The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 23 - Menuju Pelelangan


__ADS_3

Di hotel tempat kami menginap, kami sedang membicarakan soal pelelangan yang Kageyama maksud sebelumnya.


"Oi, Kageyama. Soal pelelangan yang kau maksud tadi, di mana tempatnya digelar?" tanyaku.


"Jika tidak salah, ada pelelangan akbar yang akan segera digelar di negara Neverland satu bulan lagi," jawab Kageyama.


"Neverland? Bukankah itu salah satu negara paling berkuasa dan adidaya di Benua Timur?" tanya Akito.


"Benar sekali. Bukan hanya di Benua Timur, Neverland juga dikenal sebagai salah satu negara paling adidaya di dunia," jawab Kageyama.


"Yah, wajar saja kalau pelelangan di sana berbeda dengan pelangan di tempat lain. Mengingat negara itu adalah salah satu pusat sentral dunia," kataku.


"Kaaakakakakakakaka! Di sana, kalian bisa mendapatkan apapun yang kalian inginkan," sahut Kageyama.


"Apapun?" tanyaku dengan wajah melongo.


"Ya, apapun," jawab Kageyama.


"Apapun, ya?" kataku sambil membayangkan sesuatu yang aneh.


"Apa yang sedang kau pikirkan! Kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang aneh-aneh, kan?" Akito bertanya dengan nada tinggi.


"Diamlah, Akito! Kau merusak imajinasiku!" bentakku.


"Haah? Apa kau bilang?" bentak Akito.


"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.


"Oh, iya. Bukankah jarak dari sini ke Neverland sangat jauh?" tanyaku.


"Kita bisa naik pesawat terbang untuk sampai ke sana dengan cepat. Dengan begitu, kita bisa menghemat banyak waktu," jawab Kageyama.


"Hooo ... teknologi memang keren," sahutku dengan wajah berbinar.


"Tapi, aku tidak pernah melihat pesawat terbang sama sekali," kata Akito.


"Itu karena pesawat terbang bukan transportasi umum. Biasanya hanya digunakan oleh para kaum kelas atas untuk berpergian jauh," sahut Kageyama.


"Bukankah itu akan makan banyak uang?" tanya Akito.


"Tentu saja. Untuk setiap penerbangannya, membutuhkan jutaan gale," jawab Kageyama.


"Cih ... kenapa lagi-lagi uang? Dunia ini benar-benar dikuasaai uang," kataku.


"Kaaakakakakakakakaka! Tentu saja. Uang dan kekuatan adalah hal paling utama untuk bertahan hidup di dunia seperti ini," sahut Kageyama.


"Lalu, di mana kita bisa menaiki pesawat terbang? Bukankah di sekitar sini tidak ada hal semacam itu?" tanya Akito.


"Kita bisa pergi ke bandara yang ada di Ibukota Fuze," jawab Kageyama.


"Bandara? Apa itu?" tanyaku.


"Huuf ... aku mulai bosan menjelaskan kepada kalian. Ayo ke sana dan kalian akan tau sendiri," jawab Kageyama sambil menghela nafas.


Akhirnya sudah diputuskan. Kami selanjutnya akan pergi Neverland untuk menghadiri pelelangan yang akan diselenggarakan di sana.


Kami pergi dari kota Alinstone menuju bandara di Ibukota Fuze menggunakan bus umum.


Di dalam bus yang kami naiki, aku sedang cemberut karena beberapa alasan.

__ADS_1


"Cih ... bukankah lebih baik jalan kaki? Sekalian melatih stamina dan fisik," kataku dengan wajah cemberut.


"Ya, aku juga inginnya begitu. Tapi, mau bagaimana lagi? Kageyama tidak mau melakukannya," sahut Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja aku tidak akan bisa mengikuti maniak otot seperti kalian," sahut Kageyama.


Mundur beberapa saat sebelum kami mulai berangkat dari kota Alinstone.


"Ayo berlomba, Akito. Yang kalah harus mentraktir yang menang," kataku sambil pemanasan.


"Siapa takut," sahut Akito yang juga sedang melakukan peregangan.


"Hoi, hoi. Jangan bilang kalian mau berlari dari sini hingga ke ibukota," kata Kageyama.


"Memangnya ada yang salah?" tanyaku.


"Jangan bercanda! Jarak dari sini ke ibukota sangat jauh. Jika kalian mau melakukannya, lakukan sendiri. Aku tidak mau mengikuti maniak otot seperti kalian!" kata Kageyama.


Karena Kageyama menolak untuk berlari hingga ke ibukota, mereka akhirnya memutuskan untuk menaiki bus umum.


Kembali ke saat ini.


"Huuft ... rasanya sangat sia-sia," kataku dengan wajah murung.


"Aku setuju denganmu," sahut Akito juga dengan wajah murung.


"Kaaakakakakakakakaka!" Kageyama hanya tertawa.


Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, kami akhirnya sampai di Ibukota Fuze.


"Akhirnya sampai juga," kataku sambil berjalan meninggalkan terminal bus.


"Kaaakakakakakakaka! Sabarlah. Sebelum itu, kita harus pergi ke barber shop dan toko pakaian untuk memperbaiki penampilan kalian. Dengan penampilan seperti ini, kalian tidak akan diperbolehkan memasuki bandara," jawab Kageyama yang berjalan di samping Akito.


"Bukankah penampilan kami tidak seburuk itu?"


Aku dan Akito kemudiam melihat penampilan kami sendiri.


Kulit kami kusam, wajah kami lepek, rambut kami kumal, dan baju yang kami kenakan terlihat seperti gelandangan.


"Dengan penampilan kalian saat ini, kalian akan dikira sebagai gelandangan," kata Kageyama.


Kami pun akhirnya pergi ke barber shop terbaik di ibukota.


Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh pelayan barber shop tersebut.


"Selamat datang," sapa ramah sang pelayan sambil membukakan pintu.


"Terimakasih," sahutku dengan wajah ramah.


Saat kami mulai memasuki barber shop, orang-orang di sana terus melihat ke arah kami.


"Apa ada yang salah dengan mata mereka?" tanyaku sambil berbisik pada Akito.


"Dasar bodoh! Mereka itu sedang memperhatikan penampilan kita. Mungkin saja, saat ini mereka berfikir bahwa kita ini gelandangan yang sedang nyasar," jawab yang juga sambil berbisik.


Tepat setelah kami memasuki barber shop, ada seorang pria yang mendekat.


"Maaf, ini bukan tempatnya gelandangan," kata pria itu, berniat mengusirku dan Akito.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Kau pikir kami gelandangan, hah?" tanyaku dengan perasaan kesal.


"Apa ucapanku salah? Penampilan kalian bahkan lebih buruk dari pelayanku di rumah," kata pria itu.


"Apa? Mau kuhajar, kah?" Aku tersulut emosi karena dikira gelandangan.


"Tananglah." Akito menahanku yang sedang emosi.


"Kami datang ke sini sebagai pelanggan," kata Kageyama dari belakang sambil menyodorkan black cardnya.


Saat melihat black card tersebut, sang pelayan barber shop langsung menundukkan kepala sambil meminta maaf.


"Tolong maafkan saya, Tuan. Saya sudah lancang menghina teman-teman Anda!"


"Kau seharusnya meminta maaf pada temanku," kata Kageyama dengan sorot mata tajam.


"Tuan, tolong maafkan kelancangan saya karena telah menghina Anda! Tolong ampuni nyawa saya!" ucap pelayan itu sambil membungkuk.


"Cih ... lupakan saja. Lagi pula, itu bukan sepenuhnya salahmu," kataku sambil mengalihkan pandangan.


Orang-orang yang melihat black card milik Kageyama, tidak berani berbicara sedikit pun. Bahkan mereka juga selalu menundukkan pandangan agar tidak menyinggung seorang pemilik black card.


Setelah selesai memoles wajah, kami pun berniat pergi ke pusat perbelanjaan mewah.


Sambil berjalan ke pusat perbelanjaan yang kami tuju, aku bertanya pada Kageyama. "Oi, Kageyama. Kenapa orang-orang di barber shop tadi langsung terlihat ketakutan saat kau mengeluarkan kartu hitammu?"


"Kaaakakakakakakaka! Ini?" Kageyama menunjukkan black cardnya.


Aku dan Akito mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Kageyama.


"Ini milik ayahku. Aku mencurinya saat pergi dari rumah," imbuhnya.


"Pergi dari rumah? Kenapa?" tanyaku.


"Ya, ceritanya panjang," jawab Kageyama.


"Apa kau di usir atau semacamnya?" tanya Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Tentu saja tidak. Aku pergi dari rumah atas keiginanku sendiri. Aku ingin menjelajah dunia dan melihat banyak hal yang belum pernah kulihat sebelumnya," jawab Kageyama.


"Ah, jadi intinya, kau kabur dari rumah, kan?" tanyaku.


"Kaaakakakakakakaka! Jika kau pikir begitu, aku tidak bisa membantahnya," jawab Kageyama.


Kami terus berjalan menuju pusat perbelanjaan sambil terus berbincang santai.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, kami memborong banyak setelan jas mahal agar bisa digunakan berkali-kali. Mengingat, acara pelelangan yang akan kamu hadiri juga merupakan tempatnya para bangsawan kelas atas berkumpul.


"Hmm ... tidak buruk," kata Kageyama saat melihat penampilanku dan Akito.


"Benarkah?" tanyaku sambil melihat setelan jas yang kupakai.


"Coba lihat diri kalian sendiri di cermin," jawab Kageyama.


Aku dan Akito pun melihat ke arah cermin.


"Woah ... siapa orang itu?" tanyaku yang merasa kaget saat melihat penampilanku sendiri.


"Aku tidak menyangka, ternyata aku bisa sekeren ini." Akito pun terkejut dengan perubahan penampilannya sendiri.

__ADS_1


"Kaaakakakakakakaka! Sekarang ayo pergi ke bandara!" kata Kageyama dengan penuh semangat.


__ADS_2