
5 jam pasca insiden hancurnya setengah kota Berlin, Ibukota Roland.
Setelah merampas semua harta milik ketiga kelompok besar ibukota, Rudi sekarang memiliki uang sebesar 55 juta gale di tabungannya. Dengan uang sebanyak itu, setidaknya cukup untuk biaya hidup selama beberapa tahun ke depan.
Saat ini, aku, Akito, dan Kageyama sedang beristirahat di hutan perbatasan negara Roland.
"Fouyooo ... kita kaya sekarang!" Aku benar-benar senang saat melihat nominal uang yang tertera di tabunganku.
"Rudi, Ayo beli mobil. Dengan uang sebanyak itu, seharusnya tidak masalah membeli satu atau dua mobil, kan?" tanya Akito girang.
"Ide bagus, Akito! Kalau begitu, ayo pergi ke toko mobil!" kataku dengan penuh semangat.
"Kaaakakakakakakaka! Kalian benar-benar bersemangat," kata Kageyama yang masih mengikuti kami.
"Oh, iya. Kenapa kau masih mengikuti kami? Apa kau berniat bergabung dengan kami?" Akito bertanya pada Kageyama.
"Aku hanya ingin mengikuti kalian sedikit lebih lama. Apa kalian keberatan?" tanya Kageyama.
"Tidak! Asal kau tidak ikut menghabiskan uang kami. Haaahahahahahahaha!" jawabku penuh tawa.
"Kaaakakakakakakaka! Tenang saja. Aku tidak akan mengambil sepeser pun dari kalian," jawab Kageyama.
"Bagus kalau begitu. Kan, Akito? Haaahahahahaha!" kataku dengan perasaan gembira.
"Ya, benar! Haaahahahahahahaha!" sahut Akito yang juga terlihat sangat gembira.
Aku dan Akito sangat senang karena untuk pertama kalianya, kami memiliki uang sebesar itu dalam tabungan kami.
"Soal insiden sebelumnya, kuharap kita tidak mendapat harga buronan," kataku.
"Ya, aku juga berfikiran sama. Kalau kita mendapat harga buron, akan sangat sulit untuk memasuki kota atau negara lain," sahut Akito.
Mendengar itu, Kageyama sedikit tersenyum.
"Aku pergi dulu. Ada hal yang harus kuurus," kata Kageyama.
"Apa kau akan kembali?" tanyaku pada Kageyama.
"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja," jawab Kageyama.
"Kalau begitu, kami akan menunggumu di sini," kata Akito.
Di Berlin, Ibukota Roland, orang-orang sedang berdemo di depan kantor pusat pemerintahan negara. Mereka semua menuntut agar kelompok Rudi bisa segera ditangkap.
"Cepat tangkap dan habisi mereka!"
"Buru mereka. Jangan biarkan mereka lepas!"
"Kenapa negara Roland diam saja melihat tragedi semacam ini? Apa nyawa orang-orang seperti kami tidak berharga di mata kalian?"
"Kami akan memboikot ibukota jika mereka tidak segera ditangkap."
"Buru dan tangkap mereka."
Orang-orang yang berdemo di depan kantor pusat pemerintah negara Roland, adalah mereka yang dirugikan karena dampak pertempuran itu.
Beberapa orang mengutuk Rudi dan kelompoknya karena dianggap sebagai penyebab tragedi berdarah itu.
Pertarungan Rudi melawan para petinggi militer dan ketiga kelompok besar melahirkan tragedi berdarah di sana. Banyak orang meninggal dan kehilangan tempat tinggal karenanya.
__ADS_1
Banyak nyawa yang akhirnya harus dikorbankan, di saat hal semacam itu seharusnya bisa dihindari.
Bagi mereka yang harus menelan pil pahit tersebut, mereka tidak punya pilihan selain menyalahkan kelompok Rudi karena telah menghancurkan harta berharga dan merenggut nyawa orang-orang yang mereka sayangi. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya Rudi selamatkan pun seolah tidak perduli. Karena bagaimanapun juga, setitik kejahatan akan jauh lebih menonjol dari pada 1.000 kebaikan.
Hal itu semakin diperparah karena pemerintah juga mulai memanipulasi media. Para media yang sebelumnya memuji kelompok Rudi, kini berbalik menuduhnya sebagai biang dari tragedi tersebut.
Beberapa media di sana mengabarkan bahwa Rudi dan kelompoknya berniat menjatuhkan pemerintah negara Roland dan berniat menguasainya. Tapi, Jendral Besar Hans dan para petinggi lainnya berdiri di garda terdepan untuk menghalaunya. Para petinggi yang berusaha melindungi kota dari ancaman, harus terluka berat hingga nyaris kehilangan nyawa akibat pertarungan itu.
Karena berita yang dimanipulasi, penduduk ibukota benar-benar marah dan menginginkan pemerintah negara Roland untuk menangkap dan mengeksekusi Rudi beserta kelompokknya di hadapan publik.
Di sebuah ruang khusus di kantor pusat pemerintah negara Roland, para petinggi sedang berdiskusi untuk menentukan langah yang akan mereka ambil.
"Bagaimana hasilnya?" tanya sang pemimpin negara.
"Kita berhasil memanipulasi media dan membungkam semua pihak yang pro terhadap kelompok bocah itu. Hanya saja ...." jawab salah satu petinggi negara.
"Hanya saja?" tanya sang pemimpin negara.
"Hanya saja, karena berita yang simpang siur, masyarakat sekarang malah terbagi menjadi 2 kubu. Ada yang pro dan kontra."
"Biarkan itu berjalan sebagaimana semestinya? Hal semacam itu tidak akan bisa kita hindari. Lalu bagaimana dengan harga buronannya?" tanya sang pemimpin.
"Kami berniat mengedarkan buronan senilai 1.000.000 gale untuk kepala masing-masing dari mereka."
"Kaaakakakakakakaka! Sebaiknya kalian coret nama kedua bocah itu dari daftar," kata pria misterius yang tiba-tiba datang ke ruang khusus rapat para petinggi.
"Siapa kau? Beraninya kau datang ke sini tanpa izin!"
"Kaaakakakakakakakaka! Apa kalian tidak senang dengan itu?" tanya pria misterius itu lagi.
"Hei, panggil penjaga. Penjaga! Kenapa para penjaga membiarkan orang ini masuk sembarangan?"
"Heh?"
Setelah melihat ke luar ruangan, para petinggi di sana terkejut melihat para penjaga telah tergeletak di lantai.
"Siapa kau? Kenapa kau menerobos masuk ke sini?"
"Aku? Maaf atas kelancanganku. Namaku Kageyama Arinto. Aku datang ke sini untuk meminta baik-baik agar kalian tidak mengeluarkan harga buronan kepada 2 bocah yang sudah menghancurkan ibukota," jawab Kageyama.
"Apa? Kageyama Arinto? Apa kau memiliki hubungan dengan kedua bocah itu?"
"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Kageyama.
"Kami tidak bisa melakukannya. Kedua bocah itu sudah menghancurkan hampir separuh ibukota dan menggalahkan para jendral dan jendral besar. Kami tidak bisa membiarkannya begitu saja," kata salah satu petinggi di sana.
"Kaaakakakakakakaka! Jadi kalian menolak permintaanku?" tanya Kageyama.
"Tunggu! Kami menyetujui permintaanmu! Asal kau bisa membayar semua kerugian akibat kehancuran yang disebabkan kedua bocah itu," kata sang pemimpin negara.
"Pak, kenapa Anda menyetujuinya? Jika begini, nama kita akan tercoreng di mata pub ...." Belum selesai dia berbicara, pemimpin negara langsung memotongnya.
"Diamlah! Ini adalah keputusanku!" potong pemimpin negara.
"Kaaakakakakakakakaka! Tidak masalah membayar itu semua. Kirimkan saja tagihannya ke namaku. Akan kubayar semua kerugian kalian!" kata Kageyama.
"Baiklah! Kalau begitu, kami akan mencabut harga buronan terhadap kedua bocah itu!" kata sang pemimpin negara.
"Kaaakakakakakakaka! Kalau begitu, urusanku di sini sudah selesai," kata Kageyama sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Pak, kenapa Anda menyetujuinya?"
"Benar, Pak! Walaupun dia bisa membayar semua kerugian kita, tidak seharuanya kita melepaskan kedua bocah itu begitu saja!"
"Diamlah, kalian semua! Kalian tidak tau siapa Kageyama Arinto yang sebenarnya. Kita tidak akan bisa berurusan dengan bocah itu," kata sang pemimpin negara.
Mendengar hal itu, para petinggi pun terdiam tanpa bisa membantah.
Keesokan harinya.
Di markas sementara kelompokku, aku sedang bersantai sambil melihat surat kabar.
"Lihatlah ini? Bukankah ini aneh? Kenapa hanya kita yang tidak punya harga buronan?" tanyaku sambil menyodorkan surat kabar yang kupegang.
Walaupun aku tidak bisa baca tulis, setidaknya aku bisa mengerti soal poster buronan. Dan di surat kabar itu, aku tidak melihat ada poster buronan atas namaku.
"Benar juga. Bukankah seharusnya nama kita juga tertera di sana?" tanya Akito heran.
"Kaaakakakakakakakaka! Apa kalian tidak suka dengan itu?" tanya Kageyama.
"Tentu kami sangat senang karena tidak mendapat harga buron, mengingat akan sangat sulit bergerak bebas jika nama kita ada di sana. Hanya saja, itu rasanya sangat aneh," jawabku sambil memikirkan sesuatu.
"Kaaakakakakakakaka! Bukankah itu bagus?"
"Hmm ... mungkin mereka tidak punya cukup uang untuk menjadikan nama kita sebagai buronan," sahut Akito.
"Jangan bercanda! Kita bahkan tidak merampok mereka sedikit pun. Walaupun sebenarnya aku ingin melakukannya," kataku dengan penuh penyesalan.
"Dari pada itu, mereka membalikkan fakta dengan menuduh kita ingin menguasai ibukota." Akito benar-benar jengkel saat mengetahui berita palsu di surat kabar lokal tersebut.
Akito mengetahui soal isi surat kabat itu setelah mendengar penjelesan dari Kageyama.
"Kaaakakakakakakakaka! Kau harus terbiasa dengan itu. Ke depannya, mungkin kita akan dituduh sebagai pembunuh berantai atau semacamnya," sahut Kageyama sambil meminum bir.
"Mereka benar-benar sekumpulan sampah!" Aku terus menggerutu.
"Oi, Kageyama. Aku penasaran, bagaimana kelompok-kelompok besar bisa bertahan di dunia yang seperti ini?" tanyaku.
"Bertahan? Kaaakakakakakakaka! Mereka tidak bertahan atau semacamnya. Justru, merekalah yang mengatur dunia dari bayang-bayang."
"Apa maksudmu?" Aku cukup terkejut setelah mendengar jawaban Kageyama.
"Di dunia ini ada yang namanya simbiosis mutualisme. Mereka yang lemah akan berlindung pada yang lebih kuat. Apa kau tau bagaimana negara-negara kecil dan lemah sanggup bertahan di antara negara-negara besar dan adidaya?" tanya Kageyama dengan wajah serius.
"Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya."
"Negara kecil dan lemah punya dua cara agar mereka bertahan. Beraliansi dengan kelompok besar atau beraliansi dengan negara yang lebih kuat. Mereka yang lebih kuat akan mendapat uang. Sedangkan yang lebih lemah mendapat perlindungan," jelas Kageyama.
"Ah, jadi begitu rupanya," sahutku.
"Lalu, apa untungnya mereka beraliansi dengan kelompok? Bukankah beraliansi dengan negara kuat jauh lebih menguntungkan?" tanya Akito.
"Banyak hal yang bisa didapat dengan beraliansi dengan suatu kelompok. Terutama soal politik," jawab Kageyama.
"Ah, aku mengerti sekarang. Bisa dibilang, beraliansi dengan kelompok sama halnya dengan memiliki pasukan yang tidak bisa dipengaruhi pihak lain. Begitukah?" tanyaku.
"Yap, benar sekali. Tapi tidak semua kelompok bebas dari politik. Beberapa kelompok besar juga memiliki hubungan dengan banyak negara adidaya demi kepentingan pribadi masing-masing," jawab Kageyama.
"Aku tidak menyangka. Ternyata, dunia ini jauh lebih rumit dari yang kupikirkan," kataku.
__ADS_1
"Kaaakakakakakakaka! Tenang saja. Kau tidak perlu memikirkan hal semacam itu. Jika kau berniat menjadi yang terkuat, maka orang-orang akan mulai menjilat kakimu untuk sekedar menggunakan namamu di belakang mereka," jelas Kageyama.