
Wilayah barat, wilayah kekuasaan Morgan.
Di tengah kegelapan malam, ada ribuan orang yang berjalan menggetarkan tanah. Langkah mereka terdengar seperti genderang perang yang sedang ditabuh. Ribuan orang itu adalah pasukan Fafnir dan Eliot yang ingin memburu orang orang yang sudah mengacau di wilayah kekuasaan kelompok mereka.
"Akhirnya mereka datang," kataku sambil menatap tajam ke arah ribuan orang yang mulai mendekat.
"Kaaakakakakakakakaka! Apa kau yakin bisa menghadapi mereka sendirian?" tanya Kageyama.
"Rudi ... kupikir, akan lebih baik jika kita menghadapi mereka bersama-sama," kata Akito.
"Tidak. Biarkan aku yang mengakhiri mereka di sini," sahutku yang berniat solo melawan semua pasukan musuh.
"Jangan sampai mati," kata Yuta.
"...." Julius hanya diam.
"Apa kalian yakin membiarkannya melawan mereka semua sendiran?" tanya Alvin.
"Kaaakakakakakakaka! Abaikan saja dia," jawab Kageyama.
Di depan markas Morgan yang sudah hancur, aku dan kelompokku tengah bersiap menyambut kedatangan pasukan musuh dengan pose kami masing masing.
Aku berdiri tegak di antara teman temanku.
Akito meyilangkan tangan sambil menatap tajam ribuan pasukan musuh yang mendekat.
Kageyama duduk di samping kakiku sambil sedikit mengangkat dagu.
Julius berdiri di belakangku sambil melirik tajam ke arah pasukan musuh.
Yuta berdiri di samping Kageyama.
Dan Alvin berdiri di sisi Julius.
Dum! Dum! Dum!
Langkah kaki Fafnir, Eliot, dan 2.000 pasukan mereka, terdengar seperti genderang perang yang sedang ditabuh. Tanah pun terasa bergetar saat ribuan orang itu berjalan serempak.
Tap! Tap! Tap!
Aku melangkah maju sendirian. Sedangkan anggota kelompokku, tengah bersantai di depan markas Morgan yang telah hancur.
Tap! Tap! Tap!
Aku melangkah perlahan.
Dum! Dum! Dum!
Fafnir, Eliot, beserta 2.000 pasukan mereka, juga melangkah perlahan.
Aku berhenti, begitu pula dengan Fafnir, Eliot, dan 2.000 pasukan mereka.
"Apa kau yang sudah mengalahkan Morgan?" tanya Eliot padaku.
"...." Aku hanya diam.
"Kutanya sekali lagi. Apa kau yang sudah mengalahkan Morgan?" tanya Eliot dengan wajah serius.
"Apa itu penting?" jawabku dengan tatapan tajam.
Eliot dan Fafnir sangat marah mendengar jawab itu.
Eliot, Fafnir, dan aku, berdiri berhadapan sambil memancarkan aura masing masing.
Aura kami bertiga saling bentrok hingga menimbulkan hempasan angin kuat ke seluruh area di sana.
Cahaya bulan mulai tertutup awan mendung.
Langit yang awalnya cerah, seketika berubah menjadi langit mendung seperti akan turun badai.
Jeder! Jeder! (Suara petir menyambar).
Kilat mulai menyambar ke segala arah.
Aku menatap Eliot dan Fafnir dengan tatapan penuh amarah. Sedangkan mereka berdua, menatapku seperti mangsa buruan.
__ADS_1
2.000 prajaurit yang ada di sana, bisa merasakan kengerian yang ditimbulkan ketiga orang itu, bahkan sebelum mereka mulai bertempur.
"Bunuh dia!" Eliot memerintahkan pasukan di belakangnya untuk segera membunuhku.
2.000 pasukan Fafnir dan Eliot mulai bergerak maju.
"Ayo mulai pestanya," balasku sambil bersiap menghadapi ribuan pasukan musuh.
Di waktu yang serasa melambat, aku mulai menghembuskan nafas dingin, mataku memancarkan cahaya tipis berwarna biru, dan tubuhku mulai mengeluarkan asap dingin.
Aku menciptakan bola es kecil super padat tepat di atas telapak tanganku. Kemudian, melesatkan bola es itu ke arah ribuan pasukan musuh.
Duar!
Bola itu meledak dan menguapkan hawa dingin menusuk tulang dan membuat puluhan orang membeku seketika.
Frezee!
Aku juga menurunkan suhu udara hingga mencapai -1000 derajat celcius. Membuat seluruh area di sana, berubah menjadi hamparan es.
100 ... tidak ... 1.000 pasukan Fafnir dan Eliot terhenti karena tubuh mereka membeku.
??!!
"True elemen?" pikir Fafnir dan Eliot saat merasakan hawa dingin yang Rudi lepaskan.
Semua orang yang tidak sanggup menahan penurunan suhu udara, langsung membeku hingga ke setiap sel terkecil, mengubah tubuh mereka menjadi es sepenuhnya.
"Tidak heran jika Morgan bisa kalah. Rupanya dia sudah mencapai tahap true elemen," kata Fafnir dengan seringai di wajahnya.
"Sepertinya, ini akan menjadi pertempuran yang menarik," sahut Eliot dengan mata berbinar.
Di sisi lain, aku terus menatap tajam Fafnir dan Eliot di saat tubuhku masih menguapkan asap dingin.
"Apa kalian hanya akan menjadi penonton?" tanyaku pada Fafnir dan Eliot.
Di tempat anggota kelompok Rudi bersantai, mereka sedang asik berbincang sambil melihat pertarungan di depan mata.
"Kaaakakakakakakakaka! Lihatlah itu? Bukankah dia (Rudi) benar benar terlihat seperti monster?" tanya Kageyama.
"Bukankah metode kontrolnya sudah mumpuni untuk menahan kecepatan aliran forcenya?" tanya Julius.
"Hmm ... entahlah," jawab Akito.
Saat seseorang menggunakan true elemen, aliran force akan dipaksa mengalir jauh lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan force yang besar.
Semakin cepat alirannya, semakin sulit mengontrolnya. Semakin cepat alirannya, semakin cepat regenerasinya. Semakin cepat alirannya, semakin besar dampaknya. Baik dampak serangan, ataupun dampak pada tubuh sang pengguna. Jika tubuh tidak sanggup menahan tekanan itu, maka tubuh sang pengguna akan hancur.
Menggunakan true elemen itu seperti mengendarai mobil super cepat di lintasan berliku. Jika sang pengendara tidak sanggup mengendalikannya dengan baik, pasti akan menabrak dan hancur.
.
.
Di medan pertempuranku melawan Fafnir, Eliot, beserta 2.000 pasukan mereka.
Fafnir melesat maju, berniat menusukku menggunakan tombaknya.
Aku pun menangkis menggunakan katanaku.
Ting!
Benturan senjata kami berdua menciptakan gelombang kejut besar.
Dari arah belakang, Eliot membuat gumpalan tanah raksasa dan melesatkannya ke arahku.
Fafnir mundur agar tidak terkena serangan itu.
Slink!
Aku memotong gumpalan tanah raksasa itu menggunakan katana yang kuperkuat dengan force, aura, dan atributku.
Duar!
Gumpalan tanah itu terbelah dan menghempas ke tanah.
__ADS_1
3 komandan satuan melesat ke arahku, berniat menyerangku dari 3 sisi.
Frezee!
Aku membekukan udara di sekitarku.
Kretek! (Suara benda membeku).
Pergerakan ketiga komandan satuan itu terhenti karena tubuh mereka membeku.
Slash!
Aku kemudian memotong tubuh ketiga komandan itu menggunakan katanaku.
1.000 pasukan yang tersisa, berlari ke arahku, berniat menyerangku bersamaan.
Ice of Divide Dimension!
Aku melesatkan tebasan yang sanggup membelah dimensi.
Slash!
Semua hal yang ada dalam lintasan serangku, terpotong tanpa terkecuali.
Crash!
Darah dari semua orang yang terkena tebasanku, menyembur ke udara seperti air mancur.
Fafnir melapisi tombaknya menggunakan force dan aura. Kemudian, menusukkan tombak itu ke arahku dari kejauhan.
Tusukan itu menciptakan gelombang angin bertekanan tinggi ke arahku.
Ice Wall!
Aku pun membuat barier es untuk menahan serangan tetsebut.
Duar!
Aku berhasil menahan tekanan udara itu menggunakan barier es. Tapi, barierku langsung hancur hanya dengan 1 serangan saja.
Fafnir kemudian berlari cepat ke arahku.
Langkah kakinya sangat cepat hingga membuat tanah yang ia lewati, hancur karena tekanan udara.
Fafnir lalu mengayunkan tombaknya ke arah kepalaku.
Ting!
Aku menangkis serangan itu menggunakan katana.
Benturan senjata kami menciptakan gelombang kejut besar.
Tanah yang ada disekitar kami hancur dan terlempar ke segala arah. Orang orang yang ada di sekitar kami terlempar. Tekanan udara yang tercipta akibat benturan senjata kami benar benar membuat apa pun yang ada disekitar kami luluh lanta.
Fafnir menyeringai. Sedangkan ku melirik tajam ke arahnya.
Dari kejauhan, Eliot menciptakan duri duri tajam yang muncul dari bawah tanah.
Aku melompat agar tidak tertusuk duri itu.
Fafnir ikut melompat sambil terus menyerangku menggunakan tombaknya.
Ting! Ting! Ting!
Tusuk, tangkis, ayun, tebas, sayat, hentak.
Aku dan Fafnir terlibat pertarungan sengit di udara.
Setiap kami beradu senjata, muncul hempasan udara kuat ke area sekitar.
Bagi mereka yang tidak bisa mengikuti kecepatan keduanya, hal itu terlihat seperti ledakan demi ledakan yang terus tercipta dalam waktu singkat.
Aku, Fafnir, dan Eliot berhenti menyerang satu sama lain.
"Haaahahahahahahaha! Ini menjadi semakin menarik!" seru Fafnir.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak merasakan ketegangan seperti ini," sahut Eliot dengan mata berbinar.