The Greatest Emperor

The Greatest Emperor
Vol 1. Bab 11 - Lukisan Darah


__ADS_3

"Aku harus segera ke hutan selatan untuk membantu Rudi," pikir Akito sambil berlari menuju hutan barat.


Karena kondisinya yang mulai membaik, Akito segera bergegas menuju hutan barat untuk membantu sahabatnya.


Sesampainya di bekas medan pertempuran Rudi melawan Jendral Besar Hans, ia melihat ada ratusan prajurit militer yang terkapar lemas, tubuh mereka juga basah karena es yang mulai mencair.


"Apa yang terjadi di sini?" pikir Akito sambil melihat dataran yang masih berselimut es.


"Bukankah kau teman si pengguna es?" tanya pria misterius yang duduk di bawah pohon, tidak jauh dari tempat Akito berdiri.


"Siapa kau? Apa kau tau di mana Rudi sekarang?" tanya Akito.


"Kaaakakakaakakaka! Temanmu sedang bertarung di sana." Pria itu menunjuk ke arah pusat ibukota.


"Eh? Bukankah itu arah ibukota? Lalu siapa yang bertarung di hutan barat?" pikir Akito binggung.


Karena ia pingsan sebelum pertarungan besar dimulai, Akito kebingungan dengan situasi saat ini.


"Hei, apa kau tau apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Akito pada pria misterius itu.


"Kaaakakakakakakakaka! Aku juga tidak terlalu mengerti. Tapi yang pasti, saat ini ibukota benar-benar telah berubah menjadi medan pertempuran berbagai sisi," jawab pria itu.


"Ah, jadi begitu. Terimakasih informasinya. Lalu ... apa aku boleh tau siapa namamu?" tanya Akito.


"Kageyama. Namaku Kageyama," jawab pria itu.


"Terimakasih, Kageyama. Kalau begitu aku pergi dulu," kata Akito.


"Apa kau bisa bertarung dengan kondisi seperti itu?" tanya Kageyama.


"...." Akito melihat bahu kanannya yang terluka parah.


"Tenang saja, luka seperti ini bukan apa-apa," jawab Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Bukankah kau sempat pingsan karena luka itu?" tanya Kageyama lagi.


"Itu karena aku sempat syok. Jadi aku tidak sengaja kehilangan kesadaran," jawab Akito.


"Kaaakakakakakakaka! Terserahlah. Jika kau berniat membantu temanmu, ambil ini." Pria itu melempar sesuatu ke arah Akito.


"Apa ini?" tanya Akito.


"Kaaakakakakakaka! Coba saja. Dan aku akan tau," jawab Kageyama.


Di wilayah ibukota, aku masih bertarung sengit melawan Jendral Besar Hans.


"Rasakan ini sialan!" teriakku sambil melesatkan pukulan keras ke wajah sang jendral besar.


Hans tidak bisa mengelak dan membuatnya terkena pukulan telah hingga membuatnya terlempar jauh ke arah hutan barat.


Duar! Duar! Duar!

__ADS_1


Tubuh sang jendral besar terpelanting, berguling, dam melayang menghantam apapun yang dilewatinya hingga sejauh 100 meter.


Aku memasang ancang-ancang untuk melompat. Dan ...


Duar!


Tanah yang kupijak hancur karena gaya dorong dahsyat.


Aku pun melesat cepat mengejar tubuh sang jendral besar yang terlempar ke belakang.


Saat aku berhasil menyusulnya, aku mulai mengepalkan tangan untuk kembali memukulnya.


Bem!


Aku berhasil memukul tubuh sang jendral besar dengan hantaman keras, hingga membuat tubuh sang jendral besar kembali terlempar ke belakang hingga sejauh 100 meter.


Aku berlari tepat di sisi sang jendral besar yang tubuhnya terus berguling ke belakang dan menghantam apapun yang dilewatinya.


Rudi berlari dengan kecepatan tinggi, hingga membuat langkah kakinya benar-benar hampir tak bisa dilihat mata manusia normal karena kecepatannya yang luar biasa.


Saat tubuh sang jendral mulai berguling pelan, aku memukulnya lagi dan lagi, membuat tubuh sang jendral besar tak ubahnya bola ding-dong yang menghantam ke sana ke mari.


Bem! Bem! Bem! 1 pukulan! 2 pukulan! 3 pukulan!


Aku benar-benar mengamuk dan terus mempermainkan tubuh Jendral Besar Hans seperti sedang bermain ding-dong.


Setiap pukulan yang kulesatkan sanggup membuat tubuh sang jendral besar terlempar ratusan meter jauhnya.


Gunung berlubang, bukit hancur, pohon rata dengan tanah, sampai tanah yang hancur, membuat pola indah seperti sebuah lukisan karena terkena hantaman tubuh sang jendral besar.


Setelah puas bermain, aku mengahirinya dengan satu pukulan kuat ke arah kepala sang jendral besar.


Bem!


Tubuh Jendral besar Hans menghantam tanah hingga menciptakan kawah raksasa. Akibat hantaman itu, wilayah sekitar pun terasa seperti sedang diguncang gempa.


"Huft ... huft ... sialan! Apa tubuhnya terbuat dari baja atau semacamnya?" gumamku sambil melihat Jendral Besar Hans yang masih sanggup berdiri setelah mendapat serangan mematikan semacam itu.


Jendral Besar Hans berdiri dengan mata memutih. Seluruh tubuhnya benar-benar telah diselimuti darah. Tangannya menggantung seperti tidak bisa digunakan lagi. Kakinya gemetar karena menahan berat tubuh. Dengan penampilan seperti itu, membuatnya tampak mengerikan di mata banyak orang lain.


Setelah 10 detik berdiri, Jendral Besar Hans tumbang karena kakinya tidak lagi sanggup menahan beban tubuh.


Setelah sekian banyak kerusakan yang ia terima, akhirnya Jendral Besar Hans tumbang dengan mata terbuka berwarna putih.


"Huft ... huft ... dengan begini, hanya tinggal beberapa kelompok lagi ... argh!" Aku muntah darah karena tubuhku tak sanggup menahan semua kerusakan yang kuterima.


Walaupun aku berhasil mengalahkan sang jendral besar, tapi aku hanya menang tipis. Sehingga, kerusakan yang kuterima juga berdampak besar pada tubuhku.


"Sialan! Dengan tubuhku yang sekarang, aku tidak akan sanggup bertarung lagi," kataku sambil duduk di tanah untuk mengistirahatkan tubuh.


Saat aku sedang bersantai sambil menghirup udara segar, tiba-tiba muncul 4 orang tepat di hadapanku.

__ADS_1


"Cih ... mereka terus berdatangan seperti serangga." Aku menggerutu saat melihat kedantangan 4 orang baru.


Orang pertama hingga ketiga berdiri sambil melihat tubuh sang jendral besar yang terkapar di tanah. Sedangkan orang keempat terus menatap tajam ke arahku.


"Kau benar-benar luar biasa karena sanggup mengalahkan Jendral Besar Hans," ucap orang pertama.


"Apa kalian datang ke sini untuk membunuhku?" tanyaku sambil tetap duduk santai.


"Membunuhmu? Kematian terlalu mewah untukmu. Kami datang ke sini untuk menyiksamu hingga kau menyesal karena sudah dilahirkan," jawab orang pertama.


"Haaahahahahahaha! Benarkah? Aku sangat menantikannya," ucapku sambil tertawa lebar.


Di sisi lain, reporter yang meliput pertarungan di ibukota terus berbicara di depan kamera agar para penonton bisa mengetahui situasi terbaru di medan perang.


"Lihatlah pemirsa. 4 dari 7 Jendral Roland akhirnya datang untuk menghabisi bocah yang sudah mengalahkan Jendral Besar Hans. Apakah ini akan menjadi akhir dari bocah itu?" ucap sang reporter yang menyiarkan langsung di televisi


Kamera kemudian menyorot area pertempuran dari ketinggian menggunakan helikopter.


"Lihat itu, Mama! Lukisannya sangat indah," ucap seorang bocah yang sedang menyaksikan televisi.


"Iya, Sayang! Lukisannya benar-benar indah!" sahut sang ibu.


Sang ibu sebenarnya merasa miris saat melihat pola yang tercipta dari darah sang jendral besar. Pola yang dibuat menggunakan tubuh sang jendral besar. Pola yang menggambarkan sebuah penderitaan dan keputusasaan. Pola yang Rudi ukir dengan tubuh Jendral Besar Hans sebagai bola ding-dongnya.


"Lihat itu pemirsa. Bocah itu mulai berdiri," ucap sang reporter.


"Ayo habisi dia!"


"Cepat bunuh dia!"


"Siksa dia hingga merasakan neraka yang sesungguhnya."


"Cepat berdiri, bocah! Aku mendukungmu?"


"Hei, kenapa kau malah mendukung bocah itu?"


"Memangnya kenapa?"


"Apa kau tidak mencintai negerimu sendiri, hah?"


"Untuk apa aku mencintai negeri seperti ini?"


"Apa katamu?"


Beberapa penduduk dari seluruh Negara Roland terus berdebat dengan pendapat mereka masing-masing. Ada yang membenci Rudi, menghargai perjuangannya, hingga terkesan dengan semangat dan kemampuannya.


Di dalam markasnya, para anggota kelompok Picky Men masih terpaku di depan televisi untuk melihat pertempuran di ibukota.


"Ayo berdiri, bocah! Bukankah kau ingin melampau para Kaisar? Jika begini, kau bisa mati!" teriak sang pemimpin kolompok sambil berharap cemas.


Pemimpin Picky Men yang sebelumnya membenci Rudi, mulai bersimpati dan menghormatinya karena takjub dengan tekat dan kemampuan yang Rudi tunjukkan.

__ADS_1


Di dalam markas pusat media negara Roland, sang pemimpin media sedang melihat layar monitor dengan wajah penuh kepuasan.


"Haaahahahahahaha! Ini jadi semakin menarik. Ayo teruskan. Bertarunglah hingga titik darah penghabisan. Dengan begitu, aku akan mendapat banyak keuntungan," gumam sang pemimpin media.


__ADS_2