The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 99 - Gadis Pujaan


__ADS_3

Crash!


Ayahku melindungiku dengan tubuhnya. Sehingga, membuat tubuhnya terkoyak akibat tebasan orang tersebut.


Aku terdiam sesaat karena syok setelah melihat tubuh ayahku terkoyak tepat di depan mata kepalaku sendiri.


Kala itu, semua emosiku terasa menghilang untuk sesaat.


Aku kemudian memegangi tubuh ayaku sambil melihatnya dengan kelopak mata dibanjiri air mata.


"Ayah? Ayah kenapa? Ayah ...." Aku mencoba menanyakan soal kedaan ayahku. Walaupun aku tau itu adalah hal bodoh, tapi entah kenapa aku tetap melakukannya.


Dengan tubuh terkoyak dan berlinang darah, ayahku menjawab lirih. "Ayah baik baik saja."


Setelah mengatakan hal tersebut, ayahku pun mulai tidak sadarkan diri.


Aku tau bahwa ayahku pasti telah mati. Tapi, pikiranku seolah menolak kenyataan tersebut.


Dengan nada lirih dan air mata berliang, aku memegang tubuh ayahku, kemudian berkata, "Bangun, Ayah. Jangan tidur di sini. Di sini kotor, Ayah."


Aku terus mencoba membangunkan ayahku yang sudah kehilangan nyawanya. Walaupun aku tau itu adalah hal bodoh, tapi aku tidak perduli karena aku berharap ayahku akan bangun jika aku aku terus memanggilnya.


"Waaahahahahahahaha! Mengharukan sekali!" kata pria yang telah membunuh ayahku.


"Ayah, bangun. Jangan tidur di sini." Aku tidak memperdulikan ucapan pria itu dan terus berusaha membangunkan ayahku.


"Hei, bocah! Jangan pikir kau bisa mengabaikanku begitu saja!" Pria itu terlihat marah karena alasan tertentu.


Pria tersebut kemudian mulai mengayunkan pedang besarnya, berniat memenggal kepalaku.


Saat pedang besarnya hendak menyentuh leherku, tiba tiba ada seorang pria lain yang menangkisnya.


"Apa yang kau lakukan? Anak ini adalah barang dagangan kita!" kata pria yang menangkis pedang orang yang telah membunuh ayahku.


"Cih ... baiklah, aku tau!" Pria yang telah membunuh ayahku kemudian berjalan pergi begitu saja.


Pria yang telah menyelamatkanku kemudian menyeretku sambil menjambak rambutku.


"Lepaskan aku! Aku ingin menemani ayahku!" kataku sambil terus memberontak.


"Jangan banyak bicara!" kata pria tersebut sambil menjambak rambutku dan menyeretku dengan paksa.


Aku terus memberontak sambil melihat tubuh ayahku yang sedang tergeletak berlinang darah. Tapi, pria itu tetap menyeretku.


"Ayah! Ibu!" Aku berteriak sekuat tenaga.


Aku benar benar tak kuasa menahan tangis saat melihat tubuh ayah dan ibuku yang terlihat semakin menjauh.


Setelah sampai di lapangan terbuka, aku diikat kemudian dilempar ke arah kerumunan orang yang sedang disandra di sana.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" Aku terus berteriak sambil memberontak.


Teriakanku membuat sekelompok orang yang telah membantai desaku mulai merasa geram.


"Anak ini banyak omong!" kata salah satu pria yang membantai desaku.


"Ayo siksa dia agar mulutnya diam! Sekalian jadikan bocah ini sebagai pelajaran bagi yang lain!" kata pria lainnya.


"Hoho ... ide bagus!" sahut pria lainnya.


Sekumpulan orang yang telah membantai desaku kemudian mempermainkanku layaknya barang tak berharga.


Aku dilempar ke sana ke mari, diseret, hingga dipukul dan diijikan sebagai pelajaran karena aku terus berteriak dan memberontak.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, aku tidak lagi bisa memberontak karena tubuhku telah babak belur hingga membuatku kesulitan bergerak.


Jangankan memberontak, bergerak saja rasanya sangat menyakitkan, seolah terasa seperti tulang rusuk menusuk organ dalam setiap kali aku bergerak.


Setelah orang orang itu mengumpulkan para anak anak dan wanita dari desa Alpen, mereka menginkat kami semua seperti rantai dan membawa kami menuju ke suatu tempat.


Anak anak dan perempuan berjalan dengan tangan dan leher terikat seperti budak. Sedangkan aku hanya meringkuk di tanah sambil diseret rombongan tersebut.


Karena tidak mampu bergerak, di sepanjang perjalanan aku hanya meringkuk sambil tubuhku terus diseret.


"Cepat jalan!" bentak salah satu orang sambil terus mencambukku.


Leher, tangan, dan kakiku diikat. Kemudian aku diseret seperti anjing yang tidak mampu bergerak.


"Apa salah warga desaku? Kenapa orang orang ini membantai mereka? Apa ... apa orang tuaku membuat salah?" Perasaan marah, dendam, hingga kesedihan bercampur aduk menjadi satu. Dan membuatku benar benar tak bisa berfikir dengan jernih.


Kehilangan kedua orang tua di depan mata kepalaku sendiri benar benar membuatku terpukul. Apalagi mereka mati dengan cara dibunuh.


Di sepanjang perjalanan, aku tidak memperdulikan kulitku yang mulai terkelupas saat diseret di tanah karena perasaan syok dan tidak percaya masih terus membanjiri otakku.


Setelah seharian berjalan, kami akhirnya berhenti sejenak.


Saat itu, hampir seluruh kulit di tubuhku mengelupas akibat diseret sejauh belasan kilometer melintasi medan terjal penuh batu dan kerikil tajam. Belum lagi, ditambah dengan ratusan cambuk yang dilayangkan ke tubuhku, membuatku tampak seperti zebra dengan garis merah darah.


Aku tidak bisa melakukan apapun karena tubuhku hampir tidak bisa digerakan sama sekali. Jangankan berjalan, menggerakan satu jari saja rasanya sangat sulit kulakukan dengan kondisi seperti itu.


Warga desa Alpen yang mengenalku, hanya melihatku dengan tatapan miris dan kasihan.


Mereka sebenarnya ingin menolong Rudi. Akan tetapi, mereka tidak bisa melakukan apapun karena mereka tidak berada dalam kondisi yang memungkinkan. Jika mereka nekat membantunya, mungkin saja mereka akan mengalami nasib sama seperti yang Rudi alami. Oleh karena itu, mereka lebih memilih diam dari pada harus membuat masalah.


Malam itu, kami beristirahat di sebuah hutan.


Para warga desa Alpen yang sedang ditahan, masing masing dari mereka hanya diberi satu potong roti untuk menganjal perut agar keesokan harinya bisa melanjutkan perjalanan.


Aku pun mencoba sekuat tenaga menggerakan rahangku agar bisa mengunyahnya.


Untuk bisa mengunyahnya, aku membutuhkan tenaga ekstra karena tubuhku benar benar dalam kondisi yang sangat parah.


Setelah mencoba sekuat tenaga, aku tetap saja kesulitan memakannya karena kulit di pipiku telah mengelupas akibat bergesekan dengan tanah dan batu di sepanjang perjalanan.


Setiap aku mengerakkan rahang, rasanya seperti mulutku sedang disobek sobek. Sehingga, membuatku tidak bisa mengunyah roti tersebut.


Di saat aku kesulitan mengunyah roti tersebut, tiba tiba ada seorang gadis yang menghampiriku.


Gadis itu bernama Firli. Dia berumur 7 tahun sama sepertiku. Dan dia adalah teman baikku saat masih berada di desa Alpen.


"Rudi, apa kau tidak bisa memakannya?" Firli bertanya padaku dengan nada lembut.


Aku mengedipkan mata untuk menjawab pertanyaannya.


Firli kemudian mengambil rotiku dan mulai mengunyahnya.


Setelah selesai mengunyah, dia menyupkan roti tersebut padaku.


"Maaf, Rudi! Aku tau ini jorok. Tapi, kau harus makan agar kondisimu membaik!" kata Firli sambil menyuapkan roti yang telah ia kunyah padaku.


Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tidak makan, kondisiku akan semakin buruk.


Aku pun langsung menelan roti tersebut tanpa menyunyahnya terlebih dahulu.


Dalam hati, aku bergumam, "Terimakasih Firli." Sambil mengedipkan mata.


Selesai menyuapkan roti tersebut padaku, Firli kemudian menuangkan air minum ke mulutku.

__ADS_1


Aku merasakan perih yang teramat sangat saat air itu menyentuh pipiku yang mengelupas.


"Maaf, apa terasa sakit?" tanya Firli sambil memasang wajah meringis.


Aku hanya mengedipkan mata, berniat menjawab tidak.


Seolah mengerti, Firli kemudian kembali menuangkan air minum ke mulutku secara perlahan.


Aku sangat bersyukur karena Firli mau berbaik hati menolongku.


Di mataku, Firli seperti malaikat baik hati yang turun ke bumi. Bukan hanya baik, tapi Firli juga cantik dan anggun.


Sejak dulu, aku sangat menyukainya karena beberapa alasan. Tapi, yang membuatku benar benar menyukainya adalah karena dia punya kebaikan hati yang luar biasa. Dan saat ini, hal itu semakin terlihat jelas.


Di saat orang lain memandangku dengan tatapan miris dan kasihan, Firli malah memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang. Dan itu membuatku semakin jatuh cinta padanya.


Aku ingin menjadi pasangannya. Aku ingin membahagiankannya. Aku ingin menjadikannya sebagai wanita paling bahagia di dunia. Akan tetapi, semua harapan itu hancur seketika.


Dengan kondisiku saat ini, mustahil aku bisa mewujutkannya. Untuk bertahan hidup saja rasanya sangat sulit.


Saat Firli masih menuangkan air ke mulutku, tiba tiba ada 3 orang dari kelompok yang telah membantai desaku mulai menghampiri kami.


"Hoya hoya ... apa dia kekasihmu?" Salah satu dari mereka bertanya pada Firli.


Firli hanya terdiam sambil menunduk.


Aku ingin sekali menyuruh Firli pergi sana agar dia tidak mendapat masalah. Akan tetapi, aku kesulitan mengatakannya karena rahangku terlalu sakit untuk kugerakkan.


"Fi .. Fir ... Fir-li ... pe-per ... gi ... lah." Walaupun harus bertaruh nyawa, aku berusaha keras menahan rasa sakit tersebut untuk meminta Firli segera pergi.


Firli kemudian menjawab, "Aku akan tetap di sini menemanimu."


Mendengar hal itu, membuat ketiga orang yang menghampiri kami mulai tertawa. Mereka menertawakan keteguhan Firli yang ingin membantuku.


"Haaahahahahahahaha! Kisah cinta anak anak memanglah luar biasa," kata pria pertama.


"Hei, jika dilihat lihat lagi, gadis ini boleh juga!" kata pria kedua.


"Aku setuju denganmu. Bagaimana kalau kita mencobanya sedikit?" tanya pria ketiga.


Ketiga pria tersebut kemudian menarik lengan Firli. Mereka berniat menc*bulinya demi kepuasan sesaat.


"Lepaskan!" Firli mencoba memberontak.


"Ayolah. Aku tidak akan menyakitimu," kata pria pertama sambil terus menarik lengan Firli.


"Kami akan memberimu kenikmatan yang sesungguhnya!" kata pria kedua sambil tersenyum bejat.


"Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Firli terus mencoba memberontak.


Aku yang sedang terkapar di tanah, ingin sekali menghajar ketiga pria tersebut. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukannya.


Aku berusaha bergerak sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhku. Tapi, semua usahaku sia sia. Tubuhku benar benar tidak bisa digerakkan karena hampir seluruh tubuhku telah penuh dengan luka menganga.


Saat ketiga pria tersebut hendak membawa Firli mejauh, tiba tiba muncul seorang pria yang menghentikan mereka.


Pria tersebut adalah pria yang telah menolongku sebelumnya.


"Lepaskan dia! Dia adalah barang dagangan kita! Jika kalian berani merusaknya, kalian akan membayar dengan nyawa kalian!" kata pria tersebut sambil menetap tajam ketiga pria yang hendak membawa Firli.


"Cih ... baiklah, baiklah. Kau itu benar benar membosankan!" kata salah satu pria yang hendak membawa Firli.


Firli pun dilepaskan.

__ADS_1


Warga desa Alpen yang melihat itu, tidak berani berbuat apapun karena mereka masih syok dengan pembantaian yang terjadi sebelumnya. Ditambah dengan penyiksaan yang mereka lakukan pada Rudi, membuat mereka tidak merespon sedikit pun dan memilih tetap diam.


__ADS_2