
Aku dan kelompokku mengumpulkan semua orang yang sudah kami selamatkan di perbatasan barat wilayah kekuasaan kelompok Nero.
Aku meminta kelompok Andre untuk membawa mereka ke tempat aman. Sedangkan, aku dan yang lainnya akan mulai menggempur wilayah Nero habis habisan.
"Andre, tolong bawa mereka ke tempat aman," kataku.
"Serahkan padaku. Aku akan membawa mereka semua ke tempat persembunyian kami," balas Andre.
Andre dan anggotanya yang tersisa, mulai meninggalkan tempat itu bersama dengan puluhan orang tersebut.
"Baiklah. Kita tidak punya banyak waktu. Ayo segera akhiri ini dan pergi dengan kemenangan," kataku pada semua anggota kelompokku.
"Kuharap, negara dan kelompok lain tidak akan ikut campur," sahut Akito.
"Kaaakakakakakakaka! Sepertinya final battle akan segera dimulai," sahut Kageyama.
"Apa pun yang terjadi, kita harus segera mengakhirinya secepat mungkin," sahut Julius.
"Aku ingin segera pulang," sahut Yuta.
"Kenapa juga, aku harus ikut dengan kalian?" tanya Alvin yang dipaksa bergabung dengan kelompok Rudi.
"Apa ini akan baik baik saja?" tanya Dian yang juga terpaksa bergabung dengan kelompok Rudi.
Aku dan kelompokku bersiap memulai tahap terakhir, yaitu tahap penghabisan.
Aku dan semua anggota kelompokku langsung pergi menuju markas utama kelompok Nero. Tapi, sesaat setelah melewati wilayah barat, kami dicegat oleh 4 eksekutif Nero yang telah bersiap menyambut kedatangan kami.
Para eksekutif itu, masing masing membawa 3 komandan satuan terbaik mereka.
"Apa kalian yang sudah membuat onar di wilayah kami?" tanya Lando, eksekutif pertama kelompok Nero sekaligus tangan kanan Nero.
"Sepertinya kami tidak perlu repot repot mencari kalian," sahutku sambil berdiri di tengah anggota kelompokku.
Aku dan kelompokku saat ini sedang berhadapan dengan keempat eksekutif berserta 12 komandan satuan kelompok Nero.
"Kalian sangat luar biasa karena bisa sampai sejauh ini. Aku tidak tau siapa dan dari mana kalian berasal. Tapi, aku penasaran dengan dua orang di sana," kata Bojas, eksekutif kedua kelompok Nero, sambil menunjuk Kageyama dan Julius.
"Apa kau ada masalah dengan kami?" tanya Julius.
"Tidak, tidak. Aku hanya penasaran. Kenapa bangsawan kelas dunia seperti kalian bisa melakukan hal semacam ini. Bukankah seharusnya kalian tau seberapa penting peran kelompok kami dalam keseimbangan dunia? Apa orang tua kalian tidak memberitahu kalian apa apa?" tanya Bojas.
Mendengar hal itu, membuatku, Akito, Alvin, dan Dian, langsung mengarahkan pandangan kami ke arah Kageyama dan Julius.
"Oi, Kageyama, Julius. Apa maksud ucapan orang itu? Apa maksud dari 'menjaga keseimbangan dunia' yang mereka ucapkan?" tanyaku pada Kageyama dan Julius.
__ADS_1
Kageyama dan Julius hanya diam seribu bahasa, seolah mereka benar benar tidak tau harus menjawab apa.
"Haaahahahahahahaha! Jadi, kalian ke sini tanpa tau apa pun?" tanya Bojas.
Aku semakin bingung dengan apa yang dimaksud oleh Bojas. Aku tidak mengerti hubungan kelompok broker dunia bawah dengan keseimbangan dunia yang dimaksud.
"Rudi, apa kau ingat bahwa aku pernah mengatakan bahwa jika kita menghancurkan All Stars Nero, kita akan mengguncang seluruh Benua Timur?" tanya Julius.
"Ya, aku ingat," jawabku.
"Maksud dari 'mengguncang' itu bukan menghebohkan masyarakat. Melainkan kelompok kelompok kuat yang berada di bawah kendali mereka. Dengan menumbangkan kelompok Nero, itu sama saja dengan menghancurkan keseimbangan yang selama ini mereka jaga," jawab Julius.
"Kelompok kelompok yang selama ini diam, akan mulai berebut kekuasaan demi mengambil alih tahta kosong. Kelompok Nero itu seperti raja yang menjaga kerajaan dunia bawah di wilayah Benua Timur. Kalau sampai sang raja lengser, maka orang orang akan memulai perang besar besaran demi memperebutkan tahta raja selanjutnya. Kedamaian yang selama ini dijaga kelompok Nero, akan berubah menjadi perang besar. Itulah maksud dari 'menjaga keseimbangan' yang dia ucapkan," sahut Kageyama.
Kageyama pernah mengatakan bahwa dunia yang kulihat selama ini hanya seperti permukaan laut.
Aku merasa bahwa aku telah mengetahui sisi kelam dunia berkat pengalamanku di masa lalu. Tapi, setelah mengentahui fakta dunia lebih jauh, aku akhirnya sadar bahwa dunia yang kulihat selama ini hanya seperti permukaan laut tenang. Aku tidak tau bahwa jauh di kedalaman, ada banyak predator ganas yang saling berebut supremasi tertinggi.
"Begitu rupanya ... aku mengerti sekarang," kataku.
"Apa kau mulai gentar?" Julius bertanya padaku.
"Gentar? Jangan bercanda! Mana mungkin aku gentar menghadapi hal semacam ini. Justru, aku sangat senang karena akhirnya bisa mengetahui bagaimana dunia bekerja," jawabku.
"Mundur? Jangan bercanda! Kami sudah sampai sejauh ini dan kalian meminta kami mundur?" tanyaku dengan seringai tipis di wajahku.
"Oi, kalian semua! Bukankah waktunya untuk segera mengakhiri pestanya?" seruku pada semua anggota kelompokku.
"Ayo segera akhiri ini," sahut Akito.
"Kaaakakakakakakakaka! Itulah yang ingin kudengar," sahut Kageyama.
"Kita tidak punya waktu berpesta semalaman," sahut Julius.
"Haah ... ini merepotkan," sahut Yuta.
"Kenapa aku malah terseret dalam konfik kalian?" tanya Alvin.
"Kakak, apa kita harus bertarung?" tanya Dian pada Alvin.
Kami sudah sepenuhnya siap bertarung. Kami tidak perduli dengan dampak yang akan terjadi ke depannya. Jika memang harus berperang, maka dengan senang hati kami layani.
Di sisi lain, keempat eksekutif Nero beserta 12 pasukan elit mereka juga telah siap bertarung.
"Ayo akhiri pestanya!" seruku.
__ADS_1
"Bunuh mereka!" seru Lando.
Kelompok Rudi pun memulai pertempuran melawan keempat eksekutif Nero beserta 12 komandan satuan mereka.
Duar! Boom!
Suara ledakan bertabur cahaya warna warni menghiasi langit malam seperti festival kembang api.
.
.
Dari markasnya, Nero bisa merasakan dengan jelas tekanan energi dari bentrokan yang terjadi di wilayah barat.
"Sialan ... ini jadi semakin menarik saja," kata Nero sambil melihat ke luar jendela, ke arah medan pertempuran kelompok Rudi melawan para eksekutifnya.
"Tuan, apa Anda berniat pergi ke sana?" tanya salah satu bawahannya.
"Ya, aku ingin melihat pertempuran itu dari dekat," jawab Nero.
"Kalau begitu, saya akan meminta pasukan khusus milik Anda untuk segera bersiap," sahut si bawahan.
"Apa kau meragukan kekuatanku?" tanya Nero dengan wajah marah.
"Ti-Tidak, Tuan. Tentu saja saya tidak pernah meremehkan kekuatan Anda," jawab si bawahan.
"Kalau begitu, pergilah! Aku tidak butuh pengawal sama sekali," kata Nero.
Nero meninggalkan markasnya untuk melihat pertempuran dari dekat. Ia ingin melihat sekuat apa kelompok yang berani menyerangnya.
Sesampainya di wilayah barat, ia melihat keempat eksekutifnya sedang bertarung sengit melawan orang orang dari kelompok penantang.
Saat Nero baru saja tiba di sana, ia langsung disambut oleh Rudi yang sengaja tidak ikut bertempur melawan para eksekutif Nero demi bisa menghadapi Nero dengan kondisi terbaiknya.
"Jadi, akhirnya kau datang juga?" tanyaku yang tiba tiba muncul di depan Nero.
"Apa kau pemimpin mereka?" tanya Nero dengan wajah santai.
"Ya, aku pemimpinya," jawabku singkat.
"Apa kau berniat menantangku?" tanya Nero dengan seringai tipis.
"Itulah tujuanku sejak awal," jawabku.
"Haaahahahahahahaha! Baiklah, bocah! Akan kuladeni tantangannmu. Tapi, jangan salahkan aku kalau tidak sengaja membunuhmu," balas Nero dengan tawa penuh hasrat.
__ADS_1