
"Bukankah kau sudah bisa melakukannya?" tanya Julius dengan wajah heran.
"Benarkah? Aku tidak tau sama sekali," jawabku dengan perasaan bingung.
"Apa kau ingat saat kau melesatkan tombak es raksasa ke arahku? Barierku bahkan tidak sanggup menahan serangan itu. Jika kau tidak mengompres atributmu, lalu bagaimana caramu membuat serangan sekuat itu?" Julius bertanya lagi.
"Eh?" Aku semakin kebingungan dengan hal itu. Karena aku benar-benar tidak mengerti tentang apa yang Julius maksud.
"Kaaakakakakakakaka! Mungkin saja, itu adalah true elemen!" sahut Kageyama.
Mendengar ucapan Kageyama, membuat Julius dan Yuta nampak sangat terkejut.
"Kageyama, apa maksudmu dia telah mengevolusikan atributnya?" tanya Julius.
"Kaaakakakakakakaka! Aku tidak tau kebenarannya. Tapi, menurut Akito, Rudi telah mengevolusikan atributnya menjadi true elemen," jawab Kageyama.
Julius dan Yuta pun nampak semakin terkejut mendengar fakta yang Kageyama katakan.
"True elemen? Apa kau benar-benar telah mengevolusikan atributmu?" Julius bertanya padaku dengan wajah terkejut.
"True elemen? Apa itu? Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian," jawabku sambil memasang wajah bingung.
"Sesuai namanya, true elemen adalah elemen asli. True elemen memiliki kepadatan, kepekatan, tingkat kerusakan, hingga kontrol yang jauh lebih rumit dari pada atribut," jelas Yuta.
"Apa kau bisa menjelaskanya lebih simpel?" tanyaku pada Yuta.
"Apa kau ini berasal dari pedalaman atau semacamnya? Kenapa kau tidak tau apa itu true elemen?" tanya Yuta dengan wajah heran.
"Kaaakakakakakakaka! Mereka memang berasal dari pedalaman," jawab Kageyama.
"Benarkah?" tanya Yuta dengan wajah kaget.
Aku dan Akito menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
"Haah ... begini saja. Dalam kasusmu, kau memiliki atribut es, bukan? Perbedaan antara atribut dan true elemen terletak pada efek dan dampaknya. Misalnya saja, jika kau memasukkan atribut esmu ke dalam wadah besar berisi air, maka esmu akan mencair perlahan. Sedangkan true elemen, justru akan merubah semua air di wadah itu menjadi es. Atau semisal, ada pemilik atribut tanah yang sudah mengevolusikan atributnya menjadi true elemen. Saat mereka membuat sebuah gunung, maka gunung itu akan tetap ada selamanya, bahkan jika sang pengguna mati. Sedangkan gunung yang dibuat menggunakan atribut, akan perlahan menghilang saat terlepas dari kontrol sang pengguna. Jadi, bisa disimpulkan bahwa atribut itu temporari dan dan tidak bisa mempengaruhi lingkup area. Sedangkan, true elemen itu permanen dan sanggup mempengaruhi lingkup area, walau hanya dengan sedikit pemicu. Apa kau mengerti sekarang?" tanya Yuta.
__ADS_1
"Oh, jadi begitu. Itulah kenapa, aku bisa menurunkan suhu udara dalam sekejap hanya dengan sedikit memicunya," sahutku sambil sedikit berfikir.
"Jika begitu, bukankah atribut dan true elemen tidak bisa dibedakan secara langsung?" tanya Akito.
"Haah? Apa otakmu ada di dengkul atau semacamnya?" Yuta menghela nafas.
"Apa katamu, hah?" Akito marah mendengar perkataan Yuta.
"Tenanglah, Akito. Tenang!" Aku berusaha menengkan Akito sambil menahan tubuhnya.
"True elemen itu sangat berbeda dengan atribut. True elemen akan terasa jauh lebih berat dan merusak jika dibandingkan dengan atribut. Itu sama seperti 1 kilo kapas dan 1 kilo baja. Keduanya memiliki berat yang sama. Tapi, jika 1 kilo baja dilemparkan ke arahmu, itu akan jauh lebih menyakitkan dan menimbulkan kerusakan yang jauh lebih fatal. Apa kau sudah mengerti?" tanya Yuta.
"Apa aku telah benar-benar mengevolusikan atributku? Aku bahkan tidak yakin dengan itu," kataku sambil melihat kedua tanganku.
Kageyama kemudian mengambil segelas air.
"Coba buat sebutir es kecil, kemudian masukkan ke dalam air ini," kata Kageyama sambil menyorkan gelas berisi air itu padaku.
Aku pun langsung melakukan hal yang Kageyama minta.
Semua orang yang ada di sana fokus melihat ke arah gelas berisi air tersebut.
"Kenapa bisa begini?" tanya Yuta sambil melihat gelas berisi air tersebut.
"Kaaakakakakakakakakaka! Aku juga tidak tau," jawab Kageyama sambil memegang gelas tersebut.
"Bukankah kau bilang Rudi telah mengevolusikan atributnya?" tanya Julius.
"Kaaakakakaakakakaka! Aku hanya mendengarnya dari Akito bahwa Rudi sanggup memanipulasi tubuhnya saat dalam mode tertentu," jawab Kageyama.
Semua orang di sana langsung melihat ke arah Akito.
"Eh? Kenapa?" tanya Akito dengan wajah bingung.
"Coba jelaskan lebih detail. Kapan dan di mana Rudi bisa memanipulasi tubuhnya menjadi elemental," kata semua orang di sana, kecuali aku.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah ... Saat itu, dia tengah bertarung melawan orang yang sangat kuat. Karena beberapa hal, dia menjadi sangat marah. Sehingga, membuat aura serta tubuhnya menjadi sangat aneh. Dan saat musuh menyerang tubuhnya, dia sama sekali tidak terluka. Bahkan, kepalanya yang sempat terpenggal, bisa kembali utuh tanpa meninggalkan bekas apa pun," jelas Akito.
Mwndengar penjelasan itu, membuat semua orang di sana kebingungan. Mereka sama sekali tidak tau apa pun soal kasus yang sedang Rudi hadapi.
"Oh, iya. Lalu, bagaimana dengan aura? Bukankah dia juga bisa menggunakannya dengan sangat baik?" tanya Julius.
"Kaaakakakakakakakaka! Aku yakin dia sendiri bahkan tidak menyadari hal itu," jawab Kageyama.
"Aura? Apalagi itu?" tanyaku.
"Apa kau ingat saat pertama kali Julius menyerangmu? Saat itu, kau bahkan tidak melakukan apa pun, bukan?" Kageyama bertanya padaku.
"Ah, soal itu. Ya, aku sendiri tidak tau bagaimana aku bisa melakukannya," jawabku sambil mengingat kejadian tersebut.
"Itulah kemampuan aura, kemampuan yang sanggup kau gunakan untuk menyerang dan bertahan. Bahkan bisa kau gunakan untuk melumpuhkan banyak musuh sekaligus," sahut Kageyama.
"Kau membuat kepalaku berasap. Jangan berbelit-belit. Langsung saja pada intinya, Kageyama," kataku sambil memegang kepala.
"Kaaakakakakakakaka! Intinya, dengan aura kau bisa menyerang dan bertahan sesuka hati. Serangan yang tidak bisa dibendung oleh fisik, atribut, atau bahkan true elemen sekalipun. Pertahanan kuat yang bisa menahan segala serangan. Bahkan mampu menahan serangan true elemen terkuat sekalipun. Bukankah itu sangat imba?" tanya Kageyama dengan wajah jengkel.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Akito.
"Itu karena aura adalah cerminan jiwa seseorang. Maka dari itu, pertahanan atau serangan aura hanya bisa dipatahkan mengunakan aura juga," jawab Julius.
"Kaaakakakakakakaka! Kalian akan paham saat bertarung melawan orang-orang yang sanggup menggunakan aura dengan sesuka hati," sahut Kageyama.
"Lalu, apa kalian bisa menggunakannya?" tanyaku pada Julius, Yuta, dan Kageyama.
"Aku bisa. Hanya saja, itu terlalu lemah untuk digunakan menyerang atau bertahan," jawab Julius.
"Kaaakakakakakakakaka! Apa yang baru saja kujelaskan adalah tingkatan tertinggi dari aura. Hanya mereka yang sanggup mencapainyalah yang akan bisa mengunakannya dengan bebas," sahut Kageyama.
"Lalu, apa ada orang yang bisa mencapainya?" tanyaku.
"Kaaakakakakkakakakaka! Tentu saja ada. Mereka yang saat ini berdiri di puncak tertinggi, bisa menggunakan semua konsep kekuatan dengan sangat bebas. Jika kau ingin melampaui mereka, kau harus bisa melakukannya juga. Karena jika tidak, jangankan mengalahkan mereka, menggores kulit mereka pun mustahil dilakukan," jawab Kageyama.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Kageyama, membuatku sangat bersemangat untuk mendaki ke puncak tertinggi.
Aku akhirnya sadar bahwa kekuatanku masih jauh di bawah mereka yang saat ini menduduki tahta tertinggi. Tapi, walaupun begitu aku tidak patah semangat. Justru, hal itu membuatnya semakin bersemangat untuk mendaki hingga ke puncak tertinggi, melampaui semua orang dan mewujutkan mimpiku.