
Aku dan Akito terus mengkombinasikan serangan dan pertahanan dengan sangat baik.
Aku mengayunkan katanaku ke arah leher James. Tapi, tebasanku bahkan tidak bisa menembus kulitnya yang begitu keras.
Aku dan Akito silih berganti melesatkan tebasan kuat ke arah tubuh James. Akan tetapi, tebasan kami tidak cukup kuat untuk menembus kulitnya yang terasa sangat keras.
Pergerakanku dan Akito semakin lama semakin cepat dan semakin tajam. Sedangkan James menjadi lebih lambat dari sebelumnya karena tubuhnya yang membesar.
"Haahahahahahahahaha! Apa ini? Tebasan kalian terasa seperti pijatan lembut!" seru James dengan wajah penuh percaya diri.
Aku dan Akito pun berhenti menyerang untuk memikirkan cara lain.
Dengan nafas yang mulai terengah-engah, aku berkata pada Akito yang berada di sampingku. "Oi, jika terus begini, kita hanya akan membuang banyam stamina percuma."
"Benar. Kita harus segera mengakhirinya," sahut Akito yang juga mulai terengah-engah.
Aku dan Akito sudah menggunakan berbagai macam teknik kuat. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang mempan melawan kulit keras milik James.
Kami tidak bisa terus berlarian ke sana ke mari karena selain menguras stamina, pergerakan dengan kecepatan tinggi juga terasa sangat membebani tubuh.
Di saat aku dan Akito masih mengistirahatkan tubuh yang mulai terasa kesemutan, James langsung melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Ice Age!
Aku berusaha membekukan area sekitar untuk menghentikan pergerakan James. Akan tetapi, semua usahaku sia-sia.
James bisa menahan tekanan suhu ekstrim yang kuciptakan, seolah hal itu bukan masalah baginya.
James kemudian mengayunkan kepalan tangannya ke arah kepalaku.
Di waktu yang seolah melambat, aku berfikir, "Dia melapisi pukulannya dengan force dan aura. Jika aku tidak menghindar, aku pasti akan merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi, dengan kecepatan pukulannya, aku tidak akan bisa menghindari sepenuhnya. Apa yang harus kulakukan?"
Pikirkanku memikirkan banyak hal dalam waktu sepersekian detik. Dengan kemampuan ultra insting, aku bisa melihat pukulan James seperti gerakkan lambat. Walaupun aku bisa melihatnya bergerak dengan sangat lambat, tapi tubuhku tidak bisa mengimbangi kecepatan akselerasi pikiranku.
Setelah melakukan banyak pertimbangan, aku pun memilih menghindari pukulan itu untuk menghindari cedera fatal yang bisa saja terjadi.
Pengalaman bertarung dengan Nero membuatku sadar bahwa memanipulasi tubuh tidak bisa sepenuhnya berguna saat melawan orang yang setara atau bahkan lebih kuat.
Aku pun berusaha mengelak. Akan tetapi ...
Bem!
Pukulan James mengenai lengan kiriku.
Hempasan akibat tekanan udara yang tercipta dari pukulannya, mampu meratakan daratan di sekitar.
"Argh!"
Aku berteriak kesakitan karena merasakan tulangku hancur.
__ADS_1
Walaupun aku sudah memanipulasi tubuhku menjadi es, akan tetapi pukulan James seolah mengabaikan hal itu dan berhasil menyentuh tubuh asliku.
Saat melihat sahabatnya mengerang ke sakit, Akito pun langsung mengayunkan katananya ke leher James.
James bisa menahan tebasan Akito menggunkan dua jarinya saja. Hal itupun membuat Akito terperangah.
Akito benar-benar tidak menyangka kalau peningkatan kekutan yang James lakukan benar-benar memberikan perbedaan besar di antara mereka.
Dengan seringat di wajahnya, James melihat Akito sambil mengatakan, "Berusahalah lebih keras! Jika hanya begini, kalian hanya akan menyia-nyiakan mode terkuatku!"
"Diamlah!" seru Akito.
Akito kemudian melepaskan katananya yang masih ditahan oleh James. Dan memilih menyerang James menggunakan tangan kosong.
Akito terus melesatkan pukulan demi pukulan. Akan tetapi, James bisa menghindari semua pukulan itu dengan sangat mudah.
James terlihat sepeti orang dewasa yang sedang bermain dengan seorang balita.
Walaupun Akito memiliki kemampuan ultra insting, akan tetapi kecepatan dan kekuatannya tidak cukup untuk mengimbangi power up yang James gunakan.
"Ayolah! Berhenti bermain-main! Apa kemampuan kalian hanya segini saja?" tanya James dengan senyum iblis.
Karena bosan meladeni perlawanan sia-sia yang Akito lakukan, James pun langsung mencengkram leher Akito dan berniat mematahkannya.
James mencengkram leher Akito dan mengangkatnya ke udara sambil memamerkannya pada Rudi yang masih mengerang kesakitan akibat lengannya yang hancur.
"Kalian benar-benar membosankan! Kukira, kalian layak mendapat kehormatan melihat kekuatanku yang sesungguhnya!" kata James dengan wajah bosan.
James pun berniat segera menghabisi Akito dengan mematahkan leher Akito. Tapi, sebelum ia bisa melakukannya, tiba-tiba ...
Slink!
Aku melesatkan tebasan kuat yang mampu memotong lengan James.
Akito pun terjatuh bersamaan dengan lengan James yang masih mencengram lehernya.
"Hoho ... sepertinya ini belum berakhir," kata James sambil melihat ke arahku.
"Jangan berani menempelkan tangan kotormu ke leher sahabatku," kataku sambil berusaha menahan rasa sakit.
Aku kemudian berusaha berdiri sambil memegang katana di tangan kananku.
"Apa kau masih bisa melawanku dengan satu lengan saja?" tanya James sambil sedikit memiringkan kepala.
Sambil menodongkan katana ke arah James, aku menjawab lirih. "Aku bahkan bisa mengalahkanmu hanya dengan satu jari saja."
"Haaahahahahahahahaha! Kua terlalu sombong, bocah!" sahut James.
James pun mengambil tangannya yang sudah putus dan menempelkannya kembali.
__ADS_1
Dalam sekejap mata, lengan yang terpotong kembali menyatu dengan sempurna seperti sedia kala.
Aku cukup kebingungan saat melihat hal itu. Akan tetapi, tidak ada waktu untuk memikirnya saat ini. Aku harus segera mengalahkan James karena kondisiku dan Akito hampir tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan pertempuran itu.
Dengan satu lengan tersisa, aku mulai memfokuskan semua force dan aura ke dalam katanaku.
Katanaku pun mulai menguapkan asap dingin dan memancarkan cahaya biru terang.
"Mata dibalas mata! Satu nyawa tidak akan bisa menggantikan nyawa ratusan orang!" gumamku sambil terus memfokuskan force dan aura ke dalam katana yang kupegang.
Ice of Devide Dimension!
Aku pun menyayunkan katanaku secara horizontal, berniat memotong tubuh James yang berada di depanku.
Aku mengayun, dan kemudian ...
Slink!
Aku melesatkan sebuah tebasan kuat yang mampu mampu momotong kerak bumi dan membuatnya terangkat ke udara.
Ribuan orang yang berada dalam lintasan tebasan yang Rudi lancarkan, torpotong rapi seperti daging yang dipotong dengan pisau tajam.
Semua orang yang berada di medan pertempuran itu terperangah saat melihat dataran seluas ribuan kilo meter terpotong dan terangkat ke udara. Mereka semua tidak bisa membayangkan orang macam apa yang bisa melakukan hal semacam itu.
"Apa ini? Apa ini masih layak disebut kekuatan?"
"Ini ... ini bukan hal yang bisa kita hadapi!"
Ribuan orang yang berada di medan perang mulai menjatuhkan senjata mereka dan beberapa di antara mereka sampai terduduk di tanah dengan perasaan frustasi.
Kerak bumi yang terangkat, mulai jatuh kembali ke tempatnya.
Saat kerak bumi tersebut menghantam tanah di bawahnya, hempasan besar dan getaran kuat mirip gempa dahsyat melanda hampir ke seluruh Benua Timur.
"Apa-apaan ini? Dari mana gempa ini berasal?"
"Apa getaran ini berasal dari medan pertempuran para All Star?"
"Monster macam apa yang bisa menghadirkan gempa semacam ini?"
Orang-orang dari seluruh penjuru Benua Timur bisa merasakan getaran hebat akibat benturan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ilustrasi tebasan yang Rudi lakukan.
Sumber : Manga One Punch Man.
__ADS_1