
Pertarungan antara Andre melawan Morgan, terasa sangat berat sebelah. Andre yang sudah babak belur akibat pertempuran sebelumnya, kesulitan mengimbangi kecepatan dan kekuatan Morgan. Alhasil, ia pun terus dipermainkan seperti anak kecil yang mencoba merebut permen dari orang dewasa.
Aku yang melihat itu, merasa sedikit bimbang. Di satu sisi, Andre dan anggotanya masih memancarkan tekat bertarung kuat. Sedangkan di sisi lain, aku tidak sanggup melihat Andre dan anggotanya terus dipermainkan oleh Morgan.
"Apa keputusanmu?" Kageyama bertanya padaku.
"Siapa pun yang ingin membantunya, lakukan saja. Anggap saja kalian memberontak perintahku," jawabku.
"Kaaakakakakakakaka. Kalau begitu, biarkan aku yang menghajarnya," kata Kageyama.
??!!
Saat yang hendak turun tangan, Kageyama langsung mengurungkan niatnya karena melihat kedatangan pria misterius yang tiba tiba membantu Andre dan anggotanya.
"Siapa dia?" tanya Akito sambil melihat pria misterius itu.
"Mungkin hanya orang kebetulan lewat," jawab Julius.
.
.
Medan pertempuran Andre dan kelompoknya melawan Morgan.
"Xiiixixixixixixixixixixixixi. Apa kau dalang dibalik penyerangan ini?" tanya Morgan pada pria misterius yang baru saja datang ke sana.
"Aku tidak tau apa maksudmu. Tapi, aku datang ke sini untuk menghabisimu," jawab pria itu.
"Menghabisiku? Xiiixixixixixixixixixixi. Menarik ... ayo perlihatkan kemampuanmu," sahut Morgan.
Pria itu langsung melesat cepat ke arah Morgan sambil bersiap memukulnya. Sedangkan, Morgan juga bersiap menangkisnya menggunakan tangan kanan.
Bem!
"Uuuh ...." Morgan muntah darah karena terkena pukulan telak di perut.
Pria itu sanggup mendaratkan pukulannya tepat ke arah perut Morgan dan menembus armornya. Sehingga, membuat Morgan muntah darah.
Melihat hal itu, membuatku, Andre, dan kelompok kami masing masing, terkejut dengan kemampuan pria itu.
Pria itu berdiri di hadapan Morgan sambil sedikit menunduk dan matanya melirik tajam ke arah Morgan.
"Katakan padaku ... di mana kalian menyembunyikan adikku?" tanya pria itu dengan lirikan tajamnya.
"Xiiixixixixixixixixixixixixi. Kau benar benar melebihi harapanku. Jika begini, aku tidak bisa main-main lagi," kata Morgan sambil menyobek bajunya.
Kratek! Kratek! (Suara baju sobek).
Morgan menggeretakkan kepalanya ke kiri ke kanan sebagai pemanasan kecil. Kemudian, menyelimuti tubunya dengan force sebagai armor.
Tubuh Morgan mulai membesar, otot otonya jadi lebih berisi, matanya memancarkan tekat membunuh, dan tekanan auranya terasa sangat mencekam.
Morgan sudah sepenuhnya masuk dalam mode tempurnya.
Dari kejauhan, aku dan kelompokku sedikit berkomentar tentang perubahan tubuh Morgan.
"Cih ... jadi sejak awal, dia hanya bermain main saja," kataku sambil melihat perubahan tubuh Morgan.
"Hmm ... aku jadi ingin melawannya," kata Akito.
"Kaaakakakakakakakaka. Dia berubah jadi samsak kualitas tinggi," kata Kageyama.
__ADS_1
"Jangan bercanda, Kageyama! Apa kau pikir bisa mengalahkannya dengan mudah?" tanya Yuta.
"Aku juga penasaran dengan perubahan kemampuannya," kata Julius.
.
.
Pria misterius itu tidak mau kalah. Ia juga membuat armor tipis yang menyelimuti tubuhnya sambil memancarkan tekanan kuat.
"Xiiixixixixixixixixixixixixixi. Ayo sedikit bersenang senang," kata Morgan.
"Akan kuhancurkan semua tulangmu hingga kau mau menjawab pertanyaanku," sahut pria itu.
Morgan dan pria itu melesat ke arah satu sama lain. Mereka melakukan pertarungan adu kekuatan dan kecepatan.
Pria itu memukul, Morgan menghindar. Morgan balas memukul, pria itu menangkis. Pertarungan cepat dengan intensitas tinggi, tersaji indah di depan mata setiap orang yang melihatnya.
Tekanan udara, pancaran aura, hingga ledakan, terus terjadi akibat bentrokan keduanya.
Bem!
Morgan berhasil menendang perut pria itu menggunakan lututnya.
"Argh!" Pria itu muntah darah karena tendangan itu mampu menembus armornya.
Morgan melanjutkan serangan dengan mencengkram kepala pria itu, kemudian membenturkannya ke tanah.
Duar!
Wajah pria itu menghantam tanah hingga menciptakan kawah kecil.
Pria itu bukannya tanpa perlawanan. Hanya saja, tendangan lutut Morgan yang mengenai perutnya, membuatnya kesulitan bernafas hingga akhirnya tidak bisa mengontrol aliran forcenya dengan baik.
Bem!
Pria itu menendang wajah Morgan menggunakan kaki yang satunya.
Morgan sedikit terdorong ke belakang dan hidungnya tampak mengeluarkan darah karena hantaman itu.
Pria itu berdiri sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah, kemudian meludahkan darah yang memenuhi mulutnya.
Morgan terus tertawa karena menikmati pertarungan itu.
Bagi para petarung kelas atas, rasa sakit itu ibarat narkoba yang membuat candu. Bisa bertarung dengan orang-orang kuat yang mampu membuat mereka merasakan rasa sakit, memiliki sebuah kepuasan tersendiri.
Setelah cukup lama saling pandang, keduanya langsung melesat ke arah satu sama lain untuk melanjutkan pertarungan.
Bentrokan mereka berdua sanggup meratakan hutan sekitar menjadi puing-puing kecil.
Tiap hentakan pukulan, menciptakan tekanan udara kuat yang menghancurkan area sekitar. Benturan pukulan mereka, menciptakan gelombang kejut yang bisa dirasakan hingga puluhan meter jauhnya. Area sekitar, benar benar berubah menjadi wahana bermain angin bertekanan tinggi.
Duar! Boom! Duar!
Rentetan pukulan, tendangan, hingga tangkisan, terus mereka lakukan. Jual beli serangan cepat dan kuat, terus mereka lontarkan.
"Xiiixixixixixixixixixixixi. Ayo ... ayo ... ayo lebih puaskan aku!" teriak Morgan sambil terus beradu pukulan dengan pria itu.
"Berisik!" balas pria itu sambil terus meladeni setiap serangan Morgan.
Boom!
__ADS_1
Pria itu berhasil melesatkan pukulan telak ke wajah Morgan.
Morgan terlempar ke belakang. Tapi, ia bisa langsung berdiri tanpa kesulitan.
Saat Morgan baru saja menyeimbangkan tubuhnya, pria itu langsung memukul perut Morgan.
"Argh!" Morgan muntah darah karena serangan telak tersebut.
Pria itu kemudian memegang kepala Morgan dan menghantamkan lututnya tepat ke wajah Morgan.
Hidung Morgan memerah karena darah, mulutnya juga dipenuhi darah segar.
Pria itu tidak mengendorkan serangan. Kali ini, gantian Morgan yang dibanting ke kiri dan ke kanan oleh pria itu.
Duar! Duar!
Suara hantaman tubuh Morgan menghantam keras ke tanah.
Morgan memutar tubuhnya untuk melepaskan kakinya dari cengraman pria itu.
Kratak! (Suara tulang retak).
Kaki kiri Morgan patah karena memaksa melepaskan diri dari cengraman pria itu.
Seolah tidak merasakan sakit, Morgan mengalirkan banyak force ke kaki kirinya agar kaki itu bisa kembali digunakan. Dengan begitu, kaki kirinya bisa tersambung sementara hingga pertarungan usai.
Menyambung tulang atau bagian tubuh yang patah, itu mungkin untuk dilakukan menggunakan force. Asal, bagian itu masih melekat pada tubuh. Jika sudah terpotong atau terlepas, itu mustahil dilakukan. Konsep itu seperti kaca yang direkatkan menggunakan lem. Walaupun terlihat menyatu, tapi sebenarnya tidak benar benar kembali seperti sedia kala.
"Berani sekali kau mematahkan kakiku," kata Morgan sambil menatap tajam pria itu.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini ekspresi Morgan benar benar seperti predator haus darah.
"Bukankah kau sendiri yang melakukannya?" tanya pria itu dengan senyum sinisnya.
"Aku akan membunuhmu," kata Morgan sambil menatap tajam ke arah pria itu.
"Lakukan saja jika kau mampu," balas pria itu, juga dengan tatapan tajamnya.
Mereka berdua kembali terlibat bentrokan hebat. Tapi, kali ini berbeda. Jika sebelumnya mereka hanya mengukur kemampuan satu sama lain, kali ini mereka benar benar melayangkan setiap serangan dengan tujuan membunuh satu sama lain.
Andre dan anggota kelompoknya yang masih tersisa, hanya bisa melihat bentrokan itu sambil berharap Morgan bisa ditumbangkan. Sedangan Rudi dan kelompoknya, tersenyum puas karena mendapat bantuan tak terduga.
"Sepertinya, aku ini adalah pemeran utama dalam cerita ini. Entah kenapa, aku selalu mendapat jalan keluar yang tak disangka-sangka datangnya," kataku sambil terus melihat pertempuran Morgan melawan pria itu.
"Kaaakakakakakakaka! Bukankah memang seharusnya seperti itu?" tanya Kageyama.
"Jangan terlalu percaya diri, bodoh! Kau ini tidak lebih dari sekedar pemeran pendamping. Akulah sang tokoh utama dalam cerita ini," sahut Akito.
"Tuan Juliuslah yang menjadi pemeran utama di sini! Jangan berani bermimpi mengambil perannya!" bentak Yuta.
"Diamlah, Yuta. Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu," sahut Julius.
"Tapi, Tuan Julius ... saya yakin Andalah pemeran utama di sini," kata Yuta dengan nada lembut.
"Diamlah! Akulah pemeran utamanya," kataku.
"Aku!" kata Akito
"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama hanya tertawa.
"Tuan Juliuslah pemeran utamanya!" bentak Yuta.
__ADS_1
"Haah ...." Julis hanya menghela nafas.
Sambil melihat pertarungan sengit Morgan melawan pria misterius itu, kami terus memperebutkan pemeran utama dalam cerita.