The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 3. Bab 95 - Aura Raja


__ADS_3

Setelah hempasan dan getaran mereda, aku mulai melihat ke area sekitar.


Di sana, aku melihat medan pertempuran telah rata dengan tanah. Debu debu juga berterbangan ke mana mana.


Medan perang penuh darah dan mayat, seketika berubah menjadi tanah lapang penuh debu.


Aku berusaha berdiri, akan tetapi, tubuhku terlalu lemah untuk itu.


Stamina, force, dan auraku benar benar terkuras habis karena serangan terakhir yang kulesatkan.


Tidak lama berselang, aku mulai mengingat Akito.


Aku pun menancapkan katanaku ke tanah untuk membantuku berdiri.


Aku kemudian menyangga tubuhku menggunakan katana itu sambil berteriak, "Oi, Akito! Di mana kau! Akito!"


Sambil menengok ke sana ke mari, aku terus berteriak untuk mencari keberadaan sahabatku.


Saat aku masih terus berteriak, tiba tiba aku merasakan ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang.


Aku pun menengok ke belakang. Ternyata, yang menepuk pundakku adalah Akito.


"Aku di sini, sobat," kata Akito sambil memegang pundakku.


"Syukurlah. Kupikir, kau ikut terhempas," balasku.


"Apa kau mengkhawatirkanku?"


"Jangan bodoh! Mana mungkin aku mengkhawatirkanmu!"


"Lalu, kenapa kau terus meneriakan namaku?"


"Soal itu ... itu ... itu karena aku butuh bantuanmu! Tubuhku terlalu lemah untuk bergerak. Kalau kau tidak ada di sini, bagaimana jadinya kalau tiba tiba ada yang ingin membunuhku?" Aku yang berusaha mengelak.


"Ya, ya ... terserahlah!" sahut Akito, kemudian berniat melangkah pergi.


"Oi, mau ke mana kau? Cepat bantu aku berjalan!" bentakku.


"Kau terlalu manja!" sahut Akito dengan wajah malas.


"Apa katamu? Apa kau tidak melihat kehebatan seranganku? Aku menggunakan semua yang kumiliki untuk satu serangan penghabisan itu!" Aku berniat memamerkan teknikku.


"Ya, ya ... aku tau!"


Akito pun membantuku berdiri dan berjalan.


Kami berjalan ke sekitar untuk mencari keberadaan James. Kami ingin melihat tubuh James secara langsung untuk memastikan kemenangan kami.


Saat aku melesatkan tebasan kuat ke arah perut James, aku telah yakin sepenuhnya bahwa dia tidak akan bisa selamat. Akan tetapi, aku tetap ingin memastikan itu untuk membuatku semakin yakin.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mencari, kami pun menemukan tubuh James yang terlempar sejauh 500 meter dari medan pertempuran kami.


Kondisi James sangat memperihatinkan. Tubuhnya terpotong menjadi dua, dan yang kami lihat saat ini adalah bagian atas tubuh James yang telah terpotong menjadi dua.


Dengan mulut penuh darah, James berkata, "Aku tidak menyangka kalau kau memiliki teknik yang mampu membelah apapun."


Sambil dibantu Akito berdiri, aku bertanya, "Katakan padaku! Siapa dalang dibalik pembantaian desaku? Kenapa kau sampai menyiksa mereka dengan begitu kejam? Apa kau benar benar melakukan itu hanya demi kesenangan semata?"


Sambil batuk darah, James menjawab, "Uhuk uhuk ... aku memang telah membantai desamu. Tapi, aku tidak pernah menyiksa mereka seperti yang kau katakan."


"Jangan berbohong! Kau bahkan menggantung, menusuk, dan memutilasi tubuh mereka dengan begitu kejam!"


"Haaaha ... hahaha ... hahaha ... uhuk uhuk ... terserah mau percaya atau tidak. Tapi, aku punya sedikit saran untukmu. Di dunia ini, kau hanya bisa mempercayai dirimu sendiri. Jangan pernah lengah apapun yang terjadi. Karena bisa saja, kawan yang kau percayai akan menikammu dari belakang!"


Setelah mengatakan itu, James pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Aku sedikit memikirkan tentang apa yang dikatakan James sambil mulai mengingat tentang semua informasi yang kumiliki saat ini.


"Oi, Akito! Apa kau mengerti tentang apa yang dia maksud?" tanyaku.


"Entahlah. Aku tidak tau apapun," jawab Akito.


Dengan begitu, aku dan Akito berhasil mengalahkan All Stars James.


Kami berdua pun meninggalkan mayat James dan berjalan perlahan menuju medan perang.


"Ah, itu mereka!"


"Kaaakakakakakakakaka! Kau benar benar gila! Bagaimana caramu memotong kerak bumi seperti itu?" tanya Kageyama yang baru saja bertemu denganku dan Akito.


"Itu bukan teknik yang bisa dimiliki sembarang orang!" kata Julius yang baru saja bertemu denganku dan Akito.


"Rudi! Kau benar benar hebat!" kata Dian dengan mata penuh kekaguman.


"Dari pada itu, bukankah kalian sedang bertarung melawan musuh? Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanyaku yang masih dibantu berdiri oleh Akito.


"Kami sudah menyelesaikan pertarungan kami. Lagi pula, setelah hempasan dan gempa itu, banyak musuh yang mulai terlihat pasrah. Jadi, kupikir tidak ada gunanya melanjutkan peperangan ini," jawab Julius.


Aku dan kelompokku mulai berjalan menuju medan perang utama sambil terus berbincang. Mereka semua tak henti hentinya bertanya padaku tentang bagaimana aku bisa melesatkan tebasan semacam itu. Akan tetapi, aku tidak menjawab pertanyaan mereka dan beralasan bahwa kondisiku terlalu lemah untuk menjelaskan hal semacam itu.


Di salah satu medan perang, Ling dan Nero masih berdiri sambil memandang satu sama lain.


Nero pun bertanya pada Ling, "Apa kau masih mau melanjutkannya? Jika kau masih mau lanjut, aku akan menghadapimu dengan semua yang kumiliki. Tapi, jika kau menyerah, aku akan melepaskanmu kali ini."


Ling menjawab, "Tidak ada gunanya melanjutkan ini!"


Dalam kondisi itu, Ling sangat tidak diunggulkan karena banyak jendral besar dan pemimpin kelompok dari pihaknya yang telah berjatuhan. Jika terus dilanjutkan, ia hanya akan menambah korban yang lebih banyak lagi.


"Kuakui, ini kemenanganmu! Tapi, lain kali aku tidak akan membiarkan hal semacam ini terjadi lagi," kata Ling yang berniat meninggalkan medan perang.

__ADS_1


Ling kemudian berteriak pada seluruh pihak aliansinya. "Semuanya, mundur! Kita sudah kalah!"


Beberapa pihak aliansi kelompok Ling dan kelompok James yang masih tersisa, tidak bisa melakukan apapun karena faktanya, pihak mereka telah kalah power dari pihak aliansi Nero. Dengan kejatuhan James dan para petinggi aliansi, membuat mereka tidak punya pilihan selain mundur.


Ling berserta para anggota aliansinya berniat meninggalkan medan pertempuran. Sedangkan pihak aliansi kelompok Nero, bersorak atas kemenangan mereka.


Saat pihak aliansi Ling hendak meninggalkan medan pertempuran, Rudi dan kelompoknya menghentikan mereka.


"Tunggu dulu! Siapa yang memperbolehkan kalian pergi begitu saja?"


Dari kejauhan, aku berteriak ke arah pasukan aliansi kelompok Ling yang berniat meninggalkan medan pertempuran begitu saja.


Ling terlihat sedikit terkejut saat melihatku.


"Jadi, kau yang telah melesatkan serangan tak masuk akal itu?" tanya Ling padaku.


Sambil berjalan mendekat, aku menjawab, "Ya, aku yang sudah melakukannya. Apa kau punya masalah dengan itu?"


"Tidak! Aku tidak punya masalah dengan itu! Yang menjadi masalah adalah kenapa kau tidak membiarkan kami pergi dari sini? Apa kau berniat terus melanjutkan pertempuran ini hingga tidak ada siapa pun yang tersisa?" Ling bertanya padaku dengan lirikan tajam.


"Kalian bebas pergi dari sini, kecuali seluruh anggota kelompok Death Parade! Aku tidak bisa melepaskan mereka begitu saja karena mereka telah membantai desaku!" jawabku.


Ling terdiam beberapa saat setelah mendengar jawabanku. Dia kemudian melihat ke arah pasukan aliansinya dan mulai berteriak, "Siapa pun yang berasal dari kelompok Death Parade, majulah! Jangan jadi pengecut dan hadapi hukuman dari perbuatan kalian!"


Ribuan orang yang mendengar teriakan Ling, hanya terdiam sambil melihat ke orang di samping mereka, seolah seperti mencari siapa yang merupakan anggota kelompok Death Parade.


Anggota kelompok Death Parade yang tersisa tidak berani maju ke depan karena takut mendapat siksaan dari kelompok Rudi.


Di saat semua orang terdiam, tiba tiba ada 4 orang petinggi kelompok Death Parade yang maju ke depan.


Saat keempat orang itu telah berada di depan yang lainnya, salah satu dari mereka berkata, "Kami tidak sudi jika harus mati di tangan orang sepertimu (Rudi)."


Keempat orang itu kemudian memenggal kepala mereka sendiri.


Ribuan orang lainnya bingung dan heran dengan apa yang dilakukan keempat orang tersebut. Tapi, tidak bagi mereka yang berasal dari kelompok Death Parade. Mereka tau betul bahwa keputusan yang diambil keempat petinggi mereka bukanlah keputusan yang aneh. Karena sejak mereka bergabung di kelompok Death Parade, mereka diajari bahwa lebih baik mati di tangan sendiri dari pada mati di tangan lawan.


Puluhan anggota kelompok Death Parade yang masih hidup pun meniru apa yang dilakukan keempat petinggi tersebut.


Aku sangat keheranan dengan hal itu, aku tidak menyangka bahwa mereka lebih memilih mati bunuh diri dari pada menyerahkan diri.


Aku sendiri sebenarnya tidak berniat menyiksa mereka hidup hidup. Karena jika aku melakukannya, aku tidak berbeda dengan mereka.


Untuk menghentikan aksi bunuh diri mereka, aku pun langsung memancarkan aura intimidasi untuk membuat mereka pingsan.


Saat auraku mulai menyebar ke segala arah, ratusan orang mulai berjatuhan dengan mulut berbusa. Bagi mereka yang bermental lemah, mereka tidak akan bisa menahan tekanan itu. Karena serangan aura intimidasi langsung menyerang ke mental mereka.


Ling yang merasakan aura intimidasi yang dikeluarkan oleh Rudi, mulai menyadari sesuatu.


"Siapa bocah ini sebenarnya? Bagaimana dia bisa memiliki aura semacam ini?" gumam Ling sambil melihat ke arah Rudi.

__ADS_1


Ling merasa bahwa aura intimidasi yang Rudi pancarkan berbeda dengan aura intimidasi yang pernah ia rasakan sebelumnya. Aura itimidasi yang Rudi pancarkan terasa sangat hangat dan lembut, seolah seperti seorang raja agung.


Ling pun menatap ke arah Rudi dengan tatapan kagum karena ia bisa mengetahui sifat dan karakter Rudi hanya dengan merasakan aura yang Rudi pancarkan. Karena bagaimanapun juga, aura adalah cerminan jiwa seseorang.


__ADS_2