
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, berlari sekuat tenaga sambil membawa Rudi yang sedang tak sadarkan diri. Mereka semua ingin segera meninggalkan wilayah kelompok All Stars Nero agar bisa segera beristirahat.
"Apa mereka masih mengejar?" tanya Akito yang membopong Rudi sambil terus berlari.
"Sepertinya tidak," jawab Yuta sambil menengok ke belakang.
"Kenapa mereka tidak mengejar kita?" tanya Julius.
"Entahlah. Yang pasti, kita beruntung karena mereka tidak mengejar kita. Kalau mereka tetap mengejar, kita pasti akan mati," jawab Kageyama sambil terus berlari.
"Ini benar-benar membuat jantungku berdebar. Baru kali ini aku merasakan ketegangan semacam ini," kata Alvin sambil terus berlari.
"Kakak, kakiku rasanya mati rasa," kata Dian yang sudah sangat kelelahan.
"Tahanlah. Sebentar lagi, kita aman," sahut Alvin pada adiknya.
Mereka semua terus berlari dengan sisa tenaga masing-masing.
...***...
"Itu mereka!"
"Benar. Ayo kejar!"
Ada 3 orang yang mengejar kelompok Rudi yang sedang melarikan diri dari perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero. Mereka adalah orang-orang yang Andre tugaskan untuk mengawasi jalur pelarian di perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero.
Sebelumnya, Andre membagi semua anggotanya yang tersisa, menjadi beberapa tim. Masing-masing tim beranggotakan 2 sampai 3 orang. Tim-tim itu berjaga di sepanjang perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero.
"Hoi!" teriak salah satu orang yang sedang mengejar kelompok Rudi.
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, mendengar teriakan dari arah samping. Mendengar teriakan itu, membuat mereka berhenti berlari.
"Bukankah kalian anggota kelompok Andre?" tanya Akito pada ketiga orang itu.
"Benar. Kami sudah menunggu kalian," jawab salah satu dari mereka.
"Menunggu kami? Untuk apa?" tanya Akito.
"Bos Andre meminta kami berjaga di sini untuk membantu kalian melarikan diri," jawab salah satu dari mereka.
"Ah, begitu rupanya. Kalau begitu, terimakasih," balas Akito.
Orang pertama kemudian meminta 2 temannya untuk mengabari tim lain kalau kelompok Rudi sudah berhasil melarikan diri.
__ADS_1
"Katakan pada yang lainnya kalau kelompok Rudi telah berhasil lolos. Dan minta mereka untuk segera pergi dari sini." Orang pertama meminta orang kedua dan ketiga untuk mengabari tim yang berjaga di tempat lain.
"Baik, aku akan mengabari tim yang berjaga di sana," jawab orang kedua sambil menunjuk ke suatu arah.
"Kalu begitu, aku akan mengabari tim yang berjaga di sana," sahut orang ketiga sambil menunjuk ke suatu arah.
Kedua orang itu langsung berlari ke arah yang berbeda untuk mengabari tim lain.
Orang pertama kemudian meminta seluruh anggota kelompok Rudi untuk mengikutinya.
"Ikut aku. Aku akan membawa kalian ke tempat aman," kata orang pertama pada seluruh anggota kelompok Rudi.
"Terimakasih," jawab Akito.
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, berlari mengikuti orang itu dari belakang.
Orang itu mengarahkan kelompok Rudi ke sebuah bangunan tua yang terletak di hutan belantara tidak jauh dari perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung disambut oleh Andre.
"Kalian berhasil," kata Andre kepada seluruh anggota kelompok Rudi yang baru saja sampai di sana.
"Tentu saja. Kami tidak mengenal kata gagal," kata Kageyama.
"Aku masih tidak percaya kalau kalian berhasil mengalahkan All Stars Nero berserta para eksekutifnya," kata Andre.
Andre kemudian meminta anggotanya mengambilkan air minum.
"Bawakan mereka air minum," kata Andre pada salah satu anggotanya.
"Baik, Bos," jawab bawahan Andre.
Akito menurunkan Rudi yang sedang ia bopong ke lantai.
Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, langsung duduk di lantai untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
"Bagaimana kondisinya?" Andre menanyakan keadaan Rudi pada Akito.
"Dia hanya pingsan. Dia pasti sangat kelelahan setelah bertarung melawan Nero," jawab Akito sambil bersandar di dinding bangunan.
"Ini," Bawahan Andre memberikan air minum kepada suluruh anggota kelompok Rudi.
"Ah, terimakasih," jawab Akito dan yang lainnya.
__ADS_1
Seluruh anggota kelompok Rudi meminum air tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah di sana ada ribuan pasukan aliansi kelompok Nero? Bagaimana cara kalian meloloskan diri dari sana?" tanya Andre pada seluruh anggota kelompok Rudi.
"Kakakakakaka! Kami sendiri juga tidak tau," jawab Kageyama.
Saat Andre masih sibuk mengobrol dengan anggota kelompok Rudi. Tiba-tiba, puluhan orang yang mereka selamatkan dari kekejaman kelompok Nero, mulai perlahan mendekat dengan ekspresi takut.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Julius yang keheranan melihat ekspresi puluhan orang itu.
"Entahlah ... Mereka selalu seperti itu," jawab Andre.
Puluhan orang itu mendekati kelompok Rudi dengan wajah takut. Walaupun puluhan orang itu terlihat ketakutan. Tapi, mereka seolah berusaha menekan rasa takut itu sambil terus mendekati kelompok Rudi.
"Tu-Tuan. Te-Terima ... terimakasih," kata seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang terlihat ketakutan saat mendekati kelompok Rudi.
Walaupun memasang wajah ketakutan, gadis itu tetap berusaha memberanikan diri untuk mengucapkan rasa terimakasihnya karena telah dibebaskan dari siksaan kejam yang ia terima saat berada di markas kelompok Nero.
Saat melihat gadis kecil itu mengucapkan rasa terimakasih, membuat Kageyama, Julius, dan Yuta terbelalak.
Mereka seolah bisa merasakan penderitaan yang sudah dialami gadis berusia 12 tahun itu. Mereka seolah bisa membayangkan siksaan macan apa yang sudah diterima gadis itu. Mereka seolah bisa membayangkan kehidupan macam apa yang telah dilalui gadis kecil itu.
Kageyama, Julius, dan Yuta adalah anak bangsawan kelas atas dunia. Sejak kecil, mereka hidup dalam hingar-bingar kemewahan. Apapun yang mereka inginkan, bisa mereka dapat dengan sangat mudah. Kehidupan itu membuat ketiganya tidak pernah merasakan yang namanya penderitaan dan perjuagan.
"Kakakakakakaka!" Kageyama tertawa lantang.
Kageyama kemudian mendekati gadis itu.
Karena melihat Kageyama yang mendekatinya sambil tertawa lantang, membuat gadis kecil itu panik.
"Tu-tuan ... ma-maaf ... maafkan saya ... tolong jangan hukum saya," kata gadis kecil itu sambil bersujud.
Gadis itu mengira bahwa ucapannya telah menyinggung perasaan Kageyama. Sehingga, membuatnya mencoba meminta maaf agar tidak dihukum.
"Tidak ... itu bukan salahmu," kata Kageyama sambil mengangkat kepala gadis kecil itu.
Gadis itu mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak berani menatap wajah Kageyama.
Kageyama kemudian melihat wajah puluhan orang yang telah mereka selamatkan dari wilayah kekuasaan kelompok Nero.
"Kakakakakakaka! Untuk apa kekayaan? Untuk apa kekuasaan? Untuk apa kekuatan? Untuk apa pengaruh besar? Kenapa dunia ini hanya dirancang untuk mereka yang punya itu semua? Kenapa Dia hanya diam saja dengan semua penderitaan ini? Di mana Dia saat orang-orang ini sedang dalam keadaan seperti ini? Apa Dia hanya menjadikan dunia ini sebagai panggung pertunjukkan? Sialan!" Kageyama mencoba meluapkan semua perasaannya. Perasaan sedih, marah, frustasi, hingga kecewa, coba ia meluapkan semua.
Akito, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, hanya diam mendengar ucapan Kageyama.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Akito, Kageyama, Julius, Yuta, Alvin, dan Dian, beristirahat untuk memulihkan kondisi.
Mereka tidak bisa terus beristirahat di sana. Mereka harus segera meninggalkan tempat itu karena ancaman bisa datang kapan saja.