The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 2. Bab 59 - Yuta dan Akito


__ADS_3

Medan pertempuran Yuta melawan Killian, eksekutif keempat kelompok Nero.


Pertarungan keduanya benar-benar intens. Jual-beli serangan jarak jauh terus mereka pertontonkan. Dalam pertarungan tersebut, benar-benar dibutuhkan akurasi tingkat tinggi untuk bisa memenangkan pertarungan.


Killian membidik, kemudian melepaskan tembakan.


Yuta menciptakan arus angin kuat di sekitarnya untuk membelokkan lintasan peluru milik Killian, lalu membuat puluhan anak panah angin dan langsung melesatkannya ke arah Killian.


Killian berlari, melompat, menangkis, dan menghindari puluhan anak panah yang terus mengejarnya. Pergerakannya sangat cepat hingga membuat tidak ada satu pun anak panah angin milik Yuta yang sanggup mengenainya.


Saat masih berlari dengan kecepatan tinggi, Killian melepaskan satu tembakan kuat ke arah Yuta.


Yuta mencoba menghindari tembakan itu. Akan tetapi, peluru itu terlalu cepat untuk bisa ia hindari, sehingga membuat bahu kanannya berlubang karena terkena peluru berlapis force dan aura yang Killian lepaskan.


"Argh!" Yuta menjerit kesakitan karena luka parah yang ia terima.


Di saat ia masih mengerang kesakitan, datang lagi satu peluru yang telah berada tepat di depan keningnya.


Dalam waktu yang terasa melambat, Yuta berpikir, "Ah, inikah akhir dari hidupku? Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu lagi, Tuan Julius."


Bem!


Kepala Yuta pun tersentak ke belakang setelah dihantam peluru itu.


Melihat lawannya telah tumbang, Killian pun mulai mendekati Yuta.


"Kau benar-benar lawan yang merepotkan," gumam Killian sambil melihat kepala Yuta yang telah berlubang.


Saat hendak meninggalkan tubuh Yuta yang tergulai di tanah, Killian menyadari sesuatu. Ia kemudian kembali menoleh ke belakang untuk memastikan.


"Kenapa kepalanya tidak mengeluarkan darah?" pikir Killian sambil waspada.


Tidak lama berselang, Yuta kemudian mulai bangkit dan kepalanya yang sebelumnya berlubang, mulai kembali normal seperti sedia kala.


"Apa dia sudah mencapai tahap itu?" pikir Kilian sambil melihat Yuta yang mulai bangkit perlahan.


Killian tidak mau memberi Yuta kesempatan untuk bangkit. Ia pun terus menembakkan pulurunya satu demi satu ke kepala Yuta.


Duar! Duar! Duar! 1 tembakan! 2 tembakan! 3 tembakan!


Killian terus memberondong kepala Yuta menggunakan senapannya. Akan tetapi, semua luka yang Yuta terima langsung sembuh dalam sekejap mata tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.


Karena pelurunya mulai menipis, Killian pun menghentikan tembakannya dan saat itu pula, Yuta langsung mengurung Killian menggunakan atribut anginnya.

__ADS_1


Ia menyedot semua udara di tubuh Killian hingga membuat Killian kehilangan semua oksigen di tubuhnya.


Killian yang tidak bisa melepaskan diri dari kurungan gelembung udara milik Yuta, hanya bisa kejang-kejang seperti orang yang tidak bisa bernafas.


Setelah 5 menit, Killian tidak lagi bergerak.


Melihat lawannya telah tidak lagi melawan, Yuta melepaskan kurungan atribut anginnya dan membuat tubuh Killian jatuh tergulai lemas ke tanah.


"Sialan! Aku tidak menyangka bisa membangkitkan kemampuan ini di detik-detik terakhir hidupku," pikir Yuta sambil melihat kedua tangannya.


Saat Yuta ingin mendekat ke tubuh Killian yang sudah tergulai lemas, tiba-tiba jantungnya berdetak kuat dan membuatnya pingsan tak sadarkan diri, tepat di samping Killian.


Pertarungan antarsniper, telah dimenangkan oleh Yuta dari kelompok Rudi.


...


Medan pertempuran Akito melawan Lando, eksekutif pertama kelompok Nero.


Ting! Ting! Ting! (Suara benturan benda tajam).


Benturan demi benturan terus terdengar dari pertarungan keduanya.


Akito benar-benar kesulitan saat menghadapi kelincahan dan kekuatan yang Lando miliki. Terlebih lagi, Lando seolah bisa memprediksi semua serangannya dengan sangat baik.


Dalam hal kelincahan, pertarungan mereka tidaklah seimbang. Sekilas, Lando jauh lebih unggul karena bisa menahan semua serangan Akito dan melakukan serangan balik dengan sangat akurat, sedangkan di sisi lain, Akito seolah dipaksa menghadapi seseorang yang bisa meramal masa depan.


"Apa-apaan orang ini? Kenapa dia bisa menahan semua seranganku dengan sangat mudahnya? Apa dia ini bisa melihat ke masa depan atau semacamnya?" pikir Akito sambil terus menangkis serangan dua dagger Lando.


Bentrokan keduanya terus berlangsung dalam tempo yang sangat cepat dan intens.


Selama 30 menit bertarung, Akito belum bisa sekalipun mendaratkan serangannya ke tubuh Lando, sedangkan tubuhnya sudah penuh luka sayatan akibat terkena serangan dagger Lando.


Lando terus mengayunkan kedua daggernya dengan sangat indah namun juga mematikan, sedangkan Akito harus bersusah payah menangkis dan menghindari kombinasi serangan itu.


Ting! Ting! Ting! (Suara benturan benda tajam).


Suara benturan kedua senjata mereka menimbulkan bunyi nyaring namun mematikan.


Salah sedikit, nyawa bisa menjadi taruhannya.


Di saat luka di tubuh Akito terus bertambah, ia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh.


Pengelihatannya mulai terasa melambat. Serangan cepat dan mematikan yang Lando lesatkan, juga mulai bisa dilihat dengan jelas.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Kenapa semuanya terasa melambat? Apa ini perasaan sebelum kematian? Yah, aku sudah kehilangan banyak darah akibat semua luka ini. Mungkin saja, beberapa saat lagi darahku akan benar-benar habis dan aku akan mati karena kehilangan banyak darah," pikir Akito.


Di saat ia sudah pasrah akan hidupnya, tiba-tiba Lando menghentikan serangannya.


"Apa kau juga bisa melihatnya?" tanya Lando pada Akito.


"Apa maksudmu?" tanya Akito.


"Ultra insting! Itu adalah kemampuan yang bisa membuatmu bisa melihat di waktu yang melambat," jawab Lando.


Mendengar hal itu, Akito pun terkejut.


"Apa ini bukan perasaan sebelum kematian?" pikir Akito sambil melihat tubuhnya yang penuh luka sayatan.


Lando langsung melanjutkan pertempuran dengan melesat ke arah Akito sambil mengayunkan kedua daggernya.


Tanpa diduga, Akito bisa menangkis serangan Lando dengan sangat mudah. Serangan yang sebelumnya sulit ia lihat, mulai bisa dilihat dengan sangat baik.


Ting! Ting! Ting! (Suara benturan benda tajam).


Keduanya beradu serangan dengan sangat cepat, namun kali ini ada perbedaan besar dibanding sebelumnya. Jika sebelumnya Akito hanya bisa bertahan, kali ini ia juga mulai bisa sesekali melancarkan serangan balik.


"Apa-apaan ini? Kenapa semua hal terasa sangat lambat? Kenapa tubuhku tidak bisa mengikuti kecepatan pengelihatanku?" pikir Akito sambil terus beradu senjata dengan Lando.


Ultra insting adalah kemampuan melihat di waktu yang melambat. Walaupun begitu, kemampuan tubuh tidak akan bisa mengimbangi kecepatan pengelihatan tersebut, sehingga membuat semua objek, termasuk sang pengguna, terlihat seperti bergerak dengan kecepatan yang sangat lambat.


Akito yang sebelumnya kesulitan mengimbangi kemampuan Lando, kini mulai bisa membalikkan keadaan.


Dalam hal kemampuan fisik, Akito jauh lebih diunggulkan karena ia telah terlatih dalam pertempuran semacam itu. Akan tetapi, dalam hal pengalaman bertarung nyata, Lando lebih diunggulkan karena telah banyak menghadapi pertarungan hidup dan mati melawan banyak orang kuat.


Akito kemudian mulai memperkuat lapisan force dan aura di katananya. Ia berniat melakukan satu serangan penghabisan karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertarungan itu lebih lama lagi. Ia sudah kehabisan terlalu banyak darah. Jika memaksa bertarung lebih lama lagi, sudah dipastikan bahwa ia pasti akan kalah.


Deadly Katana!


Akito melesatkan satu tebasan kuat ke arah Lando.


Lando bersiap menahan tebasan itu menggunakan kedua daggernya. Akan tetapi, kedua daggernya terpotong, sehingga membuat tebasan Akito langsung menyayat tubuhnya.


Slash!


Teknik terkuat milik Akito berhasil menyayat tubuh Lando dengan sangat ganas, sehingga membuat Lando harus tumbang karena terluka cukup parah.


"Huft ... huft ... aku menang!" kata Akito yang masih dalam posenya, pose setelah melepaskan tebasan kuatnya.

__ADS_1


Akito juga tumbang karena kehabisan stamina dan banyak darah.


Dengan begitu, pertarungan Akito melawan Lando berakhir dengan kemenangan Akito dari kelompok Rudi.


__ADS_2