jawab Akito.
Saat kami sedang panik dikejar waktu, tiba-tiba muncul seorang pria misterius yang membawa Ciel ke hadapan kami.
"Apa kalian mencari orang ini?" tanya pria itu pada kami.
"Lepaskan aku!" Ciel berusaha memberontak.
"Eh, bukankah kau orang yang sebelumnya?" tanyaku.
"Kaaakakakakakakakaka! Kau masih mengingatku, ya?" Pria itu bertanya balik.
"Tentu saja, kaulah yang sudah menyelamatkan kami dari kejaran Jendral Besar Roland. Jadi, bagaimana bisa aku melupakanmu," jawabku.
"Namanya Kageyama. Dialah yang sudah memberiku obat itu," sahut Akito.
__ADS_1
"Eh, jadi orang itu?" tanyaku dengan wajah terkejut.
"Ya, benar," jawab Akito singkat.
Beberapa waktu sebelumnya. Tepatnya, saat Akito pertama kali datang ke medan pertempuran Rudi melawan keempat Jendral Roland.
"Bagaimana lukamu?" tanya Rudi.
"Jangan Bodoh. Jika dibandingkan dengan luka-lukamu, lukaku ini hanya seperti goresan kecil," jawab Akito.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita selesaikan pertempuran ini," kata Rudi.
"Tapi sebelum itu, minum ini." Akito memberikan sebutir obat kepada Rudi.
"Obat apa ini?" tanya Rudi.
"Morfin. Itu bisa mengurangi rasa sakitmu," jawab Akito.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Rudi.
"Dari pria bernama Kageyama. Dia bilang pernah bertemu denganmu sebelumnya. Apa kau ingat?" tanya Akito.
"Hmm ... entahlah. Aku tidak terlalu ingat," jawab Rudi sambil berusaha mengingatnya.
Karena bantuan obat morfin itu, Rudi dan Akito bisa mengatasi keempat jendral dengan mudah dan berhasil menyelesaikan pertempuran itu sebagai pemenang.
Kembali ke saat ini.
"Terimakasih soal obat itu. Jika bukan karena obat itu, mungkin aku tidak akan sanggup bertahan hingga akhir," kataku sambil sedikit menundukkan kepala.
"Kaaakakakakakakaka! Bukan masalah besar. Lalu, mau kalian apakan mereka?" Kageyama bertanya soal Hendri, Gary, dan Ciel.
"Tentu saja menguras semua isi dompet mereka hingga kering," jawabku.
"Kaaakakakakakakaka! Kalian benar-benar orang yang nyentrik. Kalau begitu, apa aku boleh membantu? Sepertinya kalian akan kesulitan membawa yang satu ini (Ciel)," kata Kageyama.
"Oh, terimakasih banyak. Kau benar-benar sangat membantu," sahut Akito.
Aku, Akito, dan Kageyama pun membawa ketiga pemimpin dari ketiga kelompok ke markas mereka masing-masing untuk menguras semua uang mereka.
Di markas pusat militer negara Roland, para petinggi negara tengah berdiskusi untuk menetukan langkah yang akan mereka ambil.
"Kita harus mengirim pasukan untuk menghabisi dua bocah itu."
"Apa kau pikir mereka sanggup melakukannya? Ratusan pasukan elit yang dipimpin para jendral dan jendral besar saja tidak sanggup mengatasi mereka."
"Itu mungkin ide bagus. Jika melihat situasi mereka yang sedang terluka, aku yakin mereka tidak akan sanggup menghadapi jumlah pasukan dalam skala besar."
"Apa kau tidak melihat serangan yang terakhir itu? Ledakan semacam itu bisa saja menghabisi ribuan pasukan dalam sekejap mata."
"Itu adalah serangan yang dilancarkan Hendri, bukan bocah itu. Kenapa kita harus takut?"
"Apapun itu, bocah itu sanggup menahannya. Apa kau masih bisa berbicara seperti itu?"
"Cukup, kalian semua! Ini adalah kekalahan kita. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Dari pada memikirkan kedua bocah itu, lebih baik kita pikirkan apa yang harus kita lakukan dengan semua kerusakan yang terjadi."
"Aku setuju. Jika kita menelan kerusakan yang lebih besar lagi, negara ini akan tamat."
"Bukankah kita tetap bisa membangun negara ini lagi?"
"Tentu saja. Asal negara lain tidak bergerak."
"Itu benar. Dengan jatuhnya para petinggi dan elit militer, negara ini benar-benar sedang berada di ujung tanduk. Kita hanya bisa berharap negara lain tidak bergerak untuk menginvasi kita."
"Sialan. Gara-gara dua bocah itu, kita benar-benar harus menelan pil pahit."
"Kita harus mencari bantuan ke negara lain atau kelompok besar agar stabilitas negara tidak hancur."
"Ya, kita tidak punya pilihan lain."
__ADS_1
Setelah diskusi panjang, para petinggi negara Roland akhirnya sepakat untuk mengutamakan stabilitas negara dari pada membalas kekalahan mereka.