The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 91 - Pertempuran Kedua Belah Pihak


__ADS_3

Di salah satu medan perang, Julius sedang menghadapi pemimpin kelompok Charles.


Julius melesat maju sambil mengayunkan pedang cahayanya ke arah Charles.


Charles pun membuat sebuah dinding tanah besar untuk menangkis serangan Julius.


Saat melihat ada dinding besar yang menghadangnya, Julius langsung mengayunkan pedang cahayanya untuk menebas dinding tersebut.


Julius sedikit menyeringit karena tebasannya tidak sanggup memotong dinding tanah yang dibuat Charles.


Charles kemudian mengurung Julius dengan teknik penjara tanahnya, lalu penjara itu mulai menghimpit tubuh Julius.


Julius kemudian menurunkan serangan cahaya penghakiman miliknya untuk menghancurkan penjara tanah yang mulai menjepit tubuhnya. Cahaya penghakiman itu menghujam deras dari langit menuju ke arah dirinya sendiri.


Cahaya penghakiman milik Julius mampu menghancurkan penjara tanah Charles.


Julius berdiri di tengah aliran cahaya penghakimannya sambil menatap Charles, seperti orang yang berdiri di bawah air terjun super tinggi.


"Siapa sebenarnya anak ini? Tatapannya terlihat sangat mengerikan!" gumam Charles.


Charles pun sedikit tersenyum, ia tidak menyangka kalau lawan yang ia hadapi sanggup menghancurkan penjara tanah miliknya.


Di sisi lain, Kageyama terus menembakkan bola api super padat ke arah Jozu.


Jozu terus bergerak ke sana ke mari untuk menghindari serangan Kageyama sambil sesekali menangkisnya.


Pertarungan Kageyama dan Jozu terbilang seimbang. Walaupun Kageyama adalah tipe prnyerang jarak menengah, tapi Kageyama tetap mempu mengimbangi kecepatan serangan Jozu yang merupakan penyerang jarak dekat.


Jozu kemudian mulai melesat ke arah Kageyama sambil mengayunkan tombaknya ke arah Kageyama.


Kageyama pun membuat tornado api di sekelilingnya untuk menangkis serangan Jozu.


Jozu langsung menghentikan langkahnya karena ia tidak yakin bisa menembus tornado api milik Kageyama.


Tornado api Kageyama pun semakin lama semakin meluas hingga memaksa Jozu harus sedikit melompat ke belakang agar tidak terkena badai tornado api tersebut.


Saat Jozu belum menginjakkan kakinya ke tanah, Kageyama langsung melesatkan laser api dari dalam tornadonya ke arah Jozu.


Mata Jozu mulai melebar. Ia tidak menyangka kalau Kageyama sengaja memancingnya untuk melompat.


"Jadi, dia sengaja!" gumam Jozu.


Jozu menyilangkan lengannya ke depan untuk menangkis serangan Kageyama. Akan tetapi, ia tak mampu menangkisnya dengan baik. Dan harus terlempar jauh ke belakang seperti sebuah peluru ketapel.

__ADS_1


Di sisi lain, pertarungan Yuta melawan Merlin tidak terlalu menonjol dibandingkan pertarungan lainnya. Keduanya hanya sibuk berlari ke sana ke mari sambil menunggu kesempatan menyerang.


Yuta sesekali melesatkan tembakan atribut anginnya ke arah Merlin. Sedangkan Merlin juga sesekali melesatkan peluru air ke arah Yuta.


Mereka berdua adalah tipe penyerang jarak jauh. Oleh karena itu, serangan serangan mereka tidak terlalu intens. Akan tetapi, jika satu pihak terkena serangan telak, maka dia akan tumbang hanya dengan satu serangan tersebut.


Di medan pertempuran Nero melawan Ling, Nero sedikit kesulitan menghadapi serangan serangan Ling karena atribut Ling lebih unggul darinya.


Nero melesatkan sebuah sambaran petir ganas yang sudah dikompres ke arah Ling.


Ling bisa menghindari serangan itu dengan baik dengan memanfaatkan kecepatan yang ia miliki.


Ling pun melancarkan beberapa serangan berbasis area ke arah Nero. Akan tetapi, Nero bisa menangkis serangan itu dengan mudah.


Pertarungan Nero melawan Ling menjadi pertarungan yang sangat merusak. Lingkup area tempat mereka bertarung berubah menjadi seperti area yang diguncang gempa, dihujani badai petir, dan seolah bencana alam dahyat hanya melanda area tersebut.


Di salah satu sisi medan perang, Jendral Besar Negara Roland sedang bertarung sengit melawan Jendral Besar Negara Duren. Duel mereka berdua cukup sengit. Jual beli serang juga terus mereka pertontonkan dengan indah.


Jika harus diadu, keduanya memiliki karateristik bertarung yang sangat berbeda jauh. Jendral Besar Negara Roland adalah petarung kuat yang mengandalkan fisiknya. Sedangkan Jendral Besar Negara Duren adalah tipe petarung yang lebih mengandalkan teknik dan atribut kayunya.


Di sela sela pertarungan segit kedua jendral besar itu, Jendral Besar Negara Duren mengatakan, "Tidak kusangka. Ternyata Roland punya seorang jendral besar yang sangat tangguh."


Jendral Besar Roland kemudian menanggapi, "Jangan meremehkanku hanya karena aku berasal dari negara kecil."


Pertarungan kedua jendral besar itu kembali berlanjut.


Sesekali, Jendral Besar Negara Duren melesatkan serangan duri duri kayu ke arah Jendral Besar Negara Roland. Tapi, Jendral Besar Negara Roland bisa menangkis dan menghancurkan serangan itu dengan kemampuan fisiknya.


Jendral Besar Negara Roland melesat ke arah Jendral Besar Negara Duren sambil mempersiapkan tinjunya.


Di sisi lain, Jendral Besar Negara Duren bersiap dengan membuat dinding kayu berduri untuk menghentikan pukulan Jendral Besar Negara Roland.


Pukulan Jendral Besar Roland pun menghantam dinding kayu berduri itu dengan sangat kuat, hingga membuat dinding itu hancur.


Jendral Besar Roland berhasil menghancurkan dinding kayu berduri itu dan terus melesat ke arah Jendral Besar Duren.


Jendral Besar Duren kemudian melilit tubuh Jendral Besar Roland menggunakan kayu berduri yang mirip ular untuk menahan pergerakannya.


Perrgerakan Jendral Besar Roland pun terhenti. Kayu ular berduri yang melilitnya, terasa seperti ular raksasa yang ingin meremukkan tubuh mangsanya.


"Kemampuan macam apa ini? Kenapa aku kesulitan bergerak hanya karena lilitan kayu ini?" pikir Jendral Besar Roland.


Jendral Besar Duren sedikit tersenyum saat melihat serangannya berhasil menahan pergerakan Jendral Besar Roland. Ia kemudian berlajan perlahan mendekati Jendral Besar Roland sambil mengatakan, "Ini adalah kemampuan spesial yang kumiliki. Kau tidak akan bisa lepas dari jeratanku karena kayu yang saat ini melilitmu bisa menyerap Force yang kau keluarkan."

__ADS_1


Jendral Besar Roalnd sedikit terkejut dengan penjelasan Jendra Besar Duren. Ia benar benar tidak menyangka kalau kemampuan atribut lawannya bisa menyerap Force.


Jendral Besar Roland kemudian berfikir, "Aku tidak bisa melepaskan diri jika kayu ini bisa menyerap Force yang kugunakan. Jika begitu, aku tidak punya pilihan selain menggunakan kekuatan fisikku. Tapi, apa aku bisa menghancurkan kayu ini hanya dengan kemampuan fisik saja?"


Jendral Besar Roland terus berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari jeratan ular kayu berduri yang melilit tubuhnya. Ia terus memberontak tanpa memperkuat tubuhnya dengan Force dam hanya mengandalkan kemampuan fisiknya saja.


Di sisi lain, Jendral Besar Duren semakin mendekat ke arah Jendral Besar Roland sambil membawa sepotong kayu lancip di tangan kanannya.


Sambil berjalan mendekat, Jendral Besar Duren berkata, "Jangan dendan padaku. Aku melakukan ini karena kita ada di pihak berbeda."


Jendral Besar Duren telah berada tepat di depan Jendral Besar Roland dan siap menusuknya dengan kayu runcing yang ia pegang.


Saat Jendral Besar Duren ingin menusuk dada kiri, tepat ke arah jantung Jendral Besar Roland, tiba tiba muncul hempasan angin kuat ke arah mereka.


Jendral Besar Duren batal menusukkan kayu runcing itu ke dada kiri Jendral Besar Roland dan memilih menyilangkan kedua lengannya di depan wajahnya untuk melindungi kepalanya dari hempasan angin kuat yang membawa banyak serpihan batu dan potongan kayu.


Di sisi lain, Jendral Besar Roland berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali mencoba melepaskan diri dari lilitan ular kayu berduri milik Jendral Besar Duren.


Setelah hempasan angin kuat yang tidak tau dari mana asalnya mulai mereda, Jendral Besar Duren menyadari bahwa Jendral Besar Roland telah berhasil melepaskan diri dari jaratan ular kayu berdurinya.


Jendral Besar Duren kemudian melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan Jendral Besar Roland yang berhasil melepaskan diri dari jeratan ular kayu berdurinya.


"Ke mana perginya?" pikir Jendral Besar Duren.


Saat Jendral Besar Duren masih sibuk melihat ke sekitar untuk mencari di mana keberadaan Jendral Besar Roland, tiba tiba Jendral Besar Roland telah berada tepat di bawah Jendral Besar Duren dan siap melancarkan pukulan.


"Sejak kapan?" pikir Jendral Besar Duren sambil berusaha menghindari pukulan Jendral Besar Roland yang tiba tiba muncul di bawahnya.


Jendral Besar Duren tidak bisa mengelak dan akhirnya harus menerima pukulan keras yang dilancarkan Jendral Besar Roland, tepat di dagunya.


Jendral Besar Duren tidak terlempar. Tapi, hempasan kuat yang seolah menembus kepalanya membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat.


Jendra Besar Duren pun terduduk sambil muntah darah karena hantaman itu. Sedangkan Jendral Besar Roland berdiri di depan Jendral Besar Duren sambil bersiap melancarkan pukulan selanjutnya.


Di salah satu medan perang, 100 ribu pasukan yang tersisa dari kedua belah pihak, mulai bertempur kembali.


Masing masing dari pasukan itu dipimpin oleh para jendral dan eksekutif kelompok dari kedua belah pihak.


Badai atribut dan ledakan hebat, menciptakan kerusakan besar di medan pertempuran mereka.


Medan tempur kedua belah pihak pun terlihat seperti neraka karena setiap orang saling membantai satu sama lain demi bertahan hidup.


Di medan perang yang dipenuhi kegilaan itu, banyak sekali orang yang harus kehilangan nyawa dan mayatnya tercabik cabik akibat terkena dampak pertarungan mereka yang masih hidup.

__ADS_1


Hanya dalam waktu kurang dari 2 jam, padang rumput hijau langsung berubah menjadi lautan darah bergelimang mayat.


__ADS_2