The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 43 - Tenang Sebelum Badai


__ADS_3

Keesokan harinya, aku dan kelompokku melakukan rapat strategi bersama Andre dan para eksekutifnya. Dalam rapat itu, kami ingin mematangkan strategi penyerangan kelompok All Stars Nero.


"Aku ingin kalian menjadi umpan untuk menarik perhatian musuh," kataku pada Andre dan kelima eksekutifnya.


"Jangan bercanda! Mana mungkin kami mau melakukan hal semacam itu? Apa kau pikir kelompok kami selemah itu? Jika kau ingin menyerang mereka? Maka kita lakukan bersama," kata Drian, salah satu eksekutif Andre.


Melihat Drian yang sedang dibakar emosi, membuat Andre mencoba menenangkannya. "Kita dengarkan dulu strateginya. Jika memang itu merugikan kita, maka kau bebas protes."


"Kenapa kau bisa selembek ini? Apa kau sudah diperdaya mereka? Andre yang kukenal tidak akan mau melakukan hal semacam ini demi sebuah tujuan," kata Liam, salah satu eksekutif Andre, dengan nada penuh emosi.


"Diamlah, Liam! Bukankah sudah kukatakan, dengarkan dulu baru protes!" sahut Andre dengan tatapan tajam.


Karena melihat ekspresi itu, semua eksekutif Andre pun diam dan kembali tenang.


Aku kemudian kembali menjelaskan. "Dengarkan aku. Aku tidak meminta kalian mengorbankan nyawa atau semacamnya. Aku hanya ingin kalian menjadi pusat pengalihan dari kelompok Nero. Kita akan menyerang mereka dengan beberapa tahap. Pertama adalah pengalihan, kedua hentakan, dan ketiga penghabisan. Jika salah satu tahapannya gagal, maka penyerangan ini akan sangat berantakan. Kami akan menjadi pihak yang mengambil tahap kedua dan ketiga. Sedangkan kalian akan berperan di tahap pertama."


"Bukankah itu artinya kalian ingin mengambil semua pencapaian besarnya?" tanya Andre.


"Apa kalian sanggup menggantikan peran kami?" Aku bertanya balik.


Andre tersenyum tipis menanggapi pertanyaan itu. "Baiklah, kami akan jadi umpan," Andre berhenti sejenak. Kemudian kembali melanjutkan perkataannya sambil melirik tajam ke arahku. "Tapi, kalian harus menjamin keberhasilannya. Aku tidak mau membuang tenaga percuma."


"Tenang saja. Sebagai pemimpin dalam pertempuran ini, akan kupastikan kita pulang dengan kemenangan," kataku dengan senyum tipis dan tatapan tajam.


"Hoi, kapan kami setuju kau jadi pemimpin dalam pertempuran ini?" tanya Lucas, salah satu eksekutif Andre, padaku.


"Kaaakakakakakakakaka! Dia memang selalu seperti itu. Jadi, abaikan saja." Kageyama berniat mengejekku.


"Ya, dia bahkan mengakui dirinya sebagai pemimpin tanpa persetujuan kami." Akito ikut mengejek.


"Dia benar benar orang yang merepotkan." Yuta pun ikut mengejek.


"Ahem ...." Julius batuk kecil berniat mengejekku.


"Hei, bukankah kita sudah sepakat bahwa akulah pemimpin di sini?" tanyaku dengan nada kesal.


"Ya, kau mengangkat dirimu sebagai pemimpin tanpa persetujuan kami," jawab Yuta cuek.


"Apa kalian semua lupa saat ingin bergabung dengan kelompokku tempo hari? Kalian bahkan mengenalkan diri dan meminta dengan hormat padaku," sahutku dengan perasaan jengkel.

__ADS_1


"Jangan bahas itu lagi, sialan!" Yuta memukuliku.


Akito, Kageyama, dan Julius pun ikut memukuliku, walaupun sebenarnya mereka melakukan itu hanya untuk bersenang senang.


Melihat hal itu, membuat Andre dan para eksekutifnya bingung. Mereka benar benar mempertanyakan keberhasilan misi yang akan mereka jalani.


"Apa kita akan baik-baik saja?" tanya Wendi, salah satu eksekutif Andre.


"Haaahahahahahahaha! Entahlah," jawab Andre.


Kami kembali melanjutkan rapat.


Setelah rapat berakhir, kami langsung bersiap menuju wilayah kekuasaan kelompok Nero. Kami ingin segera melancarkan serangan sebelum pihak lawan benar benar mengantisipasi pergerakan kami.


Aku bersama 4 anggotaku dan Andre bersama kurang lebih 100 anggotnya, mulai bergerak menuju wilayah barat kekuasaan kelompok Nero secara diam diam.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, kami akhirnya sampai di wilayah perbatasan barat kelompok Nero.


Kami sampai di sana sore hari.


Karena sudah merencanakan akan menyerang pada malam hari, kami pun beristirahat sebentar sembari menunggu malam tiba.


Sembari menunggu malah tiba, aku dan kelompokku kembali membahas soal strategi bersama Andre dan para eksekutifnya.


"Kenapa kita tidak menyerang bersama? Bukankah itu jauh lebih efektif?" tanya Liam, salah satu eksekutif Andre.


"Jika kita menyerang bersama, itu akan menimbulkan perhatian yang jauh lebih besar. Kalau hal semacam itu terjadi sejak awal, maka negara negara dan kelompok lain yang memiliki koneksi dengan Nero akan datang membantu. Kalau hal itu sampai terjadi, perang ini akan jadi perang yang sulit dimenangkan. Bahkan, kemungkinannya mendekati nol!" jawabku.


"Lalu, bagaimana jika aliansi mereka tetap datang walaupun dengan strategi ini?" tanya Liam.


"Kemungkinanya kecil. Jika mereka tau bahwa yang menyerang bukan lawan yang perlu dikhawatirkan, pihak lain tidak akan terjun untuk membantu. Kalian bertugas membuka jalan dan kami akan mengambilnya untuk langsung merangsek masuk. Kita lakukan dengan cepat agar pihak lain tidak sempat membantu," jawabku.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi, berapa kemungkinan berhasilnya strategi ini?" tanya Andre.


"20 persen ... soal para keroco, itu bisa diatasi dengan mudah. Ancaman sebenarnya adalah jumlah orang orang kuat di kelompok mereka jauh lebih banyak dari pada yang bisa kita tangani. Sehingga, membuat persentasi keberhasilannya sangat kecil. Kemungkinan itu bahkan bisa semakin menurun tergantung masing masing dari kita. Jadi, pastikan agar kalian bisa mengalahkan orang yang menjadi lawan kalian masing masing," jawabku sambil menjelaskan kepada semua orang di sana.


"Lalu, siapa yang akan menjadi lawan Nero?" tanya Lucas, salah satu eksekutif Andre.


"Aku!" jawabku dengan tegas. Kemudian melanjutkan, "Akulah yang akan melawannya. Sebagai pemimpin di sini, aku akan mengambil tanggung jawab terbesar!"

__ADS_1


"Kaaakakakakakakakaka! Dia berulah lagi." Kageyama mengejekku yang lagi lagi berlagak seperti pemimpin.


"Kepribadiannya sangat buruk," ejek Yuta.


"Memang seperti itulah Rudi yang kukenal," ejek Akito.


Julius hanya tersenyum sinis, berniat mengejek juga.


Kami semua akhirnya sudah menyelesaikan persiapan terakhir sebelum mulai melakukan serangan malam.


Di sisi lain, para anggota Andre sedang beristirahat sambil membicarakan pertempuran yang akan segera terjadi.


"Hei, bagaimana menurutmu? Apa kau pikir kita bisa menang?"


"Bukankah Bos Andre sudah mengatakannya sendiri, bahwa kita pasti akan menang?"


"Ya, aku tau. Hanya saja, aku tidak yakin orang seperti kita bisa kembali dengan selamat."


"Jangan bodoh! Bos Andre tidak mungkin mengorbankan kita begitu saja. Dia pasti sudah merencanakan strategi terbaik bersama orang orang itu."


"Aku tau! Tapi, sebaik apa pun strateginya, kalau kita tidak bisa menjaga diri sendiri, bukankah itu sama saja dengan kematian?"


"Itu artinya kau terlalu lemah! Jadi, jangan salahkan orang lain kalau kau pulang hanya tinggal nama."


"Aku tau itu, dasar bodoh! Hanya saja, perasaanku sangat takut! Aku seperti ingin kembali dan tidak melakukan pertempuran ini!"


"Jangan bodoh! Kita ke sini bukan hanya untuk diri sendiri. Kita ke sini untuk membalaskan dendam keluarga, sahabat, dan orang orang tercinta yang sudah mereka rebut! Maka dari itu, apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyesal walaupun harus mengorbankan nyawa demi menghabisi kelompok para bajingan itu!"


"Ya, aku setuju! Mereka sudah merenggut Adik, Ayah, Ibu, dan semua orang yang kucintai. Akan kubuat mereka membayar atas semua kelakuan keji mereka!"


"Ya, ayo bantai mereka!"


"Ayo balaskan dendam orang orang yang kita cintai!"


"Ya!"


Semua anggota kelompok Andre bersorak. Mereka berniat membantai kelompok Nero demi membalaskan dendam mereka dan orang orang yang mereka sayangi.


"Hei, diamlah! Apa kalian tidak tau kalau kita sedang berada di dekat wilayah pertasan musuh, hah?" bentak Andre karena anggotanya terus berisik.

__ADS_1


"Ma-Maafkan kami, Bos!" ucap serempak semua orang itu.


Pertempuran besar yang melibatkan banyak individu kuat, akan segera pecah.


__ADS_2