
Saat ini, kami sedang berada di markas kelompok Hendri.
Setelah mengeledah markas kelompok Hendri, aku hanya menemukan sedikit uang yang mereka simpan di brankas.
"Oi, jangan bercanda! Apa-apaan ini? Kenapa kelompok besar seperti kalian hanya punya uang segini?" tanyaku dengan perasaan geram.
"Memang itulah yang kumiliki, aku tidak punya banyak uang seperti dugaanmu," jawab Hendri.
"Cih ... jika begini, sia-sia kita membiarkan mereka hidup," kataku kesal.
"Yah, mau bagaimana lagi. 10.000 gale setidaknya lebih baik dari pada tidak sama sekali," kata Akito.
"Oi, Gary, Ciel. Apa jangan-jangan, uang kalian juga tidak lebih banyak dari ini?" tanyaku sambil memasang wajah jengkel.
"Ya, kurang lebih," jawab Ciel.
"Memang begitulah adanya," jawab Gary.
"Cih ... kupikir kalian itu kelompok besar. Ternyata, kalian hanya sekumpulan pecundang," ejekku pada mereka.
Mendengar Rudi yang terus menggerutu, Hendri, Ciel, dan Gary tidak bisa membalasnya karena posisi mereka tidak mendukung untuk itu.
Karena saat ini, mereka bertiga sedang ikat menggunakan tali berlapis force. Sehingga, membuat mereka tidak bisa melepaskan diri dengan mudah.
"Kaaakakakakakakaka! Aku yakin mereka menyimpan uang mereka di bank," kata Kageyama.
Mendengar ucapan Kageyama, ketiga pemimpin dari ketiga kelompok tersebut pun mulai pucat. Mereka yang sudah sebisa mungkin merahasiakan itu, akhirnya ketahuan juga.
"Benarkah? Oi, apa kalian berniat membohongiku?" tanyaku kepada ketiganya sambil memancarkan aura membunuh.
"I-Itu ... soal itu ... ka-kami ...," jawab Hendri panik.
"Jawab dengan benar! Jika tidak, kepala kalian semua akan menanggung akibatnya." Aku berusaha mengancam mereka agar mengatakan yang sebenarnya.
"Tu-Tunggu. Benar, kami menyimpan uang kami di bank!" jawab Gary panik.
??!!
Hendri dan Ciel panik karena Gary malah mengatakannya.
"Oh, begitu rupanya. Cepat beritahu semuanya sebelum kesabaranku mulai habis. Aku sudah muak terus kalian permainkan seperti ini," ancamku.
"Kami memang menyimpan uang di bank. Tapi, saat ini kondisi ibukota sedang kacau balau. Jadi, Mustahil untuk menarik uang dari sana," kata Hendri yang masih berusaha mempertahankan uangnya.
"Benar juga. Oi, Akito. Bagaimana ini? Apa kita ambil yang ada saja?" tanyaku.
"Hmm ... sepertinya kita tidak punya pilihan lain," jawab Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Kalian tidak perlu khawatir. Kalian bisa membuat akun dan memindahkan semua uang mereka ke akun kalian. Jadi, kalian tidak perlu menarik semua uang itu," kata Kageyama.
"Eh? Bisa begitu?" Aku cukup terkejut karena baru pertama kali mengetahui hal semacam itu.
Mendengar rencana mempertahankan uang mereka gagal, mereka pun semakin panik.
"Cih ... dari mana datangnya bocah itu? Dia selalu mengagalkan rencanaku," pikir Hendri.
"Oi, Akito. Sepertinya kita harus memberi mereka pelajaran karena terus berusaha berbohong," kataku sambil mengepalkan tangan.
"Ya, aku setuju. Mentang-mentang kita tidak tau apapun soal teknologi, mereka pikir bisa membohongi kita seenaknya," sahut Akito yang juga mulai mengepalkan tangan.
__ADS_1
Bruk! Plak! Cepak! Jeder!
Rudi dan Akito pun menghajar ketiganya habis-habisan.
Melihat hal itu, Kageyama pun tertawa puas.
"Kaaakakakakakakaka! Mereka ini sungguh menarik," kata Kageyama.
Setelah puas menggeledah markas kelompok Hendri, kami bergerak ke markas kelompok Ciel dan Gary untuk mengeledah semua barang berharga yang ada.
Kemudian, pergi ke bank terdekat untuk mengambil uang yang disimpan di sana.
Sesampainya di salah satu bank ibukota, kami terdiam sejenak di depan bangunan bank itu.
"Apa bank ini buka? Aku sudah bosan ke sana ke mari," kataku sambil menggendong Hendri yang sedang terikat tali.
"Mau bagaimana lagi, sulit menemukan bank yang masih buka di tengah situasi semacam ini," sahut Akito sambil mengendong Gary yang juga sedang terikat tali.
"Kaaakakakakakakaka! Tenang saja. Lihatlah itu, di pintu kacanya ada kata Open. Itu berarti bank ini buka," sahut Kageyama sambil memegang ujung tali yang mengikat Ciel.
Berbeda denganku dan Akito, Kageyama membawa Ciel dengan menyeretnya seperti anjing peliharaan.
"Yosh! Ayo masuk!" kataku.
Kami semua pun mulai memasuki bank.
Sesaat setelah memasuki bank, kami langsung disambut oleh pegawai di sana.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu," sapa pegawai bank di sana dengan ramah.
"Maaf ... kami ingin membuat akun. Apa saja persyaratannya?" tanyaku sambil meletakkan Hendri dan mulai duduk di kursi yang disediakan.
"Cukup kartu identitas dan uang untuk deposit pertama," jawab pagawai di sana.
"Baik, silakan isi formulirnya terlebih dahulu."
Saat ingin mengisi kertas formulir, Aku cukup kebingungan tentang bagaimana cara mengisinya.
"Oi, Akito. Apa kau bisa mengisinya?" bisikku pada Akito yang duduk di sebelahku.
"Aku tidak tau caranya. Aku kan tidak bisa baca tulis," jawab Akito sambil berbisik.
Walaupun aku dan Akito hebat dalam pertempuran, kami tidak bisa baca tulis karena sejak kecil kami hidup di hutan belantara. Sehingga, membuat kami tidak pernah mendapatkan pengajaran apapun soal baca tulis.
Karena tidak tau bagaimana cara mengisi formulir itu, aku pun bertanya pada Kageyama yang berdiri di belakangku.
"Kageyama, apa kau bisa membantuku mengisi formulir ini?"
Mendengar hal itu, Kageyama terlihat sedikit terkejut.
"Apa kau tidak bisa baca tulis?" Kageyama bertanya padaku.
"Yah ... soal itu ...." Aku tidak sanggup menjawabnya.
Mendengar hal itu, ketiga pemimpin dari ketiga kelompok yang ada di sana terlihat berusaha menahan tawa mereka.
"Haaahahahahahahaha! Kau hebat dalam bertarung. Tapi, tidak kusangka ternyata kau tidak bisa baca tulis. Menyedihkan! Haaahahahahahaha!" ejek Hendri.
"Kupikir kau hebat dalam segala hal. Ternyata, dugaanku salah. Haaahahahahahaha!" ejek Gary.
__ADS_1
"Aku tidak habis pikir. Kenapa ada orang yang tidak bisa baca tulis di zaman seperti ini. Kasihan sekali! Haaahahahahahahaha!" ejek Ciel.
Ketiga orang itupun terus mengejekku habis-habisan.
Mendengar semua ejekan itu, membuat Kageyama dan para petugas bank di sana juga terlihat berusaha menahan tawa mereka.
"Diamlah, maaf jika mengecewakan kalian. Aku tinggal dan besar di tengah hutan belantara. Jadi, wajar kalau aku tidak bisa baca tulis," teriakku dengan pipi memerah karena malu.
"Pfttt ... jadi kau ini Tarzan, ya? Haaahahahahaha!" ejek Gary.
"Kaaakakakakkakaka!" Kageyama yang berusaha menahan tawa, akhirnya tidak sanggup menahannya lagi.
"Pftt ...." Bahkan, Akito yang juga tidak bisa baca tulis pun berusaha menahan tawanya.
"Kenapa kau juga ikut tertawa, Akito? Kau kan juga tidak bisa baca tulis," teriakku dengan wajah semakin memerah karena malu.
"Maaf, aku hanya ... pfttt ...." Akito benar-benar berusaha keras untuk menahan tawanya.
"Diamlah, kalian semua!" Aku semakin histeris mendengar semua tawa di sana.
Karena insiden kecil itu, aku benar-benar malu sampai ingin mengubur diriku sendiri.
Di salah satu kota yang berada di bawah kekuasaan negara Roland, beberapa orang di sana terus membicarakan soal insiden hancurnya ibukota.
"Hei, apa kau melihat tanyangan itu?"
"Tentu saja. Mana mungkin aku melewatkannya."
"Kedua bocah itu benar-benar luar biasa, bukan?"
"Ya, aku setuju."
"Hei, kenapa kau malah mendukung mereka? Mereka sudah menyebabkan negara ini hampir hancur. Seharusnya kalian mengutuk mereka."
"Ayolah, hal semacam ini adalah hal wajar, bukan?"
"Ya, aku setuju. Jika sejak awal pihak militer tidak ikut campur, seharusnya hal semacam ini tidak akan terjadi."
"Sebagai penduduk negara Roland, kalian seharusnya malu dengan kata-kata semacam itu. Apa kau tau? Banyak nyawa harus melayang sia-sia akibat ulah kedua bocah itu."
"Hei, apa kau tidak melihat siarannya dengan benar? Bocah yang sudah mengalahkan Jendral Besar Hans terus bertarung sambil melindungi penduduk di sana. Sedangkan sang jendral besar yang seharusanya menjaga warga, malah sengaja ingin membunuh mereka semua."
"Benar, aku setuju. Yang menghancurkan setengah ibukota juga jendral besar mereka sendiri. Sedangkan bocah itu malah berusaha melindunginya. Bukankah hal semacam itu seharusnya terbalik?"
"Apapun itu, menurutku kedua bocah itu hanya perusuh yang harus segera ditangkap."
"Ya, ya. Kau yang hanya berfikir dari satu sudut pandang, tidak akan mau menerima fakta yang sebenarnya."
"Apa katamu?"
"Memangnya kenapa? Bukankah yang kukatakan adalah benar?"
"Lalu bagaimana soal prajurit yang tewas dalam pertempuran itu, hah? Kau pikir, nyawa mereka melayang karena ulah siapa?"
"Faktanya, prajurit yang mati bukan berasal dari medan pertempuran kedua bocah itu. Bukankah para pembawa acara sudah mengatakannya dengan jelas? Bahwa tidak ada satu pun nyawa yang melayang di tangan kedua bocah itu. Justru, mereka masih sempat menyelamatkan banyak nyawa saat dalam pertempuran. Apa itu masih kurang untukmu?"
"Cih ... kalian benar-benar otak batu."
"Kaulah yang otak batu. Percuma saja menjelaskan sesuatu kepada orang sepertimu."
__ADS_1
"Ya, ya. Terserahlah. Bagaimanapun juga, di mataku, kedua bocah itu tetap bersalah."
Karena beberapa hal, para penduduk negara Roland terpecah menjadi dua. Ada yang menganggap Rudi dan Akito sebagai penyebab hancurnya ibukota dan jatuhnya para korban, ada juga yang menganggap mereka sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan banyak nyawa.